MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Robot menyerupai manusia


__ADS_3

Azkara yang mendengar penuturan sang tuan membuatnya meringis pelan,bagaimana caranya?, dirinya saja tidak pernah dekat dengan wanita!.


"Ah maaf tuan untuk kali ini saya rasa tidak bisa melaksanakan tugas,anda dan saya tidak ada bedanya dalam urusan wanita,,menurut saya orang lain bisa membantu Anda dalam urusan ini"jawab Azkara sopan.


"Kau benar!,,kau memang bodoh dalam urusan wanita,,belajarlah mencari pasangan!"ujar Afra membuat Azkara merenggut dalam hati ia mencibir sang tuan.


" Tuan kita sama-sama bodoh,seharusnya Anda sadar itu'kira-kira begitulah cibiran hati Azkara.


"Kau memasang pelacak itu kepada siapa saja?"tanya Azkara.


"Nona Yura"


"Formal membuat mereka tidak nyaman!"sanggah Afra menghentikan perkataan Azkara tadi.


"Maaf tuan,magsud saya,,saya berhasil memasang pelacak hanya kepada dua gadis saja yaitu Yura dan Anna,untuk gadis bernama ansya saya tidak berhasil sebab gadis itu sudah menghilang sejak terakhir makan malam"jawab Azkara,"keberadaan Ansya sampai saat ini juga belum diketahui"


Afra menghela nafas,"Terus lakukan pencarian,,bagaimana dengan Jay Brigata?"


"Mereka gagal tuan"Afra mengeraskan rahangnya tidak terima mendengar kata gagal yang dilakukan sang anak buah,Azkara memutuskan melanjutkan perkataannya saat melihat raut marah sang tuan," Mereka kehilangan jejak saat mengikuti mobil yang membawa Jay Brigata sampai saat ini mereka masih melakukan pencarian tuan"


"Batalkan semuanya!,,,dia sudah didalam sangkar akan sulit untuk mendapatkannya!"ujar Afra masih mengeraskan rahangnya dengan wajah memerah.


" Baik tuan"


"Kapan mereka akan kembali?"tanya Afra saat membahas mereka yang dia magsud amarahnya menghilang.


"Jika saya tidak salah mereka akan kembali besok tuan"Afra hanya mengangguk sebagai respon.


"Kita akan kembali bersama mereka"


"Baik tuan,Mmm saya boleh bertanya tuan?"tanya Azkara sopan.


"Hmm"


"Kenapa anda harus repot-repot membunuh tahanan yang sudah membuat Anda kecelakaan tuan?"tanya Azkara pertanyaan ini sudah bersarang dikepalanya sejak melihat belati menanjap dijantung sang tahanan,saat melihat itu semua dirinya terbelalak tak jauh beda dengan para pengawal namun secepat mungkin mengembalikan raut wajah datar mereka.


Sebab biasanya sang tuan hanya menyiksa mereka hingga mereka tidak ingin hidup dan bunuh diri.


"Pertanyaan bagus,,,semua itu hadiah dari ku,,aku pernah berpikir untuk memberikan hadiah kepada mereka yang sudah membuatku kecelakaan,sebab kecelakaan itu mempertemukanku dengan gadisku,,hadiah itu bagus bukan?,,suatu kehormatan untuknya mati ditanganku secara langsung"jawab Afra datar.


"Kau merasa seuatu yang mencurigakan?"sambung sang tuan.


"Mencurigakan?,,tidak tuan,,anda mencurigai sesuatu?"ujar Azkara.


"Hanya kebetulan"guman Afra.


"Bagaimana dengan dia sudah kau temukan? "Ujar Afra membuat tatapan sendu dari Azkara.


Azkara menghela nafas saat mengingat dia yang tuannya tanyakan dengan sendu,"Belum tuan,,tidak ada petunjuk tentang dia"jawabnya lirih.


" Sudah sepuluh tahun kita berpisah,bagaimana kondisimu sekarang?,apa kau hidup dengan layak?,,kau pasti tumbuh menjadi gadis cantik adiku,maafkan kakak sampai sekarang aku belum bisa menemukan keberadaanmu"guman Azkara dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


Hari sudah berganti hari,rombongan Maringgai Azonafra Amlias dan gadisnya sudah sampai dinegara ch, negara yang akan menjadi penyelesaian bagi kisah masa lalu mereka.


Pada siang hari Xia dan rombongan sudah berada didepan rumah.


