
Seperti agenda mereka kemarin, hari ini mereka pergi kepasar tradisional,acara berbelanja berhasil menarik Xia dalam keterdiamannya,gadis itu banyak bergerak namun tidak seheboh kedua saudarinya,untuk Anna dan kedua pria itu hanya mengikuti,ditangan Anna juga Azkara sudah memegangi beberapa paperbag milik ketiga gadis itu.
Untuk Afra pria itu mengikuti saja dikursi rodanya sesekali pokus menatap ponsel miliknya,Afra ingin membayarkan semua belanjaan mereka namun kali ini ditolak mentah-mentah,bukan karena mereka sudah tidak suka hal yang gratis,kali ini berbeda,barang-barang yang ketiga gadis itu beli akan dijadikan sogokan kepada seseorang tidak mungkin hasil gratisankan.
Orang yang akan mereka sogok dengan barang-barang yang mereka beli bukannya senang mungkin akan murka,terlebih orang itu pemilik tahta tertinggi para mawar tersembunyi.
Azkara dan Anna sudah kesulitan membawa paperbag hingga Afra pun membawanya dipangkuannya,ketiga gadis itu benar-benar menggila saat berbelanja entah sudah menghabiskan berapa besar uang mereka,mereka berhenti belanja saat merasa penghuni perut berontak minta diisi.
Saat melihat arloji ternyata hari sudah sore saking asiknya berbelanja mereka sampai lupa mengisi perut,mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dan makan di villa sekaligus menghemat waktu beristirahat.
Sekarang mereka sudah di meja makan,jika menurut etiket mereka dilarang berbicara saat makan namun bagi ketiga gadis itu,larangan adalah perintah kecuali mereka sedang bersama para ibu yang selalu mengutamakan etiket.
"Kapan kamu pulang?"tanya Yura lalu menyendok makanan ke mulutnya.
"Nanti malam"jawab Ansya seperti pergerakan Yura tadi,pembicaraan kedua gadis itu menarik perhatian Afra.
"Hanya anda yang akan pulang?"tanya Afra memicingkan mata,semoga saja begitu ia tidak ingin kehilangan gadis yang sudah ia klaim menjadi miliknya walau sepihak.
Ansya mengangguk sendu,"ya saya akan pulang sendiri"jawab Ansya jika diingat-ingat ini adalah percakapan pertama mereka walau beberapa kali selalu satu ruangan.
"Saya titip para gadis ini anda akan kerepotan"sambung Ansya sebari menatap Xia yang memutar matanya malas.
"Apa magsudmu?"mungkin itu arti dari tatapan Xia.
"Saya akan menjaganya anda tenang saja,, jika anda ingin tinggal bersama saya bisa membantu"ujar Afra datar sebari menatap ansya.
Ansya terkekeh, "Tidak perlu,,, kebersamaan ini hanya singgah,,anda harus bekerja keras jika ingin menetap" ujar Ansya membuat Afra menaikan sebelah halisnya.
Pembicaraan hanya sampai disana mereka melanjutkan makan secara hening hanya terdengar dentringan sendok.
Setelah acara makan selesai mereka melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Afra dan asistennya Azkara berada satu ruangan,di ruangan itu tidak ada siapa pun kecuali mereka,,Azkara mulai membicarakan apa yang menjadi tujuan mereka di ruangan ini.
"Dari penyelidikan yang saya dapat, apa yang dikatakan nona Yura tidak benar ataupun salah"Afra menaikan sebelah halisnya namun membiarkan Azkara terus mengatakan apa yang pria itu dapat dari penyelidikannya selama dia hari ini.
"Magsud saya apa yang dikatakan nona yura tentang apa yang terjadi dengan nona Xia hingga sekarang tidak benar ataupun salah tuan,,,lima tahun yang lalu saat nona Xia menghilang dia dibawa para pembunuh bayaran yang bernama Than , saat itu kondisi Than sangat memperihatinkan,entah untuk apa nona Xia mereka bawa namun sejak saat itu nona terhubung dengan mereka,setelah setahun bersama Than nona dipertemukan dengan keluarganya tanpa sengaja"Azkara menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.
