
Ans membunyikan klakson barulah setelah itu seorang pria yang wajahnya terlihat sama-samar karna minim pencahayaan mendekat ke arah mobil,bersamaan dengannya membuka kaca mobil.
"Anda sepertinya salah jalan nona!"ujar pria itu tegas.
"Eagles?"tanya Yura dengan raut datar,pria yang mendatangi mobil menatap kearah dalam bisa dipastikan ada tiga orang didalam mobil,entah kenapa dirinya merasa bergidig dengan aura yang menekan diparu-paru.
Xia membuka kaca ditempat ia duduk,masih menunjukan raut datarnya ia berucap, "Senang bertemu anda kembali,paman Edgar"
Mendengar namanya dipanggil pria yang disebut Edgar itu menoleh kearah belakang dengan tatapan datarnya bertanya,"Anda mengenal saya?"
"Xia"jawab Xia tak kalah datarnya.
Pria bernama Edgar itu terdiam memikirkan gadis yang mengenali namanya itu,beberapa detik setelah itu pria itu menunduk penuh hormat, "Maafkan saya nona,saya tidak mengenali anda,sudah sangat lama sejak anda meninggalkan kami"
"Hmm,,,sudah sangat lama"jawab Xia.
"Benar nona,maafkan kelancangan saya,silahkan masuk nona"Edgar meminta pria lain yang berdiri tidak jauh dari gerbang untuk membuka akses agar mobil yang dikendarai gadis itu bisa masuk.
Setelah dirinya dan rombongan memarkirkan mobil ditempat yang diarahkan salah satu pria disana,mereka menatap gedung yang menjulang tinggi di depan.
Tidak ada yang istimewa selain tinggi dan luasnya gedung itu,dihalaman hanya kosong tidak ada yang istimewa sama sekali,Lamat-lamat mengisi luar gedung membuat siapapun yang melihatnya mengangap gedung ini hanya gedung terbengkala,gedung terbengkala dipenuhi tanaman berambat yang cukup horor jika dilihat.
Mereka berjalan menyusuri lobi gedung dituntun pria bernama edgar sebagai petunjuk arah,pemandangan yang mereka lihat lagi-lagi tidak ada yang menarik minat ketiga gadis itu,disetiap pembatas hanya ada bunga yang ditanam didalam pot,ada tanaman merambat yang menjadi hiasan melilit disetiap pembatas,bukannya terlihat indah malah seperti tadi terlihat lebih menyeramkan,gedung ini lebih identik jika disebut gedung hantu.
Mereka masuk kedalam lift yang berada di ujung lobi,tidak semua memasuki lift,sisanya menunggu diluar saja!.
Itu semua sebuah perintah mereka tidak bisa membantah toh semua akan baik-baik saja jika ada pengawal pribadi salah satu nonanya.
"Tidak perlu formal paman,rilek saja! "ujar Xia menghancurkan keheningan didalam lift.
"Baik nona" jawab Edgar yang sedari tadi menunjukan ekpresi sungkan nya.
Selesai tidak ada lagi pembicaraan,membuat ans sedari tadi mati gaya tidak ada yang mengajaknya bicara.
Lift berhenti dilantai sepuluh dari gedung hantu,saat pintu terbuka mereka disuguhkan dengan sosok pria bersetelan rapi dengan jaz hitam yang identik,pria dewasa dengan wajah penuh lembab.
"Pria tampan"guman Ans,dirinya dan Yura memiliki kesamaan salah satunya pecinta pria tampan,bukan untuk dimiliki atau dijadikan pasangan,keduanya suka pria tampan hanya untuk bahan gosip saja tidak lebih,untuk memilih pasangan mereka akan memikirkannya nanti,mungkin setelah lulus kuliah,entahlah autor belum menyiapkannya saja saat ini.
.
.
.
Disisi lain Afra dan anak buahnya sedang diperjalanan menuju dimana Yura berada.
Pria itu terus diam dengan pemikirannya sendiri,dirinya bingung dengan semua yang terjadi terlalu tiba-tiba dan menumpuk.
Semua berdatangan secara bersamaan dari kebohongannya yang terbongkar,kepergian sang kekasih,pembunuh bayaran Than dan sekarang gangster eagles yang menculik yura dengan dua alasan,pertama untuk dikembalikan ke kelompok pembunuh bayaran dan meminta ditebus oleh mereka,kedua untuk mengancam afra entahlah semua belum terpecahkan sampai saat ini.
