
"Maaf"ucap pelayan wanita yang sempat yura panggil.
"Mana makanannya?"tanya yura ia pikir pelayan itu kembali membawa pesanannya,namun yang ia lihat pelayanan itu tidak membawa apapun malah dengan tubuh bergetar.
"Iitu nona"pegawai itu menunjuk kebelakang dengan gugup,sampai suara lain menimpal.
"Anda tidak bisa memesan kembali!,bayar dulu makanan yang sudah kalian habiskan baru terserah kalian jika ingin memesan kembali"ucap seorang pria dengan wajah angkuh,dengan nada tinggi sampai pengunjung lain menjadikan mereka sebagai tontonan.
"Atau kalian tidak bisa membayarnya?"tebak pria tadi dengan menunjuk wajah dua wanita yang tengah duduk secara bergantian,
"Kalian datang kesini untuk makan gratis!,dasar pengemis murahan,wajah kalian tidak akan membodohiku,percuma cantik jika miskin,cepat bayar makanannya!"pekiknya.
"Anda siapa?"tanya Xia dengan tatapan mengejek.
"Aku pemilik restoran ini,kalian akan di jemboskan kepenjara jika tidak membayar makanan ini"pekiknya kini sebari menunjuk satu-persatu piring kosong dimeja.
"Oh kau pemiliknya,aku pikir kau pengemis "ucap santai Yura dengan tatapan mengejek
Xia dan Yura masih duduk terkadang mendongkak saat bicara dan tangan mereka sudah bersedekap didada.
"Kau!"pria itu kembali menunjuk Yura dengan kesal,ia merasa diremehkan,dan tidak ada yang meremehkannya selama ini.
"Kau yang pengemis j****g" teriakan pria itu membuat raut wajah kedua wanita itu menjadi dingin.
"Aku tidak akan melepaskan kalian,wajah kalian cantik,kalian pasti sudah menjual diri untuk memenuhi hidup bukan?"tanyanya dengan wajah mengejek,emosinya masih ia tahan.
Bisik-bisik terdengar dari pengunjung lain,mereka berkomentar,bahwa pria yang mengaku sebagai pemilik resto itu terlalu berlebihan sampai mempermalukan dua wanita itu,bukankah ia bisa menyuruh mereka mencuci piring jika tidak bisa membayar.
Namun sebagian ada yang ikut mencibir,setuju dengan pria itu.
Sebagian banyak dari mereka sudah memfokuskan ponsel mereka kearah keributan.
Melihat ekpresi yang diberikan kedua wanita yang ia permalukan,pria itu semakin mengejek ia pikir perkataannya benar,makanya kedua wanita itu hanya menampilkan wajah datar,apalagi mendengar cibiran orang-orang yang setuju dengannya,menbuatnya semakin berani,bahkan hawa dingin yang menyeruak tubuhnya tak ia hiraukan.
"Benar bukan,hohoho wanita murahan,j****g sialan,cepat bayar makanannya!"
Xia dan Yura tidak menanggapi pria yang tengah mengoceh dengan menggebu-gebu itu,mereka berdua malah bersamaan mengangkat kakinya sebelah dan menyilangkan dikaki lainnya.
Merasa diabaikan atas prilaku kedua wanita itu,membuat sipria murka,ia menggebrak meja sampai menimbulkan suara.
Brak
Isian meja berhamburan bahkan tangan pria itu mengeluarkan cairan merah bernama darah setelah memecahkankan piring yang ia pukul.
"Cepat bayar sialan!"tanpa memikirkan tangannya yang berdarah ia berteriak.
Xia menurunkan kakinya disusul Yura,mereka berdiri bersamaan.
Xia mengeluarkan dompet dari tas selempang milik Yura,dan si empunya malah berguman dengan keras.
"Makanan disini enak,tapi sayang pemiliknya sangat buruk"
Xia menimpal sebari mengeluarkan uang dolar dari dompet"resto ini bangkrut detik ini juga"
Xia melempar semua uang dolar didalam dompet,ke wajah pria yang terus menghina mereka.
Pria itu terkesiap saat uang dolar menimpa wajahnya saking banyaknya sampai pria itu melamun menghitung uang dolar itu dalam lamunannya,pria itu tersadar saat sesuatu lebih keras menampar mulutnya.
Mulutnya sampai sobek dan mengeluarkan darah,pelakunya adalah Xia,ia hanya melempar dompet milik eura kemulut pria itu sebagai pembayaran awal atas hinaan yang ia keluarkan.
