
Sudah seminggu sejak kejadian keracunan dan juga penyerangan waktu itu yang membuat mereka hampir kehilangan gadis-gadis kesayangan mereka.
Kejadian peperangan ini sangat dirahasiakan bahkan keluarga besar Amlias tidak mengetahuinya kecuali tuan Alaran Amlias itu sendiri.
Kondisi Xia sudah seperti semula setelah koma seharian lebih,mengingat itu membuat Wiz senang namun juga khawatir,,biasanya Xia akan koma dua hari waktu paling sedikit namun kali ini mengalami peningkatan dan bisa saja membahayakan tubuh Xia.
Untuk Yura sendiri tubuh gadis itu juga sudah semakin membaik,,Yura bisa menggerakan seluruh tubuhnya secara normal empat hari setelah keracunan.
"Apa kabarmu hmm?" tanyanya Afra sebari mengelus pucuk rambut Xia yang tengah duduk di gazebo belakang mansion sendirian.
Xia mengedikan bahunya membuat Afra mengerutkan kening,"Kenapa apa ada yang sakit?"
"Sudah lebih baik" jawab Xia dingin.
Afra duduk disamping Xia sebarin menatap gadisnya lembut,"Jika ada sesuatu kamu bisa membaginya denganku hmm "
"Bagaimana penyerangan kemarin?" tanya Xia.
"Masih diselidiki,,apa aku boleh bertanya?" tanyanya hati-hati dengan menatap penuh cinta pada gadisnya.
Xia menganggu tanpa mengalihkan pandangan luruhnya.
"Siapa pria itu?,,,pria yang menyamar menjadi pria tua waktu itu"
"Kau sudah tau indentitas orang itu?" ujar Xia bukannya menjawab malah bertanya.
Afra mengangguk lirih tanpa mengalihkan tatapannya,"Begitulah dia tuan muda dari keluarga Grogio,,,bagaimana bisa kamu kenal dengan mereka bahkan memanggilmu sepupu?"
Xia tersenyum tipis,"Hanya orang asing bagiku"jawabnya lirih.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Afra tidak mendengar jawaban lirih Xia.
Xia menggelengkan kepalanya,"Tidak"
"Maaf masalahmu bertambah gara-gara kedatangan ku" ujar Xia dengan wajah datar kini menatap Afra.
Afra tersentak mendengar permintaan maaf gadisnya,"Tidak,,kau tidak perlu meminta maaf"
"Aku perlu melakukannya,,maaf sudah membuatmu dalam masalah besar,,,aku akan bertanggung jawab untuk itu" sesal Xia dengan wajah datarnya.
"Tidak perlu meminta maaf aku bilang,,,aku senang dengan kedatangan mu,bahkan aku akan hancur jika kau pergi,,,bisa kah kamu berjanji satu hal untukku?" tanyanya penuh permohonan.
Xia terdiam,"Baiklah katakan sebagai permintaan maafku,jika yang kau inginkan masih dalam lingkup kesopanan"
"Tetap berada disisiku,,,entah kau suka atau tidak aku tidak peduli,, mungkin terdengar egois tapi hanya satu permintaanku,,aku mohon tetap di sisi ku untuk selamanya" ujar Afra dengan tatapan sendu.
"Aku mencintaimu aku ingin kau selalu bersama ku selamanya,,aku tidak butuh balasan cintamu,,aku tidak peduli kau mencintaiku atau bahkan membenci ku yang aku inginkan hanya kamu,,,kamu berada disisiku selamanya"
"Aku tau selama ini kamu hanya memanfaatkan ku untuk kepentingannu,,,maka terus manfaatkan aku untuk selamanya agar kamu tetap disisiku"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Xia tersenyum tipis,sekeras apapun hatinya ia tetap remaja biasa hanya saja hatinya dipenuhi tekad dan dendam,"Baguslah jika kau tau aku hanya memanfaatkan mu,,mulai sekarang aku tidak akan segan melakukannya"
Afra mengangguk antusias bukannya marah, "Lakukan sesuka mu asal kau tetap berada di samping ku untuk selamanya"
"Akan aku pikirkan" jawab Xia dengan tersenyum manis.
Senyuman manis yang Afra inginkan selama ini akhirnya dia bisa melihat langsung,,untuk dirinya karna dirinya Afra memeluk Xia dari samping.
Xia membalas pelukan itu membuat afra tersentak,selama ini pelukan yang ia berikan selalu sebelah pihak,dan sekarang tidak apa Xia sudah membuka hatinya untuk ku?"pikir Afra.
