
Gadis yang sengaja bangun siang itu sekarang sedang berada di paviliun dekat kolam renang dimansion.
Bukan hanya dirinya namun dengan kedua orang yang berbeda jenis kelamin juga sedang duduk dengannya ditemani beberapa camilan.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain bersantai.
Sedangkan Afra dan Azkara mereka sudah pergi ke kantor setelah beberapa urusan dimansion selesai.
"Kita menjadi penganguran sekarang"ujar Yura sebari memasukan potongan kue kedalam mulutnya.
"Itu maumu bukan?"tanya Xia menatap gadis itu malas.
Dulu gadis itu selalu mengeluh jika dihadapkan dengan pekerjaan,ia selalu bilang dia ingin bersenang-senang layaknya wanita biasa.
Jalan-jalan,berbelanja,layaknya wanita biasa,entahlah Xia tidak mengerti dengan penuturan wanita biasa yang gadis itu katakan.
Hidup gadis itu bak ratu yang hanya tinggal menunjuk jika menginginkan sesuatu sejak kecil,dan seperti seorang ratu juga bukan penganguran walau terkadang berdiam diri diistana.
"Kau benar,aku menyesalinya sekarang,jika menjadi wanita biasa se membosankan ini,aku lebih baik menjadi wanita hebat biasanya saja"jawab gadis itu dengan tatapan kesal.
"Aku sudah tidak tahan dengan misi membosankan ini,sebaiknya kita pulang"rengeknya dengan menunjukan pupyl eye.
"Tiba-tiba aku merindukan mulut berisik ibu dan kakak ipar"sambungnya dengan suara lirih.
Gama melihatnya hanya menggelengkan kepalanya,jika sedang dekat dengan seorang wanita yang gadis itu panggil ibu,mereka pasti bercekcok dengan akhir tragis,tragis bagi Yura,jika ia tidak kabur dari rumah maka nyawanya sebagai taruhan.
Pria itu saksi bisu perjalanan gadis yang sedang merengek itu.
Xia hanya menatap malas gadis yang kini menatapnya penuh harap.
"Nikmati saja"ujarnya.
" Aku bosan Xia,hah,mereka yang menjadi wanita biasa apa tidak bosan menjalani hidup ini,aku saja bosan,aku sudah mati gaya,padahal baru beberapa hari"ujar Yura frustasi.
"Aku butuh hiburan,kita kerjain pria itu saja yu!"ajak Yura berbinar.
"Belum saatnya,biarkan mereka merasa menang agar merasakan apa itu kekalahan"jawab Xia seadanya.
"Menang apanya,aku yakin mereka sedang mencari seseorang yang mereka anggap sebagai penghianat"guman Yura malas.
"Kau menyebalkan,kak Gama ajak aku Jalan-jalan "pintanya sebari beranjak turun dari tempat yang ia duduki.
"Baik nona"jawabnya.
Xia mengikuti pergerakan mereka dibelakang,merasa diikuti Yura memutar badannya untuk berhadapan dengan gadis itu.
"Mau kemana hah?!" pekiknya membuat beberapa pengawal yang berlalu-lalang menatap kearahnya.
"Jalan"jawab Xia sebari mendahului langkah Yura.
"Hei kau bilang untuk menikmati saja,jadi tidak usah ikut,nikmati saja hidup yang membosankan ini!"pekik Yura dari tempatnya padahal Xia sudah hilang dari pandangannya.
Pada akhirnya mereka pergi dengan perdebatan tidak terelakan sejak tadi.
Mereka pergi tentu saja seperti biasa dikawal,namun mereka yang mengawal bukan orang biasanya.
__ADS_1
Mereka terlihat lebih menyeramkan jika orang awam yang menatap para pengawal itu,mereka baru datang dua hari lalu.
Afra mengatakan mereka yang akan menjadi pengawal untuk kedua gadis itu mulai sekarang,pria itu tidak mau kejadian penusukan terjadi lagi.