Rumah bernuansa kaca,pemandangan didalam tidak terlihat sebab tertutup gordeng hitam yang terlihat berdebu.


Sebelum melangkah lebih dekat Xia menghela nafas lirih,begitu melihat pandangan Xia yang meneduh membuat hati Yura sebagai saudari tersentil,Yura merangkul pundak Xia sebari menatap gadis itu dengan senyuman lebar,disamping kedua gadis itu juga ada Azkara dan afra yang menyaksikan semuanya,kedua pria itu juga merasa sedih melihat tatapan Xia yang baru saja mereka lihat.


Xia menatap senyuman Yura sejenak sebelum kembali berwajah datar dan menatap luruh kearah pintu rumah bernuansa kaca,tatapan gadis itu berair hingga menutup pandangannya,untuk mencegah air mata itu keluar Xia menggeladah menatap langit yang sedang sedikit mendung.


Tidak ada yang berniat melangkah lebih jauh dari tempat mereka berdiam sekarang,mereka masih menunggu Xia menegarkan hatinya,mereka ikut merasakan kesedihan Xia saat mengingat begitu banyak kenangan dirumah bernuansa kaca ini,rumah tempatnya menyimpan kenangan masa kecil walau tidak selalu indah bahkan bisa dikatakan hampir membuatnya lupa cara tersenyum,untungnya ia dipertemukan dengan keluarga kandungnya kembali dan membuatnya belajar tersenyum.


Sudah berkali-kali xia menghela nafas mencoba menguatkan hatinya saat seseorang memenuhi memorinya'Anka Abana' nama yang tidak akan pernah ia lupakan,ayah angkatnya itu.


Xia kembali menghela nafas dengan kasar lalu melangkah mendekat kearah pintu,gadis itu mengelus pintu yang terbuat dari kaca dengan lirih sebari memejamkan mata,ia mengingat kenangan bersama ayah angkatnya itu saat membereskan rumah bersama,di kenangan itu mereka terlihat bahagia dengan sesekali tertawa karna lelucon dari anka abana,kejadian itu sebelum kejadian dua belas tahun lalu yang merenggut senyuman Xia.


Xia lagi-lagi menghela nafas mencoba menguatkan hatinya,gadis itu membuka pintu dengan lirih,saat pintu terbuka hal yang pertama mereka lihat hanya tumpukan kain putih sebab ruangan remang cahaya.


Xia masuk kedalam lalu mengedarkan pandangan melihat sekitar yang masih remang cahaya,Xia memutar tubuhnya untuk melihat sekeliling rumah yang sudah lima tahun ia tinggalkan.


Srekk


Suara dari gordeng yang menutupi kaca ditarik oleh Yura membuat semua yang ada disana seketika memejamkan mata saat cahaya menusuk retina mereka.


"Ayah aku kembali"guman Xia sebari secara perlahan membuka matanya setelah menyesuaikan,sinar matahari menerobos ruangan itu membuat cahaya disana begitu terang.


Xia mengedarkan pandangan sebari mengingat kenangan bersama sang ayah angkat,sedangkan mereka yang lain sedang membuka kain yang menutupi setiap sudut.


Debu berterbangan disetiap sudut setiap kain tersingkap,hingga beberapa dari mereka terbatuk,disana hanya Afra yang duduk di kursi rodanya disamping sang gadisnya,pria itu tidak lupa membawa pengawal yang sedang membantu membereskan kain.


"Kamu baik-baik saja?"tanya Afra menyadarkan Xia dari lamunannya,pria itu sangat menghawatirkan gadisnya yang sudah pasti akan bersedih saat melihat rumah ini.


Ingin sendiri:Xia ingin sendiri untuk mengenang kenangan itu sebari menguatkan diri,dirinya tidak bisa menunjukan kesedihannya di depan umum mengingat dia tidak pernah begitu.


Xia melangkahkan kakinya dengan lirih,ia menginjak satu-persatu anak tangga yang akan membawanya ke lantai atas,rumah kaca itu memiliki dua tingkat dengan nuansa kaca dilantai pertama.