Xia melihat pundak pria yang memeluknya bergetar hebat,Xia mengusap punggung Afra,"Kenapa kau menangis?"tanyanya dingin.
"Aku tidak menangis"elak Afra.
Padahal jelas dari berubahan suara saja pria itu sedang menangis tadi.
Entah disadari atau tidak disudut ruangan ada yang sedang menatap mereka dengan tatapan sendu.
Wiz pergi dari sana dengan helaan nafas kasar,Rayma menatap kepergian pria tua itu,"Apa dia cemburu,,,jangan katakan pria tua itu mengalami masa pubernya"
Perkataan dari mulut Rayma membuat Yura disamping pria itu langsung memukul kepala pria yang lebih tua darinya itu dengan kesal,"Jaga mulutmu si*lan"
Rayma langsung membekap mulutnya dengan mulut,ia lupa yang ia gosip kan adalah salah satu jajaran ketua mafia yang harus diwaspadai.
Ketiga generasi itu menyaksikan semua dari awal pembicaraan Xia dan afra walau mereka tidak mendengarkan dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Kembali pada dua pasangan yang masih berpelukan itu.
"Sejak kapan kau sembuh?" tanya Xia
Afra mengeratkan pelukannya seolah jika dilepaskan maka gadisnya akan segera menghilang dari hadapannya dan ia tidak mau itu terjadi,"Sudah cukup lama"jawabnya jujur.
"Kenapa tidak mengatakannya?"
"Aku sengaja merahasiakannya untuk mengelabui musuh sekaligus,,," pria itu menjeda ucapannya dengan ragu,"Mencari perhatianmu"
"Aku juga takut kamu pergi setelah tau aku sembuh"sambungnya membuat Xia menghela nafas.
"Pertemuan akan ada perpisahaan ingat itu"
"Aku tau tapi aku dan kamu akan selalu bersama,,dimanapun kamu berada akan ada aku di sana,entah diakhirat sekalipun" ujar Afra penuh obsesi
"Gila" umpat Xia membuat Afra terkekeh.
"Aku gila karena mu"ujarnya terkekeh sebari mengecup pundak Xia.
Pria penuh obsesi itu belum sangat menjaga gadis nya ini pertama kali ia mencium gadisnya walau hanya dibahu,selama ini ia hanya berani untuk memeluk dan berpengan tangan saja selebihnya ia takut membuat gadisnya pergi.
Afra akan melakukan apapun agar gadisnya selalu nyaman didekatnya dan tidak akan pernah berpikir untuk pergi.
"Aku datang padamu karena memiliki tujuan" ujar Xia setelah beberapa menit saling diam dengan masih berpelukan.
"Aku tahu" jawab Afra acuh sebari memejamkan mata dibalik punggung gadisnya.
"Kau tau apa tujuanku itu?"
"Memangnya penting aku tau atau tidak?,,menurutku tidak,yang penting kau bebas memanfaatkan aku" jawab Afra.
"Bod*h" umpat Xia lagi-lagi membuat Afra terkekeh.
"Mulut mu terus mengumpat itu tidak baik,,mulut manis harus berkata manis atau umpatan mu itu akan merasa insecure diucapkan olehmu" ujar pria itu membuat Xia memukul pelan pundak pria yang memeluknya.
"Pria pembual!"rutuk Xia.
"Aku tidak membual,,aku berkata jujur,bibirmu itu manis"
"Memangnya kau pernah merasakan bibirku?" tanya Xia dengan kening mengerut.
"Tidak"
"Lalu bagaimana bisa kau mengatakan bibirku manis,,
Dasar pria pembual!" cibir Xia.
Mendengar cibiran itu membuat otak licik afra bereaksi cepat,pria itu melepas pelukan mereka.
Afra menatap Xia yang sedang mengerutkan dahinya dengan lucu.
Cup
Mata Xia membola saat merasakan benda kenyal menempel pada bibirnya,hanya menempel.
"Manis" ujar Afra terkekeh dan puas bisa merasakan bibir gadisnya walau hanya sekedar kecupan singkat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Xia dengan tatapan cengo.
__ADS_1
Xia memang gadis keras tapi otaknya masih polos jika urusan dewasa yang dipraktikkan sendiri seperti tadi walau hanya kecupan.
"Membuktikan bualanku" jawabnya santai bahkan sebari tersenyum.
