MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Keajaiban dunia yang kau buktikan


__ADS_3

Hari ketiga dimana gadis bernama Balla tinggal di mansion Afra,kini kondisi tubuh gadis itu sudah sembuh.


Karna kondisinya yang sudah lebih baik,gadis kecil itu diusir dari mansion dengan baik-baik,Balla bisa saja memberontak namun ia tidak mau,paman nya hidup tenang dirumah milik ayahnya.


Dengan kemalasan dan persiapan tubuh juga mental,Balla sudah siap diantar ke mansion miliknya setelah hari mulai siang.


Ia diantar dua gadis yang ia anggap sebagai kakaknya itu,kebetulan kedua gadis itu ada keperluan diluar,dijadikan ia alasan untuk menghabiskan waktu bersama walau hanya beberapa menit dimobil,setelah ini mungkin mereka akan sulit untuk bertemu.


"Jika ada masalah langsung hubungi kami!"ujar Xia saat mobil yang mereka tumpangi berhenti dikalangan rumah yang hampir sama dan megahnya dengan mansion milik Afra.


"Baik kak"jawab Balla dengan senyuman yang tersemat dibibirnya,walau dilubuk hatinya ada perasaan yang berkecamuk.


"Turun sana!"usir Yura membuat Balla mendengus kesal.


"Sabar dong,ah"Balla membuka pintu mobil,namun ia kembali menutupnya disertai dirinya yang kembali bersandar di kursi yang sempat akan ia tinggalkan.


"Kenapa kau duduk lagi?"tanya Yura.


"Diam dulu deh"ujar Balla membuat Yura mendengus namun ia tetap menuruti penuturan gadis kecil tersebut.


"Aku ingin berterimakasih,karna sudah merawatku dua hari ini,, "ucapan Balla terpotong suara Yura yang menyela.


"Kau sudah mengatakannya tadi pagi,tidak usah di replay,sebaiknya cepat turun!,aku ingin bersenang-senang" ujar Yura membuat balla mendengus kesal.


"Iyaiya,sabar dong,padahal aku ingin ikut bersenang-senang bersama kalian"jawab Balla.


"Tidak!,jangan ikut campur dengan urusan kami!,cepat turun!,paman mu sudah menunggu dengan tongkat bisbol ditangannya didalam sana"ujar Yura membuat balla memajukan bibirnya satu senti.


Balla sudah menceritakan tentang hidupnya kepada dua wanita ini,saat ia demam kemarin,entah kenapa tiba-tiba ia membagi duka yang selalu ia tutupi,berbagi dengan dua wanita ini membuat ia percaya bahwa kebahagian menunggunya didepan sana.


Ada hikmah disetiap kejadian,contohnya saat ia sakit kemarin,ia kembali mendapatkan perhatian yang dulu sempat hilang,kepercayaan diri,semangat dan alasan hidup,kini semua itu kembali,kembali begitu saja saat ia menceritakan kisah hidupnya kepada dua wanita yang tanpa alasan ia jadikan kakak.


Tinggal beberapa hari dengan mereka membuat dirinya benar-benar merasakan kasih sayang seorang kakak,walau kedua wanita itu berbeda dari segi berpikir,namun mereka bisa menyatukan perbedaan,Balla juga semakin bisa mengartikan setiap kata singkat yang keluar dari mulut Xia dan Yura.


Balla semakin kuat bertekad akan membalas semua penderitaan yang ia terima selama ini,bahkan lebih dari apa yang ia derita!.


"Masuk!,istirahat,besok cerita baru akan dimulai "ujar Xia yang duduk didepan bersama gama yang menjadi supir.


"Baik kak,sekali lagi terima kasih" ujar Balla disertai senyuman indah lalu keluar dari mobil.


Kini Balla sudah berdiri didepan pintu yang menjulang tinggi dan besar,balla gadis itu,menghela nafas kasar,ia harus sabar dan kuat,saat pintu terbuka nanti,dia pasti akan mendapat luka fisik seperti biasanya,apalagi ia sudah membuat kekacauan disekolah tempo hari,dipastikan ia akan masuk rumah sakit karna luka parah.


Lagi-lagi Balla menghela nafas kasar,bukan takut hanya saja dirinya lelah,namun ia tidak bisa beristirahat,huh,mungkin hanya saat kematian yang menjemputnya,dirinya bisa bersantai.


