
Semenjak berkuliah mereka bertiga menjadi sorotan, banyak yang terang-tetangan mendekati hanya saja Yura yang paling merespon.
Yura gadis cerewet itu selalu merespon siapapun namun jika itu orang asing maka perkataan pedas yang akan mereka terima.
Tadi pagi mereka sudah membuat janji dengan kumpulan pria yang semenjak hari pertama berhasil mendekati rombongan yura,ingat hanya Yura yang merespon.
"Kalian siap lady?"tanya pria itu antusias.
"Tentu saja,kami sudah lama tidak bersenang-senang"jawab Yura dengan senyum manisnya.
"Aku yang menyetir,bagaimana dengan pengawal kalian?,apa akan ikut?"tanya pria lainnya disana ada sekitar lima pria usia dua puluh tiga tahunan.
Yura menatap arah pengawal yang memang mengikuti kemanapun mereka pergi di toilet sekalipun anak buah Afra itu menunggu diluar, "Kami tidak bisa membuat mereka tidak mengikuti kita walaupun kita ingin" jawab Yura dengan wajah polos.
Kelima pria itu seling pandang lalu salah satu dari mereka merangkul yura,"Kamu tenang saja nona, untuk mereka biar kami yang urus!"
"Benarkah?"tanya Yura berbinar sedangkan xia dan Anna hanya menyimak tanpa minat sekalipun,mereka yang ingin mendekati dua gadis batu itu akan berujung kecewa.
"Tentu saja,kami akan berbicara dengan mereka,tunggu sebentar oke"jawab pria itu sebari tersenyum lalu pergi menghampiri para pengawal.
"Kalian tenang saja nona joo pasti akan berhasil membuat mereka tidak mengikuti kalian kali ini"ujar teman Andres.
"Ku harap begitu"jawab Yura dengan wajah manis membuat pria disana tersenyum penuh arti.
Entah apa yang dibicarakan pria bernama joo jionitu bersama para pengawal,tidak-tidak hanya pria itu yang berbicara sedangkan para pengawal tidak mengatakan apapun kecuali merespon,tidak akan meninggalkan nona mereka,terlihat dari wajah andres pria itu sudah kehilangan kesabaran hingga kembali dengan wajah memerah.
"Bagaimana?,apa kau berhasil?"tanya Yura antusia.
Joo jion menggelengkan kepala dengan lesu sedangkan teman-teman pria itu mengerutkan kening,"Kau tidak berhasil?,berapa yang kau tawarkan?"tanya teman Andres.
"Berapapun yang mereka mau,mereka terlalu sombong hingga terus menolaknya!"ujar Joo Jion dengan mengepalkan tangan.
"Maafkan pengawal kami,mereka hanya akan menuruti perintah tuanya saja"sesal Yura dengan mata berkaca-kaca.
Melihat Yura yang merasa bersalah membuat para pria itu panik dan segera mengatakan kata-kata penenang,dan untuk dua gadis batu itu hanya memutar matanya malas.
"Berangkat atu tidak jadi!"suara Xia yang pertama kali didengar para pria itu menjadikan kawasan parkiran elite menjadi sunyi,mereka kaget sekaligus terpesona hanya dengan suara Xia.
"Tentu saja berangkat!"jawab Yura barulah mereka pergi dengan mobil masing-masing.
Mendapat informasi kepergian gadisnya dengan pria asing membuat Afra marah tidak menunggu waktu lama pria itu hendak menyusul jika tidak mendapat pesan dari gadisnya itu.
Afra menghela nafas gusar dengan pesan yang ia terima entah apa yang direncanakan gadisnya bersama anak dari pengusaha bar terbesar dinegara ini,tapi ia tidak bisa menyusul sebab gadis itu mengancam tapi bukan Afra jika tidak memiliki rencana.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah penhouse megah.
"Wah penhouse milik siapa ini?"tanya Yura dengan antusias.