Bugh
Xia memukul keras perut pemuda yang sudah mengambil kecupan pertamanya dibibir,"Lancang sekali kau!"
Afra gelagapan melihat kemarahan xia,pria itu melupakan pukulan yang mendarat di perutnya dari pukulan gadisnya,"Aku,,aku minta maaf,,aku hanya membuktikan bualanku saja seperti yang kamu inginkan,,aku tidak sengaja,,aku mohon maafkan aku ya,,aku janji tidak akan melakukannya lagi,,aku akan melakukan apapun yang kamu mau jika memaafkan aku"mohon Afra.
"Kau menyogok ku?" tanya Xia dingin.
"Tidak,,tidak bukan begitu magsudku, aku akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan ku" ujar Afra menjelaskan.
"Benarkah?"tanya Xia memastikan.
"Iya tentu saja akan aku berikan apapun yang kamu mau" jawab cepat Afra.
"Begitupun dengan nyawamu?" tanya Xia dengan tatapan selidik.
Pria itu mengangguk pasti,"Jika kau ingin aku akan memberikannya untukmu"
Xia tidak habis pikir dengan pria dewasa didepannya ini malah terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek,"Buktikan!"
"Apa?" cengo Afra,"Aku harus membuktikannya sekarang?"tanya afra memastikan.
Xia mengangguk dengan pasti.
Afra menghela nafas pasrah,pria itu mengambil pistol dibalik bajunya dan menaruhnya ditelapak tangan xia,"Kau bisa melakukannya"ujarnya menatap Xia dengan sendu.
"Bodoh!" rutuk Xia
"Jika kau mengumpat didetik terakhirku maka jangan salahkan aku jika kembali menciummu" ujar Afra membuat Xia replek menutup bibirnya dengan tangan.
Afra terkekeh melihat gadisnya yang tidak mau ia cium tapi menginginkan nyawanya sebagai bayaran ciuman pertama tadi,,bukan cium*n tapi kecup*n.
Xia mencebikan bibirnya,sebari menaruh pistol ditangannya disampingnya,"Aku hanya becanda"
Afra bernapas lega,"Terima kasih sayang aku yakin kau tidak akan tega membunuh kekasih tampan mu ini"ujarnya narsis.
"Aku bisa membunuhmu jika ingin!,,,hei mengapa kau memanggiku begitu dan memanggil kekasih enak saja,,kita tidak memiliki hubungan ingat itu!"cibir Xia.
"Siapa yang mengatakan kita tidak memiliki hubungan?"
"Aku" jawab Xia cepat.
"Artinya kamu salah kamu tunangan ku selama ini ingat itu dan kecupan tadi adalah buktinya!" ujar Afra dengan senyuman manis tak ingin dibantah.
"Tunangan itu hanya bualan mu semata,ingat kau menipuku!,masalah kecupan tadi juga begitu,kau menipuku!" desis Xia tidak terima.
"Itu artinya aku cerdik sayang" ujar afra masih dengan senyum yang terlihat menyebalkan dimata Xia.
"Magsud mu aku bodoh begitu?" tanya Xia dengan tatapan tajam.
"Tentu saja tidak kamu sangat pintar,,tapi aku cerdik,,,cerdik dan pintar itu dua hal yang berbeda sayang" ujar Afra dengan narsis.
"Penipu! " rutuk Xia membuat Afra terbahak melihat raut wajah gadisnya yang cemberut.
Baru kali ini ia melihat raut wajah selain datar dan tatapan tajam dari Xia, afra merasa semua ini kemajuan yang bagus untuk hubungan mereka,, terserah dirinya intinya Xia calon ibu dari anak-anaknya entah gadis itu suka atau tidak.
"Jangan becanda lagi!,aku ingin mengatakan sesuatu hal yang serius" ujar Xia dengan tatapan serius.
"Baiklah,terserah kamu pernikahan akan diadakan asalkan secepatnya" ujar Afra membuat kerutan di kening Xia.
"Kau ini bicara apa?,diam!,dengarkan saja apa yang aku katakan!,kau terus becanda" cibir Xia jengah.
Afra terkekeh melihat wajah kesal menggemaskan gadisnya.
"Baiklah-baiklah"
"Jika tidak aku sudah menendang bokongmu karna sudah berani menipuku!" ancam Xia dengan tajam.
"Hhhhh" Afra tertawa mendengar ancaman gadisnya bukannya merasa takut afra malah menantikan hal itu.
"Mempertemukan saudara yang terpisah,siapa magsudmu?" tanya Afra mengorek informasi.
