
Setelah membolak balikkan tubuhnya, tapi tetap saja ngga bisa tidur, Emilia memutuskan ke perusahaan papanya. Dia harus menemui kakak laki lakinya.
Emilia merasa ada kejanggalan tentang desain hotel milik Arjuna yang dia lihat tadi. Sangat mirip dengan desain kakaknya. Memang ada beberapa bagian yamg aneh. Tapi ada bagian yang menurutnya terlalu mirip.
Setelah mengambil tasnya Emilia pun meninggalkan unit apartemennya. Dengan mengendarai mobilnya, Emilia menuju perusahaan papanya.
Dengan ragu Emilia memasuki ruangan kakak laki lakinya. Menurut Bu Sri, kakaknya ada di dalam, ngga ada tamu dan boleh diganggu. Emilia jadi tersenyum mendengarnya.
Emilia menatap kakaknya yang menatap ke arahnya ketika dia membuka pintu tanpa mengetuk.
"Ada apa?" tanya Bima sambil mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen yang harus dia tandatangani. Dia menjadi pengganti papanya yang sedang bertemu klien di luar kota.
"Ada yang mau aku omong kan, kak," ucap Emilia agak ragu. Dia bingung, apa harus sejujur jujurnya atau setengah setengah menceritakan pada Bima.
Emilia berusaha memilah informasi yang menuritnya penting saja yang akan dia sampaikan pada kakaknya. Ngga mungkin dia menceritakan semuanya.
"Kamu mau ngomong serius?" tanya Bima.yang mendadak sudah ada di dekatnya membuat Emilia terdiam, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ayo, kita duduk," ajak Bima sambil menggandeng tangannya, mengajaknya duduk di sofa.
Bima merasa adiknya sangat aneh hari ini. Dia masih menunggu sampai Emilia mau bicara.
"Mas, emm,,, begini," kata Emilia bingung memilih kata.
"Pelan pelan aja. Mas juga lagi santai," kata Bima sambil mengembangkan senyum tipisnya.
Emilia balas tersenyum dan mulai bisa sedikit santai karena sikap low profil Bima.
"Tadi aku mampir di kafe dekat apartemen. Aku melihat ada gadis kembar bawa banyak gulungan kertas. Ada yang jatuh di dekatku." Sampai di sini Emilia menghembuskan nafasnya pelan. Sementara Bima masih mendengarkan serius tanpa menyela.
"Waktu mengambilnya, aku ngga sengaja membukanya. Ternyata itu desain hotel. Anehnya desainnya mirip sama punya mas Bima yang aku lihat di kamar."
Yess, berhasil juga ngomongnya, seru Emilia dalam hati.
Kening Bima berkerut. Dia menyimpan rasa keterkejutannya.
Gadis kembar?
Bima tau, di keluarga Taksaka memang ada gadis kembar. Karena permusuhan keluarga mereka, Bima selalu negative thinking. Padahal peserta tender bukan mereka berdua saja. Ada empat perusahaan besar lain yang juga ikut.
Apa yang dilihat Emilia itu mereka? batin Bima kemudian menatap adiknya yang terlihat resah.
Tapi apa perasaannya saja, rasanya adiknya menyembunyikan sesuatu. Tapi Bima ngga mau memaksa. Dia yakin nanti nanti adiknya pasti akan cerita.
"Mas, mungkin ngga itu dari grup saingan mas?" tanya Emilia hati hati. Lidahnya terasa berat menyebut Taksaka.
Bima terdiam, kemudian tersenyum lembut sambil menepuk bahunya pelan.
"Mungkin."
__ADS_1
"Apa laptop mas Bima pernah hilang?" tanya Emlia ingin tau.
Bima terdiam berusaha mengingat. Dia tiba tiba teringat kejadian dua minggu yang lalu. Laptopnya sempat di rampas seseorang saat dia baru saja turun dari mobil yang berhenti di sebuah pelataran hotel. Tapj dia berhasil memperoleh lapptopnya kembali, karena malingnya tertangkap dengan cukup mudah.
Hanya saja yang Bima sesali kini, dia ngga mengecek laptopnya secara detil karena dia hatus menemui seseorang di hotel. Setelah berada di rumah, laptopnya baru dicek dan Bima ngga menemukan hal aneh.
Bima ingat dia sempat pamit ke toilet dan meninggalkan laptopnya di sana bersama kliennya, Pak Saswo. Batinnya mulai menduga, apa Pak Saswo ikut terlibat?
Seingatnya ngga nyampe satu jam dia mengobrol bersama Pak Saswo. Apa mereka sempat mencuri datanya waktu itu dan menukar lapotopnya saat dia ke toilet?
"Aku masih ingat sedikit detil yang dirubah, mas. Akan aku tunjukkan," kata Emilia lagi setelah melihat kakak laki lakinya terdiam cukup lama.
"Oke, ayo," sambut Bima sambil mengajak adiknya ke kamarnya. Berdua mereka mulai.melakukan koreksi akan rancangannya. Dia memang harus melakukan perubahan desain hotelnya.
Hampir tiga jam mereka berdua bekerja keras merubah desain. Beruntung Emilia mengingat dengan jelas tambahan apa saja yang ada didesain Arjuna Taksaka yang dilihatnya.
"Terimakasih adikku sayang " seru Bima puas akan desain yang kini sudah dihasilkannya dengan dibantu adiknya. Bima tau, karena potensi adiknya lah, neneknya bersikeras menyekolahkannya sampai S2.
