MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Dua poin yang kau sebutkan salah


__ADS_3

Dua pengawal tadi dengan replek menutup mata,saat serbuk putih terbang kearah mata mereka.


Saat membuka mata,penglihatan mereka mengabur,mereka mengucek kedua mata beberapa kali namun masih saja sama.


Mereka menajamkan pendengaran untuk antisipasi lawan mereka menyerang disaat seperti ini,mereka adalah pengawal terlatih.


Namun tidak ada pergerakan yang mencurigakan yang mereka dengar.


Disisi rumah sakit pria yang menjadi korban penusukan sedang dirawat.


Xia,Yura beserta Bala menunggu diluar bersama dua pengawal yang mengawal mereka.


Xia menyenggol lengan Yura yang duduk disampingnya.


Gadis itu mengangkat wajahnya sedetik sebagai pertanyaan.


Wajah Xia yang tegang.


Wajah Yura yang sembab begitu juga bala,namun kondisi bala gadis itu lebih menghawatirkan.


Xia melirik kearah bala yang duduk disisi lain sebelah Yura sebagai jawaban.


Yura mengerti magsud gadis yang sudah ia anggap sebagai adik itu,ia mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban,lalu sudut bibirnya terangkat"trauma?"


Xia mengangguk mengiyakan.


Yura dan Xia merasa kasian pada gadis itu yang menjadi korban.


Korban sebagai saksi hal yang tidak seharusnya.


Yura menatap gadis itu yang masih menatap kebawah dengan tatapan kosong.


"Kau baik-baik saja?" tanya Yura memastikan.


Gadis yang ditanya itu mendongkak menatap Yura, mereka beradu tatap beberapa detik sampai Bala kembali menunduk tanpa menjawab.


Yura menghela nafas dengan pertanyaan bodohnya"semua akan baik-baik saja"ucapnya sebari menepuk pundak gadis itu.


"Apa dia akan mati kak?,dia berdarah begitu banyak,seseorang akan mati bukan jika kehilangan begitu banyak darah?"lirih Bala dengan suara serak menatap Yura,dengan wajahnya yang sembab bahkan jejak air mata masih bisa terlihat dari gadis itu.


Yura menghela nafas"itu tidak benar,darah yang dia keluarkan tidak terlalu banyak,dan sudah pasti rumah sakit memiliki stok darah yang banyak"ujar Yura mencoba menenangkan.


"Benarkah?,kak,dia benar-benar tidak akan matikan?"tanya Bala lagi.


"Tidak!,seseorang hanya akan mati jika tidak bernafas"jawab Xia tanpa menatap gadis itu.


Jawaban Xia membuat Yura berdecih dalam hati"sebaiknya dia diam,bukannya menenangkan malah membuat seseorang down,tapi apa yang dia katakan memang benar si"pikir Yura.


"Dia hanya akan mati jika jantungnya tidak berdetak"sambung Xia sebari menyandarkan kepalanya.


Suara derap kaki dan roda terdengar,dua pengawal itu membungkuk saat bos melewati mereka.


Afra sangat marah pada pengawalnya,saat mendengar ada yang menyerang gadisnya disaat mereka dijaga.


Ia langsung menemui gadisnya setelah mendapat informasi walau ditengah meeting.

__ADS_1


Wajah yang ingin ia temui terlihat sendu, dengan kondisi bajunya yang dipenuhi bercak darah membuatnya sangat khawatir.


"Kamu gapapa sayang?"tanya Afra saat sudah didepan Xia,sebari membelai rambut gadis itu yang dicepol.


Xia menjawab dengan lirih"aku baik,tapi seseorang terluka gara-gara menolongku"


"Semua akan baik-baik saja,dia akan mendapatkan perawatan yang terbaik sampai dia sembuh,kamu tidak perlu khawatir"ujar Afra menenangkan gadisnya.


"Tetap saja,dia terluka gara-gara aku,aku tidak suka berhutang nyawa!"ujar Xia sendu.