"Siapa yang menyewa mereka?,apa tujuan mereka?,aku atau para gadis itu?"monolog Afra didalam hati tak jauh berbeda dengan Azkara.
"Tuan saya ingin bertanya"ujar Azkara memecahkan keheningan.
"Hmm"dehem Afra sebagai jawaban.
" Bagaimana jika para nona itu benar-benar anggota pembunuh bayaran Than,,,,apa yang akan anda lakukan?"
"Menyelamatkan!,,,,jika ada pilihan antara menyelamatkan aku atau Xia,kau harus menyelamatkan Xia,,,itu perintah!"
Azkara terdiam ia tidak bisa meiyakan dikarnakan Afra bukan hanya atasannya tapi juga sahabatnya tidak mungkin ia menyelamatkan orang lain yang bahkan baru ia temui,tapi ia juga tidak bisa menolak jika sudah diperintahkan.
"Kau sudah mendapat informasi terbaru tentang mereka?"tanya Afra.
"Maaf tuan,siapa yang anda magsud?"tanya Azkara tidak mengerti.
"Eagles"
"Sudah tuan,dari informasi yang saya dapat,beberapa hari lalu ada seseorang yang menemui langsung ketua mereka di markas utama,saat saya selidiki lebih lanjut ternyata orang itu adalah Dion Saul "
"Belum menyerah ternyata"guman Afra.
"Dari perkiraan saya,tuan dion adalah tersangka utama dari penyerangan hari ini tuan"
"Hmm,,dua perkiraan yang belum terpecahkan"
__ADS_1
"Magsud anda tuan?"tanya Azkara tidak mengerti.
"Jikapun benar pria itu yang membayar anggota eagles untuk mengerangku,perkiraan yang terjadi hari ini ada dua,,pertama eagles akan mengembalikan yura terhadap kelompok Than,atau kedua mereka akan menjadikan gadis itu sebagai tawanan untuk mengancamku,,,,,menurutmu pilihan mana yang akan mereka pilih?"
"Menurut saya pilihan pertama tuan"
"Kenapa?"tanya Afra.
"Kedua pilihan memang sama-sama menguntungkan tapi pilihan pertama lebih dari menguntungkan tuan, selain mereka akan mendapatkan harta,mereka juga akan mendapat pengakuan,menangkap penghianat anggota Than akan membuat mereka menjadi nomor satu dinegara ini"jawab Azkara.
Afra menggelengkan kepalanya "Terlalu cepat menyimpulkan"
"Maaf tuan saya tidak mengerti"
"Kau belum menilai cara kerja mereka,sudah berapa kali kita bekerja sama dengan mereka?"ujar Afra malah bertanya.
"Hampir enam proyek tuan"jawab Azkara setelah mengingat-ingat.
"Sudah banyak ternyata,,cara mereka bekerja tidak pernah bisa diprediksi,inti dari pekerjaan mereka juga tidak diketahui,,,mereka tidak menerima sembarangan orang untuk mendapat jasa mereka,,kau sudah tau rumor itu?"tanya Afra diakhir penjelasannya.
"Rumor tentang anggota eagles bawahan mafia itali berklan kay,tuan?"tanya Azkara memastikan.
"Hmm,,,entah itu hanya ilusi mereka atau kenyataan"
Azkara mengangguk mengiakan,entah kebohongan atau kejujuran tidak diketahui selama bukti tidak ada didepan mata,"Anda benar tuan"
"Banyak orang kaya yang ingin menggunakan jasa mereka,entah untuk membunuh atau mengancam saja,tapi selalu mereka tolak walau diiming-imingi miliyaran uang,mereka juga tidak mengatakan orang seperti apa yang bisa menyewa mereka,tuan cukup beruntung sudah enam kali tawarannya diterima"guman Azkara dalam hati
"Bukankah jika begitu keselamatan anda dipertaruhkan tuan?,bagaimana jika kita memanggil anggota untuk berjaga-jaga tuan?"ujar Azkara mengambil kesimpulan dari obrolan mereka.
"Dua hari dan Yura mungkin sudah mati,kau ingin itu terjadi?"tanya Afra dengan secara langsung Azkara menggelengkan kepalanya cemas.
"Tidak tuan!,,,,tapi ini terlalu berisiko untuk anda tuan"ujar Azkara mencoba menyembunyikan kecemasan nya tentang Yura memakai alasan keselamatan sang tuan.
