
"Iya nona,tuan mengirimi saya email,nona bisa memeriksanya sendiri diponsel saya"ucapnya sebari memberikan ponsel miliknya terhadap gadis itu.
"Tidak perlu!"tolak Xia"jelaskan saja apa isi email itu kak!"
"Baik nona"jawab Gama sebari menyimpan kembali ponselnya kesaku baju.
Pria itu memakai kaos polos yang memiliki saku dibagian dada berpakaian santai seperti pengemudi taxi biasa.
Lebih terlihat manusiawi dari biasanya.
Pria yang sudah seperti robot setiap saatnya.
"Tuan mengirim biodata tentang pria itu nona,dari apa yang dikirim tuan,semuanya falid dengan informasi yang saya periksa,semua sama"ucapnya menjelaskan
"Memang kau minta apa Xia?"tanya Yura.
"Aku hanya meminta ayah untuk memeriksa biodata mereka,menurutku ada sesuatu yang aneh,namun sepertinya itu hanya perasaan ku saja,tidak usah dipikirkan"jawab Xia.
"Baiklah kak,carilah rumah yang dekat dengan mansion untuk mengawasi kami,kalian harus menjaga jarak agar tidak ada yang curiga" Gama menganggukan kepala sebagai jawaban,dan juga mengangkat sudut bibirnya.
"Apa tidak masalah nona?,ini terlalu berbahaya tinggal bersama orang asing"tanya Gama khawatir.
"Kami bisa menjaga diri,apa pengawal sudah menemukan orang yang aku cari kak?"tanya Xia penuh harap.
"Sudah nona,namun maaf"ucapan Gama yang tadinya membuat mata Xia terbesar kini meredup.
"Mereka sudah pindah ketempat lain di luar kota,kami membutuhkan ijin nona untuk melanjutkan pencarian"sambung Gama.
"Cari sampai ketemu kak!"
"Baik nona,nona sepertinya ada yang mengikuti kita"
"Jarak 2meter dibelakang?"tanya "ia
"Mobil hitam BMW?"kini Yura yang bertanya.
"Benar nona"jawab Gama membenarkan.
Sekitar dua menit yang lalu mereka sudah merasakan hal tersebut.
Namun mereka masih berpikir positif,baru setelah yakin mereka akan mengatakannya.
"Bersikap normal saja!"ucap Xia.
"Siapa yang mengikuti kita?"tanya Yura hanya mendapat angkatan bahu dari Xia sebagai jawaban.
Perjalanan dari mansion Afra kerumah Xia yang sudah terbakar membutuhkan waktu satu jam,karna mansion milik afra berada di ujung kota.
Xia dan yura begitu juga Gama mereka membahas rencana selanjutnya di perjalanan.
Mereka juga membahas cara berpesta untuk menghilangkan rasa kesal mereka karna kehilangan rumah.
Apalagi Xia,ia kehilangan rumah yang sudah ia beli dengan uang sendiri,gadis itu sangat kesal dan marah.
Ingin sekali ia membakar mansion untuk membalas,ia akan meminta ganti rugi sebagai gantinya.
Xia dan Yura bersikap biasa saja walau tersirat dari mata mereka akan kemarahan, namun mereka mencoba menyembunyikannya demi kelancaran misi.
Huhf"Xia membuang nafas kesal saat melihat rumah yang tersisa puing-puing.
Gama mengatakan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran,mereka merencanakan dengan baik.
__ADS_1
Rencana mereka sangat bagus"ucap Yura yang sama halnya dengan Xia yang sedang memandang rumah yang tidak berbentuk.
Xia memutar tubuhnya menjauh dari sana,semakin dilihat semakin membuatnya kesal,ia rugi banyak hiks.
Pergerakan Xia dan Yura setelah turun dari mobil tidak lepas dari pengawasan Afra dan Azkara yang mengikuti mereka sejak telepon diakhiri.
Walau sudah mengatakan tidak akan menyusul, namun pria itu mengikuti mereka,berbeda bukan jadi pria-pria itu tidak salah.
.
.
.
Di kamar bernuansa gelap.
Ada seorang pria yang sedang berbaring diranjang,pria itu tidak tidur.
Dan badannya juga tidak bergerak,ia hanya bisa menggerakan mata dan mulut saja gara-gara terkena racun.
Racun langka.
Karna hanya si peracik yang memiliki penawarnya.
Matanya setajam pedang dengan tatapan membunuh.
Ia sudah diperiksa dokter pribadi dan juga beberapa dokter umum,namun dari mereka tidak ada yang bisa mendeteksi penyakit pada pria tersebut.
Ia juga segera menghadirkan dokter ahli racun dari luar negri karna ia yakin tubuhnya terkena racun,yang ditembakan dua orang misterius malam itu.
Orang yang tadinya akan bertransaksi dengannya soal penjual belian senjata ilegal.
Salah satu klan yang ditakuti dibeberapa negara.
Masalah besar jika bermasalah dengan mereka.
