Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Khawatir


__ADS_3

"Kenapa desain hotel kita lo rubah, Bim?" tanya Andra kaget. Dewa hanya diam sambil duduk manis di sofa.


Keduanya kaget saat Bima mengabarkan kalo desain hotel untuk tender di Bali sudah berubah hampir tujuh puluh persen. Dia sudah selesai mengerjakannya bersama adiknya, Emilia, tadi siang.


"Ya," jawab Bima sambil menaruh pulpennya di meja.


"Kenapa sangat mendadak?" tanya Andra dengan wajah menuntut penjelasan. Dia tau sepupunya ngga mungkin sembarangan merubah desain yang sudah mereka sepakati bersama.


Bima menghela nafas panjang.


"Duduklah," ucap Bima perlahan.


Andra pun menurut.


"Dewa, kemarilah," tegur Bima pada sepupunya yang paling cuek. Dengan santai Dewa pun menghampiri saudaranya. Dia pun duduk di samping Andra.


"Tadi Emilia datang padaku dan mengatakan dia melihat desain hotel untuk tender di Bali yang mirip dengan kita punya."


"Apa?" kaget Andra berseru. Dewa yang tadinya santai, juga ikut terkejut walau ngga seheboh sepupunya.


"Dimana dia melihatnya?" sergah Andra cepat dan ngga sabar.


"Di kafe katanya. Dia bertemu gadis kembar. Salah satu gadis itu menjatuhkan gulungan kertas dan terbuka. Saat itulah Emilia melihatnya," jelas Bima sambil menatap keduanya dengan tatapan ngga terbaca.


"Gadis kembar?" Maksudmu adik sepupunya Arjuna yang kembar itu?" tanya Andra ingin memastikan. Karena grup Taksaka juga ikut tender hotel itu di Bali.


"Mungkin. Kata Emilia dia ngga kenal. Tapi dia sudah melihat desain hotel yang gue buat dan merasa aneh dengan desain.yang dimiliki gadis kembar itu."


Andra terdiam, begitu juga Dewa. Sibuk dengan berbagai prasangka.


"Apa Emilia ngga berkata kata apa apa lagi? Mungkin ada yang dia sembunyikan," tukas Andra curiga.


"Gue juga berpikiran begitu. Tapi saat itu yang gue pikirkan adalah bagaimana merubah desain secara cepat sesuai dengan material yang sudah kita sepakati. Jadi gue ngga sempat nanya."


Bima masih mengingat wajah adiknya yang terlihat cemas. Adiknya pasti menyembunyikan sesuatu, Bima yakin. Dia akan mencari waktu untuk berbicara dengan adiknya sebelum mereka ke Bali.


"Bagaimana Emilia bisa yakin kalo itu punya grup saingan kita?" akhirnya Dewa membuka mulutnya.


"Entahlah. Mungkin Emil tau sesuatu dan dia belum bisa bercerita. Tadi waktu datang dia seperti shock."


Andra terdiam, dia teringat apa yang dikatakan Zeta.


"Gue lupa ngasih tau. Keempat adik kita menyelidiki Taksaka Grup," katanya menjeda dan membuang nafas kesal.

__ADS_1


"Kenapa mereka lakukan itu?" Dewa menggelengkan kepalanya. Bima.masih diam karena terkejut. Ngga menyangka adik adiknya melakukan hal berbahaya itu diam diam.


"Setelah Zeta memberitahu padaku, sudah gue larang. Tapi sepertinya gue perlu bicara dengan Zeta, karena sepertinya mereka melanggar larangan gue" kesal Andra campur khawatir.


"Apa mereka sudah ketahuan," sergah Bima mulai khawatir. Pantasan saat itu Emilia terlihat gugup. Memang ada yang dia sembunyikan.


"Gadis gadis itu," ucap Dewa jadi kesal tapi kemudian tertawa garing.


"Mereka susah dikasih tau," lanjutnya gusar. Sekarang saat ini Dewa jadi mencemaskan keempat sepupu perempuannya.


"Kalo data mereka masih aman, tapi yang gue takut mereka nyuruh orang membuntuti mereka," tukas Bima sambil memijat kepalanya.


Andra dan Dewa hanya bisa menghela.nafas kasar. Mereka juga sekhawatir Bima.


"Apa saja yang sudah mereka selidiki kata Zeta?" tanya Dewa ingin tau.


"Mereka memata matai resto outdoor Taksaka grup. Bahkan Zeta mengirimkan banyak foto dan juga ada video tentang situasi di sana.