"Padahal adikku hanya menggunakan sedikit kekuatannya,lemah"cibir Yura sebari memiringkan wajahnya dengan senyuman mengejek.
__ADS_1
Pria itu mengusap sudut bibirnya yang berdarah,dan mengeram marah,saat ia ingin mengatakan sesuatu ia kembali diam.
Xia berjalan lebih dulu,disusul yura,namun langkah eura terhenti ia menengok kebelakang dan berkata.
"Ini bukan apa-apa,bersiaplah menerima hadiah nanti malam"
Mereka berdua keluar dengan raut wajah dingin bahkan Yura memecahkan pintu kaca saat ia menutup pintu resto dengan sebelah tangannya.
Serasa tidak ada yang menarik lagi,pengunjung resto berhamburan.
Pria yang mengaku sabagai pemilik entah kenapa nyalinya yang menggebu-gebu menciut saat adu pandang dengan kedua wanita tadi,ia hanya bisa melanjutkan murka saat restonya sepi,tinggal dirinya dan pegawainya yang ketakutan.
Setelah kejadian tadi,mood kedua wanita ini menjadi suram.
Tatapan setajam pisau bahkan aura membunuh terpancar dalam diri mereka,mereka seperti bom yang bisa meledak kapan saja.
Xia berbicara dengan orang di sebrang telepon "kami akan mendengarnya besok!"lalu menutup telepon.
"Aku akan bermain di internet"ucap Yura dingin.
"Tidak perlu,mereka tidak pantas,kita akan sibuk mulai besok"jawab Xia
"Tapi pria bau tanah itu harus mendapat pelajaran,enak saja dia bebas begitu saja,aku tidak terima ya"
"Restorannya bangkrut"jawab Xia.
"Tidak cukup!,aku telanjur sakit hati dengan ucapannya,dia mengatakan kita ******,enak saja,aku tidak terima,biarkan aku membereskannya"ucap yura menggebu-gebu dengan kilatan amarah.
"Jangan membuang waktu,beberapa hari lagi kita sibuk"ucap Xia mengingatkan tentang tujuan mereka kenegara ini.
"Yayaya,pria bau tanah itu selamat sekarang,puas!"Yura menghentikan kakinya saat berjalan bahkan ia meninggalkan Xia dibelakang.
Xia melihat itu hanya bisa menghela nafas,ia tidak mengejar langkah Yura,ia ingin sekalian melihat sekitar sebari berjalan.
Xia berjalan lebih cepat,ia menarik yura kebelakang tubuhnya untuk menghentikan wanita itu.
Tadi yura hendak memukul pria yang tengah berdiri tegap disamping pria yang duduk di kursi roda.
"Xia lepaskan!,biarkan aku melampiaskan amarahku!"pekik yura masih mencoba memukul namun lagi-lagi Xia menariknya.
Untuk menenangkan harimau yang terganggu tidur nyenyaknya,butuh perjuangan.
"Aku akan memberitahu alamat pada ibu"ucap Xia membuat yura mengerucutkan bibirnya dan mendengus semakin kesal.
"Kau curang!"ucap yura tidak terima namun ia memilih diam sebari mendengus kesal.
Atensi mereka kini melihat dua pria tanpan dengan salah satu duduk di kursi roda,wajahnya terasa familiar.
Xia bertanya dengan raut dingin dan angkuh"kalian siapa?"
Namun bukan jawaban yang ia dapat,pria yang duduk di kursi roda menggerakan kursinya mendekati xia,kening Xia dan Yura berkerut.
Saat sudah berhadapan.
Tatapan mereka beradu,Xia melihat manik biru jernih itu sangat cantik,penuh kerinduan,semakin dalam Xia melihatnya.
Pria itu menarik sebelah tangan Xia,karna takberkesiap Xia jatuh sampai menabrak dada pria itu.
Pria itu memeluk Xia dengan erat,sangat erat sampai Xia kesulitan bernafas.
Yura dan pria yang di belakang pria yang menarik Xia terbelalak,atas kejadian ini,namun mereka hanya saling pandang.
__ADS_1
Sekian detik beradu tatap,keduanya bersamaan membuang muka acuh ke sembarang arah.
Xia yang sadar dari keterkejutannya,merasa sesak dengan perlakuan pria tak tahu malu itu,ia berusaha keras untuk bangun namun kekuatannya kalah.
