
Setelah sarapan rombongan Xia ingin pulang namun tertahan sebab nyonya Ananta Amlias mengajak mereka berbelanja,mendengar kata berbelanja membuat mata Yura berbinar tentu saja dia akan memaksa Xia jika menolak,walau sebenarnya mereka bisa pergi tanpa nyonya Amlias.
Dan sekarang jadwal para pria diubah menjadi menemani belanja para wanita.
Sesampainya dimall suasana mall yang biasanya ramai kini hanya sepi beserta hanya beberapa orang berhalu lalang,seorang pria berjaz bersama seorang wanita berseragam menghampiri mereka,mereka menunduk hormat.
"Selamat datang tuan dan nyonya Amlias,tuan muda,tuan-tuan dan nona-nona"sapanya sehormat mungkin.
"Bagaimana?"tanya Alaran pada pria itu.
"Saya sudah melaksanakan tugas seperti apa yang anda inginkan tuan,mall hanya bisa diakses oleh anda dan para anak buah anda saja dua puluh empat jam ini"ujarnya memberitahukan bahwa ia sudah melakukan tugas seperti yang diinginkan tuan Alaran untuk menutup mall secara umum.
Setelah tuan Alaran berbicara pada menejer mall para wanita langsung melancarkan aksinya diikuti para pria seperti anak ayam mengikuti induknya.
Beberapa pegawai mall juga mengikuti mereka bersama para pengawal.
Yura menilai dress didepan matanya,dres berwarna kuning dengan motif bunga sakura terlihat elegan,hingga tangan seseorang mengejutkan pandangannya.
"Hei!"
"Apa?"tanya pemilik tangan itu.
"Kau mau apa?"tanya Yura dengan tatapan kesal,ia sangat kesal ketika pandangannya terusik ulang tangan itu yang memegang dress yang sudah mencuri harinya sejak tadi.
"Aku akan mengambil dress ini,kenapa memang?,kau keberatan?"
"Tentu saja!,itu milik ku!"ujar Yura sebari memegang ujung gaun seperti yang dilakukan gadis berusia delapan belas tahun didepannya,kalo tidak salah namanya Cean Hou.
"Ini milikku!,aku sudah memegangnya sejak tadi!"kekeh Cean menarik gaun kearahnya.
"Aku yang pertama melihatnya,sejak tadi aku sedang memandangnnya!"
'Kau hanya memandangnya bukan membelinya!,aku akan membelinya"kekeh Cean hingga terjadilah adegan tarik menarik dress itu hingga menjadi keributan.
"Nona-nona tolong sabar,kenapa kalian bertengkar?"ujar pegawai mall yang dibagi untuk mengikuti setiap anggota Amlias.
Pegawai itu sangat bingung harus berbuat apa,jika dibiarkan dress itu akan rusak namun jika ia menengahi mereka maka dirinya bisa habis,dia hanya bisa berdiri dengan gelisah serta matanya yang mengikuti pergerakan dress dari kanan ke kiri juga seterusnya.
"Kenapa kalian bertengkar?"pekik Mora yang kini berdiri disamping Cean.
"Dia ingin mengambil dress pilihanku ka!"adu Cean dengan mata berkaca-kaca.
"Ck kau yang ingin merebut dress ini dari ku!"ujar Yura tidak terima.
"Nona sebagai orang yang lebih dewasa bukankah kau bisa mengalah untuk Cean,itu hanya sebuah dress banyak dress lain yang bisa kau pilih!"ujar Mora dengan tatapan tajam namun suara yang ia keluarga sangat lembut,jika tidak melihat matanya Yura akan menilai mora adalah gadis lemah lembut.
"Kau benar nona!,banyak dress yang bisa dipilih,tapi aku hanya ingin dress yang sedang aku pegang ini,kau bisa memintanya mencari dress lain!"jawab Yura dengan seringgaian.
