
Setelah melepas celana milik pria itu, Xia langsung mengoles salep yang ia ambil tadi,tanpa memedulikan Afra yang sudah gelisah.
Pria itu memilih memejamkan mata saat Xia melucuti celananya,sungguh perasaannya sudah tidak karuan.
Ia pikir dengan menutup mata semua akan baik-baik saja,namun semua malah sebaliknya,ia merasakan sensasi aneh saat sang gadis mengoleskan salep yang ia katakan akan terasa panas dikakinya.
Matanya ditutupi kabut,bukan hanya kakinya yang terasa panas,namun kini seluruh tubuhnya juga terasa panas,ia pria normal,sesuatu dibawah sana sudah tegap berdiri.
Takut ketahuan dengan dirinya yang sudah diselimuti kabut gairan,dan juniornya yang sudah berdiri,pria itu menaruh bantal dibagian itu berharap bisa menutupi.
Jika saja kakinya baik-baik saja,sudah ia terkam gadis itu.
Xia tidak memedulikan tingkah aneh pri itu,yang ia pokuskan hanya mengoles dan memberikan pijatan dikaki pria itu,pijatan yang ia berikan sesuai intruksi dokter waktu itu dengan kombinasi pijatan yang ia pelajari dari seseorang asal negara tirai bambu.
Agar tidak dicurigai ia sengaja mengombinasikannya,sekaligus dengan salep yang ia buat sendiri.
Salep itu ber sensasi panas setelah terkena kulit,namun rasa panas itu akan berganti dengan rasa dingin setelah dua menit.
Tahu akan keadaan,gadis itu memilih mengajak ngobrol,agar pria itu, bisa melegakan perasaannya sampai,pengobatan yang ia berikan bisa selesai,tanpa hambatan.
Anggap saja sebagai tanda terimakasi sekaligus mengorek informasi,sekali dayung dua tiga pulau terlampaui bukan.
Sambil minum nyelam air pula.
"Apa kau ingat,kenapa waktu itu bisa kecelakaan?"tanya Xia tanpa melihat kearah Afra.
"Waktu itu rem mobilku blong, sekaligus stir yang aku pegang tiba-tiba tidak bisa digerakan"jawabnya jujur.
"Bagaimana mungkin?"
"Seseorang menyabotase mobilku"jawab Afra dengan menatap gadisnya dengan tatapan sendu.
Ada rasa bersalah disana,tatapan penuh gairah menghilang begitu saja saat mengingat kecelakaan tempo hari.
"Apa kau sudah menyelidikinya?"tanya Xia walau sudah tau akan jawabannya tidak salahkan jika bertanya.
"Sudah!,orang itu sudah di amankan"mendengar jawaban Afra membuat Xia menatap pria itu sampai beradu tatap beberapa menit,lalu tatapan itu terputus saat Xia kembali mengantensikan pandangannya kearah kaki yang sedang ia pijat.
" Aku yakin pria itu hanya orang suruhan,sampai sekarang dia belum jujur siapa dibalik kecelakaan ini"sambungnya.
"Apa aku bisa bertemu pria itu?"tanya Xia masih dengan menatap pergerakaannya sendiri.
" Tidak!"tegas afra"kamu tidak bisa menemuinya!"
"Kenapa begitu?,aku juga berhak bertemu dengannya,gara-gara dia kau sakit seperti ini dan kakak ku juga koma"ujar Xia menggebu membuat pria itu tersentak.
"Aku tidak bisa mengijinkan mu,sayang,aku akan menyelesaikan nya secepatnya"ujar Afra berharap gadisnya bisa menurut.
"Aku ingin bertemu pria itu!,atau aku akan pergi dari mansion mu"ancam Xia.
"Baiklah-baik,nanti kita temui orang itu bersama-sama"ujar Afra mengijinkan saat gadisnya mengancam akan pergi.
Ancaman itu selalu berhasil,Xia menyeringgai sangat tipis beberapa detik, lalu kembali dengan ekpresi datarnya.
