MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
To game over


__ADS_3

Xia memutuskan tatapan mereka sebari mengedikan bahunya acuh dan kembali memakan eskrim yang sempat ia tunda tadi.


"Magsud aku tidak sejahat itu?"tanya Afra sebari menaikan alisnya bingung, dirinya tidak sepenuhnya mengerti dengan alasan kesembuhan trauma Xia yang selama dua belas tahun gadis itu alami dan sekejap mata sembuh dengan alasan yang tidak dimengerti.


"Jangan bicara saat makan!"ujar Xia acuh,membuat Afra menghela nafas dan memilih diam melanjutkan memandang wajah Xia yang sangat indah.


"Kamu tidak ingin bermain dipantai?"tanya Afra,sedari tadi gadis itu hanya memedulikan perutnya saja pikirnya.


Benar apa yang dikatakan Afra,sejak tadi dirinya menemani Xia berjalan-jalan didekat pantai,tidak bisa dikatakan dekat juga karna gadis itu terus berjalan menjauh dari arah pasir entah tujuannya untuk apa,dan setiap ada pedagang makanan yang mereka lewati Xia akan mencicipi nya jika terasa cocok gadis itu akan membelinya,selama berjalan Xia lebih banyak berhenti di pedagang jalanan,afra tentu saja mempermasalahkan hal itu,bukan Xia jika menurut gadis itu akan menjawab 'agar dokter bekerja'.


Xia yang hanya pokus dengan eskrimnya beralih menatap sekitar tidak ada raut berlebihan diwajahnya seolah semua itu biasa saja,"nanti"


"Kapan?,kamu tidak ingin bermain bersama ketiga temanmu itu?"tanya Afra sebari mengorek informasi.


"Nanti"jawab Xia acuh kembali memakan eskrimnya.


Afra mengangguk mengerti,"Sebenarnya mereka siapa untuk mu?"


"Saudara"


Afra sekali lagi mengangguk "Kalian sudah lama bertemu" hanya dijawab anggukan saja oleh Xia.


"Sejak kapan?"


"The de poin sana Tuan"jengah Xia mengetahui gerak-gerik pria didepannya.


Afra menggaruk tengkuknya kikuk,ternyata membodohi gadis didepannya tidak semudah itu.


"Aku hanya penasaran,bagaimana trauma yang satu lagi bisa sembuh,,"kilah afra.


Xia mengedikan bahunya "kerja keras,,,mereka bekerja sangat keras" jawab Xia sebari tersenyum tipis mengingat para saudara dan para istri dari teman ayahnya mendekati dirinya yang kala itu membenci wanita walau dirinya juga wanita.


.


.


.


Azkara dan Anna kembali ketempat terakhir kali mereka bertemu dengan kedua gadis cerewet,namun saat mereka disana tidak ada siapapun.


"Dimana mereka?"tanya Azkara sebari mengedarkan pandangan ke setiap sisi pantai.


Kedua orang berbeda jenis kelamin itu kembali membawa pesanan Ansya ditangan mereka.


Disisi dua gadis centil nan cerewet yang sedang dicari sangat berbeda dari terakhir kita tinggalkan,keduanya sudah diam seperti intruksi para penculik yang benar-benar dibuat pusing dengan suara mereka,,ingat bukan suara tangisan namun suara obrolan yang tentunya receh,membuat harga diri mereka sebagai seorang penculik hancur.


Makanya jadi penculik tidak usah bangga!,berbuat dosa ko bangga bi*d*b.


Tadinya mulut mereka akan dilakban dengan tangan terikat karna terlalu berisik, keduanya bebas dari itu semua hasil bernegosiasi dengan para penculik.


Entah sudah berapa lama diperjalanan kini mereka sudah sampai entah juga dimana yang jelas disekitar hanya ada pohon-pohon yang tinggi dengan daun yang rindang disekitar juga di penuhi semakin belukar.


Mobil yang berisi kedua gadis hasil penculik berhenti di sebuah bangunan tua ditengah hutan,bangunana besar yang terlihat kumuh dan tak terurus jika dilihat sekilas,mereka turun menodongkan senjata dan sedikit menarik lengan kedua gadis itu agar mengikuti langkah para penculik.


"Pelan-pelan kan bisa,tangan ku sudah memar karna kejadian kemarin jika terus ditarik begini nanti bisa putus"gerutu Yura disela langkahnya.


Untuk pergelangan Yura yang kemarin memar ulah Ansya yang terlalu kencang mengikat tali disana sudah diobati oleh Azkara,pria itu mengobati tangan Yura saat mereka pergi ke mall untuk berbelanja membeli baju yang kini sedang ia pakai dan saudari lainnya,mereka tidak membawa apapun kebali selain raga dan pakaian yang menempel pada raga.

__ADS_1


Penculik itu menatap sekilas tangan Yura yang kedua pergelangan nya diperban kecil,pria itu melonggarkan cekalannya tidak mau barangnya lecet.


