MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Mata dibalas mata


__ADS_3

Setelah suara mikrofon terdengar, suasana menjadi hening dalam waktu beberapa detik sebelum kericuhan kembali terjadi. Nyonya Cha menarik Xia dengan kencang hingga melupakan bahwa ia harus memiliki citra yang baik. Dipikirannya kali ini hanya ingin mempermalukan anak angkat dari mantan suaminya ini. Nyonya Cha mendorong Xia ke hadapan komandan polisi. "Dia adalah Xlara Zadriankan yang Anda cari, pak. Tangkap saja wanita murahan ini. Dia juga sudah merusak pesta saya, melakukan tindakan plagiat pada gaun, dan bahkan menggoda pacar nona Mona," ujarnya.


Yang nyonya Cha tahu, Mona adalah kekasih Afra. Jika tadi pria itu membela Xia atau yang ia panggil Lara ini, maka Xia sudah menggodanya, sekaligus menggoda desainer ML. Itu yang dipikirkan nyonya Cha saat ini. Tidak ada perubahan pada raut wajah Xia, gadis itu hanya menatap datar tanpa minat. "Saya akan menambahkan semua itu dalam laporan Anda," sambungnya menggebu sedangkan gadis yang menjadi tersangka hanya menunjukkan raut datar dengan kedua tangan dilipat di depan dada.


Seseorang di antara tamu tersenyum kecil menyaksikan semua ini. "Hei, apa yang kamu lakukan nyonya plagiat? Anda melakukan tindakan flying victim. Anda yang berbuat salah dan Anda malah melempar kesalahan Anda kepada orang lain," ujar Mikhail tidak terima gadis temannya direndahkan seperti ini. "Hei, kawan, kenapa kau diam saja? Gadismu dijadikan kambing hitam mereka!" ujarnya tegas pada Afra.


Afra menghela napas. Malam ini kesabarannya benar-benar diuji oleh permainan sang kekasih. "Ini permainannya. Aku tidak bisa ikut campur," jawabnya. Mikhail terbelalak. "Hei, apa maksudmu, kau tidak mau membela gadismu?"


"Tuan ML, seperti Anda salah paham," sela nyonya Cha. "Gadis Tuan Afra adalah nona Mona bukan gadis siluman itu," ujarnya menunjuk Xia saat mengatakan gadis siluman.


"Sepertinya kau yang salah paham, nyonya," ujar Afra sambil menatap tajam wanita itu, lalu berjalan menuju Xia yang berdiri. "Wanita cantik ini adalah kekasihku," pengakuannya, sambil merangkul Xia.


Mona hanya bisa mengepalkan tangannya dengan senyum palsu di bibirnya. "Apa yang Anda katakan, Tuan?" ujar nyonya Cha tidak percaya. "Hei, j*lang, apa yang sudah kau lakukan pada Tuan Afra? Apa kau memakai ilmu hitam untuk memikatnya, hah? Karena tubuhmu itu sudah dicicipi banyak pria, Tuan Afra tidak akan sudi menerimamu," sambungnya ke arah Xia.


Tidak ada perubahan raut wajah di Xia. Ia tenang bahkan gadis itu, untuk pertama kalinya, menggenggam tangan Afra untuk menenangkan emosi pria itu. "Apa yang kau lakukan, hah? Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Tuan Afra dari nona Mona," sambungnya, membuat banyak opini buruk tentang Xia berseliweran di kepala para tamu, bahkan mereka tidak segan-segan berkomentar dan bergunjing sekarang juga.


Mikhail tidak terima. "Heh, nyonya bodoh! Kau gila, hah! Mona hanya teman kecil Afra, bukan berarti gadis itu pasangannya!" ujarnya, membela Xia. Tapi perkataan Mikhail membuat nama Xia semakin buruk di mata para tamu di pesta malam ini. Mereka pikir Xia sudah merebut kekasih seseorang yang sudah memiliki hubungan sejak kecil, kejam!


"Kau dengar, bodoh! Nona Mona sudah menjadi kekasih kecil Tuan Afra, dan kau merebutnya! Dasar j*lang tidak tahu diri!" Nyonya Cha menggebu, bahkan tangannya melayang untuk menampar pipi Xia. Tangan Nyonya Cha berhenti di udara karena Xia menahan tangan lancang wanita itu. "Jika Anda sudah berbicara, maka giliran saya, nyonya," ujarnya, masih dengan raut datar nan tenang tanpa melepaskan pergangan tangan Nyonya Cha yang ia tahan.