"Nona yang sudah terikat dengan Than tidak bisa keluar begitu walau dia ingin,,beberapa bulan lalu nona Xia dan para nona yang bersamanya kini sepakat untuk keluar dari anggota Than namun keinginan mereka ditolak pemilik anggota Than,mereka tidak menyerah jika tidak diijinkan keluar maka mereka akan memberontak,,akhirnya ketua Than meminta mereka memilih antara dua pilihan"
"mereka diijinkan bebas selama satu tahun menjalani hidup orang biasa setelah itu mereka harus kembali bekerja,atau mereka tidak usah kembali namun akan menjadi buronan bagi klan pembunuh itu tersendiri"ujar Azkara menjelaskan.
"Apa pilihan mereka?"tanya Afra pertama kalinya setelah mendengar penjelasan tentang para gadis itu.
"Saya tidak tau tentang itu tuan,,"jawab Azkara takut,mendapat informasi sesingkat dan sedetai ini saja membutuhkan kerja keras untuknya,dirinya sangat bekerja keras satu bulan dua hari untuk mendapatkan informasi tentang nona yang selama ini tuannya cari,awalnya azkara juga bingung kenapa untuk sekedar mencari informasi gadis sembilan belas tahun saja sangat sulit?dirinya sang ahli IT dibuat kelabakan,, setelah mendapat informasinya kini ia tahu bahwa gadis tuannya ini sangat berbahaya.
Dirinya harus lebih berhati-hati kali ini,entah informasi yang ia dapat keliru atau benar dirinya harus lebih sigap menjaga sang taun,apalagi jika informasi itu benar maka sudah dipastikan semua tidak akan baik-baik saja semua itu tergantung pilihan para gadis tentang perjanjian mereka dengan klan pembunuh itu.
Jika mereka mereka memutuskan kembali setelah satu tahun maka dirinya juga dalam masalah sang tuan pasti tidak akan tinggal diam dan akan mempertahankan gadianya,gadis yang selama ini ia cari, gadis yang menjadi awal semua kepribadiannya, jikapun Xia memilih opsi kedua,dirinya tetap dalam masalah sebab klan Than pasti akan menghabisi penghianat beserta keluarganya walau mereka tidak ada sangkut pautnya,namun begitulah mereka yang dijuluki Than si pembunuh kejam.
"Posisi mereka? "Tanya Afra membuat Azkara mengerutkan keningnya sejenak menandakan pria itu tengah berpikir dengan pertanyaan sang tuan tadi setelah mengerti barulah dia menjawab.
"Nona Xia sebagai sniper tuan untuk ketiga gadis itu mereka penyerang jarak dekat,dan nona Anna ahli dalam menggunakan katana padahal dirinya bukan dari keturunan Jepang dan tidak ada yang mengajarinya" jawab Azkara.
"Alat itu sudah datang?"tanya Afra membuat Azkara mengangguk.
"Tadi pagi sudah saya terima tuan,hanya tinggal dipasang saja,, saya atau anda yang akan memasangnya tuan"tanya Azkara hati-hati.
"Xia aku yang akan memasangnya"jawab Afra tentu saja dirinya tidak mau ada pria selain dirinya yang dekat dengan gadisnya, "sisanya kau kerjakan!"
"Baik tuan"jawab azkara.
__ADS_1
"Terus cari infomasi para gadis itu,,,, bagaimana tugas diitali?"sambung Afra.
"Dia belum memberi kabar tuan"jawab azkara hingga deringan ponsel mengalihkan atensi mereka.
"Dia menelepon tuan"ujar azkara saat membaca identitas sipemanggil dalam ponselnya.
"Angkat!"
"Baik tuan"azkara pun segera mengangkat panggilan saat melihat afra memintanya melospiker suara ia segera melakukannya,suara barton terdengar di sebarang sana.
"Kami minta maaf tuan,kami gagal mengerjakan tugas"ujar seseorang disebrang sana penuh penyesalan hingga afra sang tuan mengeraskan rahangnya mengartikan dia marah.
"Bagaimana bisa saya sudah menyuruhmu membayar sebesar apapun!"ujar Afra penuh penekanan hingga ruangan yang ditempatinya menjadi horor.
"Maafkan saya tuan,,,kami sudah melakukan apa yang tuan perintahkan hanya saja,,,ada orang yang sepertinya sudah mengincar jay brigata hingga dia terus berdebat dengan saya,,,hampir satu jam kami berdebat tiba-tiba ruangan yang kami tempati dipenuhi asap,,,kami semua pingsan ditempat tuan tidak ada yang berhasil keluar,,,namun"pria itu menjeda ucapannya untuk mengambil nafas takut.