"Milikku"jawab joo jion dengan sombong,"Kamu lupa nona aku itu anak dari pemilik bar terbesar dinegara ini"pogahnya membuat mereka memutar matanya malas.
"Mari masuk,kalian pasti akan lebih terkejut dengan isi penhouse miliku ini"sambungnya sebari mengarahkan mereka untuk masuk.
Joo jion beradu tatap dengan temannya lalu menyeringgai.
"Kami tidak berniat singgah!" ujar Xia menatap tajam mereka.
Para pria itu saling tatap dan menatap Xia dengan senyuman,"Kita singgah sebentar untuk makan siang setelah itu kita akan mengajak kalian ketempat yang sangat indah"
__ADS_1
"Itu benar nona,kita bisa kelaparan jika tidak makan terlebih dahulu,sebaiknya mari masuk dulu kalian bisa menikmati penhouse ini sebentar"
Tidak ada lagi percakapan mereka pergi memasuki penhouse membuat para pria itu tersenyum senang sedangkan para pengawal diminta menunggu diluar gedung.
Saat masuk dalam ruang makan sudah banyak berbagai menu makanan yang tersaji,mereka menikmatinya dengan suasana hening,namun untuk para pria itu sesekali saling pandang lalu menatap tiga gadis itu dengan senyum miring.
Saat makanan hampir habis ketiga gadis itu tiba-tiba menguap secara bersamaan dengan mata sayu.
"Sepertinya kalian kelelahan,kalian bisa istirahat dulu sebelum kita berangkat,akan aku siapkan kamar untuk kalian"ujar Joo Jion tanpa menunggu ketiga wanita itu menjawab.
"Memangnya tidak papa jika kami beristirahat dulu?,magsudku kalian pasti memiliki agenda lain bukan hanya menemani kami ketempat bagus untuk dikunjungi" ujar Yura merasa tak enak.
"Tidak papa nona kami bisa menunggu kalian,kebetulan jadwal kami hari ini tengah kosong,kami bisa menunggu" jawab teman dari Joo Jion.
"Benarkah,aku jadi merasa tidak enak bagaimana cara kami bisa membalas kebaikan kalian ini?" tanya Yura dengan mata sayu hampir tak kuat terbuka.
Keempatnya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yura hingga Joo Jion datang bersama seorang maid,"Dia akan mengantar kalian kekamar tamu,istirahatlah jika sudah merasa baikan baru kita akan pergi"
"Baiklah terimakasih dan maaf kami sudah merepotkan kalian" ujar Yura lalu pergi bersama Anna dan Xia.
Kelima pria itu tersenyum miring melihat punggung para wanita yang sedang mengikuti langkah seorang maid yang akan menuntun mereka.
"Bagaimana jika melakukannya bersama?" tanya salah satu dari kelima pria itu.
"Seperti biasa?,ide bagus aku ingin melihat wajah dua wanita itu saat dibawahku!" ujar yang lain.
"Ya Xia dan Anna terlalu sombong namun mereka sangat cantik begitu juga Yura,sudahlah jangan banyak bicara kita tidak boleh membuat mereka menunggu" ujar Joo Jion dengan senyum mesumnya dan melangkah pergi bersama teman-temannya.
Joo jion membuka sebuah pintu didalam sana tiga gadis sudah tertidur diranjang efek dari obat tidur yang mereka berikan bersamaan dengan obat perangsang untuk bisa bermain dengan tiga wanita cantik itu.
Joo jion beserta keempat temannya menyeringai,mereka masuk secara bersamaan lalu membuka satu-persatu kancing kemeja yang melekat ditubuh setelah hanya tinggal bagian bawah yang tertutup satu persatu dari mereka mulai meringsut naik keatas kasur berisi tiga gadis itu yang tak lain adalah Xia,Yura dan Anna.
Setelah satu menit berlalu seseorang satu-persatu keluar dari kamar tersebut.