Rumah yang menyimpan banyak kenangan indah bersama kedua orang tuanya kini berubah seratus derajat,berubah menjadi kenangan paling memilukan juga menyakitkan.


Mobil meninggalkan pekarangan mansion milik keluarga Balla,kedua gadis itu masih menatap balla yang terdiam didepan pintu,sebelum tatapan mereka terlepas.


"Apa rencanamu?,kenapa sekarang kau peduli pada orang lain?"tanya Yura di perjalanan menuju tempat selanjutnya.


"Menghilangkan jenuh"jawab Xia sebari menatap datar kearah depan dengan mengedikan bahu.


"Sejak kapan kau peduli terhadap orang lain?"tanya Yura sekali lagi.


"Tidak pernah! "

__ADS_1


"Xia,aku tahu semua tentangmu walau kita dipertemukan empat tahun lalu,jawab dengan jujur!"pekik Yura.


Xia menghela nafas jengah dengan masih menunjukan wajah andalannya yaitu datar, "Tidak pernah!,dan tidak akan! "


Yura mengusap wajahnya dengan kasar,benar-benar harus ekstra sabar jika menginginkan jawaban jujur dari gadis itu.


"Lalu kenapa kau ingin membantu gadis itu?"tanya yura.


"Menghilangkan jenuh"jawab Xia lagi-lagi.


Yura mendengus kesal,kesabarannya hanya setipis tisu dan setiap hari disuguhkan sikap menyebalkan Xia,menjadikan dirinya bisa mengontrol diri selama beberapa tahun ini.


"Apa yang keluar dari mulutmu selalu tidak main-main,dan ada alasan,kau tidak ingin membaginya denganku?"Yura masih mencoba mengontrol kesabarannya.


"Xia menghela nafas jengah"iba"


Jawaban Xia membuat Gama mengerem mendadak,saking kagetnya,lalu kedua manusia berbeda jenis kelamin itu menatap Xia dengan heran.


"Sejak kapan kau punya rasa iba?"selidik Yura,Yura yang tadinya menahan marah menjadi cengo.


Xia hanya menatap Gama dan Yura bergantian lalu menatap luruh kedepan," Jalan!"


Gama tersentak,"Maaf nona"detik selanjutnya mobil kembali melaju.


Tidak mendapat jawaban dari Xia membuat yura tidak menyerah,"Jawab! sejak kapan kau memiliki rasa iba,oh ayolah,jangan bercanda,keluarga kay tidak memiliki hal itu sejak mereka dibentuk"


"Masih mending keluargaku yang sedikit normal,ya walau sedikit si,dari kami masih ada yang memiliki rasa iba,termasuk aku,jika aku yang mengatakan akan menolong,ralat,membantu gadis itu,itu masih wajar,jika dirimu"Yura sengaja menjeda ucapannya sebari menatap Xia yang duduk didepan sedangkan dirinya duduk di belakang sendiri.


"Ouh tidak bisa dipercaya,keajaiban dunia mana yang coba kau buktikan kawan"ujar Yura diakhir tawa.


Sedangkan Gama walaupun ia merasa aneh tapi ia tetap diam,ia tidak punya hak untuk bertanya.


Alasannya,karna Balla memiliki potensi,potensi yang bisa membantunya dimasa depan jika diasah,jika hanya memiliki potensi tapi tidak punya guru untuk mengasahnya,percuma saja,sia-sia.


Xia hanya memakai semua ini sebagai alasan untuk keuntungan yang akan ia dapatkan nantinya.


"Jika disini ada ibu,dia pasti akan mengecek dirimu xia,dia akan mengecek keaslian mu"masih dengan tawa yura terus berbicara.


"Bahkan Iaz pun tidak akan percaya,bahwa yang mengatakan hal tadi adalah dirimu"sambung Yura tanpa mencoba menghentikan tawanya,karna merasa nyeri diperut bahkan sudut matanya berair,ulah tawanya sendiri.


Suara notifikasi terdengar dari salah satu ponsel milik tiga manusia didalam mobil tersebut.


Yura mengecek ponselnya lebih dulu"no"ujar yura yang sudah berhasil menghentikan tawanya.


"Bukan milik saya nona"kini Gama yang bersuara.


Xia menghela nafas sebelum merogoh ponsel disaku celananya,gadis itu memakai celana jeans dengan kaos hitam bergambar kucing dengan lengan seperempat.


Terlihat sangat imut bahkan dengan wajahnya yang dingin,datar,mendominasi keimutan gadis itu.