"Lepaskan, bodoh! Kau menyakiti tanganku! Pak polisi, tolong, tangan saya sakit. Wanita j*lang ini ingin mematahkan tangan saya," pinta Nyonya Cha pada polisi.


"Nona, bisa Anda lepaskan tangan Nyonya Cha?" pinta polisi.


Xia menatap bergantian pada polisi, Nyonya Cha, lalu pada Afra yang masih setia mencoba mengontrol emosinya. "Sebelum itu, bisa saya bertanya, Pak Polisi?" tanyanya dengan tenang.


"Silakan, nona. Apa pertanyaan Anda akan saya jawab dengan jujur?" jawab polisi.


"Jika ada yang melakukan kekerasan pada saya, lalu saya melawan, apakah itu salah, pak?"


Pak polisi menggelengkan kepalanya lirih. "Tindakan yang diambil atas perlawanan melawan kekerasan yang Anda dapat tidak disalahkan karena kami menganggap sebagai pembelaan diri, nona, namun kami juga tidak membenarkannya."


Xia mengangguk paham. "Jadi, tindakan saya ini bisa dikatakan pembelaan diri, bukan begitu, Pak Polisi?" Krek.


"Arrgg!" pekik Nyonya Cha karena tangannya baru saja dipatahkan oleh Xia hanya dengan satu kali tekanan.


Semua yang ada di pesta terjengkit kaget, mereka tidak percaya gadis kecil itu berani melakukan kekerasan di depan polisi. "Nona, Anda harus pergi ke kantor polisi bersama kami. Anda bahkan belum menyelesaikan satu laporan, dan Anda sudah melakukan kekerasan lainnya. Anda bisa terkena pasal berlapis," ajak polisi itu dengan baik-baik.


"Saya akan ikut Anda setelah urusan di sini terselesaikan, Pak Polisi. Anda bilang melakukan pembelaan bukanlah kejahatan, lantas mengapa saya harus ikut Anda ke kantor? Saya hanya melakukan pembelaan seperti tadi. Saya mematahkan tangan Nyonya Cha karena beliau ingin menampar saya. Jadi, saya hanya melakukan pembelaan saja dan saya tidak salah," ujar Xia dengan wajah tenang, membuat keluarga Cha muak dan hampir menyerang gadis itu jika saja anak buah Afra tidak menjaga mereka untuk tetap diam di tempat.


Xia sudah lelah dengan permainan ini. Ia harus menyelesaikan satu permainan untuk menuju permainan selanjutnya. "Flashdisk," ujar Xia, membuat Afra mengangguk dan datanglah seorang pria berpakaian tertutup memberikan apa yang Xia inginkan.


"Semua bukti ada di sini, Pak. Jika kurang, Anda bisa datang ke kediaman Abana. Seseorang akan membuat laporan untuk saya atas tindakan pencemaran nama baik, kekerasan, dan kasus lainnya akan diurus orang itu," ujar Xia memberikan flashdisk itu, membuat Pak Polisi menatap tidak mengerti.


"Semua bukti ada di sana. Laporan yang mereka buat hanya laporan palsu. Semua bukti ada di sana. Saya yang menjamin semuanya," ujar Afra membuat mau tidak mau Pak Polisi itu mengangguk dan pergi tanpa membawa pelaku.


Ia sendiri tidak mengerti maksud semuanya tapi juga tidak bisa bertanya pada pria berkuasa itu demi menjaga posisi dan keamanannya. Ia hanya ingin segera kembali ke kantor dan melihat isi flashdisk itu agar bisa ia selidiki dengan jujur.


Pesta malam ini sudah hancur lebur dengan tiga masalah sekaligus, plagiat, kekerasan, dan laporan polisi membuat nama baik keluarga Cha diragukan, membuat Nyonya Cha semakin membenci seorang Xlara Zadrianka Abana. Tokoh utama pembuat kehancuran pesta tersebut sedang diperjalanan untuk pulang.


"Aku tidak mengerti semua ini," ujar Mikhail yang duduk di kursi depan bersama Afra yang tengah menyetir dan Xia di kursi penumpang.