"Kapan mereka akan sadar? "
"Lima menit" jawabnya,"berikan ini pada semua maid yang melihat kita tadi kak!"titahnya sebari memberikan botol sebesar ibu jari berisi kapsul berwarna hijau.
"Baik nona" jawabnya mengangguk lalu mengambil alih botol berisi kapsul berwarna hijau itu dan berlalu untuk melaksanakan tugasnya.
"Xia,coba kau jelaskan racun imajinasi itu!" tanya Yura sebari mereka melangkah meninggalkan tempat itu.
Tempat yang dijadikan untuk menjebak mereka!.
"Aku hanya akan memberitahu fungsi saja!"Yura mengangguk mempersilahkan percuma juga jika memaksa Xia menjelaskan secara detail tentang racun-racun yang ia racik,gadis itu tidak akan merincinya sama sekali.
"Dari penelitian ku racun itu berbeda dengan artian imajinasi itu sendiri,jika imajinasi adalah kemampuan berpikir untuk menimbulkan gambaran mental tentang apa yang tidak tampak menjadi seolah-olah nyata,yang akan terjadi pada mereka adalah ketertarikan untuk berbicara jujur,mereka akan mengungkap apa yang mereka sembunyikan pada dunia entah itu hal baik ataupun buruk dengan suka rela walau tidak ditanya sekalipun"
"Jika begitu lebih baik namanya menjadi racun kejujuran bukannya racun imajinasi! Xia" heran Yura dengan pungsi racun imajinasi tapi pungsinya tidak berkaitan.
"Aku hanya asal memberikan nama,racun itu pertamakali dipakai" jawab Xia datar seolah tidak sesuatu hal yang buruk terjadi.
"Magsud mu mereka kelinci percobaanmu?" tanya Yura sebari terkekeh,"kau selalu seperti itu,menguji coba pada musuh secara langsung bagaimana jika efeknya tidak langsung bekerja?"
Xia memutar matanya malas "selalu butuh waktu untuk keberhasilan!"
"Iya juga!,baiklah ayo cepat pulang aku ingin segera membersihkan diri,rasanya tubuhku gatal-gatal walau tanpa sengaja bersentuhan dengan mereka,menjijikan!" tutuk Yura kesal,"aku akan memperbesar efek setelah ini!,mereka sudah berani bermain-main!"sambung Yura dengan tatapan tajam yang mampu membuat siapapun bergidig ngeri.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar dari penhouse si*lan itu tanpa kendala,dari kejauhan mereka melihat keempat pria tengah menuruni mobil mereka secara tergesa-gesa.
Seorang pria yang duduk di kursi roda menggerakkan kursi rodanya penuh amarah sebab tidak bisa bergerak bebas padahal saat ini ia sedang dipenuhi rasa khawatir.
Pria itu menarik tubuh Xia hingga terjatuh di pangkuannya dan memeluknya erat membuat mereka memutar matanya malas,berlebihan!.
"Kau selalu ingin membunuhku dengan pelukan!" cibir Xia dengan suara lirih sebab tenggelam didada bidang pria itu.
Tidak menghiraukan cibiran Xia pria itu melepaskan pelukan lalu melihat tubuh wanitanya takut jika ada yang tergores,"Pengawal bodoh"berangnya pada pengawal yang berdiri tegap dibelakang mereka.
"Bisa tidak kita bicarakan ini dirumah saja?,aku sudah tidak tahan dengan tubuhku ini!" cibir Yura sebari melangkah meninggkan mereka dan masuk kedalam mobil disusul Azkara.
"Kau baik-baik saja?" tanya Azkara dengan tatapan khawatir.
Yura yang sudah duduk didalam mobil menatap malas pria yang menjulurkan kepalanya saja kedalam mobil,"Aku"Yura menunjuk dirinya sendiri lalu tersenyum miring secepat kilat senyuman itu berganti dengan lekungan bibir menekuk kebawah,"Bisa kita pulang saja hiks"sambungnya sebari menunduk.
