Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Hati Yang membenci


__ADS_3

Setelah subuh Arjuna baru kembali ke hotel diikuti Galih cs dan Veli cs. Veli dan sahabatnya juga menginap di hotel yang sama.


Arjuna yang tau sedang diikuti segera menyelinap menuju ke taman hotel. Dia pun membaringkan dirinya di kursi panjang taman. Cuma ada beberapa orang di situ. Tanpa sadar dia pun tertidur.


"Gimana ini? Kok, kita bisa ngga lihat Juna," sergah Veli panik jarena Arjuna yang dia ikuti tiba tiba menghilang di antara para pengujung hotel yang akan melakukan jogging atau hanya sekedar jalan pagi.


"Lebih baik kita ke kamar saja. Juna pasti sudah di kamarnya," putus Galih sambil masuk ke dalam lift yang terbuka.


Ketiga sahabatnya tanpa protes mengikutinya karena mereka sudah merasa sangat lelah. Bahkan Jery dan Arby sempat ketiduran saat menunggu Arjuna di minimarket. Tapi tentu saja lebih nyaman tdur di kasur hotel.


"Tapi belum tentu Juna sudah di kamarnya, kan?" protes Veli masih ngga beranjak dari tenpatnya berdiri. Dia masih ingin mencari tau keberadaan Arjuna.


"Yang jelas Arjuna sudah aman di hotel," tandas Tantri sambil menyeretnya masuk ke dalam lift. Untung saja Galih berbaik hati menunggu dengan sabar sambil menekan tombol agar lift ngga tertutup.


Walaupun kurang sreg, tapi Veli menurut karena dia juga merasakan tubuhnya sudah sangat lelah. Begitu juga Sita dan Tantri. Dalam hati dia akan meminta maaf pada keduanya karena sudah menyusahkan mereka.


Emilia yang ngga bisa tidur memutuskan meninggalkan kamarnya setelah melihat ketiga sepupunya terlelap.


Dengan mata sembab dan rambut yang hanya dikuncir, Emilia berjalan sambil menunduk. Menyembunyikan wajah sembabnya dari pandangan para pengunjung hotel yang sedang berlalu lalang.


Langkahnya membawanya sampai ke taman hotel.


Dia mengagumi kenyamana dan keindahan taman yang ditanami pohon pohon rindang dan bunga bunga anggrek dan mawar. Ada beberapa orang pengunjung yang melakukan olahraga jogging di sana.


Tapi kakinya terhenti saat melihat seseorang yang membuat dia menangis semalaman sedang tidur dengan nyenyaknya di kursi panajng taman. Sangat tenang dan damai.


Tapi hatinya terasa sakit ketika melihat jari jari salah satu tangan laki laki itu yang diperban.


Kenapa kamu bisa terluka seperti ini? batinnya sedih. Ingin meraih tangan itu tapi dia takut pemiliknya akan terbangun dan mengumpatinya dengan kata kata kasar dan pedasnya.


Akhirnya yang Emilia lakukan hanya memandangnya dalam dalam. Bahkan Emilia sempat mengambil beberapa foto wajah tampan yang sedang tertidur nyenyak itu.


Dia tidur seperti bayi, bibir Emilia tersenyum sedih.


"Aku ingin membencimu, tapi ngga bisa." gumam Emilia getir, kemudian air matanya pun berjatuhan.

__ADS_1


Suara dering ponsel mengejutkannya. Dia pun segera mengangkatnya.


"Ya, aku segera kembali," katanya sambil menutup sambungan telponnya.


Emilia menatap Arjuna yang masih memejam kan mata, seolah ngga terganggu.


"Bencilah aku semaumu. Kita ngga bisa melawan takdir," bisiknya lirih sebelum membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, kembali ke kamarnya agar ketiga sepupunya ngga panik karena kehilangannya terlalu lama.


Arjuna membuka matanya ketika Emlia sudah melangkah pergi. Dia tersadar karena bunyi ponsel. Arjuna menatap kosomg pada punggung yang sudah menjauh. Dia mendengar apa yang Emilia ucapkan.