"Tidak mau!,aku hanya ingin dress ini,aku yang sudah memegangnya lebih awal!"pekik Cean tidak terima.
"Aku memandangnya sejak awal dan kau tiba-tiba datang dan mengambilnya,ini sudah menjadi milikku sejak aku melihatnya!"ujar Yura tetap tidak mau mengalah.
"Nona kau hanya memandangnya bukan mengambilnya!,seharusnya saat kau menyukai dress itu kau mengambilnya bukan hanya kau pandangi,jika sudah seperti ini,dress itu tentu saja milik Cean"ujar Mora masih seperti tadi namun dengan senyum terbit dibibirnya dan nada menegaskan kalau Yura harus memberikan dress itu.
"Tidak akan!,ini milikku aku akan membelinya!"kekeh Yura masih memegang ujung dress.
Mora menghela nafas,lawannya kali ini sangat sulit ia taklukan dengan sikapnya yang lemah lembut,biasanya ia bisa meluluhkan siapapun kecuali afra dan teman-temannya.
"Cean sebaiknya kamu saja yang mengalah"ujar Mora.
"Tapi kak!"tolak Cean dengan wajah sedih.
"Cean kita cari dress yang lebih bagus dari ini,menurut kakak dress kuning ini tidak terlalu bagus ditubuhmu"Cean hendak protes namun terhenti ketika mora kembali bicara,"Magsud kakak,dress kuning ini terlihat seperti seorang bibi jika dipakai,warnanya terlalu mencolok dan tidak bagus dengan paduan bunga sakura sangatlah tidak cocok"
"Kita cari dress lain yang akan membuat dirimu bersinar tapi tidak dengan dress kuning ini yang terlihat kolot,kakak akan membantumu mencari dress yang akan membantumu mengeluarkan aura cantikmu!"sambungya selembut mungkin.
Pegangan diujung dress berwarna kuning yang dikatakan Mora jelek melemah namun tidak sampai dilepas oleh Cean,gadis itu termenung lalu mengangguk.
"Sepertinya kakak benar,dress ini tidak sesuai dengan ku,baiklah mari kita cari dress yang lebih baik"ujar cean dengan wajah ceria namun ia terlihat tidak rela melepas dress itu untuk orang lain.
Setelah melihat Cean dan Mora pergi,yura mencibir sangat pedang kedua wanita itu,ia melihat dress yang sedang ia pegang dengan selidik,dress itu sangat cantik warnanya memang berwarna kuning yang menyiratkan kecerahan pada warna namun di dress ini,warna kuning pada bahan tidak terlalu cerah ataupun redup,dipadukan dengan bunga sakura berwarna merah muda membuat dress itu terlihat seperti,matahari yang sedang menebar bunga sakura dilangit,sangat indah.
"Cih kolot apanya?,jelas-jelas dress ini sangat cantik nan indah,cean hebat dalam memilih gaun tapi tidak dengan gadis bernama mora,gadis itu terlalu mengandung gula hingga manisnya menyebabkan penyakit yang berbahaya"guman Yura dengan tatapan kagum pada dress yang ia pegang.
"Ya kau benar!"Yura mendelik kearah suara disana ada Azkara yang sedang berdiri tepan dibelakangnya.
"Apa yang benar?"tanya Yura mengembalikan atensinya pada dress.
"Mereka terkadang tidak sadar bahwa rasa manis menyebabkan berbagai penyakit dikemudian hari,kau harus berhati-hati pada hal yang terasa manis karna dampaknya akan muncul dikemudian hari"jawab Azkara membuat kening Yura berkerut.
Azkara menghela nafas,"Tidak perlu dipikirkan"ujarnya lalu mengusap pucuk kepala Yura hingga rambutnya sedikit berantakan.
"Ck jauhkan tanganmu!"kesal Yura sebab rambutnya sedikit berantakan sebari memukul tangan pria itu.
"Lain kali mengalahlah!"ujar Azkara membuat Yura menatap pria itu.