"Baimana dengan keadaan kakakmu,sayang?"lirih Afra bersalah.
"Dia masih koma"jawab Xia sendu,Afra yang melihat tatapan sendu gadisnya membuat ia merasa semakin bersalah.
"Aku tidak tau itu,dimana dia dirawat sekarang,aku akan menjenguknya"ujar Afra,setelah kepergian entah kemana mereka ia tidak menemukan keberadaan mereka sampai sekarang,kecuali gadisnya maka dari itu,ia tidak akan membiarkan gadisnya pergi lagi.
Xia mengedikan bahunya"paman yang mengurus semuanya"
__ADS_1
"Paman siapa?"tanya Afra mengirek informasi yang ia inginkan.
"Paman Sam,dia pamanku,aku sendiri tidak tau dia membawa kakak kemana,yang aku tau,beliau membawanya kerumah sakit diluar negri,namun entah dinegara mana"jawab Xia tidak sepenuhnya bohong.
"Kenapa begitu?,dia tidak memberi tahu mu,dimana kakak mu dirawat?"Xia menjawab dengan menggelengkan kepala dengan lirih.
"Paman bilang,semua akan dia urus,aku hanya perlu kuliah dengan benar"
"Kuliah?,kamu sudah kuliah?,kuliah dimana?"cecar Afra yang baru mendapatkan sedikit fakta.
"Aku baru mau kuliah"jawab Xia,tidak akan berkata sepenuhnya jujur untuk saat ini.
"Baiklah dimana kamu ingin kuliah?,aku akan mengurusnya untukmu"tanya Afra sebari tersenyum tipis.
Xia menjawabnya dengan mengedikan bahu"aku akan kuliah dimanapun yang yura pilih"jawabnya.
"Baiklah"
"Ouh iya,aku lupa"ucap Xia kini menatap pria itu"aku belum mengatakan bahwa kak Azkara pergi kerumah sakit,untuk menemani Yura"tidak ekpresi lebih dari pria itu membuat Xia kembali bersuara.
"Aku yang memintanya,apa kau marah?"sambungnya.
Afra tersenyum lembut sebelum menjawab pertanyaan gadisnya"tentu saja tidak,kamu bisa memerintahkan siapapun disini"
"Tapi kak Azkara asisten mu"
"Maka dari itu,dia asistenku kamu berhak memerintahkannya,karna milik ku juga milik mu"jawab Afra sebari tersenyum.
Mereka terus mengobrol satu sama lain,walau keduanya masih menyempatkan berbohong satu sama lain untuk menjawab pertanyaan,demi menyembunyikan identitas.
Semua butuh pengorbanan.
Saat dia datang kerumah sakit,Bala sudah pulang sepertinya semesta masih ingin membuat pria itu waras.
Gama sudah tertidur karna obat yang diberikan suster kepadanya.
Yura sedang menonton drama dibrangkar yang disiapkan untuknya disamping brangkar Gama.
Yura tidak berbaring sendiri,disampingnya ada Azkara yang sedang memegangi ponsel yang memutar film.
Yura memiringkan tubuhnya untuk menonton film,tadinya ia menonton sendiri dan Azkara hampir tertidur disofa.
Namun bukan yura namanya jika tidak membuat kesal pria itu.
Gadis itu memaksa sampai menarik paksa pria itu,menimbulkan sedikit Kebisingan,demi agar tidak menggangu pasien lain Azkara menurut.
Azkara dipinta memegangi ponsel setelah dipaksa keluar untuk membeli camilan oleh Yura.
Azkara yang tidak suka menonton,ikutan terhanyut dalam drama bahkan pria itu yang banyak misuh-misuh saat adegan yang menurutnya tidak layak didapat pemeran utama.
Berakhir mereka menjuliti antagonis dalam film yang mereka tonton,ini pertama kali mereka akur,perlu diabadikan sepertinya.