"Aku bisa hancur"gumannya"jika mereka memusuhiku,aku tidak pernah bertemu langsung dengan salah satu dari klan itu, bagaimana mungkin mereka memusuhi ku tanpa sebab"
Mereka hanya berkomunikasi lewat sebuah perjanjian surat tertentu,jika ingin membeli barang pada klan tersebut,surat yang hanya bisa didapat orang yang beruntung.
Termasuk dirinya namun itu kemarin,dan sekarang ia dalam masalah besar dan harus segera bertindak.
"Tidak akan aku biarkan,aku harus segera bertindak,tapi bagaimana ahhk bodoh,tubuhku tidak bisa bergerak"teriaknya frustasi.
"Sampai kapan aku seperti ini,racun apa yang mereka gunakan"pria itu terus berteriak frustasi,frustasi karna tubuhnya mati rasa dan dimusuhi klan yang seharusnya dihindari.
Ia memang tidak pernah berurusan dengan klan besar mafia.
Selain itu dua puluh pengawal elitnya juga mengalami hal yang sama dengannya,begitu juga dengan asisten sekaligus orang kepercayaannya.
Ia benar-benar diambang kehancuran jika begini terus.
Disisi lain Mereka melihat dari tab yang menyambung dengan CCTV yang mereka hack,kamar milik pria bernama DION SAUL.
Xia dan Yura sudah diperjalanan kembali ke mansion,masih dengan Gama yang menyamar sebagai supir taxi.
"Satu minggu"jawab Xia atas pertanyaan Yura.
Yura menanyakan dosis racun yang gama pakai saat menembak semalam.
Ya yang menembak tadi malam bukanlah kedua gadis itu,melainkan gama yang menembak dari jarak jauh.
__ADS_1
Pria itu berada diatas pohon yang rindang dengan dahan dan daun yang menutupi,menembakan jarum yang sudah diberi racun,dan melumpuhkan 22orang seorang diri.
Racun yang Xia ciptakan sendiri.
Suara tembakan yang terdengar hanya dari alat yang dia bawa,untuk mengelabui mereka.
"Apa racun itu habis?,kenapa sedikit sekali si?"tanya Yura tidak terima.
"Aku membawa beberapa sisanya dirumah,jika kita melumpuhkan mereka secara langsung permainan selesai"jawab Xia.
"Benar juga,permainannya tidak akan seru"Yura setuju sebari terkekeh.
Yura dan Xia merasa terhibur saat melihat pria yang tengah berbaring diranjang kamar, tanpa bisa melakukan apapun selain berteriak frustasi.
Sebuah hiburan yang sedikit meredakan amarah.
tadi mereka pergi pas sore hari, hanya sekitar 2jam mereka diluar dan hari sudah gelap saat mereka kembali.
Mereka melegang masuk kedalam rumah dan disambut tundukan hormat oleh pegawai dimansion ini.
"Kenapa baru kembali?"tanya Afra yang duduk di kursi rodanya,dan Azkara di belakangnya dekat pintu seolah sedang menunggu kepulangan kedua gadis itu.
Xia menikan sebelah halisnya dan berpikir"2jam hanya diperjalanan!"
"Yang benar saja,kami bahkan tidak menepi 2jam hanya diperjalanan!"ucap Yura dengan nada kesal.
Kenapa pria itu posesif sekali si?
"Lain kali,ijin dulu jika ingin keluar"ucap Afra tidak menanggapi Yura yang kesal.
"Baiklah tuan Afra yang terhormat,kami akan ijin jika keluar dari kamar,dan kami ijin besok rencananya kami akan berbelanja,apa kami juga perlu ijin untuk masuk,kebetulan ini bukan rumah kami"ucap Yura masih dengan nada kesalnya.
"Ini rumah kalian,anggap saja begitu"ucap Afra membuat Yura mendengus kesal dan meleos pergi.
Namun saat disamping Azkara gadis itu berbisik membuat wajah Azkara memerah.
"Ukuran dalaman yang kau pilih sangat pas"bisik Yura sebari menahan tawa lalu melanjutkan langkahnya.
Baru setelah itu ia terkikik geli dalam langkahnya.
membuat Xia menggelengkan kepalanya melihat perubahan cepat itu.
Perubahan yang sangat-sangat cepat.
Jam sudah menunjukan jam 9 waktu Indonesia malam Yura dan Xia berada satu dikamar yura sedari pulang tadi.
Mereka tidak mengobrol hanya duduk dikasur king size sebari bermain game online diponsel.
Dengan pakaian tidur yang ada dilemari mereka,baju tidur yang persis seperti yang mereka miliki sebelumnya.
Baju tidur tertutup berwarna hijau dengan gambar katak.
"Kau akan terus dikamar ku?" tanya Yura yang sudah menyimpan ponselnya diatas nakas.
"Ngusir?"tanya Xia sebari mengangkat sebelah halisnya.
Yura menggelengkan kepala sebagai jawaban,lalu ia merebahkan diri diranjang dan menutupi diri dengan selimut sampai kedada.
"Aku akan tidur"
"Obat"ucap Xia membuat Yura yang sudah memejamkan mata kembali menatap gadis itu.
__ADS_1