"Aku hanya sedang mengajari sepupu tuanmu itu,bagaimana cara mendapatkan sesuatu dengan kerja keras!"jawab Yura lalu meninggalkan Azkara yang sedang berpikir magsud perkataan gadis itu.
"Apa magsudmu?"tanya Azkara setelah berhasil menyamakan langkah mereka.
Yura menghela nafas"Sepupu bos mu itu sudah pasti dimanjakan oleh kelurga nya,ia tidak akan tau bagaimana rasanya menang dengan kerja keras sendiri bukan?,jika dia menginginkan sesuatu ia hanya tinggal meminta dan semua terkabul,waktu tidak akan terus seperti itu,dia harus diajarkan cara berjuang,,,caraku tadi sangat sederhana!,,tapi dia tetap gagal karna bujukan orang lain,,,jika terus seperti itu ia akan kehilangan kepercayaan diri pada dirinya sendiri"Yura menjeda ucapannya sebari menghentikan langkahnya didepan dress yang terpajang.
"Dia sangat mudah dipengaruhi,,akan sangat buruk untuk masa depannya,,aku tidak memikirkan masa depan orang lain sebab aku bukan orang seperti itu,,,aku hanya memberitahu gadis itu bisa menjadi batu loncatan seseorang jika tidak dikembangkan"sambung Yura berlalu tanpa mengambil dress yang lainnya untuk menghampiri Xia yang tengah memilih bersama Anna.
"Kau belum mengambil satupun?"tanya Yura melihat saudari dan pengawal pribadi masih dengan tangan kosong.
__ADS_1
"Tidak menarik!"jawab Xia sebari menghela nafas.
"Mau ketempat lain?"tanya Yura tidak ada jawaban sebab tatapan gadis itu mengarah ke arah lain.
Yura mengikuti arah mata Xia lalu tersenyum tipis,"Akan menarik bukan?"gumannya diangguki Xia sebagai jawaban setuju.
.
.
.
.
Seorang pria sedang uring-uringan disetiap langkahnya,wajahnya sungguh gusar tak enak dipandang.
Setelah mendapat kiriman foto dari seseorang yang memperlihatkan gadis yang ia cintai memakai gaun hitam panjang yang memperlihatkan aura kecantikannya yang dipenuhi misteri,bukan itu yang membuatnya uring-uringan,namun karna pesan teks yang mengiringi foto cantik itu.
'Gadis bergaun hitan sangatlah menunjukan seagungannya yang penuh misteri dibalut kehebatannya dalam merambisi,wajahnya bisa membius pasang mata agar tetap memandangnya penuh pesona'
'Rain lihatlah gadis cantik ini ,malam ini ia akan mendatangi pesta menemani seorang pria tampan saling bergandengan tangan,dan saling menatap dengan akhir yang bahagia,yaitu sama-sama jatuh cinta dan memutuskan hidup bersama,,aku akan mengirim foto dia dengan prianya saat bergandengan,,selamat menanti dan patah hati,Rain Kay'
Rain sangat marah melihat pesan teks tersebut hingga memutuskan akan menyusul mereka detik itu juga,namun ia urungkan mengingat dirinya sedang diperjalanan pulang ke mansion untuk menemui sang paman yang baru kembali entah dari mana, untuk menanyakan hal yang sama pentingnya, pertanyaan yang menjadikan dirinya sulit untuk menjalani hari-harinya.
Dan jawaban yang ia dapat sangat tidak memuaskan bisa dibilang ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Kau akan tahu apa hubungan mereka nanti rain!,tunggu saja!,mungkin tidak akan lama berdoa saja agar mereka secepatnya menyelesaikan tugas!"hanya itu jawaban yang keluar dari mulut sang paman sebelum diusir dari ruangannya dengan cara halus.
Jika begitu bukan hanya hari-harinya saja yang sulit dijalani namun juga hidupnya,,argghhh.
