
Arjuna yang mengikuti mobil Emilia terkejut melihat mobil yang diikutinya memasuki basemen perusahaan Sagara Grup.
Tangannya menggenggam setirnya erat dengan dada bergejolak. Ada kemarahan hebat di sana.
Arjuna merasa di khianati. Padahal tadi pagi gadis itu terlihat menurut padanya.
Apa karena Bima, Emilia menolak jadi pacarnya? batinnya ngga terima sudah dikalahkan.
Arjuna memukul keras stirnya sebelum melajukan mobilnya dengan kencang.
"Tadi malam lo mabok?" tanya Galih ketika melihat Arjuna yang baru saja keluar dari mobil di parkiran perusahaan mereka. Dia pun baru tiba setelah bertemu klien.
Arjuna ngga menjawab, dia terus melajukan kakinya menuju lift. Bukan hanya Galih yang dianggapnya ngga ada, para karyawan yang menyapa dan menunduk hormat padanya pun ngga dipedulikan. Hatinya sangat panas saat ini.
Galih yakin saat ini sahabatnya sedang dalam keadaan murka. Tanpa kata Galih pun mengikuti langkah Arjuna.
"Apa nama keluarga gadis itu belum didapatkan?" tanya Arjuna ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Belum."
Arjuna membuang nafas kesal. Kedua tangannya mengepal erat. Rahangnya pun mengeras.
"Sialan! Susah sekali mencari identitasnya," umpat Arjuna geram.
"Gue rasa kita terlalu menganggap remeh dia. Pasti dia anak orang super kaya sampai bisa menyembunyikan identitasnya," asumsi Galih sangat yakin.
Mungkin, jawab Arjuna dalam hati.
Baru kali ini mereka kesulitan mencari tau identitas seseorang.
"Lo masih berminat dengan gadis itu?" tanya Galih serius.
Arjuna ngga menjawab. Saat ini yang ada hanya kemarahanmya pada Emilia. Berani beraninya gadis itu ngga menganggap dirinya setelah apa yang telah mereka lakukan.
Sampai pintu lift terbuka, Arjuna masih menutup mulutnya. Galih ngga bertanya lagi dan hanya mengikuti sahabat sekaligus bosnya ke dalam ruangannya.
"Tadi malam gue tidur bareng di kamar apartemen Emilia," katanya sambil duduk di kursinya.
Galih tertawa mendengarnya.
"Udah lo apain aja?"
"Cuma tidur doang."
"Lo kira gue percaya?" sergah Galih mencibir.
Arjuna ngga melakukan apa apa? Dia sudah ngga waras!
"Aneh, kan? Gue juga ngerasa aneh," balas Arjuna sambil membuka laptopnya.
"Bukan aneh, tapi ngga waras," cela Galih mengeluarkan suara hatinya.
Arjuna menyeringai.
Galih berdiri di sampingnya sambl menatap Arjuna tambah heran.
__ADS_1
"Sekelas lo susah dipercaya," cercanya Galih.
Arjuna menghela nafas kasar. Harusnya memamg tadi malam sudah dia tiduri gadis itu sanpai lemas. Bodoh amat dengan pesanan tantenya. Harusnya hari ini gadis tu ngga berdaya di kasurnya jadi dia ngga bisa menemui Bima sialan itu.
"Gue ngga tau apa yang hati gue mau lakukan padanya," kata Arjuna sambil melonggarkan dasinya yang membuat nafasnya terasa sesak.
Galih melipat kedua tangannya di dada menunggu lanjutan Arjuna. Dia dapat mendengat nafas Arjuna yang tersengal sengal.
"Saat melihat wajahnya yang sedang tertidur pulas, rasa benci gue mencair," kata Arjuna jujur.
"Gue merasa ingin melindunginya, gue merasa sangat terikat dengannya," lanjutnya lagi sambil mengusap wajahnya kesal.
Galih tersenyum tipis.
"Lo udah jatuh cinta," tebak Galih yakin.
Arjuna memejamkan mata.
Jatuh cinta pada gadis yang menyembunyjkan identitasnya? Mungkin saja. Tapi dia bodoh sampai bisa dipermainkan begini.
"Emilia sangat cantik, juga seksi. Gue bisa mengerti kalo lo tertarik. Arbi rela mengalah demi lo."
Arjuna mendengus.
"Yang bikin gue kesal, kenapa dia mau mau saja menjadi kekasih Bima," ujar Arjuna jengkel.
"Lo yakin kalo mereka pacaran?" sindir Galih.
Arjuna menghela nafas kasar.
"Tadi gue ngikuti mobilnya, dia ke perusahaan Sagara Grup." jelas Arjuna kesal.
Memang, batin Galih kasian.
Kali ini Galih ngga berkomentar atau mengejeknya. Sangat jarang Arjuna bercerita tentang isi hatinya. Dia akan jadi pendengar dan sahabat yang baik untuk saat ini.
