Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Maria dan Arsen


__ADS_3

Maria baru saja keluar dari lift.


Tumben sepi, batinnya agak horor.


Jadi menyesal menolak tawaran Zeta untuk menemanimya ke.rumah sakit tadi. Biarpun telinganya harus panas mendapat omelan Zeta.


Maria tadi menemui.dokter kecantikan langganannya untuk mengkonsultasikan treatmen apa yang sebaikmya lakukan agar kulit wajah tetap halus bebas kerutan. Karena sudah dua hari ini kurang tidur karena memikirkan laki laki tampan yang dingin itu.


Anak buahnya gagal mengikuti kemana laki laki itu pergi. Karenanya dia jadi kesal dan jadi susah tidur. Maria sangat penasaran siapa laki laki itu sebenarnya. Tampangnya lebih manis sedikit dari si gondrong teman Arjuna.


Dia pun berjalan cepat ke arah mobilnya terparkir.


Tapi langkahnya dipelankan karena mendengar suara suara bentakan dua orang.


DEG


Jantung Maria berdetak keras melihat laki laki yang selama dua hari ini selalu memenuhi memori kepalanya baru saja menendang keras seorang laki laki yang lebih tua.


Dari perawakannya, Maria merasa kalo laki laki itu sebaya dengan papanya.


Dasar kurang ajar, makinya ilfeel.


Tapi matanya melotot melihat laki laki paruh baya itu mengambil sesuatu dari balik jasnya.


Langkah kaki Maria pun dipercepat untuk mendekati laki laki itu. Hatinya sudah menebak kemungkinan terburuk. Pistol.


Dan benar saja, laki laki tua itu menodongkan pistolnya ke arah punggung Arsen.


Pengecut! batinnya mencela.


Maria yang biasanya penakut dan gemetar jika melihat senjata api atau senjata tajam, malah merasakan tubuhnya sangat ringan saat menghampiri laki laki muda yang sudah mengganggu waktu istirahatnya itu.


"Awaaasss!" teriak Maria sangat kencang sambil mendorong tubuh Arsen.


Tapi laki laki tampan dan dingin itu malah balas memeluknya dan mereka pun jatuh terguling di lantai basemen.


DOORRR!


Suara ledakan pistol membuat tubuh Maria membeku. Keberaniannya raib entah kemana. Telingamya mendengar suara mobil yang melaju pergi dengan cepat.


Dan Maria merasakan sentuhan ngga sopan dari tangan laki laki itu di dadanya. Daerah sensitifnya.


Sontak Maria berteriak dan memaki Arsen sambil menampar pipi Arsen dua kali dengan sangat keras.


"Lepaskan! Dasar laki laki kurang ajar!"


PLAK!


PLAK!

__ADS_1


"Sial! Aku ngga sengaja, bodoh!"


Dengan geram Arsen melepaskan rangkulannya sambil mendorong tubuh Maria dengan keras.


Panas terasa membakar kulit pipinya akibat tamparan Maria. Dia pun bangkit berdiri dengan cepat tanpa mau menolong perempuan bodoh itu.


"Laen kali jangan suka ikut campur urusan orang lain," cela Arsen sinis sambil memandang Maria yang juga sedang berusaha berdiri, tapi sepertinya agak kesusahan.


"Heelsku!" pekik Maria membuat Arsen menggelengkan kepalanya.


Alih alih bersyukur ngga jadi tertembak, kini gadis bodoh itu malah sedang meratapi salah satu heels sepatunya yang patah.


Arsen merasa sudah saatnya pergi. Tanpa mempedulikan keberadaan Maria, dia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.


"Dasar ngga tau terima kasih," umpat Maria kesal karena ditinggalkan begitu saja.


Sekarang dia sudah melepaskan kedua sepatunya dan hanya berte*lanjang kaki saja.


Langkah Arsen tertahan mendengar umpatan itu.


Ingin mengacuhkan, tapi sisi hati baiknya melarangnya.


Setidaknya dirinya masih baik baik saja dan tidak akan membuat mamanya khawatir karena dia mungkin ngga bisa segera pulang menemui mamanya jika terkena tembakan tadi.


Kalo nasibnya baik, orang orang akan menemuinya yang tergeletak bersimbah darah dan akan membawanya ke rumah sakit.


Tapi kalo nasibnya buruk dia akan mati kehabisan darah.


Memang seharusnya dia berterima kasih pada gadis bodoh yang kini sedang menjauhinya dengan bertelanjang kaki sambil menentengn sepasang sepatunya.