"Aku akan menyusul!,tidak ada yang bisa menghentikanku!"guman rain penuh penekanan.
"Kau akan menyusul kemana?"suara itu menghentikan langkah Rain.
Rain menghela nafas,"Negara ch"
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin menemani mereka dalam tugas itu saja kak Vans"jawab Rain bohong.
Ia sengaja berbohong agar tidak dihentikan.
"Tidak perlu!,mereka tidak lemah"ujar Vans dengan datar.
"Aku tau,tapi aku hanya ingin menemani mereka saja,keadaan disini juga aman untuk ditinggalkan"jawab Rain mencoba menutupi kegugupan nya.
Hidup bersama mereka selama lima tahun ini tidak mengidahkan bawah terkadang rain gugup dengan keluarga mafia itu.
"Mau berakhir dikandang wei-wei?"tanya pria itu membuat Rain terbelalak.
Rain menelan salivannya susah payah sebari menggerakan kepalanya ke kanan dan kiri secara lirih,"Aku akan ke kantor saja ka"
"Kantor?"
"Iya aku akan kekantor,,aku lupa disana banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan,,jika kakak ingin bertemu paman ia ada dikamarnya saat ini,,,aku pergi dulu ka"ujar Rain lalu berlari terbirit-birit sebelum berakhir dikandang sepasang singa yang hanya tunduk kepada tiga manusia yaitu.
Vihan vVinzel Kay,Xiana Zen Kay,dan Xlara Zadrianka Kay,sepasang suami istri bersama anak bungsu mereka.
Rain berhenti berlari didepan mobilnya dengan nafas tersengal,ia menunpu kedua tangannya diatas lutut sebari mengatur nafas,"Pilihannya hanya cemburu dan mati"gumannya.
"Anda baik-baik saja tuan?"tanya sang asisten sekaligus pengawal pribadi rain.
"Tidak!,aku tidak baik-baik saja kak!,kedua pilihan ku hanya hidup dan mati!"jawabnya lalu melanjutkan langkah meninggalkan sang asisten yang mengerutkan kening.
"Pilihan hidup dan mati?"gumannya lalu menyusul langkah sang atasan untuk membukakan pintu mobil.
.
.
.
Gadis bernama Mora didorong hingga limbung dan terjatuh semua pasang mata mengarahkan kesana lalu berbondong-bondong mendekati arah mereka.
Afralah pelaku pendorongan itu sebab tadi,Mora menawarinya sebuah jaz dan gadis itu kekeh agar Afra mau mencobanya,gadis itu terus mendorong jaz yang ia pegang ketubuh Afra agar pria itu mau mencobanya,Afra sudah menolak berkali-kali dan tidak diidahkan gadis itu hingga Afra kehilangan kendali dan mendorong gadis itu dengan kasar.
"Nak kau tidak papa?"tanya nyonya Ananta membantu Mora untuk berdiri.
Wajah Afra merah padam Menandakan ia sedang marah,rombongan menghampiri mereka dengan pandangan berbeda-beda.
"Gapapa bibi"jawab Mora sebari meringis kesakitan sebab dorongan afra sangatlah kencang.
"Afra kenapa kamu mendorong Mora?"tanya Ananta masih membantu Mora.
Xia melihat ekpresi Afra yang tidak seperti biasanya menjadi mengerti dengan keadaan sekarang,Xia berjongkok didepan kursi roda Afra.
" Tenang!,disini tidak ada yang perlu dikhawatirkan!,,semua aman oke"ujar Xia datar membuat mereka menatap gadis itu,saat melihat mata afra yang berubah menjadi merah mereka mengerti sekarang.
"Traumanya?"tanya Savion memastikan Azkara mengangguk sebagai jawabannya.
" Lihat wajahku!"sambung Xia benar-benar dilakukan Afra beberapa detik kemudian ia menarik Xia dalam pelukannya.