"Kau sendiri sudah tau untuk apa bertanya" jawab Xia ketus sebari berlalu dan dikejar Afra.
.
.
.
Seorang pria paruh baya berdiri di jendela kamar sebari memandangi pemandangan diluar yang cukup indah,,dibelakang sana ada pengunungan yang terlihat jelas dari balik kaca.
"Kakek sedang apa?" tanya remaja yang baru saja masuk dalam kamar pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu menatap sang cucu dengan tatapan rumit lalu menghela nafas,"Kemarilah!"
Remaja itu melangkah mendekat,"Apa ada yang mengganggu kakek?,,,kakek jangan terlalu banyak pikiran demi kesehatan kakek"
Pria paruh baya itu tersenyum dan mengusap pucuk rambut sang cucu,"Kamu harus segera menyelesaikan urusanmu disini,,,kita harus segera pergi"
Remaja itu mengangguk,"Aku mengerti kek,,akan aku selesaikan dalam waktu dua bulan "
"Apa tidak bisa lebih cepat?"
"Jika saja dia tidak membuat masalah maka aku bisa menyelesaikannya besok kek,,,,dia berulah dan membuat semuanya menjadi semakin rumit" jawab remaja itu.
"Sudah waktunya dia mati!" ujar pria paruh baya itu dengan tatapan kebencian.
"Tidak kek,,kita tidak bisa menyeret mereka dalam masalah keluarga,,,aku akan menyabotase kematiannya nanti,,seolah-olah kecelakaan tapi tidak sekarang,,,,dia sudah menyeret orang lain dalam masalah ini dan gadis kecil itu menjadi korbannya"
"Aku ingin membantunya menyembuhkan mentalnya kek" sambung remaja itu.
Pria baruh baya itu menghela nafas,percuma saja jika ia tidak mengijinkan cucunya itu tetap akan melakukan apa yang dia inginkan,,semua cucunya keras kepala seperti putrinya.
"Dua bulan tidak lebih ingat itu!"
"Baik kek,,aku akan meminta seseorang membawa gadis itu kemari agar mudah aku awasi"jawab sang cucu,"Aku pamit kekamar kek,,kakek harus banyak istirahat"
Pria paruh baya itu mengusap pucuk rambut sang cucu dengan sayang,"kakek bisa menjaga diri Xia,,,kamu yang harus menjaga kesehatan!"ujar.
"Aku bisa menjaga diri kek,,aku pamit" jawab xia lalu pergi dari kamar wiz Asland.
Xia keluar dari kamar Wiz Asland saat berjalan menuju kamarnya gadis sembilan belas tahun itu berpapasan dengan azkara yang baru saja kembali dari tugasnya.
"Selamat siang Xia" sapanya.
"Siang kak"
"Bagaimana kabar mu Xia?"
"Cukup baik,,,bagaimana dengan mu kak?"jawab Xia diakhiri pertanyaan.
"Keadaan ku baik Xia,,mmm bagaimana dengan Yura?" tanyanya lirih terakhir kali ia mendengar kabar kedua gadis ini tengah kritis.
"Kau belum bertemu dengannya?"
Azkara menggelengkan kepala,"Aku baru saja kembali,,,aku hanya baru bertemu denganmu saja di mansion ini"
Xia mengangguk dingin,"Kau bisa memastikan keadaannya saat bertemu langsung dengan orangnya"ujar Xia,"Aku bisa meminta bantuan mu kak?"
"Silahkan Xia, jangan sungkan jika membutuhkan ku katakan saja,,sebisa mungkin aku akan membantu" jawab Azkara pasti.
__ADS_1
"Bawa dia kemari" ujar Xia setelah itu melegang pergi menuju kamarnya.
Cek lek
"Sedang apa disini?" tanya Xia saat melihat Yura berada dikamarnya sebari bersedekap dada.
Yura menatap tajam saudarinya itu beberapa menit hingga Xia jengah,"Kau mau merasakannya?"ancam Xia sebari menunjukan cairan dari botol kaca seukuran jempol.
"Kau emosian sekali sih" dengus Yura sebari mencebikan bibirnya lalu terbahak.
"Ouh ya ampun aku baru saja melihat seseorang yang berciuman di gazebo" bahkan Yura membuat Xia datar dengan tatapan tajam.
Xia memang menyadari keberadaan Yura,Wiz,dan Rayma yang sedang mengintip nya di gazebo tapi ia tidak tau akan ada adegan memalukan seperti ciuman salah magsudnya kecupan itu,si*lan.