"Gue dapat laporan, ada beberapa orang mengawasi mereka berempat. Setiap ada orang orang kita yang mengikuti mereka, banyak mobil mengganggu, membuat mereka berempat bisa melarikan diri. Kalo mereka punya pengawal, mereka bukan orang biasa," ujar Galih pelan.
Arjuna ngga menjawab. Berarti tadi dia beruntung bisa mengikuti Emilia sampai ke perusahaan Sagara Grup.
"Kalo dia kekasih Bima, bisa saja itu pengawalan dari Bima," kata Arjuna pahit.
Galih hanya bisa mengiyakan dalam hatinya. Bima dan keluarganya pasti bisa melakukan itu.
Apa sekarang dia patah hati?
*
*
*
"APA?" kaget Arinka dengan suara tertahan ketika Emilia menghampirinya.
"Dia ngirain gue ada hubungan dengan mas Bima," bisik Emilia saat mereka hanya berdua saja.
__ADS_1
Maria dan Zeta sedang meeting di ruangan Kak Andra, jadi Emilia merasa mulai bebas untuk bercerita. Arinka lebih bisa mengerti apa yang dia alami. Bukan Emilia ngga mempercayai Zeta dan Maria. Keduamya terlalu naif dan heboh jika menanggapi sesuatu
"Lo ngga gila, kan, ngasih tau kalo Bima abang lo," sindir Aringka dengan senyum mengejeknya.
"ya enggaklah," respon Emilia kesal.
"Dia bisa salah paham."
"Biarkan saja," kata Emilia pasrah. Ngga ada masa depan buat mereka. Mau Arjuna mengira dia pacar mas Bima, atau dia ketahuan adik mas Bima, endingnya akan sama saja.
"Nanti dia benci sama lo," ucap Arinka merasa kasian. Teringat akan nasibnya ditinggalkan Mars. Dia sayang sekaligus benci pada laki laki ngga bernyali itu.
"Biarlah," kata Emilia dengan wajah murung.
Arinka menatap wajah sepupunya tajam. Tanpa perlu bertanya, Arinka tau, sepupunya sudah jatuh cinta dengan Arjuna. Sampai sampai mau mengantar laki laki itu pulang ke apartemen karena melihatnya mabok. Padahal Arinka yakin, Arjuna masih cukup sadar untuk.mengemudikan mobilnya.
Karena ngga mau mengganggu, Arinka dan ketiga sepupunya memutuskan ngga mengikuti Emilia. Ketiganya memberikan Emilia kesempatan berdua dengan Arjuna walau khawatir. Mungkin ngga akan ada lagi kesempatan itu di kemudian hari.
Sebentar lagi mereka akan berangkat ke Bali. Walaupun ngga ikut presentasi, jika tender hotel itu dimenangkan mereka, maka mereka akan cukup lama berada di Bali, mengawasi pembangunan hotel.
Nanti nantinya Arjuna pasti akan tau juga siapa mereka berempat. Hubungan darah mereka dengan Sagara Grup.
"Lo udah ngapain aja sama dia?"
Eh, batin Emilia dengan wajah merona.
"Ciuman," jawab Emilia berusaha jujur.
"Hot ya," ledek Arinka menyeringai. Dia bisa membayangkan betapa panasnya ciuman mereka.
Emilia tertawa malu. Dia kembali teringat betapa mrmabukkannya ciuman Arjuna.
"Rasanya gue ngga bakal bisa lupa," kekehnya berusaha biasa saja. Padhal hatinya sakit saat mengucapkannya.
"Gue ngerti perasaan lo," hibur Arinka penuh makna.
Emilia yang ngga tau apa apa tentang hubungan Arinka dengan Mars, mengira Arinka menghiburnya tanpa maksud lain. Dia pun tersenyum getir.
"Nanti lo balik ke apartemen lo?"
"Enggak," kata Emilia menggelengkan kepalanya. Dia ingin mengakhiri sebelum rasa sakitnya semakin dalam.
Arinka ngga berkata apa apa lagi. Emilia pun berusaha fokus dengan kerjaan Arinka.
"Setelah dari Bali, lo jadi asisten mas Bima?"
"Ya."
"Lo membantu banget. Dalam beberapa jam, desain hotel berhasil dirubah. Investor sudah setuju."
"Apa investor ngga akan membuka mulut ke Taksaka grup?"
"Hanya ada satu yang mundur."
"Pak Saswo," tebak Emilia yang diangguki Arinka. Kakaknya sudah bercerita pada mereka semua.
__ADS_1
"Beliau sudah bergabung dengan Taksaka Grup," tukas Arinka.
Emilia tau, Arjuna sudah bermain kotor. Dia menyusupkan seterunya. Mengapa dia sangat dendam sekali. Padahal keluarga mereka juga sudah sangat menderita saat kehilangan kakek mereka juga.