"Kamu tidak akan berhutang apapun pada nya!,aku akan mengurus itu"ujar Afra sebari membelai pipi Xia.


Sedangkan pria yang datang bersama Afra,dia langsung menemui pengawal,yang mengawal kedua gadis itu untuk meminta penjelasan.


Bala yang tertunduk lesu kini menatap pria yang duduk di kursi roda itu,lalu berganti pada pria yang sedang bicara dengan para pengawal,matanya berbinar penuh harapan.


"Wah aku beruntung sekali"pekik nya antusias membuat atensi orang disana menatap gadis itu dengan heran.


Tadi sedih sekarang antusias perubahan yang sangat singkat.


"Kau kenapa?"tanya Yura heran.


"Aku sedang senang tau,hari ini hari keberuntunganku,ketemu dua kakak ku kembali dan bertemu deretan orang tampan,ya walaupun sekaligus bertemu deretan pria berwajah datar"ujarnya masih dengan antusias,bahkan kini duduknya berpindah menjadi disamping Xia.


"Tunggu sebentar siapa yang kau magsud kakakmu?,dan deretan orang tampan?,seharusnya kau menyebutkan satu pria tampan"ujar Yura heran dengan perkataan gadis itu.


"Yang pertama kalian itu kakak ku,yang kedua tentu deretan orang tampan karna kedua pria itu sangat tampan"jawab Bala.


"Tunggu-tunggu"ujar Yura sebari menunjukan lima jari"kedua poin yang kau sebutkan itu salah,sejak kapan kau menjadi adik kami?"


"Emang iya?"tanya Yura sebari berpose berpikir dengan tangan diletakan didagu.


Bala mengangguk bersamaan dengan sudut bibirnya terangkat"tentu saja iya!,aku ini gadis gemilang,berprestasi dan tidak sombong"ujarnya membanggakan diri.


" Cih,ya sepertinya kau sedikit berguna"ujar yura sebari menatap gadis itu.


"Tentu saja,tapi aku berguna apanya kak?"heran gadis itu,karna setelah beberapa jam mengikuti kedua gadis yang ia sebut sebagai kakak itu,sedikit tau bahwa mereka bermulut pedas.


"Kau berguna jika kami jual"ujar Yura tanpa beban membuat bmBala menatap nya dengan tajam.


Azkara menghampiri mereka setelah memberi perintah pada pengawal tadi untuk kembali ketempat kejadian,untuk mengecek sesuatu sekaligus mencari belati yang Xia lepaskan dari seseorang yang menolongnya dari penusukan.


Pria itu penuh khawatiran seperti Afra "nona anda baik-baik saja?" tanyanya.


Suara azkara berhasil mengalihkan atensi ketiga gadis itu,menjadi menatap nya dengan tatapan berbeda-beda.


Jika Xia menatap datar,berbeda dengan Yura yang menatap jahil,dan gadis yang menguntit mereka yaitu Bala menatap penuh kagum dengan ketampanan pria itu.


Walau jika dibandingkan,wajah Afra pemenangnya.


"Aku baik kak"jawab Xia datar.


"Wah pria tampan lainnya datang"guman Bala sebari menangkup wajahnya dengan kedua tangannya menatap Azkara dan Afra secara bergantian.


"Matamu buta!,pria seperti itu disebut tampan"guman Yyra didalam hati,namun ia diamkan karna memiliki rencana lain untuk pria itu.

__ADS_1


"Kau tidak bertanya padaku?"Yura membuat suara sendu membuat Azkara iba.


Berbeda dengan Xia,gadis itu mengkerutkan dahinya,apa yang akan Yura lakukan?.


Azkara beralih ke gadis yang barusan bertanya,ia menatap gadis itu terlihat jelas bahwa gadis itu baru menangis"kau baik-baik saja?"


Yura mengangguk sebagai jawaban"kemari!"pinta Yura dituruti Azkara.