Mereka berenam pria berbadan tinggi,berotot dan lumayan tampan jika diperhatikan, mereka terlihat lebih sangar dan kekar.
Mereka pergi menggunakan mobil BMW berwarna hitam,dengan Gama yang menjadi supir dan kedua gadis itu duduk di kursi penumpang.
Sedangkan keenam pria itu mengikuti dari belakang menggunakan satu mobil dan dua motor.
Kedua wanita itu juga tidak risih mereka sudah biasa dengan semua itu,bahkan bukan hanya enam mereka kini dikawal dua puluh enam bersama mereka,tanpa disadari siapapun.
Mereka sampai di persimpangan jalan,seorang gadis tengah berdiri disana dengan penampilan memakai seragam sekolah.
Gadis itu memiringkan kepalanya melihat mobil yang berhenti di depannya dengan halis terangkat.
Senyuman terbit dari bibir gadis itu lalu berjalan kearah mobil.
Jendela kaca mobil terbuka menampilkan dua gadis cantik yang tengah menatapnya,dari atas sampai bawah seolah menilai penampilan gadis di persimpangan itu.
"Kau bolos?"tanya Yura,gadis yang ditanya menggeleng lalu menganggukan kepala dengan kikuk, seolah benar-benar tertangkap basah sedang bolos oleh ibunya.
"Masuklah"sambung Yura membuat gadis itu mengangguk,lalu membuka pintu untuk akses dia masuk kedalam mobil.
Namun pergerakan itu dihentikan Yura, "Kau mau apa?,duduk disini?,aku tidak ingin berdesakan,duduk didepan!"
Gadis itu mengkerucutkan bibirnya namun masih menurut,dia duduk didepan disamping Gama.
Saat melihat siapa yang menyetir mata gadis itu berbinar bahkan kerucut dibibirnya berubah menjadi lengkungan mengarah keatas.
"Jangan kecentilan atau kami turunkan!"Yura memperingatkan iya tahu apa yang akan gadis didepan itu lakukan.
"Sedang apa disini?"bukan Yura yang bertanya melainkan Xia,atensi kedua gadis disana menatap Xia.
Sedangkan Gama kembali menjalankan mobil diikuti para pengawal di belakang,rombongan mereka menjadi tontonan penggunaan jalan.
Mobil mewah melintasi jalan bukanlah hal yang aneh,hanya saja mereka terlalu mencolok menunjukan kekuasaan dengan pengawalan di belakang mereka.
Anggap saja sedang melakukan ajang menyombongkan diri jika Xia katakan.
"Mmm"Bala,gadis itu adalah Bala gadis tujuh belas tahun yang mengaku sebagai adik mereka beberapa hari lalu.
"Boloskan?"tanya Yura membuat gadis itu mengangguk.
"Kenapa?"sambungnya.
"Mmm,aku bukannya malas belajar,hanya saja bagaimana ya menjelaskannya"ujar Bala bingung membuat isi mobil menatapnya sekilas.
"Ceritakan saja"titah Xia.
Gadis itu mengangguk, "Jadi begini,kemarin aku ribut dengan gerombolan siswi disekolah,kejadian itu diketahui kepala sekolah akhirnya kami diberi surat panggilan orang tua,karna aku anak yatim piatu jadi aku tidak bisa membawa mereka,kan tidak mungkin aku membawa arwah mereka kesekolah"ujarnya menjelaskan sebari tertawa renyah,membuat Yura dan Xia hanya saling pandang.
"Itu alasan kenapa kau bolos?"tanya Yura gadis itu lagi-lagi mengangguk.
"Yap"
__ADS_1
"Siapa yang salah?"tanya Xia membuat bala menatap kearah gadis cantik tersebut.
"Maksud Xia,siapa yang mencari masalah duluan atas kejadian kemarin"ujar Yura menjelaskan,bisa ia lihat gadis didepannya itu tidak mengerti dengan pertanyaan Xia.