"Tidak mengerti apa?" tanya Afra.


"Semua ini. Oh, ayolah. Apa tidak ada yang mau menjelaskan padaku. Rasanya kepala ku ingin pecah memikirkan kejadian ini tanpa menemukan jalan keluarnya," keluh Mikhail.


Desainer kemayu itu diminta mengirimkan gaun istimewa untuk gadis temannya, Maringgai Azonafra Amlias, yang tidak pernah dekat dengan wanita karena rasa ingin tahu yang sangat besar. Mikhail memutuskan untuk datang ke pesta yang pada awalnya ia tolak mentah-mentah karena tidak suka. Mikhail ingin tahu gadis mana yang sudah mencairkan hati dingin temannya itu. Ia tidak menyangka kedatangannya seolah sudah direncanakan untuk memeriahkan pesta dalam artian tertentu.


Afra pasti sudah merencanakan semuanya karena tidak ada kebetulan di dunia ini selain takdir. Walaupun ia yakin semua ini rencana Afra dan gadisnya, tetap saja Mikhail menolak kenyataan sebelum menerima jawaban langsung dari mulut dua orang dengan wajah tenang menyeramkan mereka.


Semakin tenang, semakin menyeramkan orang itu. "Semua sudah direncanakan. Permainan pesta masih panjang hanya saja waktunya tidak memungkinkan. Ada permainan lain yang harus diselesaikan malam ini juga," ujar Xia dengan mata memejam namun tidak tidur.


"Permainan masih panjang. Jadi, permainan kalian belum selesai?"


"Permainan adalah takdir dan tak akan selesai," ujar Afra. "Permainan selanjutnya apa yang kamu maksud? Kamu menyiapkan permainan baru tanpa memberitahuku dulu?" tanya Afra pada Xia.


"Bukan aku, tapi mereka," jawab Xia seadanya. "Aku hanya tokoh di dalamnya."

__ADS_1


Mikhail menatap Afra dan Xia bergantian dengan tatapan bingung. "AIS jodoh adalah cerminan diri," cibirnya pada dua orang satu mobil itu.


Afra melirik ke arah luar jendela mobil dengan tatapan waspada. "Mereka sudah siap, tapi belum tentu menang," ujar Xia membuat Afra menghela nafas. Seingin apapun ia tidak bisa mengerti Xia seutuhnya. Gadis itu seperti labirin dan teka-teki.


"Kau sudah mengetahui kita akan diserang?" tanya Afra dengan nada tenang agar tidak membangunkan Mikhail yang entah sejak kapan tertidur.


Xia mengedikan bahunya. "Tau atau tidak, kita harus berjalan melalui takdir," ucapnya membuat Afra lagi-lagi menghela nafas.


"Kau benar. Kau tenang saja. Mereka akan segera menyelesaikan serangan ini. Kamu hanya tinggal duduk manis saja," ucapnya memberitahu bahwa ia bukan pria yang bisa dikalahkan, walaupun musuh memiliki rencana terencana.


"Bukan itu rencananya," ujar Xia membuat alis Afra naik sebelah mencerna perkataan gadisnya tadi. "Aku berencana untuk meregangkan otot. Sudah lama tidak turun tangan dalam perkelahian membuat otot-otot tubuhku kaku," sambung Xia, membuat Afra terkekeh.


"Kamu bisa berlatih bersama ku besok. Bagaimana?" ajaknya dengan senang hati.


"Sepertinya tidak bisa. Aku sangat sibuk," tolak Xia karena ia sudah menyusun banyak rencana untuk menyelesaikan tugasnya di sini. Semuanya harus segera selesai. Tubuhnya tidak kuat lagi menahan raganya.


"Baiklah, Nona Sibuk. Aku akan menunggu waktu senggangmu," ujar Afra dengan suara menyindir, mengingat dirinya juga orang sibuk.


Xia tidak menjawab. Ia memilih menatap keluar jendela sambil menghela napas. Ia yakin di luar sana banyak yang sedang menaruhkan nyawa untuk pekerjaan.


Xia sudah merencanakan ini sejak pagi tadi. Ia sudah menyusun untuk menangkap mereka yang tengah dilawan anak buah Afra dengan permainannya. Namun, pria itu malah menggagalkan dengan cara menyerang mereka di titik yang tidak disepakati sebelumnya. Pria arogan ini selalu melakukan apa pun kemauannya.