Ketiga wanita tadi termasuk balla memakai pakaian couple dengan warna sama,siapa lagi yang berhasil memaksa mereka jika bukan,balla,ogah-ogahan Xia dan Yura memakainya,entah dari mana Balla mendapatkan baju seperti ini.


Yang ia ambil bukanlah ponsel miliknya,"pria itu"ujar Xia memberitahu dari mana asal suara tadi,ternyata dari ponsel Afra yang tidak sengaja tertinggal dimansion.


Anak buah afra hendak mengantarkan ponsel ke kantor,sebelum rombongan Xia meninggalkan mansion,karna menginginkan sesuatu Xia mengajukan diri mengantar ponsel tersebut.

__ADS_1


"Kau akan membukanya,Xia?"selidik Yura.


"Tidak penting"jawab Xia kembali memasukan ponsel tersebut kesakunya.


"Apanya?,seharusnya kau lihat dulu,siapa tau kita mendapat informasi siapa mereka!diponsel itu"ujar Yura.


"Tidak penting"lagi-lagi jawaban sama, membuat Yura mendengus.


"Terserah kau saja!,tapi kau jangan melarangku membuat adegan seperti difilm-film nanti"


"Aku tidak pernah melakukannya"jawab Xia jujur.


"Ia juga ya"ujar yura sebari menggigit jarinya sebentar," Siapa tau kau berubah!,karna aku akan membuat adegan dikantor tunanganmu"sambung Yura sebari menekan kalimat akhir yang ia ucapkan.


"Kau ledakan saja aku tidak peduli!"ujar Xia datar.


"Jangan dong,masa meledakan kantor tunangan adikku,itu kejahatan namanya,merusak masa depan adikku yang cantik ini"cibir Yura sebari terkekeh.


"Diam!"


Yura kembali tertawa karna berhasil membuat Xia kesal,ouh ayolah kesabaran Xia tidak selembar tisu,hanya dirinya yang bisa melakukan itu.


"Jangan marah-marah dong,ah nanti cantik mu hilang"ujar Yura mencoba menghentikan tawanya dengan mengulum bibir.


"Seharusnya kak Theo yang disini,bukan kak Gama,maka kejadiannya akan lebih seru"ujar Yura didalam hati.


"Ah aku harus mengirit tawaku,untuk nanti,bisa-bisa tawa ku habis sebelum membuat adegan seperti difilm-film,rasanya aku ingin segera sampai kekantor tunanganmu xia"cerocos Yura, "Kak tambah kecepatannya!"


"Baik nona"jawab Yura,sedangkan Xia sedang berbicara dengan seseorang dibalik telepon miliknya.


Setelah memasukan ponsel milik pria itu,ternyata ponsel miliknya berbunyi,dan menunjukan kata alfabet yang ia kenal.


"Dia akan mendapat tugas paling sulit"ujar Xia sebelum panggilan itu ditutup sepihak,siapa lagi jika bukan oleh xia sendiri.


"Siapa? "Tanya Yura yang tidak pernah bisa lepas dari keingin tahuan.


"Ans" jawab Xia.


"Kenapa dia menelepon?,menggerutu?"tanya Yura.


"Hmm"


"Dasar gadis itu selalu saja tidak bisa lepas dari kita!"cibir Yura.


"Kau sendiri!"ujar Xia.


Yura mengusap kepalanya,"Akukan hanya mencoba membenarkan teori yang mereka buat,dimana ada kau disitu ada aku,itu saja"jawab Yura beralasan.


"Sama saja! "


"Ouh ayolah serangkai mawar kan?,jika tidak ada tangkainya maka mawarnya tidak akan terlihat indah,akan lebih sempurna jika bertangkai,sempurna"ujar Yura tidak ingin disalahkan.


"Dahan mawar memiliki banyak duri untuk melindungi keindahannya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab,dan dua lebih baik daripada satu"cerocos Yura.


"Terserah!"Xia pusing mendengar penuturan yura yang terkadang menelan ucapannya sendiri demi tidak kalah dari lawan bicaranya,walau begitu ia selalu menepati janji.

__ADS_1


"Kalian sama saja"sambung Xia,Xia melihat kearah jendela mereka memasuki area yang disekitarnya hanya gedung-gedung tinggi menjulang kelangit dengan megahnya.


Alfabet terpampang jelas menyatu menjadi sebuah nama"MAZA"sebuah nama perusahaan yang gedungnya terpampang megah didepan mata.


__ADS_2