Dari raut kedua gadis itu tidak ada raut takut sama sekali mereka terlihat santai dengan apapun yang akan terjadi,toh semua sudah mereka rasakan selama empat tahun ini.


Mereka dituntun masuk kedalam bangunan besar tadi,mereka berjalan kedalam lorong,di lorong banyak pintu yang hanya berjarak lima meter  dengan tulisan mungkin sebagai penanda.


Cacat,sempurna,normal,tiga tulisan itu tertenpel dipintu berbeda-beda,Masing-masing tulisan tertempel pada dua pintu yang saling berhadapan.


Ceklek


Si pengemudi yang wajahnya lumayan paling bagus diantara teman-temannya membuka pintu yang tertempel tulisan sempurna,setelah pintu terbuka mereka yang memegang tangan kedua gadis itu,secara bergantian mendorong masuk tubuh Yura dan Ansya dengan kasar sampai keduanya tersungkur.


"Santai dong!"pekik Yura tidak terima,para penculik itu langsung menutup pintu dengan kasar lalu menguncinya,terdengar helaan nafas dari ketiga penculik yang masih berdiri didepan pintu tadi.


Ketiganya tiba-tiba saling pandang lalu kembali menghela nafas,"Mereka jenis ajaib"ujar salah satu dari tiga itu disetujui kedua temannya.


"Benar,baru pertama kali harga diriku sebagai penculik tercoreng "


"Baru pertama juga kita diberi arahan cara menculik yang benar oleh korban kita"


"Kau lupa mereka juga menceritakan karma nyata"ketiganya mendengus saat teringat semua itu.


"Kalian kenapa?"tanya salah seorang pria yang baru menghampiri ketiganya.


Ketiganya secara bersamaan menghela nafas salah satu dari mereka berbicara mewakili,"Kami baru menangkap korban ajaib tiada bandingannya,,,dua lagi"


"Wah hebat sekali,,,bos pasti senang"ujar orang yang baru bergabung itu"bos akan datang hari ini ayo bersiap! "


Keempatnya berjalan pergi dari sana.


Keadaan dibalik pintu terasa berisik dengan isak tangis perempuan,saat mereka didalam,ternyata bukan hanya mereka berdua yang menjadi korban penculikan,sekitar sepuluh perempuan yang sedang terisak disana dengan penampilan yang masih fresh,sepertinya mereka baru.


"Hei kenapa kalian menangis?"tanya Yura polos sebari menatap mereka.


Ansya mendengus menyadari otak Yura memang selalu setengah,gadis itu memukul pelan belakang kepala Yura"bodoh"


"Apa?"kesal Yura karna kepalanya menjadi korban tangan Ansya.


"Kalian sudah berapa lama disini?"tanya Ansya sebari mendudukan diri didepan salah satu korban sepertinya.


"Sekitar tiga hari"jawab serak perempuan itu.


Yura memindai satu persatu dari perempuan disana terlihat dari baju yang mereka pakai,para perempuan ini pastilah anak orang berada.


"Mereka hebat juga bisa menculik anak orang kaya"guman Yura didengar gadis didepan Ansya karna memang Yura duduk disamping saudarinya.


"Itu benar,kami yang ada disini rata-rata anak orang yang memiliki jabatan,seperti jabatan negara atau di sebuah perusahaan"jelas perempuan yang entah siapa itu,"tapi semua itu tidak berguna kami akan berakhir disini"sambungnya lirih.


"Siapa namamu?"tanya Ansya.


" Saya kitty"Ansya mengangguk.


"Sampai kapan kita akan disini?"masih Ansya yang bertanya.


"Kami tidak tau,dari apa yang kami dengar hari ini,hari terakhir kami,kemungkinan kita akan segera dijual nona"ujar kitty menjelaskan dengan buliran air mata.


"Sampai kapan kita bergosip?"pertanyaan itu lolos dari Yura yang sejak tadi memindai sekitar padahal tidak ada yang istimewa selain ruangan remang cahaya dengan seluruhnya hanya tembok dan diisi para perempuan.

__ADS_1


Ansya mengaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal," Kau benar,,,tidak usah menangis kita akan segera keluar dari sini!"


"Iya keluar namun dengan raga yang tidak utuh"lirih salah satu dari sepuluh perempuan disana disetujui teman-temannya.


"Jika kau mau ya silahkan,aku mah tidak,aku masih ingin membangun masa depan cerah yang sedang menantiku didepan sana"ujar Yura.


"Kenapa kalian berdua terlihat tenang,kalian tidak takut mati?"tanya kitty heran karna kedua gadis yang baru masuk menjadi korban sepertinya terlihat tenang-tenang saja.