Sesampainya di kediaman Abana, Mikhail menatap bangunan itu dengan canggung. "Aku akan menginap di sini untuk sehari. Apa boleh? Ayolah, ini sudah malam, aku sudah lelah dan ingin segera merebahkan diri di kasur," paksa pria kemayu itu.


"Terserah," jawab Xia sambil melegak masuk ke dalam. Di ruang tamu, ada Yura dan Cean yang terlihat menunggu kepulangan mereka.


Cean langsung menghamburkan diri ke pelukan Xia. Xia tanpa membalas pelukan gadis itu hanya menatap Yura dengan tatapan bertanya.


"Dia mengetahui siapa yang menjebaknya," jawab Yura paham dengan tatapan Xia.


Mikhail dan Afra hanya menatap tiga gadis itu dengan tatapan berbeda. "Apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Xia tanpa mengubah raut wajah datarnya. Cean, yang terisak, memeluk Xia dan melerai pelukannya, menatap gadis di depannya dengan bingung. "Aku tidak tahu, memangnya aku harus apa?" tanya gadis lugu itu, membuat Yura merasa ragu.


"Oh, ayolah, polos dan bodoh memang dua hal yang sama," cibirnya. "Ingin membalas?" tanya Xia, menatap lama wajah Cean yang sedang mengusap wajahnya.


Cean mengangguk lirih. "Aku takut melakukannya, kak," jujurnya. "Kau hanya akan menyaksikan, anak buah kakakmu yang akan bekerja. Katakan saja apa yang kau inginkan... tapi aku punya usulan. Mata harus dibalas dengan mata, bukan?"


Jam 03:30


Dua siluet manusia memandang mansion yang lumayan besar dengan penjagaan ketat. Keduanya mengangguk dan memasuki mansion dengan cara mengendap-endap, mengikuti arah kegelapan. Bukan tidak bisa menaklukkan penjagaan mansion ini, hanya saja kedua orang ini tidak mau mengganggu tidur pemilik mansion di jam terlelap ini. Tamu tak diundang sangat baik, bukan?


Tanpa disadari, para penjaga sudah terkecoh, dan dua siluet itu berada di dalam rumah. Dengan langkah arogan, kedua siluet itu menilai setiap tempat yang mereka lewati untuk menuju tempat tujuan mereka: kamar anak dari pemilik mansion ini.


"Perlukah mengetuk pintu? Kita kan tamu yang baik," kelakar salah satu di antara dua siluet, sambil terkekeh.


"Ide bagus," jawab temannya, membuat si penanya tadinya menganga. "Sungguh?! Kau akan mengetuk?"


"Ck, dia tidak pantas mendapat penghormatan itu," jawabnya, merasa mengetuk terlebih dahulu adalah sebuah tanda kesopanan, dan pemilik kamar ini tidak masuk kualifikasi yang harus dia hormati.


"Ckckckck," decak yang satunya lagi, sambil menggelengkan kepalanya, saudara sekaligus temannya ini selalu bertindak semaunya.


Keduanya kini berdiri mengamati seorang wanita dewasa yang tengah tertidur di ranjangnya. "Kita mulai?"


"Aku akan membuat permainan lebih seru," ujar salah satu siluet itu, menanggapi pertanyaan temannya, sambil menunjukkan senyuman di sudut bibirnya lalu mengeluarkan suntikan yang sudah disiapkan di sakunya. Tanpa berlama-lama, ia menusuk lengan gadis itu dengan suntikan tersebut.


"Arghh," rintih gadis terlelap itu tanpa membuatnya terbangun.


"Kali ini racun apa yang kamu pakai, Xia?" tanya Yura, menatap gadis yang masih tertidur di ranjang, menunggu reaksi dari suntikan yang Xia berikan.


Xia mengedikan bahunya acuh. "Kau akan segera tahu."


"Baiklah," percuma juga jika kembali bertanya. Xia tetap tidak akan menjawabnya. Lebih baik menunggu seperti yang Xia katakan; toh sebentar lagi reaksinya akan muncul.


"Ssss," rintih gadis di ranjang itu, perlahan menggerakkan kelopak matanya, meraba-raba nakas untuk menyalakan lampu. Setelah menyala, baru gadis itu membuka matanya. Untuk sebentar, gadis itu menyesuaikan cahaya remang yang masuk keretinnya.


