
Yura berjalan menghampiri Xia yang sedari tadi hanya menonton aksinya.
Saat berdiri disamping gadis itu,ia mengangkat sudut bibirnya keatas menjadi lengkungan indah"bagaimana seru bukan?"tanyahya sebari menaik turunkan halisnya.
"Lumayan"jawab Xia lalu mereka bersama meninggalkan toko.
"Hah?,terserah kau saja"
"Kau bilang tidak akan mengalah?"tanya Xia.
"Memang,aku tidak akan mengalah untuk baju yang selevel dengan gayaku"jawab Yura dengan nada sombongnya.
"Aku juga masih punya otak,mereka pasti memasang harga yang tinggi untuk dress kekurangan bahan tadi,dari pada uangnya aku pakai untuk membeli baju seperti itu,lebih baik aku membeli apartemen di negara ini"
"Aku ini tidak mudah ditipu"sambung gadis tersebut senang sebari membanggakan diri.
Tiba-tiba sebuah tangan menghentikan langkah mereka.
Seorang gadis meretangkan kedua tangannya menghentikan langkah mereka.
Secara spontan para pengawal langsung menarik kedua nona mereka kebelakang mereka,dengan belanjaan yang mereka pegang berserakan dibawah.
"Hei paman-paman kenapa kau menarik kakak-kakak itu?"tanya gadis yang kini sudah berkaca pinggang tak terima.
Para pengawal memberikan tatapan tajam membunuh,membuat gadis itu bergidig ngeri lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Mmm paman apakan aku boleh berbicara dengan kakak itu?"tanya gadis itu dengan takut,sebari menunjuk yura yang berada di belakang salah satu pengawal.
"Aku hanya ingin bicara"sambungnya kini sebari menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu jari yang lain dilipat membuat huruf V.
"Kau mengenal kami?"tanya Yura sebari menaikan sebelah halisnya.
Gadis itu mengangguk lalu bergeleng membuat kedua gadis itu heran.
"Yang benar dong!,kau kenal atau tidak?"pekik Yura
"Ya dan tidak"jawabnya jujur"kakak kau belum tua bukan?,bagaimana mungkin kau melupakan gadis secantik aku padahal beberapa detik lalu kita bertemu"
Yura melotot mendengar ucapan gadis itu.
"Hei kau gadis kecil"tunjuk Yura sebari menelisik gadis didepan pengawalnya,dengan dirinya bergeser agar tepat berada didepan gadis itu.
"Kau gadis tadi?"tanya Yura sebari menaikan halisnya,dan gadis itu mengangguk dengan senang.
"Binggo,kakak kau sangat hebat"ucapnya memuji dengan mengacungkan jempolnya.
"Tentu saja"jawab Yura sombong.
Para pengawal hanya menatap waspada tanpa bertindak,karna belum ada hal yang membahayakan kedua gadis yang harus mereka jaga.
"Jadi kenapa kau menghalangi jalan kami?"tanya Yura dengan berkaca pinggang,membuat gadis itu tersenyum dan menunjukan deretan giginya yang kosong satu dibagian atas.
Membuat Yura melipat bibirnya menahan tawa"heh gadis kecil kenapa dengan gigimu?,baru tanggal?"ucap Yura sebari terkikik geli membuat gadis itu mengkerucutkan bibirnya.
"Is kakak,ini gara-gara dia ah kau membuat moodku bt,kita kearah sana ayo kak!,disana ada toko sepatu yang indah dan pasti cocok dengan selera kakak"ucapnya dengan berani menarik tangan Yura mengarahkan toko yang ingin ia tunjukkan.
Seolah mereka sudah mengenal lama.
Para pengawal yang hendak mencegah dilarang Xia dengan gerakan kepala,lalu mereka mengikuti dari belakang.
Xia yang tadinya dibelakang dua gadis tersebut,ditarik gadis kecil itu berada di sisinya dan dirinya berada ditengah antara Yura dan Xia.
__ADS_1
Yura seolah menemukan circle yang satu otak dengannya,mereka terus saja mengoceh sampai sesekali membuat Xia memijat pelipisnya.
Pusing.
Xia sedang diuji dengan kesabaran.
Mereka berjalan seolah seumuran.
Yura dan gadis kecil yang belum mereka ketahuilah namanya terus mengobrol,membicarakan ulah mereka tadi.
Mereka setuju bahwa gadis itu bodoh bahkan sangat-sangat bodoh.
Dan mereka dengan sengaja menjebak gadis itu agar mengeluarkan uang sangat besar,dres tadi senilai 5juta dan sekarang lebih berharga lagi karna dikali 20 hhhh.
Walau saling tidak mengenal mereka terus membicarakan hal itu dengan sesekali tertawa.
Mereka kembali berbelanja sampai lupa waktu,dan tanpa lelah kecuali para pengawal yang wajahnya sudah ditekuk.
Disisi lain Afra dan Azkara yang baru saja selesai dengan pekerjaan,langsung menyusul gadisnya untuk makan siang bersama.
Sudah waktu jam makan siang dan kedua,magsudnya ketiga gadis itu, masih asik mengelilingi mall sampai seorang pengawal mengingatkan mereka.
"Nona ini sudah waktunya makan siang,tuan meminta anda untuk menunggunya di restoran yang sudah beliau siapkan"
"Oh sudah jam makan siang ternyata,aku tidak bisa ikut makan bersama"ucap gadis yang belum diketahui namanya dengan percaya diri.