"Jika Yura mati kesempatan ku untuk bertemu Xia hancur,itu tidak boleh terjadi"ujar Afra tegas"lanjutkan perjalanan "
"Tapi tuan"Azkara ingin menolak namun Afra menatapnya tajam tak ingin dibantah,membuat Azkara merunduk diam.
"Aku memang menghawatirkan Yura tapi keselamatan tuan Afra prioritas ku disini"guman Azkara dalam hati.
Azkara memberikan kartu izin yang memang selalu ia tunjukan saat memasuki kawasan ini,kartu khusus yang diberikan kelompok ini.
Gerbang besi dibuka menimbukan suara yang cukup berisik,setelah gerbang terbuka lebar barulah mereka melajukan mobil dan memarkirkan.
Setelah turun dari mobil mereka melihat mobil lain terparkir disana,itu artinya anggota eagles sedang memiliki tamu,karna parkiran saat ini khusus tamu saja.
Ya saat ini mereka sudah berada didepan gedung yang dijadikan markas utama anggota eagles dibali,setelah perjalanan beberapa jam dari ibukota Indonesia akhirnya mereka sampai.
Gedung yang seolah terlihat terbengkalai karna semua cat diarah luar sudah pudar dengan tembok dipenuhi tanaman merambat,Afra dan beberapa anak buahnya tidak lagi aneh dengan gedung ini,mereka sudah beberapa kali kemari.
.
.
.
Disalah satu ruangan di gedung hantu,markas utama anggota eagles duduk dua pria dan empat gadis yang tengah berbincang-bincang.
"Baiklah paman mengerti,kapan akan dimulai?"tanya pria yang menyebut dirinya paman.
"Sebentar lagi"jawab Xia datar,gadis itu duduk disamping Ans.
"Dia memang harus selalu menjadi sutradara jika menjadi pemain,drama akan hancur seketika"guman Ans di dengan orang-orang disana,menjadikannya atensi utama.
.
.
.
Suara ketukan pintu terdengar tok-tok-tok.
"Masuk!"seorang pria yang tadi mengetuk pintu masuk memberitahukan informasi yang ia bawa.
"Maaf tuan,di luar ada orang yang ingin menemui anda"ujarnya sebari memberikan kartu Identitas tamu.
__ADS_1
"Hmm"pria yang dipanggil tuan menyeringgai "Biarkan dia masuk! "
Pria itu kembali keluar lalu kembali membawa tamu yang ia magsud.
Kedua pria yang dimagsud tamu tersebut melangkah maju dengan salah satu dari pria itu memakai kursi roda sebagai tumpuan.
Deg
Di ruangan itu sudah ada tiga gadis cantik dengan dua diantara mereka tengah duduk disofa dan satunya lagi berdiri tidak jauh dari kedua gadis itu,sedangkan disofa lain ada seorang pria paruh baya yang sedang duduk berhadapan dengan kedua gadis yang salah satunya familiar dimata kedua tamu,disamping pria paruh baya itu ada seorang pria yang tengah berdiri.
Ruangan tersebut seketika terasa dingin dengan aura yang ikut berubah mencekam.
"Xia"guman kedua tamu secara bersamaan,pria yang duduk di kursi roda yang tidak lain adalah afra bergerak maju untuk menghampiri gadis yang sudah membuat ia merasakan kehilangan.
"Tuan Eagles saya menyetujui syarat anda,,,sebagai gantinya lepaskan sodara saya yang anda sekap"ujar dingin Xia tanpa menoleh kearah lain.
Dirinya sudah mengetahui akan kedatangan kedua pria itu,pria yang seharusnya ia hindari namun ada sesuatu hal yang hanya bisa diselesaikan pria itu.
"Baiklah nona, tunggu sebentar saya harus menyelesaikan urusan saya dengan tuan Amlias terlebih dahulu"ujar pria paruh baya itu lalu mengalihkan pandangannya kepada kedua tamu prianya,
"Bukan begitu tuan amlias?"
"Urusan kita terkait satu sama lain bukan?"tanya Afra datar yang sudah ikut bergabung satu meja.
Afra ingin sekali memeluk gadisnya namun ini bukan waktu yang tepat,sedangkan Azkara pria itu berdiri disamping sang tuan dengan raut datar yang menyembunyikan kecemasan untuk gadis yang selalu membuatnya naik darah.