"Ayah"guman Xia disela-sela langkahnya,ia kembali mengingat saat dirinya usia tujuh tahun,waktu itu ia pulang dari sekolah dasar dengan wajah datar yang sudah biasa ia tunjukan,ayahnya itu selalu membuat hal konyol apapun itu agar Xia tersenyum walau selalu gagal,Xia mengingat saat itu Xia kecil minta digendong sang ayah untuk naik ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Ayah angkat membawa Xia di punggungnya sebari berjalan cepat dengan membuat gaya terbang,pria dewasa itu berusaha mengembalikan senyum sang putri angkat,walau hasilnya sangat banyak gagal dari pada berhasil,namun ia akan terus berusaha mencoba putrinya kembali tersenyum.


Setelah berjalan menyusuri anak tangga dan lorong,Xia sampai didepan pintu dengan tag nama di daun pintu 'ayahku',hiasan nama itu dibuat sendiri oleh Xia dan Anka.


Xia menghela nafas saat menyentuh handel pintu lalu memutarnya,setelah pintu terbuka Xia melangkahkan kaki mencari saklar untuk menyalakan lampu,sebab ruangan sangat gelap walau di luar masih siang hari.


Klick


Ruangan tersinari cahaya dari sorot lampu,Xia duduk dipinggiran ranjang setelah melepas kain putih yang menutupi ranjang dengan mata mengedar ke setiap sudut kamar yang diberi nama 'ayahku' itu.


"Aku akan berkunjung ayah"guman Xia lalu merebahkan tubuhnya dengan menyamping,Xia memeluk kedua lututnya masih terbaring diranjang lalu memejamkan matanya.


Melihat situasi lantai satu,tidak begitu tenang seperti lantai dua,disana sesekali terdengar suara batuk saat dengan indahnya para debu mengganggu pernapasan mereka.


"Aku angkat kaki sementara dari sini,kalian lanjutkan saja dan bersihkan rumah ini seperti rumah sendiri tidak perlu sungkan "ujar Yura sebari mengibaskan tangannya untuk menghalau debu yang berterbangan rumah ini begitu dijaga namun tidak dirawat.


Yura yang berjalan menaiki anak tangga terhenti saat mendengar suara.


"Kau mau kemana?" suara barton itu menghentikan langkah Yura.


"Melihat Xia"jawabnya.

__ADS_1


"Dia butuh waktu sendiri!"ujar Afra suara tadi yang menghentikan langkah Yura juga suara pria itu.


"Aku tahu!,,"jawab Yura lalu melanjutkan langkahnya,gadis itu sempat bingung untuk mengetahui keberadaan Xia sebab lantai dua memiliki banyak ruangan dengan pintu-pintu terpisah dan berjauhan,namun tak berselang lama ia mengetahui dimana Xia berada saat mengingat saudarinya itu begitu merindukan pria pengganti sang ayah saat dia dan liam kenrika terpisah dari keluarga kandung mereka.


Yura melihat Xia yang berbaring memejamkan mata sebari memeluk kedua lututnya,sudut mata gadis yang meringkuk itu terlihat buliran air,Yura juga melihat jejak basah dipipi gadis itu,bisa Yura tebak saudari datarnya itu sedang menangis dalam diamnya,,ya gadis datar itu tidak pernah menunjukan kesedihannya kepada siapapun.


Yura menutup pintu kamar dengan lirih agar tidak mengganggu Xia walau ia yakin Xia tidak tidur,gadis itu hanya sedang memejamkan mata,Yura berjalan mendekati ranjang tempat Xia meringkuk semakin dekat Yura mendengar suara isakan yang terdengar seperti bisikan.


Yura mengusap pucuk rambut Xia dengan lembut membuat gadis itu terpaksa membuka matanya hingga tatapan mereka bertemu.


"Apa? "Tanya Xia dengan suara serak khas orang menangis,namun menunjukan wajah datarnya.


Yura tidak menjawab gadis itu beralih mengusap pipi Xia bergantian sekedar menghilangkan jejak tangisannya,lalu melempar senyum manis miliknya," Kamu bisa mengajakku untuk merenung,,,aku juga banyak salah pada ibu"ujar nya sedikit meringis saat mengatakan memiliki salah kepada wanita yang sudah melahirkannya.


Yura duduk dipinggiran ranjang dekat tubuh Xia yang masih meringkuk hanya saja tidak memeluk lutut,"Rain pernah bercerita,paman Anka Abana sangat ingin melihatmu tersenyum,,tapi untuk saat ini aku tidak ingin kamu memenuhi keinginan paman Anka"Xia mengangkat sebelah halisnya sebagai respon.