"Siapa kalian?!" terpekiknya, melihat dua siluet asing di matanya. Ia ingin berteriak memanggil pengawalnya, namun suaranya tercekat di tenggorokan.


"Sabarlah, bodoh! Aku akan menyalakan lampunya. Tidak sabaran sekali sih," gerutu Yura, sambil berjalan untuk menyalakan saklar lampu yang memberikan cahaya terang, tidak lagi remang.

__ADS_1


Mata wanita di ranjang itu melotot hebat seolah akan keluar dari tempatnya, dia ingin memaki dua gadis yang berdiri di samping ranjangnya, memukul bahkan membunuh mereka. Namun, bagian tubuhnya tidak bisa dia gerakkan, tangan dan kepalanya sama sekali tidak bisa digerakan.


"Wah, ternyata racun lamamu. Tapi bukankah pelumpuh sarafmu itu masih bisa membuat korban bicara?" selidik Yura, tertarik untuk membuat wanita yang sedang melototi mereka di ranjang itu ketakutan.


"Sudah, aku kembangkan. Dia orang pertama yang mencobanya," jawab Xia acuh, sambil merogoh sakunya.


Dua gadis itu memakai pakaian serba hitam tanpa menutup wajah, sengaja memberi tahu identitas pada korbannya agar jera. Hanya memberi peringatan, karena sudah berani bermain-main.


Wanita ini dalang dari keributan di pesta keluarga Cha malam tadi. Dia yang merencanakan semuanya, dari penyerangan yang dilakukan dua gadis di toilet, penghinaan dari keluarga Cha, dan juga kedatangan polisi. Semuanya sudah direncanakan wanita ini dengan matang. Xia dan Afra hanya menjalani peran mereka sebagai tokoh utama dalam rencana ini.


Bahkan untuk pelecehan yang dialami Cean, juga sudah menjadi rencana Mona. Dan mereka tidak mengetahui sejak awal hingga kejadian itu bisa terjadi.


Xia mengeluarkan pisau cutter dari sakunya dengan raut wajah tidak berubah, lalu menyeringgai. "Tidak usah dibahas tentang racun itu. Langsung saja kita mulai bersenang-senangnya."


"Aku setuju," ujar Yura sambil melompat ke atas kasur, membuat kasur itu bergerak. Yura duduk di samping gadis yang mereka berikan racun pelumpuh saraf tadi, lalu mengeluarkan cutter yang persis seperti yang Xia pegang. "Hehehe, Nona Mona yang cantik, wajah bagian mana yang ingin Anda operasi terlebih dahulu?" tanyanya sambil menyeringai.


Xia berdecih, lalu memasukkan cutter-nya ke dalam saku dan memilih duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang.


"Xia, aku benar-benar hanya bermain sendiri?" tanya Yura, semangatnya semakin meningkat, terutama setelah melihat Xia mengangguk. Semangatnya semakin berkoar, bahkan gadis itu berseru kegirangan. "Horee!"


Mona menatap Yura dengan tajam, matanya menyorot mengancam, karena kepalanya tidak bisa digerakan. Tangannya juga sama, begitupun bagian tubuh lainnya.


Dibalik tatapan mata Mona, gadis pengusik ketenangan Xia itu, merasa terancam dan marah. Salahnya sendiri karena sudah mengusik ketenangan Xia, padahal Xia tidak mengusiknya.


"Mata harus dibalas dengan mata!"


"Mmm, mana yang ingin kamu coba terlebih dahulu, mulut? Pipi kanan atau kiri? Kening? Hidung?" tanya Yura sambil menggelengkan kepalanya setiap kali menyebut bagian wajah Mona.


Mona semakin menatap tajam Yura dengan sorot kemarahan yang semakin menjadi-jadi. Mona sengaja merangkai rencananya untuk menjebak Xia agar Afra meninggalkan gadis itu. Hanya dia yang harus memiliki Afra, tidak boleh yang lain. Afra hanya milik Mona! Pikir Mona.