"Ck kesempatan dalam kesempitan "guman serempak tiga sahabat pria itu.
Mereka menatap kedua orang yang tengah berpelukan," Trauma Afra kambuh bibi?"tanya Mora memastikan.
__ADS_1
"Sepertinya begitu!"jawabnya lalu menatap sang suami yang dibalas senyuman pria itu.
Xia mencoba melepaskan pelukan itu namun terhenti ketika suara afra terdengar seperti bisikan di telinganya,Iijinkan aku memelukmu kali ini saja"
"Apa aku harus khawatir sekarang?"tanya rayma menatap Savion.
"Sepertinya tidak!,kita lanjutkan saja agenda hari ini"jawab Savion.
"Kau benar kak Sav,mari kita lanjut berbelanja!"ujar Yura bersemangat.
"Ck belanja saja kau semangat!"decak Savion sebari merangkul pundak Yura.
"Bagaimana jika saudarimu itu kena amukan,Afra jika sedang trauma ia seperti iblis!"sambung Savion saling beradu tatap dengan Yura.
Yura tersenyum lalu berbisik,"Ingat dia adalah Xlara Zadrianka Kay!"ujar Yura lalu tersenyum.
"Kau benar,ayo aku temani berbelanja"ujar Savion lalu keduanya meninggalkan mereka disana.
"Mereka terlihat akrab"ujar Rayma.
"Yura memang mudah akrab dengan siapapun "jawab Azkara mencoba menghalau pikiran yang sama dengan Rayma.
Rayma mengerikan bahunya,"Aku hanya menerka"ujar Rayma,"aku akan menyusul mereka, kau?"
"Aku akan disini menemani tuan afra dan Xia"jawab Azkara.
Rayma mengedikan bahunya,"Kau harus bersabar!"ejek nya lalu menyusul kedua orang yang sudah pergi.
Disisi nyonya aAmlias dan Mora,setelah mendengar penjelasan mora kenapa ia bisa terjatuh,nyonya Ananta Amlias merasa tidak enak hati dan memutuskan menyetujui pilihan mora untuk menghargai gadis itu,sebab ia sudah kenal dari kecil dengan gadis seusia anaknya itu.
"Mora lain kali jangan mendekati Afra,bukan magsud menjauhkan kalian tapi kamu tau kan?,Afra memiliki trauma yang sudah bertahun-tahun,bibi tau kalian sudah berteman sejak kecil,kamu juga sudah mengetahui banyak hal tentang dia,bibi harap kamu menjaga diri saat dekat Afra,bibi takut kamu terluka karna traumanya yang tiba-tiba kambuh seperti tadi"ujar nyonya Ananta Amlias menasehati dengan nada lembut.
"Ia bibi,Mora mengerti ko magsud bibi,Mora pikir Afra sudah sembuh dari traumanya,kita sudah tidak bertemu beberapa bulan ini karna urusan pekerjaan saat bertemu Afra kembali,ia sangat dekat dengan nona bernama Xia dan Yura itu,jadi Mora berpikir traumanya sudah sembuh bibi,,Mora jadi terpikir untuk menjadi lebih dekat seperti sebelum kejadian trauma itu datang bersama Afra"Mora berbicara penuh penyesalan.
"Mora tidak tau kalo ternyata trauma Afra belum sembuh dan cara mora berdekatan dengan afra membuat trauma dia kambuh"sambungnya sendu.
"Mora benar!"pikir nyonya Ananta Amlias lalu menatap mora,"Bibi minta maaf ya atas perlakuan Afra"
"Bukan salah Afra ko bibi,semua ini salah Mora sendiri,Mora salah bertindak hingga hampir merusak agenda kita bibi,,tapi aku senang bibi,Afra bisa kembali tenang dipelukan Xia"ujarnya saat menyebut nama Xia kilatan benci terlihat diwajahnya namun seketika ia kembali dengan raut wajah polos.