Pasti dia sangat tersiksa, senyum Arsen mengembamg tipis, karena Maria berjalan sambil menjinjit.


Tanpa kata Arsen mendekati dengan langkah lebarnya dan mengangkat tubuh gadis itu, menggendongnya ala bridal.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" pekik Maria kaget juga deg degan.


Apalagi jarak wajah mereka sangat dekat.


"Aku akan mengantar kamu pulang," kata Arsen sambil berjalan cepat ke arah mobil mewah milk Arsen.


Maria bergeming. Dia seakan terhipnotis oleh pandangan tajam Arsen.


Bahkan Maria ngga heran dan bertanya tanya ketika Arsen tau dimana mobilnya. Dia malahan langsung menyerahkan kunci mobilnya pada Arsen.


"Kamu mau diantar kemana?" tanya Arsen ketika sudah menjalankan mobil itu keluar dari basemen rumah sakit.


Maria tersentak, baru tersadar dari keterpakuannya.


Maria masih merasakan ledakan yang sangat hebat di dadanya ketika laki laki dingin super menyebalkan itu mendudukkannya di kursi penumpang.

__ADS_1


Jarak mereka sangat dekat. Bahkan deru hangat nafas keduanya seoalah saling bertabrakan, menciptakan sensasi yang aneh saat menyentuh wajahnya.


Maria memejamkan matanya. Menunggu laki laki ngga sopan itu beraksi. Tapi setelah sekian menit, ngga terjadi apa pun. Malah yang yang terdengar hanyalah bunyi pintunya yang ditutup pelan.


"Engg... Kemana ya?" jawab Maria bingung dan grogi. Ngga mungkin dia minta diantarkan pulang dalam keadaan nyeker karena salah satu heels yang patah. Bisa jadi banyak pertanyaan.


Apalagi dia bersama laki laki asing..Para sepupu laki lakinya pasti akan menginterogasi laki laki kurang ajar ini dengan detil.


Maria bisa pastikan kalo dia akan ngga nyaman.


"Kemana?" tanya Arsen lagi.


Maria memejamkan matanya. Dia teringat apartemen Zeta. Ngga mungkin sepupunya akan pulang ke sana karena ada jadwal meeting dengan kliennya siang ini.


Lagi pula Maria perlu tempat untuk menenangkan diri. Suara tembakan tadi masih membuat detak.jantungnya abnormal.


Maria pun memberitaukan alamatnya dan Arsen pun segera melajukan mobilnya ke arah tersebut.


Ngga lama kemudian mobil pun sampai di basemen aparteman Zeta.


"Nih, aku mau langsung pulang," kata Arsen sambil menyerahkan kunci mobil pada Maria.


Perhatian Maria terarahkan pada warna lengan Arsen yang lebih gelap dan basah?


"Kamu terluka? Kenapa ngga katakan dari tadi," seru Maria kesal tanpa mengindahkan uluran kunci mobil dari Arsen.


Dia langsung meraih paksa lengan itu. Menggulung lengan kemejanya.


Kembali Maria terpekik.melihat goresan luka di lengannya yang masih meneteskan darah.


"Apa, sih, jerit jerit terus," kesal Arsen karena telinganya jadi pengang akibat suara jeritan yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari wajahnya.


Maria ngga menggubris. Dia.langsumg mengambil kotak obat di dalam dashboardnya.


Tangannya meraih kapas dan membasahinya dengan alkohol. Kemudian menempelkan pada luka Arsen.


Arsen sedikit merimgis.


"Gitu aja sakit," sindir Maria dalam hati senang. Dia malah sengaja menekan nekan bagian yang terluka itu.


Sialan, umpat Arsen membatin. Dia merasa gadis Sagara di depannya seperti sengaja mengerjainya.


Dengan acuh tak acuh, Maria memberikan sentuhan terakhir di lengan yang terluka itu.


Kembali Arsen sedikit meringis kesal karena Maria seolah sengaja menekan luka goresannya.


"Selesai," ucap Maria sambil membuang kapas itu di plastik sampahnya. Dia pun menyimpan kembali kotak obatnya.


"Makasih," jawab Arsen cuek sambil membuka pintu mobil dan melangkah pergi.

__ADS_1


"Sama sama," sahut Maria dengan wajah menyeringai puas.


Rasain, ejeknya membatin sambil terus melihat punggung yang mulai menjauh.


__ADS_2