"Mereka!,tiba-tiba menyuruhku mengambilkan makanan dan minuman untuk mereka,tentu saja aku tidak mau,mereka terus mendesak agar aku melakukan apa yang mereka inginkan,yasudah aku menurutinya"jawab gadis itu terdengar sedang mengadu terhadap keluarganya.
"Dimana salahnya?"tanya Yura heran,jika gadis itu menurut apa alasan mereka bertengkar sampai harus memanggil orang tua.
"Aku mengambil mie ayam yang aku makan lalu menuangkannya kerambut salah satu dari mereka"jawaban gadis itu membuat Yura menatapnya aneh.
"Sekalian dengan air minumnya,kan mereka yang minta,jadi bukan salah ku"sambung gadis itu tanpa merasa bersalah namun gadis itu merasa takut untuk menatap kedua gadis yang ia anggap sebagai kakak itu.
Dia takut kedua gadis di belakang tidak menyukai tindakannya dan semakin membuat mereka tidak menyukai dirinya.
Namun pemikirannya salah,tentu saja dia belum tau siapa gadis dibelakang nya itu sebenarnya.
"Lalu dimana letak kesalahannya coba?"Yura lagi-lagi bertanya.
"Ya disitu kak"jawab Bala jadi kikuk," Mereka melapor ke kepala sekolah,dan akhirnya hari ini harus membawa orang tua kesekolah"
"Tapi tindakanmu itu benar,gadis bodoh"ujar Yura membuat Bala berani menatapnya dengan heran.
"Apa yang kau lakukan itu benar,kenapa kau tidak datang kesekolah saja si?"sambung Yura sedikit kesal dengan tindakan gadi itu.
Percakapan itu masih antara Yura dan Bala sedangkan Gama dan Xia hanya menyimak.
"Mag-magsud kakak?"tanya Bala gugup,ternyata pemikirannya salah,ia pikir ia akan dimarahi kedua gadis itu dan diturunkan disana juga.
"Kesekolah"ujar Xia membuka suara setelah menyimak.
"Tapi kak"cegah Bala,ia malas menghadapi siswi-siswi yang mencari masalah denganya kemari.
"Kau merasa bersalah?"tanya Xia terdengar lembut membuat bala tertegun.
Aneh sekali gadis dingin itu kini bicara lembut padanya.
Gadis itu menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak.
"Bagus "satu kata yang keluar dari mulut Xia membuat Bala terkesima.
Yura menatap Xia dengan berbinar,gadis disampingnya itu memang hebat membaca keinginannya.
"Kau tenang saja semua akan selesai,sebagai bayaran kau harus mencari tempat healing di kota ini untuk kami" ujar Yura.
Gadis itu mengangguk,lalu hanya keheningan yang terjadi di antara mereka,sampai mobil berhenti di sebuah gedung.
Bala menatap takut kedua gadis dibelakangnya "Aku" ucapannya terhenti karna Xia lebih dulu turun.
"Tidak usah khawatir!,semua akan baik-baik saja,kau hanya perlu menonton dan menyiapkan bayarannya"ujar Yura sebari tersenyum menatap gadis di depannya ini,lalu ia turun menyusul Xia.
Setelah mobil terparkir diarea sekolah,mereka menjadi sorotan warga sekolah dengan tatapan kagum,mungkin karna mobil BMW yang tiba-tiba terparkir diare sekolah elit itu.
Padahal jika dilihat dari kondisi gedung penghuni sekolah ini pastilah orang berada,sudah dipastikan bukan hal aneh kan jika melihat mobil bermerek.
Mereka berjalan bersama setelah turun dari mobil.
__ADS_1
Dengan barisan tiga wanita cantik didepan,dengan tujuh pria dibelakang mengikuti pergerakan mereka seperti anak ayam.
Merek terus menjadi sorotan bahkan menjadi bahan pembicaraan.