Bima tau betapa penurutnya adiknya yang pasti dalam hatinya ngga betah dalam pengawasan ketat adik neneknya.
"Sama sama, mas," balas Emilia terharu.. Akhirnya desain baru hotel yang akan ditenderkan sudah jadi. Materi buat presentasi pun juga sudah diperbarui.
Rasanya lega bisa membantu kakaknya. Hanya ada sekelip rasa takut jika si kembar kecewa padanya karena dia salah seorang Sagara.
Tanpa sadar Emilia mengusap wajahnya. mengingat dia harus membuat pesanan arisan untuk keluarga Taksaka.
Ya, dia sangat lapar. Tadi ngga sempat makan setelah pulamg dari unit sebelah. Emilia bertekad ngga akan pulang ke unit apartemennya lagi selagi Arjuna ada di situ.
Selama ini dia beruntung karena ngga pernah bertemu dengan Arjuna Taksaka. Padahal sudah dua kali dia bertandang ke unit laki laki itu.
Emilia pun mengikuti langkah kakaknya menuju kafe di depan perusahaannya yang menyajikan berbagai menu steak.
"Kamu mau makan apa?" tanya Bima sambil melihat daftar menu.
"Steak beef aja, mas," ucap Emilia.
"Oke," ucap Bima dan langsung memesannya pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
Emilia bingung saat ngga menemukan ponselnya di dalam tas.
"Ada apa?" tanya Bima heran ketika melihat adiknya mengaduk isi tasnya dengan wajah bingung..
"Ponsel aku sepertinya ketinggalan di mobil, mas," ucap Emilia setelah yakin pomselmya ngga ada di dalam tas kecilnya. Dia teringat tadi sempat mengambil ponselnya untuk melihat apakah ada pesan yang masuk. Setelahnya Emilia lupa menyimpannya di tas lagi.
"Mau mas ambilkan?" tanya Bima menawarkan diri.
"Ngga udah mas, aku aja. Pinjam kuncinya ya," tolak Emilia dengan senyum lebar.
Bima mengulurkan kunci sambil tersenyym. Setelah mengambilnya, Emilia pun beranjak ke mobil kakaknya.
__ADS_1
Senyum.di.wajahnya semakin lebar saat menemukan ponselnya Setelah membungkuk dan meaih ponselnya, dia pun menutup pintu mobil dan menekan remot pengunci.
"Rupanya kamu senang ya, memamerkan paha kamu di tempat umum," sindir seseorang yang menyapa di belakangnya.
Tubuh Emilia bergeming. Hatinya bergetar. Dia mengenali suara itu. Suara laki laki yang ingin dia hindari.
Dari kaca jendela mobil terpampang jelas wajah tampan dengan senyum dinginnya. Mata Arjuna Taksaka menyorot tajam ke arahnya.
Perlahan Emilia membalikkan tubuhnya setelah mengambil nafas dalam dalam. Dia.ngga mungkin bisa lagi menghindar.
Kini keduanya saling bertatapan. Emilia benci mengakui kalo.dia selalu ngga kuat saat berusaha menantang mata elang laki laki bermulut pedas ini.
"Permisi," pamitnya dan berharap laki laki itu mau bergeser memberikannya jalan. Tapi tubuh kokoh dan kekar itu hanya berdiam diri bagai patung.
"Kenapa kamu menghindariku?" tanya laki laki itu angkuh.
Emilia memutar matanya kesal. Selain kesal dia juga resah. Jantungnya selalu berdebar tanpa irama jika bersama Arjuna. Itu terlarang, hatinya memperngatkan
Lagi pula dia merasa aneh melihat kehadiran Arjuna di sekitar perusahaan papanya..
Apa.dia sedang memata matai? Benak Emilia dilanda curiga.
"Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Tapi itu salahmu yang terlalu menggoda," ucap Arjuna santai.
Emilia mendelikkan matanya.
"Aku terima permintaan maafmu," balasnya cepat dengan menahan rasa dongkol. Laki laki ini minta maaf sekaligus menghinanya.
Arjuna tersenyum miring. Baru kali ini ada seorang gadis yang berusaha menggodanya, setelah dia membalas, gadis itu malah pengen lari darinya.
"Sudah, kan. Aku mau ke dalam," ucapnya dengan nada ngga sabar dan takut kalo kakaknya akan keluar dan melihatnya berdua dengan Atjuna Taksaka. Apalagi dia sudah pergi cukup lama hanya untuk mengambil ponselnya.
"Silakan."
Emilia melongo melihat Arjuna memundurkan tubuhnya dan memberikannya jalan dengan mudah.
Tanpa mau berpikir lagi, Emilia segera melarikan kakinya ke dalam kafe, meninggalkan Arjuna begitu saja.
"Kamu lama banget," tegur Bima yang berjalan hendak keluar dari kafe menyambutnya.
"Maaf, mas. Tadi ada telpon masuk," dustanya dengan suaara bergetar. Dia takut, apakah kakak laki lakinya melihatmya sedang bersama Arjuna atau engga.
Bima pun merangkul bahunya mengerti, kemudian mereka melangkah memasuki kafe.
Arjuna menatap dengan tangan yang mengepal marah. Dia tau laki laki itu Bima Setya Sagara, musuh keluarganya.
Tapi mengapa Emilia terlihat akrab dengannya?
Berbagai pertanyaan bercokol di otak kecilnya.
__ADS_1