Azkara sekilas melihat senyum miring diwajah Yura namun saat Melihat gadis yang biasanya cerewet kini menangis entah kenapa membuat perasaan sedih campur marah dalam diri Azkara membuncar,pria itu ikut duduk disamping Yura dan memeluk gadis itu.
Di luar mobil Afra berubah menjadi cerewet pria itu terus mempertanyakan keadaan Xia membuat kedua teman pria itu menganga tidak percaya.
Tentu saja tidak percaya melihat Afra menjadi banyak bicara bagaikan melihat gunung Everest mencair sangat menyeramkan!.
"Jika ingin terus disini aku akan menjawabnya sekarang?" tanya Xia tak habis pikir,pria itu memang beberapa kali banyak bicara padanya namun tidak sebanyak ini membuat telinganya serasa berdengung keras.
"Tidak!,kamu bisa menjelaskannya di mobil ayo kita kembali"jawabnya menarik Xia walau dirinya dikursi roda.
"Apa dunia akan kiamat?" tanya Rayma setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Akan karna belum,tapi kumohon jangan sekarang aku masih banyak dosa" ujar Savion dengan tatapan penuh sesal.
"Kau benar!" Rayma menatap langit dengan tatapan penuh penyesalan mereka tidak sadar jika satu persatu mobil sudah meninggalkan mereka.
"Tuan anda tidak akan kembali?" tanya satu pengawal yang menunggu kedua pria itu yang sedang menyesali kehidupan penuh dosa mereka.
Rayma dan Savion serempak menatap dimana mobil mereka tadi yang kini hanya tinggal sisa dua mobil mereka saja,"si*lan kita ditinggal!"umpat keduanya.
.
.
.
Didalam penhouse tepatnya dikamar yang kelima pemuda itu masuki,mereka kini sudah bangun dan terduduk diranjang saling berdampingan mereka seolah sedang mengingat-ingat apa yang terjadi.
Mereka tidak ingat apapun setelah beringsut menaiki ranjang untuk meraih tubuh sexy gadis-gadis yang mereka bawa,sebelum menggapai tubuh gadis-gadis sebuah jarum menancap tepat dibagian pipi mereka masing-masing.
Mereka tersentak dengan tusukan tarum yang terasa sangat perih di pipi mereka hingga mengeluarkan darah,mereka mencabutnya untuk melihat apa yang terjadi dengan pipi mereka setelah itu mereka limbung sebelum tidak sadarkan diri mereka mendengar pergerakan sayup-sayup dari ranjang dengan suara cibiran seorang gadis'karma!' setelah itu mereka tidak ingat apapun.
"Dimana mereka?" tanya Joo Jion dengan keadaan setengah telanjang menyisakan celana panjangnya saja.
"Tidak tau,apa kau ingat apa yang terjadi?" tanya teman joo jion seolah perwakilan satu-persatu dari mereka.
"Tidak!yang aku ingat hanya rencana untuk menjebak gadis-gadis itu saja,kita pasti sudah mendapatkan nya bukan?,si*l kenapa aku tidak ingat saat merasakan tubuh mereka!" rutuk Joo Jion.
"Aku juga tidak ingat!" ujar keempat teman Joo Jion bersamaan.
"Tidak apa mereka pasti belum jauh dari sini,kau bisa menyuruh orang mu untuk menarik mereka kemari" ujar salah satu dari mereka dengan tatapan mesum disetujui yang lain.
__ADS_1
Saat Joo Jion beranjak dari ranjang ia merasakan jambakan sangat keras di rambutnya namun tidak ada yang menjambak nya bahkan menyentuh rambutnya saja tidak ada,bukan hanya itu kepalanya berputar pada ingatan-ingatan saat ia bersenang-senang dengan gadis-gadis yang ia bius untuk memuaskan birahi nya.