"Aku yakin paman Anka juga ingin melihat ekpresi wajahmu selain datar itu,,selain senyum seseorang juga bisa marah dan menangis,untuk sekarang bisa kan kamu menunjukan ekpresi menangis?,,,jika tidak bisa aku akan mengajarimu"sambung yura.


Suasana sedih yang Xia rasakan berubah menjadi datar mendengar perkataan yura,gadis itu selalu bisa mengubah suasana hati seseorang lewat perkataan dan tingkah randomnya.


"Hei!"pekik yura kesal saat melihat raut wajah yang ditampilkan Xia"Aku bilang menangis kau malam menatap datar,,ckckck kau ini manusia atau robot si?"kesal Yura.


Xia meringsud dan menjadikan paha yura sebagai bantalan,"tidur"ujar Xia sebari memejamkan mata.


Yura yang mendapat respon seperti yang dia inginkan menjadi cemberut,sulit sekali menampilkan raut wajah Xia selain datar,namun sebulan ini jika diingat xia lebih sering terkekeh bahkan sesekali tersenyum lebar,kemajuan bagus tentunya.


Yura menepuk pelan kepala Xia hingga ia mendengar isakan,secara replek Yura menunduk pandangannya terarah kepada Xia, gadis yang menjadikan pahanya sebagai bantal,yura melihat Xia tanpa berkedip mendengar Xia mengisak lirih dengan mata terpejam dan beberapa bulir keluar dari mata Xia yang masih setiap terpejam.


Isakan lirih itu terdengar pilu bagi yang mendengarnya tanpa sadar yura ikutan menangis dengan tangannya masih menepuk-nepuk lirih kepala saudarinya itu,tanpa yura sadari air matanya itu sudah membasahi rambut Xia sekarang.


"Menangislah!,seseorang tidak akan lemah karna menangis adikku"guman Yura didalam hati sebari buliran air mata membasahi pipinya.


Setelah hampir satu jam kedua gadis itu menangis dengan renungan pikiran mereka masing-masing,salah satu gadis itu sudah tertidur dengan bersandar pada sandaran ranjang.


Xia mengusap rambutnya terasa basah lalu mendongkak menatap wajah yura yang tertidur dengan nyaman,"Dia tertidur setelah membuat rambutku basah"guman Xia.


.


.


.


di sekitar tempat itu hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi dengan daun yang begitu rindang,udara sekitar juga sangat sejuk,ditempat ini juga ada beberapa bangunan yang terlihat aneh jika orang yang pertama kali melihatnya.


Bangunan yang dikatakan terlihat aneh itu adalah rumah tradisional terbuat dari kayu kebanggaan tempat ini,semua penduduk kota ini memiliki rumah tradisional yang cukup berjauhan satu sama lain dengan nama keluarga mereka yang digantung pada daun pintu sebagai pengenal.


Tempat ini ada didalam pedalaman hutan cukup menarik.


"Mereka sudah kembali?"seorang pria bertanya kepada pria lain.


"Hmm mereka sudah disana,,dia akanĀ  baik-baik saja! "Jawabnya penuh percaya diri namun tidak dengan tatapannya yang menyiratkan kesedihan.


Pria yang menjadi lawan bicaranya menghela nafas," Semoga saja,,tidak bisa dipungkiri kita memang tidak pernah melihat dia menangis,,jika tidak mengingat bagaimana masa kecilnya aku akan beranggapan dia adalah robot menyerupai manusia,,dia tidak pernah berkunjung sejak kakakku meninggal"


"Aku tau tujuanmu mengirimnya kembali,tetap saja membuatku cemas,,terimakasih kakak pasti senang putrinya akhirnya berkunjung sudah lima tahun sejak dia pergi"sambungnya lirih.


"Tidak perlu berterimakasih,yang harus mengatakan itu adalah aku,aku sebagai ayah kandungnya,aku melakukan itu sebagai rasa hormat kepada kakakmu yang sudah menjaga kedua anakku,jika dia tidak memiliki rasa kemanusiaan mungkin sampai saat ini aku kehilangan kehidupanku"ujar Vihan Vinzel Kay sebari menyesal tehnya.


"Ya kau benar,apa yang terjadi saat ini karna rasa kemanusiaan yang sangat besar dari kak anka"jawab Samuel membenarkan.

__ADS_1


"Apa yang kau taman itu yang kau buai"guman keduanya tanpa disadari,mereka beradu tatap setelah mengatakan itu dan bersamaan juga membuang muka kearah berlawanan.


__ADS_2