"Pria bernama Jay brigata menghilang saat kami tersadar bersama pria yang berdebat dengan saya"sambungnya semakin membuat Afra mengetukan giginya dengan leher mengeras,Azkara yang berada tepat disamping sang tuan merasa sulit untuk bernafas saat merasakan aura kemarahan sang tuan.
"Bodoh"umpat Afra.
"Tapi tuan kami menemukan jejak mereka,,,anak buah saya yang berjaga diluar melihat pergerakan mereka sekarang kami tengah mengikuti mereka dari jarak lumayan dekat,,,mobil mereka tidak mendapat penjagaan tuan kami memerlukan ijin anda untuk menyerang"
"Lakukan,,bawa pria itu kehadapan ku jika tidak kalian akan matii!"
"Baik tuan"jawab orang disana setelah meminta ijin panggilan terputus,membuat orang itu menghela nafas lega setidaknya masih ada kesempatan untuk selamat hanya tinggal membawa apa yang diinginkan sang tuan,walau belum tentu ia berhasil dan nyawanya masih dalam bahaya.
"Awasi mereka!"titah Afra membuat Azkara ijin keluar mengerjakan tugasnya,setelah berada diluar ruangan afra menghirup udara serakus mungkin setelah merasa diintimidasi dengan aura sang tuan yang bisa meledak saat apa yang ia inginkan tidak ia dapatkan.
Afra termasuk orang yang pendiam setelah kejadian tiga belas tahun lalu saat tersesat di hutan,namun jika ada yang mengusik atau keinginannya tidak tercapai maka satu koda bisa dia ledakan untuk meredam emosinya.
Afra berjalan tujuannya sekarang hanya kedapur untuk membasahi tenggorokan nya yang kering.
Azkara duduk setelah mengambil air dan meminumnya,samar-samar azkara mendengar suara dari balik dinding dapur.
Tidak ada jawaban membuat Yura mendengus dan menendang kaki Ansya.
"Diam deh!" dengus ansya kesal.
"Kalo ditanya itu jawab!"
"Kamu bukan bertanya namun mengusir!"kesal Ansya,entah berapa kali pertanyaan yang sama ditanyakan Yura padanya.
"Memang benar"jawab Yura jujur lalu memasukan camilan kedalam mulutnya.
"Xia lihat dia tidak punya etiket,,tidak sopan terhadap yang lebih tua!"kesal Ansya mencari pembelaan.
"Tua ko bangga"cibir Yura.
"Ck kesabaranku habis meladenimu,,ayo bertarung"tantang Ansya sebari melipat lengan bajunya dan berdiri dihadapan Yura.
"Ayo!"yura berdiri dari duduknya dan beradu tatap dengan ansya.
"Ck berisik"ujar Xia menatap tajam kedua saudaranya langsung membuat kedua gadis itu diam dan duduk kembali.
"Dia duluan Xia! "Adu Yura kesal.
"Langsung ke mansion,jangan cari masalah dan temui El disana" ujar Xia sebari mengutak atik ponselnya setelah beberapa detik yang lalu berbunyi menandakan seseorang mengirimnya pesan.
"Iya"jawab ansya sebari melirik Yura didepannya.
"Rain"guman Yura saat melirik ponsel yang sedang Xia pegang.
__ADS_1
Yura berbicara sesuatu pada ansya lewat gerakan bibir.
"Hmm Xia kamu sedang melihat apa?"tanya Ansya sebari menggeser tubuhnya kearah xia.
Xia mematikan layar ponselnya dan berkata acuh"tidak ada"
"Mmm aku boleh pinjam ponselmu?"kini Yura yang berkata dengan penuh harap.
"Untuk?"tanya Xia heran,untuk apa meminjan ponsel jika dirinya sendiri memilikinya.
"Menelepon,,, iya menelepon"jawab Yura sedikit terbata.
"Milik mu?"tanya Xia membuat Yura terdiam beberapa detik untuk mencerna perkataan yang Xia ucapkan.
"Ponselku ada dikamar,,,aku malas jika harus mengambilnya dulu"jawab yura "boleh ya? " sambung Yura penuh harap.
"Siapa?"tanya Xia kembali membuat yura terdiam.