Pria paruh baya itu terkekeh," Sepertinya begitu,,,,baiklah kita selesaikan bersamaan saja,menghemat waktu bukan?"
"Katakan apa yang anda inginkan!"ujar Afra lagi-lagi membuat pria paruh baya itu terkekeh.
"Seharusnya saya yang mengatakan itu bukan?,,,yasudahlah sepertinya anda berinisiatif melakukan apapun yang saya inginkan,,,sayangnya hanya para nona ini yang bisa memenuhinya,bukan begitu nona?"
"Tidak baik terlalu berani!,katakan apa yang kau inginkan"ujar Afra.
"Keberanian harus dimiliki setiap orang jika ingin sukses,itu yang saya lakukan sekarang"jawab pria paruh baya sebari tersenyum smirk.
"Saya akan memenuhi permintaan anda tuan Eagles,,,bisa kita selesaikan semuanya saat ini?"tanya Xia dingin.
"Tidak usah terburu-buru,biarkan dia menikmatinya "bisik Ans yang duduk disamping Xia.
Xia hanya memutar matanya jengah tidak menanggapi pilihan terbaik saat ini.
"Baiklah,dil?" tanya pria paruh baya sebari menyodorkan tangannya sebagai pengesahan.
"Tidak!"pekik Afra membuat atensi mengarah pada pria itu kecuali Xia,takut-takut traumanya kembali dan membuat kericuhan seperti dikantor tempo hari.
"Perjanjian apapun itu bisa anda dapatkan melalui saya,sebutkan apa yang anda inginkan Tuan Meo Eagles!"ujar Afra tegas membuat pria paruh baya yang dipanggil Meo Eagles tersebut menatap tajam.
Sering bekerjasama membuat ia sedikit tahu karakter pria bernama Afra ini,selama ini pria itu tidak pernah memanggil namanya selain Tuan Eagles jika sudah memanggil nama seperti tadi membuktikan mungkin peperangan akan segera pecah antara pengusaha dan gangster.
"Bawa dia kemari! "Perintahnya pada pria yang berdiri di sampingnya yang wajahnya sudah dikenali kedua tamu pria disana.
Zeon mengangguk mengerti barulah bergerak melakukan tugas yang diperintahkan.
Afra menatap tajam meo dengan tangan mengepal,bisa dipastikan markas eagles sebentar lagi akan hancur ulah pria tersebut.
Pembicaraan terus terjadi dimana kedua pria berbeda usia itu terus beradu argumen membuat suasana semakin panas,ditambah ans yang sudah ikut mengompori kegaduhan semakin menjadi.
Gencatan senjata hampir terjadi jika ketukan pintu tidak terdengar dan kembalinya Zeon dengan seseorang yang ia bawa dari Mansion pria yang ia serang.
Yura, yang dibawa Zeon adalah Yura,gadis itu tidak terlihat baik-baik saja,wajahnya yang sedikit lebab ulah seseorang beberapa jam lalu,beserta kedua tangannya yang diikat kebelakang,wajahnya juga menekuk beserta mulutnya yang ditutup lakban hitam.
"Hmmm" yura berbicara namun tidak bisa dimengerti karna mulutnya yang masih ditutup lakban.
Salah satu dari pengisi ruangan tersebut menahan tawa melihat wujud Yura sekarang,rasanya ia ingin tertawa guling-guling oh ini sangat lucu pikirnya.
Azkara tergesa dan menarik yura kesampingnya,membuat Yura limbung tidak sampai terjatuh.
"Anda tidak papa nona?"tanya cemas Azkara namun hanya mendapat tatapan tajam dari yura.
"Hmmm"pekik Yura meminta dilepaskan.
"Nona apa anda terluka?"lagi-lagi dengan bodohnya Azkara bertanya dan tidak bisa menyembunyikan kehawatirannya,namun ia lupa sesuatu terpenting saking cemasnya.
Yura menatap tajam kearah Azkara yang terus mencecarnya dengan pertanyaan tanpa ingat dengan kondisi dirinya yang bisa dilihat memprihatinkan.
__ADS_1
Salah satu gadis yang tadi menahan tawa lagi-lagi harus menahan tawa demi kelancaran drama yang meraka lakukan,dirinya mencubit betisnya sendiri untuk mengontrol diri agar tidak tertawa,hingga ringisan tertahan keluar dari bibirnya,barulah setelah itu ia mengambil peran.