"Tidak ada yang mengajakmu"cibir Yura namun tidak dihiraukan gadis itu.
"Aku harus pulang,senang berbelanja dengan kalian,semoga kita bertemu lagi lain waktu,dadah" ucapnya sebari melambaikan tangan dan berjalan pergi.
"Semoga tidak"guman Xia yang didengar Yura.
Yura tersenyum geli melihat wajah Xia yang datar menyembunyikan sejuta rahasia"dia mirip Elina,aku rasa mereka seumuran"ucapnya sebari melangkah ketempat yang pengawal tunjukan.
"Uh gadis bodoh,dia bahkan tidak menyebutkan namanya"guman Yura.
Mereka memasuki restoran yang masih didalam mall namun rasanya ada yang aneh.
Kenapa restorannya kosong hanya ada pelayanan yang sedang menyambut dan memandu mereka kemeja.
Xia yakin restoran ini sudah dipesan oleh pria itu,seberkuasa apa pria itu?Sepertinya berbahaya!.
Saat mereka mendaratkan bokong dikursi Xia,mendengar suara pintu terbuka dan juga suara roda yang menggelinding.
Kedua gadis itu tidak melihat kearah pintu mereka hanya pokus dengan pikiran mereka.
Toh mereka tau siapa yang datang,siapa lagi jika bukan yang memesan restoran ini.
Mereka sedang menikmati makanan bersama,bahkan para pengawal juga diikut makan namun dimeja yang berbeda.
Itu semua ulah Xia,ia pikir sebagai rasa terimakasih.
"Gadisku yang manis dan juga baik"guman Afra didalam hati sebari menatap Xia dengan dalam.
Xia yang asik makan tiba-tiba menoleh kearah pria yang di sampingnya,tatapan mereka beradu beberapa menit.
Xia menghentikan makannya,dan tangannya merogoh tas selempang yang ia pakai dan mengambil sesuatu.
"Salah mu!"ucap Xia sebari menaruh benda pipih dimeja dan mendorongnya kearah Afra.
"Apa?"tanya Afra yang heran,
__ADS_1
"Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Pikir pria itu.
Suara Xia berhasil menghentikan pergerakan dimeja mereka.
Yura berkata dengan mulut berisi makanan"kami berbelanja sedikit,tidak akan menghabiskan uang didalamnya"
Jika para pengawal mendengar ucapan Yura mungkin mereka akan misuh-misuh,bahkan mengutuk Yura.
Bahkan mereka akan memilih berperang dari pada mengikuti kedua gadis itu berbelanja,jika apa yang mereka bawa disebut sedikit.
Makanan yang Yura makan hampir muncrat karna ia bicara membuat Azkara jijik.
"Telan makananmu baru bicara!"pekiknya.
Yura mengikuti saran Azkara lalu meminum air putih dan kembali berkata"jika habispun itu bukan salah kami,kami hanya memanfaatkan apa yang berguna"
"Tidak papa,bahkan jika kalian bisa menghabiskan uang didalam kartu ini itu lebih bagus"ucap Afra sebari memandang Xia dengan lembut.
Yura dibuat bahagia dia ucapan pria itu"yuhuuu aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini"
Berbeda dengan Yura,Azkara malah hampir tersedak saat mendengar ucapan bos nya itu,"uang dikartu itu dua bulan gajiku beserta bonusnya"
Dan Xia hanya tersenyum kaku entahlah ia hanya harus bersikap natural bukan,namun rasanya susah jika harus menunjukan rasa simpati bahkan kasih sayang pada orang yang tidak kita kenal.
Sudah 4hari Xia dan yura tinggal di mansion Afra.
Bahkan rutinitas mereka hanya makan,rebahan,nonton dan bertengkar.
"Apa kau tidak merasa bosan Xia?,kita selalu didalam mansion beberapa hari ini"ucap Yura menatap Xia yang sedang fokus dengan komputernya.
Mereka sedang dikamar Yura.
Mereka memang selalu bersama dan sulit untuk dipisahkan sudah seperti surat dan prangko.
Komputer yang dibeli saat berbelanja beberapa hari lalu.
"Aku butuh hiburan"sambung Yura yang kini sedang merentangkan kedua tangannya,sebari berbaring disamping xia.
Xia menoleh dan menatap gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu"sebentar lagi!"
"Huh"
Kedua gadis cantik itu juga sering bermain online di komputer, sebenarnya tanpa diketahui siapapun mereka memang sedang bermain.
"Menurutmu apa dia sudah sembuh?"tanya Yura.
"3hari lagi"jawab Xia yang masih berselancar dipapan keyboard
"Eh iya"ucap Yura sebari menggaruk rambutnya yang tak gatal dengan bodoh.
Xia menutup komputer dan menaruhnya dinakas,melihat pergerakan Xia yang sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaan hari ini membuat Yura berbinar.
"Sudah selesai?,asik,ayo jalan-jalan"ucapnya bertingkah seperti anak kecil,bahkan gadis itu sampai menggandeng Xia dengan senang.
Kedewasaan tidak diukur dari usia.
usia hanya angka!
Yura yang lebih tua dari Xia, bertingkah manja terhadap gadis yang sudah ia anggap seperti adik itu,bukan sebaliknya.
Xia malah terlihat seperti seorang kakak jika Yura sudah menunjukkan rasa manjanya pada gadis itu.
__ADS_1
Dan Xia menolak semua itu pada awalnya.