Takdir? Apa maksudnya? Bukannya dia menipuku. Mengapa menyalahkan takdir, batin Arjuna geram. Bayangan Emilia mempermainkannya terpatri kuat dalam hatinya. Apalagi sebagai penyebab kalahnya tender hotelnya di Bali. Demi memenangkan keluarganya. Arjuna kembali merasakan kemarahan yang berkobar kobar dalam dadanya.


Setelah bayangan Emilia ngga terlihat, dia pun bangkit dan akan segera kembali ke kamarnya. Sebentar lagi dia akan terbang, kembali ke kotanya. Kerjaan adalah obatnya saat ini.


*


*


*


"Di taman," jawab Arjuna cuek kemudian membuka pintu kamarnya. Dia ingin berendam di bath up sebelum memberekan barang bawaannya.


Galih hanya memggelengkan kepalanya. Matanya melirik pada perban yang melilit di tangan laki laki itu


"Parah juga kalo lo patah hati," gumamnya pelan setelah Arjuna masuk ke dalam kamarnya. Kenudian Galih menghela nafas kasar. Dia pun masuk ke dalam kamarnya yang ditinggali berdua dengan Mars.


"Juna?" tanya Mars yang barusan keluar dari kamar mandi.


"Iya,"


"Dari mana dia pagi pagi gini?" tanya Mars sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecilnya.


"Tidur di taman katanya," kata Galih sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Haah!" kaget Mars sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Anak itu ajaib juga, decaknya dalam hati tanpa menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya.


Ponsel di saku celananya bergetar membuat Galih cepat mengambil dan kaget melihat siapa yang menelponnya.


Papa? Ada berita apa lagi? Apa Om Arga meninggal? batinnya panik.


"Iya Pa," katanya langsung. Tapi kemudian dia terdiam setelah mendengarkan kalimat panjang papanya.


Arjuna dijodohkan? batinnya sambil menutup sambungan telponnya.


"Kenapa bengong? Om Arga ngga apa apa, kan? ganti Mars yang panik melihat ekspresi bingung Galih setelah mendapat telpon dari papanya. Apalagi setahunya papi Arjuna sedang berobat di luar negeri. Pikirannya pun mendadak kalut.


"Om Arga sudah tau kedekatan Arjuna dengan Emilia," kata Galih membuat Mars mematung.


Ini bahaya, batinnya.


"Sepertinya Om Arga punya mata mata," ucap Galih ngga tenang. Tadi papanya juga memarahinya karena membiarkan Arjuna berdekatan dengan Emilia Sagara. Walaupun tadi dia sempat membela diri kalo mereka ngga tau identitas Emilia. Papanya pun sudah memberikannya peringatan agar menjauhi segala hal tentang keluarga Sagara.


Mars terduduk di kasurnya. Tangannya kembali bergerak lambat mengeringkan rambutnya tapi dengan pikiran ngga menentu.


"Yang paling parah, Arjuna dijodohkan dengan Vania, putri Om Nata," kata Galih pelan tapi bagai bunyi halilintar yang menyambar telinga Mars. Handuk di tangannya sampai terlepas.


"Arjuna belun tau?" tebak Mars karena melihat wajah bingung Galih.


"Belum. Gue harap lo bantu jaga rahasia ini. Arby dan Jery jangan tau dulu," pesan Galih membuat Mars mengangguk mengerti


Arby dan Jery terlalu gampang membuka rahasia. Padahal papanya memintanya menjaga rahasia ini sampai mereka bertemu orang tua Arjuna di rumah.


Mars ngga bisa membayangkan betapa kaget dan tertekannya Arjuna jika sudah tau.


"Menurutmu siapa mata mata Om Arga?" tanya Mars walaupun sudah menduga. Tapi yang diherankan Mars, dia ngga melihat laki laki itu dimanapun saat di pantai.


Pasti dia menyamar, rutuknya dalam hati. Apalagi Mars ngga terlalu fokus mengawasi pantai. Karena kehadiran Arinka membuatnya mengalihkan perhatiannya dari sekitaran Arjuna.


"Siapa lagi kalo bukan dia," sentak Galih gusar. Laki laki itu licin seperti belut. Hanya keberuntungan yang bisa membuat mereka menemuinya.

__ADS_1


Hanya satu keinginan Galih jika bertemu laki laki sialan itu. Memukulnya habis habisan


__ADS_2