Beberapa kali mencoba tetap gagal sampai akhirnya Xia memakai cara lain"lepas,sesak"
Mendengar suara Xia membuatnya dengan terpaksa melepaskan pelukannya,ia masih enggan melepaskan pelukannya,namun ia juga tidak mau wanita yang ia cari selama ini berakhir mati dipelukannya,sungguh tragis.
Xia berdiri dengan tegap dan menepuk seluruh bagian badannya seolah banyak debu yang menempel pada tubuhnya.
Melihat apa yang Xia lakukan membuat kedua pria itu mengkerut kan kening mereka.
"Pria tampan kenapa anda tidak tau malu sekali,anda harus bertanggung jawab karna menyentuh adik saya,sayang sekali wajah anda tidak bisa saya pandang lagi lain kali"ucap yura dengan memiringkan kepalanya menatap.
Yura akui mereka sangat tampan masuk dalam katagori pria sempurna dunia.
"Apa magsud dari perkataan anda?"tanya azkara dengan raut wajah dingin,ia terlihat kesal saat ini.
"Apa!,kau pria penguntit,sialan!"cibir Yura sebari berkaca pinggang dengan mengangkat kepalanya angkuh.
Leher azkara mengeras bahkan ia menggeretakan giginya,bagaimana bisa ia disebut penguntit mereka saja baru pertama bertemu, saat ia ingin berkata,suara Yura kembali terdengar.
"Xia kita barter saja,dia yang kau hilangkan"telunjuk Yura menunjuk wajah Azkara.
Azkara ingin membalas yura namun tiba-tiba aura dingin menusuk kulit mereka,ya walaupun cuaca sedang mendung tapi tidak mungkin akan sedingin ini,rasanya mereka akan segera beku.
Xia juga merasakan aura menyeramkan ini,biasanya ia akan merasakan aura ini saat melihat prianya yang tengah marah,namun sekarang bukan mereka.
Yura dan Azkara melirik sekilas Afra yang sedang menatap sendu Xia namun dengan aura menyeramkan,mereka berdua yakin aura ini dikeluarkan dari pria itu.
Hening seketika.
Sampai suara Afra memecah keheningan.
"Aku merindukan mu"
"Aku?"Xia menunjuk dirinya sendiri memastikan pria didepannya tengah bicara padanya.
Afra merespon dengan anggukan dan senyuman kecil dibibir.
Melihat senyuman itu membuat Xia tertegun.
"Bisakah kamu jangan pergi lagi,aku kesulitan mencari mu"ucapnya sendu,Xia melihatnya menjadi gemas,pria itu menampilkan raut wajah sangat menggemaskan seperti anak kucing yang sedang membujuk.
Azkara terbelalak entah berapa kali ia seperti itu,hatinya terus bersukur,atasannya yang menyeramkan bisa selembut kapas,namun itu juga membuat azkara heran,namun ia hanya bisa bertanya-tanya sendiri.
"Anda siapa?,sepertinya kita pernah bertemu"ucap Xia sebari memikirkan perkataannya,wajah ini sangat familiar,tapi siapa?.
"Kau tidak terbentur Xia jadi tidak mungkin amnesiakan?"cibir Yura mengejek,Yura pikir bisa-bisanya Xia melupakan wajah setampan ini.
Xia hanya melirik Yura sejenak sebari memberi tatapan tajam agar ia diam,lalu kembali menatap Afra berharap ada ingatan yang melintas dikepalanya.
"Aku minta maaf,namun yang terjadi bukan kehendakku,semua jalan takdir,jadi bisakah kamu kembali bersamaku"lirih Afra lalu menggerakan kursi rodanya mendekati Xia,afra memegangi kedua tangan Xia,ia menggenggamnya,
Namun Xia menarik tangannya kencang sampai terlepas dan dirinya terhuyung satu langkah kebelakang namun kembali tegap dan bicara masih dengan nada dingin.
"Jangan menyentuh!"
"Maaf,ini semua bukan keinginanku"ketiga orang yang mendengarkan hanya menaikan sebelah halisnya,
"Aku tidak pernah ingin mengalami kecelakaan ini namun semua telah terjadi,apa kamu akan terus marah karna aku amnesia dan melupakan kenangan kita?,tunanganku"Afra mendongkak dan menatap Xia dengan sendu.
__ADS_1
"Aku ingin kau terus bersamaku,aku janji akan berusaha untuk mengingat kenangan kita,tapi yakinlah walau aku lupa kenangan kita namun hati ini hanya milikmu dan tidak akan pernah lupa tentang dirimu"sambung Afra mencoba menyakinkan dengan menggenggam tangan Xia namun wanita itu menghindar.