"Bagaimana kalo mereka sampai ketahuan," keluh Andra. Nanti dia akan menanyakannya pada Zeta. Apa apa saja hang sidah mereka lakukan.


"Sementara ini gue sudah meminta menambah pengawal untuk menjaga keempatnya," kata Bima membuat keduanya sedikit lega.


"Aku sudah lelah dengan dendam ini," kata Andra sambil menggusar rambutnya.


"Mereka ngga akan puas sampai kita jatuh miskin seperti dulu " tandas Bima yang diangguki Dewa. Andra juga setuju dalam.diamnya.


Kakek mereka juga sudah meninggal, sama seperti kakek mereka. Mereka juga larut dalam kesedihan. Tapi grup Taksaka selalu menyerang mereka, dari dulu sampai sekarang, monolog Dewa dalam hati.


"Kita juga harus hati hati dengan Pak Saswo. Gue rasa, miripnya desain kita saat gue meeting dengannya.. Hanya waktu itu laptop gue hilang, tapi bisa ketemu dengan cepat," kata Bima memperingatkan.


Andra dan Dewa tentu saja ingat kejadian.itu. Waktu itu mereka sama sekali ngga curiga, perasaan mereka lebih dari bersyukur karena laptop Bima bisa ketemu lagi. Memang kejadian itu agak aneh. Bodohnya baru sekarang mereka menyadari keanehan itu.


"Pak Saswo menipu kita?" geram Andra.


"Sepertinya begitu," tegas Bima.


Dewa mengepalkan tangannya erat menahan marah. Benar kata papanya, jangan percaya siapa pun di dunia bisnis.


*


*


*

__ADS_1


"jadi Lo ngga mau balik lagi ke apartemen lo?" tanya Zeta sambil membatingkan tubuhnya di samping Enilia yang masih sibuk melihat catatan di ponselnya.


"Iya, buat sementara ngga dulu."


"Kalo kue kue pesanan keluarga Taksaka tetap lo buat?" Maria ganti bertanya.


"Iya, tapi gue ngga mau antar. Gimana ya? Gue pengen nge hindar, tapi tantenya keburu punya no hp gue," keluh Emilia dengan kepala cenut cenut.


Ketiganya terdiam. Ngga nyangka masalahnya akan melebar begini.


"Ngeri parah kalo Arjuna sampai selidiki lo," cetus Arinka. Dalam hati berharap Mars tidak bermulut ember dan membuka identitas mereka.


Emilia terdiam. Zeta dan Maria menatapnya cemas.


"Mas Bima, Kak Andra dan Kak Dewa perlu dikasih tau kayaknya," usul Maria.


"Kita pasti kena marah," cegah Zeta ngga setuju. Dia takut kakaknya marah, karema kakaknya sempat melarangnya. Tapi dia sudah melanggar.


"Belum tentu," sangkal Maria. Dia berharap ketiga kakak sepupu laki lakinya membantu mereka. Ini sudah ngga bisa main main lagi.


"Gue pernah cerita waktu kita mata matai resto outdoor mereka. Kak Andra sudah melarang jangan ngelakuin lagi," kata Zeta mengaku.


Ketiganya terdiam sejenak.


"Ini sudah bahaya. Gimana kalo si kembar keceplosan kalo Emil sempat melihat desain mereka? Apalagi kalo mereka kalah dari kita," kata Arinka sambil mondar mandir.


Emilia terkesiap apalagi menyadari si kembar selalu berbicara ceplas ceplos.


Zeta dan Maria menatap Emilia cemas.


Mars sebagai sahabat Arjuna saja takut menpertahankan hubungannya setelah tau dia bagian dari keluarga Sagara. Pasti Arjuna Taksaka sangat mengerikan kalo marah.


"Biar gue yang cerita nanti sama Kak Andra. Ini sudah serius, Mil," respon Zeta memutuskan.


"Setuju," ucap Arinka dan Maria berbarengan.


Yah, Kakak laki laki mereka harus tau, batin Zeta.


Emilia hanya bisa mengangguk. Terbayang lagi kejadian tadi sore di pelupuk matanya, saat Arjuna meminta maaf.


Apa tadi Arjuna melihatnya dengan mas Bima? Apa dia sudah ketahuan sebagai adik Bima Setya Sagara?


Berbagai kekhawatiran memukul mukul dadanya sampai dia sulit bernafas.

__ADS_1


__ADS_2