Kali ini saja pria itu tidak akan mencari ribut dengan gadis didepannya ini,karna rasa iba"gadis itu pasti syok"


Eh kita ralat yang mencari ribut selalu Yura bukan Azkara oke,Azkara hanya terpancing dan meluapkan emosi.


Azkara berdiri di depan gadis itu sesuai permintaannya tanpa ba bi bu


Yura memeluk tubuh Azkara membuat pria itu tak berkesiap,namun membiarkan agar gadis itu merasa tenang pikirnya.


Afra kesal dengan pemandangan didepannya ini,dirinya belum memeluk gadisnya seharian ini,dan Azkara sudah dipeluk gadis yang selalu bercekcok dengannya.


Sedangkan Xia menunggu adegan selanjutnya,berbeda juga dengan Bala,gadis itu berdecih dan menatap tajam"enak saja peluk-peluk pria tampan!"


Kejadian selanjutnya membuat Azkara mencoba lepas dari pelukan Yura dengan geram,namun sedikit sulit karna Yura memeganginnya sangat kencang.


"Hei,kau jorok!"teriak Azkara geram


Afra dan Xia beradu tatap dengan kejadian itu beberapa detik,kemudian saling membuang muka kearah yang sama ,sedangkan Bala gadis kecil itu menganga tidak percaya dengan yang dilakukan Yura.


Yura gadis 20tahun itu merencanakan hal ini sejak melihat Azkara,seharian belum membuat pria itu kesal terasa ada yang kurang.


Yura memeluk Azkara dengan kencang sebari tersenyum smirk tanpa diketahui siapapun, lalu gadis itu mengeluarkan isian hidungnya kebaju Azkara sampai pria itu mendorongnya namun tetap tidak lepas.


Azkara mendorong lebih kencang berhasil melepaskan diri dari pelukan Yura,pria itu langsung menatap nyalang gadis itu,lalu membuka jaz yang ia pakai dan melemparkan kelantai memperlihatkan kemeja putih yang mencetak tubuhnya.


Ia sangat jijik dengan apa yang dilakukan gadis itu.


Yura gadis itu tertawa dalam hati sebari berguman"mampus!"


"Kau jorok sekali si!"bentak Azkara tidak terima.


"Akukan hanya membuang ingus,aku tidak bisa bernafas karna tersumbat,setidaknya hidupmu sedikit berguna sekarang"ujar Yura sebari terkekeh dan tidak tahu malu.


"Kau kan bisa kekamar mandi!,kenapa harus dibajuku?"pekik Azkara sebari menatap nyalang gadis itu seperti ingin mencekiknya.


"Jika ke toilet aku harus mencari arahnya,lalu berjalan saat sudah menemukan toilet yang entah dimana itu hanya untuk membuang ingus,bukankah hanya membuang waktu?"ujar Yura tak berdosa"aku hanya mempersingkatnya saja,toh sama saja,sama-sama ingusnya keluar"


"Tapi tidak dibajuku!"pekik Azkara tidak terima.


"Salahkan dirimu lah,aku beri tau kau ya,jika kau sedang dekat dengan wanita yang sedang menangis kau hanya harus memberikannya tisu,itu adalah pelajaran penting,kali ini gratis tidak lain kali"ujar Yura membuat Azkara tambah kesal.


"Cih siapa juga yang mau dekat denganmu wanita cengeng,awas saja kau,hari ini aku lepaskan demi nona Xia"ancam Azkara.


" Is aku juga tidak mau dekat denganmu dilain hari,mungkin kau yang mau,kau pasti keenakan saat aku peluk-pelukan?"tuding Yura makin tidak tahu malu sebari menyipitkan matanya menatap Azkara.


"Ih"azkara bergidig"aku harus mandi bunga setelah ini"


"Aku yang harus mandi bunga"ujar Yura tak mau kalah.

__ADS_1


__ADS_2