"Takut,tentu saja takut,kami terlalu banyak dosa jika mati akan masuk neraka dan kami tidak mau itu,,,bodoh bukan?,setiap harinya berbuat dosa namun tidak mau masuk neraka saat ditegur malah berkata masih ada hari esok untuk berubah,,,,padahal belum tentu hari esok menghampiri kita,,,tidak ada yang tahu bahwa maut sedang bersiap menjemput"jawab Yura disetujui.


"Kita terlalu mengagungkan dunia yang hanya sementara hingga lupa akhirat alam selamanya yang tengah menunggu kedatangan kita dengan amal yang terkumpul"sambung Yura.


"Jika ingin bahagia di akhirat timbangan kebaikanlah yang harus berat,,,,namun kita hanya bisa mengumpulkan dosa dan berharap syurgalah yang akan menampung kita pada akhirnya,,,jangan terlalu merendah masih ada detik ini untuk berubah menjadi lebih baik dari detik sebelumnya"kini Ansya yang berbicara.


Keduanya menghela nafas kasar,perkataan dua gadis ajaib itu menjadi atensi semua yang disana,mereka seolah merenungkan apa yang dikatakan kedua gadis itu sebari menunduk.


"Berhenti menangis,kita akan keluar dari sini"ujar ansya sebari berdiri disusul yura.


"Hari ini hari sial mereka"ujar Yura disetujui Ansya, kedua gadis itu meregangkan otot tangan mereka bersamaan dengan atensi dari orang-orang disana tidak lepas dari keduanya.


"Kalian akan melakukan apa?"tanya kitty melihat tingkah ajaib kedua gadis itu yang lebih muda darinya.


"Mencari jalan keluar"jawab Yura acuh.


"Libatkan aku,,aku juga ingin keluar dari sini"ujar kitty penuh harap.


Kedua gadis ajaib itu saling pandang lalu menyeringai tanpa bersuara hanya mengangguk secara bersamaan.


"Kami juga-kami juga"seruan terdengar dari para perempuan lain.


"Kami juga ingin keluar dari sini,kami mohon ajak kami"


Kedua gadis ajaib itu lagi-lagi saling pandang dan menganggukan kepala sebagai jawaban 'iya' untuk mereka.


"Bagaiamana cara keluar dari sini,tidak ada jendela atau apapun yang bisa dipanjat"seru salah satu dari para perempuan namun bukan kitty,"jika keluar dari pintu tidak akan bisa,pintu dikunci bahkan pasti ada penjaga didepan"ujarnya tidak percaya bisa keluar dari tempat itu.


Kedua gadis ajaib itu memutar matanya malas,baru akan memulai saja sudah pesimis dasar!.


"Nona dengarkan ini!"tekan Yura kesal dengan sikap pesimis perempuan itu,terlihat dari wajahnya gadis itu terlihat arogan,"kami bukan monkey yang akan memanjat,apa yang kau katakan tadi,,,tidak akan bisa keluar melalui pintu  kita lihat saja apa benar begitu"


"Lalu bagaimana!,ini bukan dunia sihir yang bisa menghilang menggunakan mantra"


"Bodoh!,makanya otakmu itu gunakan,hidupmu selama ini ngapain saja,kaya tidak bisa menjamin orang itu dihargai setulus hati!"cibir Yura.


"Toh mereka tetap menghargai, bahkan tulus atau tidak itu tidak penting,yang penting uang itu pemegang kehidupan "kekeh perempuan itu.


"Hidup itu seperti bola yang mengelinding,terus bergerak tampa tahu akan berhenti dititik mana" kesal Yura ingin sekali merobek mulut perempuan yang sedang mengajaknya debat.


"Kenapa kalian malah bertengkar?,,, kau sebaiknya diam"ujar kitty sebari menunjuk perempuan yang mengajak Yura adu mulut,tentu saja gadis itu tidak terima dan siap menyanggah namun harus terhenti karna kitty kembali bersuara,"Jika kau tidak mau membantu sebaiknya diam jangan merusak kepercayaan diri kami,,,kami masih ingin hidup walaupun akhirnya gagal,setidaknya kami tidak akan menyesal jika mati nanti karna kami sudah berjuang"


Mereka berkerumun untuk mendengar rencana pelarian mereka dari Ansya,dengan kepesimisan perempuan yang menjadi bahan keributan tadi wanita itu ikut bergabung,tidak mau mati sendirian!.


Semua perempuan itu mengangguk mengerti dengan rencana yang Ansya rancang,kedua gadis ajaib itu menyeringgai.


"to game over"guman keduanya dalam hati.


Respon mereka yang tadi bersemangat untuk mengikuti rencana Ansya untuk kabur dari tempat itu,termenung pesimis.

__ADS_1


"Jika rencananya seperti itu kita tidak akan berhasil"ujar si perempuan yang memang sejak awal sudah pesimis.


" Setidaknya kita berusaha! "pekik Yura kesal dengan tingkah perempuan itu yang sejak tadi mengajak mereka pesimis.


__ADS_2