Suasana hening tiba-tiba membuat Azkara mengerutkan dahinya,lalu melirik kesamping.
Pria itu dibuat geleng-geleng kepala,saat melihat pemandangan indah usp.
Magsudnya pemandangan Yura yang sedang tertidur dengan rambut acak-acakan,bungkus cemilan di pelukannya bahkan ada kentang goreng di rambut gadis itu.
Azkara mengambil secara pelan bungkus camilan dari pelukan gadis itu,baru mengambil kentang goreng yang terselip dirambutnya,dan memasukannya kedalam mulutnya secara spontan,baru menutupi gadis itu dengan selimbut.
"Dasar singa betina"guman Azkara sebari kembali menonton film dengan camilan yang ia ambil dari Yura.
__ADS_1
Tanpa pria itu sadari seseorang tengah menatapnya dengan tatapan aneh.
Matahari menyelinap masuk kedalam gordeng.
Merasa terganggu dengan cahaya matahari,seorang gadis membuka matanya menetrakan cahaya yang masuk.
Gadis itu beranjak dari kasurnya lalu berdiri di depan balkon.
Xia menghela nafas dalam, menghirup udara segar di pagi hari dengan menutup matanya,menikmati udara.
Xia masuk,betapa kagetnya saat melihat seorang pria tengah menatapnya diranjang dengan terduduk.
Xia memegangi dadanya"kau dikamarku?,sedang apa?"
"Kamu lupa?,semalam kamu memaksaku untuk berada dikamarmu"jawab pria itu dengan menggoda.
Xia terdiam sebentar,saat mengingatnya ia menepuk jidatnya,menurut Afra itu sangat lucu sampai membuatnya terkekeh.
Ya benar semalam dirinya yang mengajak pria itu kekamarnya,mereka terus mengobrol walau akupuntur yang Xia lakukan sudah selesai.
Mereka terus mengobrol bahkan sesekali tertawa,ini pertama kalinya!.
Pantas saja ia bisa tidur malam ini.
"Aku hanya melakukan pengujian!,ternyata yang dokter itu ajarkan bisa aku pelajari dengan cepat"jawab Xia masih berdiri.
" Benar!,aku merasa kaki ku terasa enakan,sepertinya kamu harus melakukannya lagi"ujar Afra.
"Modus?"
"Itu kenyataan sayang! ,pijatan yang kamu berikan semalam,membuat kaki ku terasa ringan,aku ingin secepatnya sembuh,jadi bisakah kamu memijit ku lagi nanti!"ujar nya dengan wajah memohon.
"Aku tidak bekerja dengan gratis"jawab Xia sombong dengan menautkan kedua tangannya didepan dada.
"Baiklah,aku akan membayar,berapa harga yang harus aku bayar nona?"tanya Afra antusias sebari terkekeh.
Xia mengetuk dagunya,dimata Afra itu juga sangat menggemaskan,dia jadi ingin secepatnya sembuh agar bisa memakan gadisnya itu.
Afra menepuk jidatnya saat otaknya mulai berpikir mesum.
"Bagaimana jika aku ingin saham?"ujar Xia datar.
"Oke"
"Oke?,kamu menjawab Oke?"tanya Xia terdengar kaget namun wajahnya masih datar.
"Iya!,hanya saham?"ujar Afra malah bertanya.
"Tidak-tidak,aku akan memikirkannya nanti"ujar nya lalu melegang pergi.
"Kamu mau kemana?"tanya afra saat melihat pergerakan gadisnya.
"Mandi"jawab Xia"kau mau ikut?"
"Boleh?"tanya antusias afra.
Tentu saja"jawaban Xia membuat Afra berbinar.
"Tidak!"sambung Xia ketus lalu melanjutkan langkahnya tanpa peduli dengan pria yang ia hempaskan setelah diberi harapan.
Xia terkekeh didalam kamar mandinya sebari berguman"pria aneh"
__ADS_1