"Xia, menurutmu mana yang lebih menarik untuk dicoba?" tanya Yura sambil mengangkat cutter ke wajah Mona. Mona menatap tajam benda itu dengan sorot takut. Dia tidak bisa minta bantuan. Padahal, mansion milik keluarganya dijaga sangat ketat. Bagaimana mereka bisa masuk?


"Mulutnya cukup menarik, bukan?" ujar Xia setengah bertanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


Yura menatap Mona seolah memilih bagian mana yang bagus membuat keahlian berkarya nya ditorehkan.


"Up, tanganku tergelincir. Oh, maafkan aku. Maaf ya, pasti sakit. Akan kubiarkan noda ini kubersihkan," ujar Yura dengan raut wajah dibuat menyesal setelah ia sengaja menggores hidung Mona dengan cutter yang ia pegang dari pangkal hidung sampai ke hidup. Yura juga menekan luka yang ia torehkan seolah mengelapnya dengan selimut yang ada di sana.


Saat merasakan benda tajam itu, Mona hanya mampu memejamkan mata sambil mengutuk dua gadis itu dalam hati. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menekan rasa sakit yang tengah ia alami ini.


"Is, darahnya tidak mau berhenti. Kita lanjutkan saja, oke?" ujar Yura kesal melihat hidung Mona yang tidak berhenti mengeluarkan darah.


Kini, cutter tajam itu menyentuh kulit pelipis Mona lumayan dalam, karena Yura menggerakan tangannya sedikit saat menekan di sisi yang lain.


Yura membuat garis di pelipis Mona sampai dagu, beralih pada pelipis sisi lain, lalu dahi Mona dengan gambar yang sama, yaitu garis-garis dari ujung kanan sampai ujung kiri dengan garisan memanjang satu-satu hingga menyentuh alis bagian atas. Yura berdecak kagum dan semakin bersemangat.


Sifat psikopatnya kini bisa ia keluarkan setelah beberapa bulan terpendam karena terlalu bermalas-malasan dalam menjalani tugas.


"Gantian!" ujar Xia membuat gerakan Yura yang sedang menggores cutter pada pipi Mona dari hingga ke dagu.


"Tadi tidak mau!" cibirnya namun segera bangkit dari sana dan membiarkan Xia yang menyelesaikan.


Xia berjalan dan duduk di samping Mona yang sudah menangis sejak tadi. Air matanya menyentuh luka yang baru saja diciptakan Yura dan semakin membuat rasa sakit yang begitu dalam dalam dirinya namun ia juga tidak bisa menghentikan air matanya itu. Sakit! Dasar binatang!


Xia mengeluarkan cutter dari sakunya lalu menggerakkan zig-zag ke wajah Mona hingga luka di wajahnya tidak berbentuk lagi. Mona sendiri sudah pingsan beberapa menit yang lalu karena tidak kuat menerima luka yang diberikan.


Wajah mulus, bersih, dan cantik yang dikenal orang-orang tentang Mona kini tidak akan dikenali. Siapapun tidak akan mengenali wajah Mona yang sudah hancur dengan luka memanjang dan juga zig-zag di wajahnya. Xia dan Yura pergi setelah wajah Mona tidak ada lagi tempat yang bisa diberikan luka selain area mata. Mereka tidak menyentuh bagian itu.


Mona bangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah, menggerakkan tangan dan kakinya. Semalam ia bermimpi sangat buruk. Wanita yang menjadi saingannya datang meracuninya lalu merusak wajahnya. Mona bersyukur itu hanya mimpi, tapi ia sangat marah sekarang. Beraninya mereka menyerang, walau lewat mimpi sekalipun.


"Akan kubunuh kalian!" umpatnya lalu meringis merasakan wajahnya yang sangat sakit.


Mona berjalan menghampiri cermin yang setinggi tubuhnya. Langkahnya terhenti, matanya terbelalak. Wajah ini, wajah ini entah milik siapa. Wajah hancur, tidak-tidak, mungkin bukan milikmu. Tidak, ini mukan wajahnya.


"Itu hanya mimpi," yakinnya pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata berharap rasa sakit di wajahnya hilang dan wajah setan di hadapan cermin berganti dengan wajah miliknya. Wajah hancur itu bukan miliknya. Mona kembali membuka matanya, namun pemandangan di depan cermin masih sama, bahkan rasa sakitnya pun sama.


"Tidak-tidak, aaaaaaaaa!"

__ADS_1


__ADS_2