"Ck,,Xia bicaralah yang jelas,kami bingung dengan satu katamu itu"decak kesal Ansya,jika Yura bisa mengerti magsud dari satu kata yang Xia ucapkan walau butuh beberapa detik untuk merespon,berbeda dengan dirinya yang sama sekali terkadang tidak mengerti.
"Siapa yang akan kamu hubungi?"ujar Xia menjelaskan satu kata yang tadi ia ucapkan.
"Xia jangan dengarkan dia"ujar Yura melirik kearah ansya mereka beradu tatap dengan tatapan permusuhan"lakukan senyamanmu saja,,aku mengerti ko,,,,soal menghubungi aku akan menghubungi Balla,,,,iya Balla,sudah seminggu kita tidak menemui gadis bodoh itu"
"Balla?,,, siapa dia?"tanya Ansya.
"Kamu tidak diajak"cibir Yura lalu kembali beralih kearah xia, "Aku hampir lupa menanyakan ini padamu,,,apa benar kamu menjodohkam dia dengan seseorang?" tanya Yura penasaran,,ia hampir lupa dengan pembahasan balla yang beberapa hari lalu bercerita bahwa Xia menelepon gadis itu dan menjodohkannya dengan seseorang,,Yura sendiri tidak mengerti dengan pikiran Xia,kenapa dia harus menjodohkan Balla dengan seseorang?,,, apa dia lupa Balla baru berusia tujuh belas tahun?.
Banyak pertanyaan tentang hal itu untuk ditanyakan,namun belum menemukan waktu yang pas untuk bertanya,,karna nama gadis itu disebut sekalian saja kita bahas agar mendapat jawaban yang pasti.
"Hmm"jawab Xia acuh,jika menanyakan keberadaan Anna gadis dingin itu duduk kaku disofa tanpa mengeluarkan suara, sudah seperti patung pajangan.
"Apa!,,, kamu tidak bercanda?"tanya Yura memastikan.
"Tidak!"
"Kenapa? ,,,magsudku kenapa kamu menjodohkan dia? ,,kamu taukan dia baru berusia tujuh belas tahun? "cecar Yura bertanya.
"Aku diam" ujar Ansya tidak mengerti membuat Yura mendengus mendengar suara saudarinya itu.
"Membantu"jawab Xia acuh.
"Membantu?"guman Yura berpikir,,ingatannya dipaksa mundur kebeberapa hari sebelumnya,,ia mengingat saat Xia mengatakan akan membantu balla,,apa dengan cara menjodohkan gadis kecil itu yang Xia magsud membantu?.
"Xia usia Balla masih tujuh belas tahun,,dia masih sekolah"ujar Yura keberatan walau bukan siapa-siapa tapi karna rasa kemanusiaan membuat ia tidak tega jika gadis kecil cerewet yang ia kenal sebab mengerjai seseorang di mall itu harus menikah diusianya yang sangat muda.
"Hmm"respon Xia hanya berdehem.
"Xia kamu harus membantalkannya,,dari cerita Balla,,kamu mengatakan harus menerimanya demi kebahagiaan dia tapi Balla sangat ragu!,,Balla bilang dia tidak mengenal dengan pria yang kamu jodohkan,bagaimana jika dia orang jahat?"cecar Yura membuat Xia menghela nafas.
"Ck berisik bodoh,,jika Xia memutuskan sesuatu kamu taukan dia sudah merencanakannya dengan matang,,semua pasti baik-baik saja,,siapa tadi namanya?,,, balla ya gadis itu pasti akan baik-baik saja"ujar Ansya berdecak,"Xia kenapa kamu menjodohkan gadis sekecil itu?"sambung Ansya bertanya membuat Yura mendelik kearahnya dengan tajam.
Xia menatap bergantian dua saudari berbeda orang tua itu,"Cara menjaga Balla"jawab Xia.
"Magsudmu bagaimana Xia?,,,menjaga Balla?,,bukankah itu lebih berbahaya?,,,aku tau kamu pasti memilihkan pria yang baik dalam segi ekonomi tapi bagaimana dengan sikapnya,Balla gadis labil"tanya Yura menatap Xia begitu juga ansya,dan yang ditatap malah menatap layar televisi sebari memakan camilan yang ada di pangkuannya.
"Menjual dengan alibi menjodohkan"ujar Xia membuat kedua saudarinya terbelalak.
VISUAL : ANSYA GREEN
IG:Kelabu_27
__ADS_1