Love U Like FIRE

Love U Like FIRE
Pemilik Unit Sebelah


__ADS_3

Ketiganya pun melangkah terus menuju dapur. Cila menyimpan dua kotak makanan yang dibawanya ke dalam freezer.


"Ternyata kakak suka peempek kita, Cleo," seru Cila senamg karena mendapati kotak yang berisi pempek sudah ngga ada lagi di freezer.


Dimakan apa dibuang, tawa Cleo dalam hati. Tapi dia ngga mengatakannya pada saudaranya. Bisa panjang ntar urusannya.


"Jarang jarang makanan yang kita bawa dihabiskan loh, kak," cerita Cila sambil menatap Emilia dengan wajah senang.


Emilia hanya memgangguk dengan bibir tersenyum tipis.


Paling Kak Galih yang ngabisin, duga Cleo.


"Jajanan pasarnya kakak buat sendiri?" tanya Cleo begitu membuka kotak snack box dari Emilia. Bau harum menyelerakan langsung menguar.


"Iya."


"Baunya enak," puji Cila sambil mengambil satu buah risoles dna menggigitnya.


Dia terdiam sambil menelannya.


"Beneran enak," serunya lantang.


Cleo yang akan menyendokkan puding ke mulutnya, buru buru measukkannya ke dalam mulut. Mengunyah dengan pelan dan menelannya ala ala juri masterchef.


"Pudingnya juga enak, kak," pujinya dengan wajah kagum.


Selain bisa buat pempek, kakak ini bisa buat jajanan pasar juga? Rasanya enak lagi, batinnya memuji.


"Mama kalian juga pesan buat arisan," info Emilia, karena dia sudah diinfokan tentang kue kue yang mau dipesan mama si kembar.


"Kakak udah kenalan sama mama?" kaget Cila tambah senang.


"Iya, di tempat kita ketemu dulu," sahut Emilia dengan wajah penuh senyum


"Ooo," tawa Cila berderai derai


"Bisa bisanya, ya," cetus Cleo di sela tawa renyahnya.


"itu arisan keluarga?" tanya Emilia sedikit kepo.


"Bukan, kak. Tapi arisan sosialita mama," kekeh Cleo.


"Ooo," ucap.Emilia mengerti. Teringat mama dan tante tantenya juga punya arisan seperti itu.


"Kalo enak gini pasti ntar banyak yang pesan, kak," ucap Cila yang sudah menghabiskan sebuah risoles. Sekarang dia akan menggigit pastelmya.


"Kulitnya renyah," puji Celo setelah menelannya.


"Iya, enak, kak," kata Cila dengan biibir penuh pastel dan suara yang terdengar ngga jelas.


"Yang sopan Cila," seru Cleo mengingatkan.

__ADS_1


Emilia ngga bisa menyimpan senyumnya. Dia teringat akan kelakuan yang sama dari kakak sepupunya Dewa dan Andra.


"Nanti kakak main ke rumah kita, dong. Asyik," seru Cila ceria.


Cleo hanya tersenyum melihat sikap kembarannya yang sangat menyukai Emilia.


Sayang sekali udah punya pacar, sesalnya dalam hati.


"Mama pesan apa aja, kak?" tanya Cila lagi sangat antusias.


"Ini," Emilia menunjukkan foto foto kudapan yang dipilih tante Carol - mama si kembar.


"Enak sekali ya, dilihat dari fotonya," katanya dengan mimik kepengen membuat Emilia gemas melihatnya. Cleo kembali menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kembarnya.


Ponsel Cleo bergetar, ternyata kakak sepupunya menelpon.


"Sebentar, aku ke depan ya, kak," pamitnya yang diangguki Emilia. Sedangkan Cila ngga menggubris karena terus mengagumi foto foto makanan yang tampak lezat itu.


Ngga lama kemudian, Cleo pun masuk dan menemui mereka.


"Cila, kita ke kantor kakak ngantar berkasnya. Dasar, belum tua sudah pelupa," omel Cleo. Padahal niatnya setelah pulang dari apartemen kakak sepupunya, dia akan lanjut kumpul dengan teman teman pencinta alamnya.


"Berkas apa?"


"Aku ambil dulu di kamar kakak," kata Cleo sambil membuka pintu kamar Arjuna.


"Oke " Matanya masih saja menatap foto kue kue yang ada di ponsel Emilia sampai membuat Emilai terenyum senyum. Teringat kelakuan sepupunya yang mengatainya jadul karena suka kue kue tradisional. Ternyata setelah dibuatin, malah makannya paling banyak.