Xia tidak menanggapinya gadis itu menutupi perasaan malunya dengan raut datar walau wajahnya tidak bisa bekerja sama sebab ia sudah memerah bak tomat busuk.
"Kau memerah?,,Hhhhh Xia ku sayang sudah dewasa ya sekarang" goda Yura.
"Diam!" ujar Xia dengan tatapan tajam malah membuat tawa yura semakin pecah.
"Kak Azkara menanyakan mu" sambung Xia dengan tatapan mengejek.
"Tidak usah membual,dia tidak ada sejak pekan lalu"ujar Yura dengan pasti.
"Dia kembali karna merindukan mu"
Yura mengerjapkan matanya lucu,"Benarkah?"tanyanya berbinar.
Xia mengangguk pasti.
Yura berdiri dari duduknya dan sedikit berlari tepat didepan pintu perkataan Xia membuatnya mendengus dan kembali duduk diatas ranjang.
"Dia sudah kembali pergi"
"Kau menyebalkan!" dengus Yura kembali duduk dan memeluk bantal dengan sebal.
"Kenapa raut wajah mu itu?,,,kau begitu berharap bisa bertemu kak Azkara kali ini?,,,sepertinya satu minggu tidak bertemu membuatmu menyadari perasaan mu itu"
"Ap apa magsudmu" Yura tergagap menyadari keanehan dalam dirinya,mengapa ia senang saat mendengar Azkara sudah kembali seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya.
"Itu tidak benar" elak gadis itu sebari membuang muka,"Aaku hanya penasaran saja apa yang dia lakukan sepekan ini itu saja"
"Pertanyaan bodoh" cibir Xia membuat yura melotot.
"Benar itu pernyataan bodoh,kenapa aku jadi bodoh beginisih?" rutuk Yura dalam hati pada dirinya sendiri.
"Kenapa jadi membahas hal itu,,,kau kau mengalihkan pembicaraan!" desis Yura menyadari kalo dia sedang dibodoh,"Tadi kita membicarakan tentang mu!"
"Kau ingin merasakan racun imajinasi?" tanya Xia dengan tatapan mengancam,'jangan membahas hal memalukan!'
"Pengancam" cibir Yura mengkerucutkan bibirnya,"Kenapa kau bersikap manis,,,oh ayolah sikapmu itu selalu penuh arti"ujar Yura mengalihkan pembicaraan dari pada merasakan racun imajinasi.
"Membuat kenangan" jawab Xia sebari mengedikan bahunya acuh,"Segera pikirkan keputusan mu,,kau ingin tetap tinggal atau pulang?,waktu mu dua bulan lagi"
"Bukannya waktu kita delapan bulan lagi?" tanya Yura dengan dahi berkerut,"apa ada masalah?,,, kau baik-baik saja kan?"tanya Yura cemas.
"Hmm aku harus segera memulai pengobatan,tubuhku semakin lemah jika terus ditunda bisa membahayakan mungkin" jawab Xia dengan nada acuh.
Yura menatap Xia dengan sendu,"Kita pulang sekarang saja bagaimana?,,,kau harus segera mulai melakukan pengobatan sebelum semakin buruk"
"Dua bulan lagi waktu yang sudah ditentukan,,,,setelah itu kamu bisa memilih untuk disini atau pulang,pikirkan baik-baik sebelum memutuskannya!"
"Aku akan pergi kemanapun kamu pergi" jawab Yura dengan pasti.
Xia menghela napas,"Ada waktunya kita tidak bisa bersama,,,waktuku dua bulan disini dan satu bulan disana setelah itu tidak akan ada yang tau aku dimana"ujar Xia membuat Yura tercengang.
"Apa magsudmu?!" pekik Yura
"Aku akan pergi pengobatan bukan dikota ataupun luar kota lebih tepatnya tidak tau dimana,,,tempat itu tidak bisa diakses oleh orang sembarang letaknya juga tidak ada dipeta" jawab Xia.
"Kau pasti bercanda bukan?,,katakan jika kau bercanda!,,kau pasti akan melakukan pengobatan dirumah sakit milik mu itu bukan?,,katakan Xia!" desak Yura tidak senang.
"Do'akan saja semua berjalan lancar" ujar Xia dengan senyuman tipis,ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan.