"Kau benar,,sepertinya Afra menemukan obatnya "ujar senang Ananta tanpa melihat raut wajah Mora yang tidak bisa menutupi kekesalannya.
"Tidak akan ku biarkan j*l*ng kecil itu menghalangi jalanku,,yang pantas bersama Afra hanya aku!" guman gadis itu dalam hati.
Di tempat mereka yang sedang berpelukan hanya tingga kedua pasangan itu bersama Azkara dan Anna yang setia menunggu keduanya.
Afra melongkarkan pelukannya,ia tersenyum senang bisa memeluk gadisnya,"Tertidur"gumannya lalu meneliti wajah Xia yang tertidur di perutnya sebab masih ia peluk.
"Tuan apa Xia tertidur?"tanya Azkara
"Hmm sudah tiga hari ia tidak tidur"ujar Afra mengusap rambut Xia dengan sebelah tangannya dan tangan yang lain masih memeluk tubuh x
Xia.
"Pasti tidak nyaman tidur seperti ini"sambungnya terpaksa mencoba membangunkan Xia.
"Xia bangun!,,jika tidur seperti ini tubuhmu bisa sakit"ujarnya dengan sebelah tangan mengusap dahi Xia yang berkeringat.
Euhh"Xia meleguh merasa terganggu,matanya bergerak untuk terbuka,yang pertama kali ia lihat adalah wajah Afra yang sedang tersenyum.
Xia terpesona dengan wajah itu beberapa detik lalu kembali berwajah datar,"Aku ketiduran?"
"Iya kamu ketiduran,,maaf membangunkan mu,jika tertidur seperti itu tubuh mu bisa sakit,,kita pulang saja dan kamu bisa melanjutkan tidurmu dirumah"ujar Afra sebari tersenyum dan tangannya merapikan helaian rambut diwajah Xia.
"Toilet lalu pulang"ujar Xia sebari menjauh dari tubuh Afra.
"Mau aku temani?"tanyanya tidak mendapat jawaban sebab Xia pergi begitu saja membuat afra terkekeh.
Xia berjalan menuju toilet ditemani Anna yang kemanapun gadis itu selalu ikut.
"Jangan terlalu mencolok kak"ujar Xia disela-sela langkah mereka.
"Maaf nona saya tidak bisa terlalu jauh dari anda,tugas utama saya hanya anda dan nona Yura"jawab anna penuh hormat.
"Tugas kami kau kak!"ujar xia,"Kau dilibur tugaskan kak!"sambungnya membuat langkah Anna terhenti.
"Nona saya minta maaf sudah melakukan kesalahan tolong berikan saya kesempatan kedua untuk bisa bersama anda"ujar Anna.
Xia menghela nafas"Tugas kali ini adalah kau kak!,biasakan dirimu,keputusanku tetap sama!"
"Baiklah nona,saya mengerti"jawab Anna sendu.
"Pesta semalam?"tanya Xia.
" Seperti yang diberitakan media nona,pesta semalam diserang puluhan orang dan korban meninggal hanya pasukan pengawal dari pemilik pesta dan tamu undangan saja,sebagian tamu terluka namun tidak terlalu parah"
"Dari Para tamu tidak ada menimbulkan korban jiwa,dan anak-anak mereka semua selamat"sambung Anna menjelaskan.
"Selamat?"tanya Xia.
"Benar nona anak-anak tidak ada di tempat kejadian saat pesta diserang,,saya yang meminta mereka untuk bermain dikamar hotel bagian tengah sebelum kami pergi "jawab jujur Anna lalu menceritakan kronologi bagaimana ia meminta anak-anak untuk pergi ke tempat yang aman.
"Kerja bagus ka" puji Xia.
"Terimakasih nona"
__ADS_1
"Semua kebetulan akan membawa keuntungan!"guman Xia sebari terkekeh saat sudut matanya melihat arah pojok.