Makanya jangan suka ngejudge dulu sebelum dicoba, ejeknya dalam hati.


Emilia seperti masuk kembali dalam kenangan waktu dia masih smp kelas satu bersana Arinka, Zeta dan Maria. Saat itu kakeknya masih bersama mereka. Matanya memanas, dengan cepat dia memghapus air matanya yang hampir jatuh. Untung gadis di depannya masih konsentrasi dengan foto foto di ponselnya.


"Cila bantuin, dong," seru Cleo yang kerepotan dengan berbagai kertas di kedua tangannya. Tapi akhirnya jatuh juga beberapa kertas gulung itu di lantai.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Cila dan Emilia yang ikut menghampiri dan membantu mengambil gulungan kertas yang ada di lantai.


"Minta semuabna dibawa katanya," tukas Cleo rada kesal. Mana ada lagi gulungan yang terbuka.


"Kakak kalian arsitek?" tanya Emilia ketika melihat salah satu gulungan kertas yang terbuka lebar.


Dia seakan mengenal desain itu. Emilia mendekat dan berusaha melihat dengan detil. Tapi kemudian hatinya lega, karena ada perbedaan yang cukup mencolok di desain itu dengan desain mas Bima.


"Kak Juna selain jadi arsitek juga jadi CEO, kak. Sayang, deh, kakak udah punya pacar. Aku dan Cleo lebih suka kakak menjadi kakak ipar kami," cetus Cila panjang lebar.


DEG


"Juna? Arjuna Taksaka?" tanyanya dengan bibir bergetar.


"Iya," jawab keduanya berbarengan.


"Kakak kenal?" tanya Cleo sambil mengambil beberapa kertas gulung di lantai.

__ADS_1


"Ya," jawab Emilia dengan suara tercekat. Tapi sepertinya si kembar ngga sadar dengan perubahan nada suaranya.


"Kak.Juna ada tender di Bali. Kertas kertas ini desainnya," kata Cila dengan polos sambil membentangkan lebih lebar kertas yang tadi Emilia perhatikan.


"Bagus, kan, kak, desain hotel, kak Juna," puji Cila bangga sambil memperlihatkan desain kakak sepupunya.


Dada Emilia bergetar. Desain hotel ini cukup.mirip dengan punya mas Bima. memang ada sedikit perbedaan yang mencolok.


Kenapa bisa desain mereka hampir sama?


"Malah dibentang, harusnya dirapikan Cila," omel Celo seraya menggulung kembali kertas itu.


Kaki Emilia bergetar ketika akan bangkit berdiri. Arjuna Taksaka tinggal di sebelah unitnya?


Pantasan laki laki itu tampak santai saat akan masuk ke dalam lift yang ada dirinya.


Bagaimana ini?


Padahal dia sudah berusaha menghindarinya. Tapi malah sekarang mengunjungi unitnya. Dua kali malahan.


"Kakak sakit?" Akhirnya Cleo sadar juga saat melihat wajah Emilia yang memucat.


"Em... kakinya tiba tiba kram," dusta Emilia gugup.


"Duduk dulu, kak," kata Cila khawatir.


"Kakak mau minum?" tanya Cleo juga cemas.


Emilia tersenyum tipis.


"Udah ngga pa pa. Mungkin kecapean, kan tadi pagi buat pesanan snack box," kata Emilia membuat alasan agar keduanya ngga cemas berlebihan padanya


"Syukurlah. Kami ingin mengajak kakak ke rumah sakit. Tapi, Kak Juna sedang menunggu," ucap Cila dengan perasaan ngga enak.


Emilia mengembangkan senyum manisnya.


"Kakak udah ngga apa apa. Kalian berangkat aja, Kan sudah ditunggu."


Juna, tambahnya dalam hati.


"Iya, kak."


Kemudian ketiganya melangkah keluar dari unit aparteman Arjuna.


Emilia pun membuka pintu unitnya sambil melambaikan tangannya pada gadis kembar yang berlalu meninggalkannya.


"Istirahat, kak," ucap Cila sambil melambaikan tangannya.


Emilia tersenyum dengan hati miris.


Siapa yang bisa menduga, dia malah sudah seakrab ini dengan adik adiknya Arjuna Taksaka. Bahkan mama mereka memesan kudapan buat arisan.

__ADS_1


Bagaimana caranya mengantarkan pesanan tante Carol tanpa ketahuan Arjuna?


Emilia merasa kepalanya tiba tiba pusing. berat Dia butuh tidur sebentar.


__ADS_2