Dirinya dan kedua kakaknya lahir dari wanita kuat,,wanita yang dipenuhi berbagai racun bersarang ditubuhnya sejak bayi karna ulah musuh keluarganya dulu,,wanita itu berjuang hingga menjadi pribadi yang hebat juga kuat hingga akhirnya wafat dibunuh keluarga mertuanya,,,keluarga Grogio.
Racun itu menurun pada ketiga anaknya yang paling parah adalah Xia,karna sempat menghilang dari keluarga tubuhnya tidak mendapatkan perawatan yang kondusif dan semakin parah,,,namun Xia masih bertahan karna ia pribadi yang kuat juga hebat seperti ibunya.
Yura berdiri dari duduknya dan melegang pergi"Kau mau kemana?"tanya Xia.
"Bukan urusanmu!" ketusnya dan melegang pergi.
Brug.
Yura membanting pintu kamar lalu menyandarkan dirinya dibalik pintu dengan perasaan berkecamuk,"Semua akan baik-baik saja"monolognya sebari mengusap mata yang berkaca-kaca.
.
.
.
Waktu sudah semakin siang penghuni mansion abana sedang berada di ruang tengah membahas racun verme yang menjadi ancaman mereka kemarin bersama Tuan Wiz Asland sebagai tokoh utama yang mengetahui semuanya.
"Racun yang dia pakai bukan racun verme melainkan racun es sepertinya dia ditipu seseorang,,,racun verme sangat dirahasiakan hanya beberapa orang saja yang mengetahui fakta tentang racun itu sisanya hanya rumor dari mulut ke mulut,,,racun verme sudah dihancurkan setelah uji coba yang hampir menjadi wabah disuatu negara"jelas Wiz Asland dengan serius.
"Dari sini kalian perlu berhati-hati,,pria itu mengetahui beberapa fakta tentang racun verme saja sudah membuktikan bahwa dia memang sudah memiliki rencana yang matang,,,,ada dua hal yang bisa kita ambil dalam masalah ini"
"Pertama dia hanya menguji kalian dengan mengatakan tentang racun verme untuk mengetahui kemampuan kalian,,kedua itu keberuntungan kita karna bisa saja dia ditipu orang yang menjual racun padanya" sambung Wiz Asland sebari menatap permusuhan pada Afra yang duduk disamping Xia.
"Pria itu cukup cerdik,,,dinilai dari penyamarannya menjadi kakek tua saja sudah membuktikan dia sudah mengawasi kita sejak lama,dan saat memberikan racun pada Yura dan Xia tidak ada yang menyadarinya,,,menurut ku bisa saja kemungkinan pertama yang dia lakukan" ujar Rayma yang duduk disamping Anna.
"Aku sudah memperketat keamanan" ujar Afra dingin dengan tangannya yang sedang memainkan rambut Xia.
Wiz mendengus,"diamkan tanganmu!"
"Apa?,,aku tidak menggangumu dengan tanganku ini" ujar Afra dengan datar.
"Aku ingin membunuh bocan bau kencur ini" rutuk Wiz dalam hati saat Afra semakin memainkan rambut Xia dengan sesekali mencium helayan rambut yang ia pegang.
"Kau ingin mati?!" pertanyaan dari Xia dengan nada mengancam.
"Aku bersedia mati ditanganmu sayang" jawab Afra sebari tersenyum dan yang menyaksikan itu mendengus.
"Tolong hentikan tingkah kalian yang menyebalkan ini" ujar Yura jengah bahkan sambil menarik Xia agar lebih dekat dengannya.
"Hei" pekik Afra tidak terima dan ikut menarik sisi lain Xia.
"Hei!" kini Wiz yang berteriak tidak terima saat cucunya ditarik-tarik seperti itu.
"Diamlah kalian!" pekik Xia jengan sebari menghempaskan kedua pegangan yang berada di dua sisi tangannya.
Xia berdiri duduknya dan beralih duduk dikursi singel.
"Kenapa duduk disana?,,ayo duduk bersama kakek,," ujar Wiz membuat mereka mendengus.
"Selamat siang tuan" ujar Azkara yang baru saja kembali dari luar.
"Kau baru kembali?" tanya Yura dengan nada ketus sebari menatap seorang gadis yang datang bersama azkara.
"Tidak,aku kembali tadi pagi dan kembali pergi untuk mengurus sesuatu" jawab Azkara.
Serempak mereka menatap gadis yang tengah menunduk,gadis yang datang bersama Azkara,"Kakak ipar mu ingin bicara denganmu"ujar Afra membuat mereka serempak menatap pria itu.
"Kakak ipar" beo mereka.
__ADS_1