
Xia menatap pria arogan itu dengan tatapan datar ingin rasanya mematahkan tulang lehernya itu agar patah dan tidak menunjukkan raut menyebalkan.
"Berusaha saja kata orang usaha tidak akan menghianati hasil" ujar Xia.
"Kamu benar makanya aku berusaha" pria menghela nafas,"Kapan semua ini terjadi?"tanyanya mengalihkan tatapan pada cetan yang masih tidur dengan sesekali terisak.
Xia mengedikan bahunya,"Entahlah,yang pasti sebelum penyerangan"Xia mengalihkan tatapannya pada afra.
"Kau harus meminta pertanggung jawaban kakek Wiz juga bukan bagaimanapun masalah ini berawal darinya"
"Kamu benar" setuju Afra,"Tentu saja aku akan memanfaatkan situasi ini untuk hal penting"
"Terserah" dengus Xia karna sebagai sesama penjahat mereka tidak akan melepaskan sekecil apapun kesempatan untuk mendapat keuntungan.
"Aku akan membunuh Gerald Grogio apa kamu keberatan?"
"Iya,dia akan menjadi target ku" jawab Xia.
"Tidak bisa!,dia sudah ku targetkan sebelum dirimu menargetkannya,,kamu tinggal menyaksikan hasilnya saja biar aku yang bekerja" ujar Afra.
"Kau tidak bisa menghentikanku"
"Belum,aku akan cari cara agar kamu bisa berhenti disini" ujar Afra penuh makna.
"Eughh" leguhan terdengar dari Cean yang mulai terusik tidurnya kini tatapan menyorot gadis malah itu.
.
.
.
Diwaktu yang sama di tempat yang berbeda disuatu kamar dengan pencahayaan remang-remang seorang pria tengah mendengar laporan anak buahnya.
"Tuan Gerald Grogio sudah melecehkan nona cean dari keluarga amlias di negara ch,pria itu merekam perbuatan bej*tnya itu untuk dijadikan bahan ancaman untuk nona cean agar mau menurut,,nona Cean yang hanya gadis manja tidak bisa berbuat apapun ia hanya bisa menurut demi menjaga nama baik keluarganya hingga tak sadar sudah melakukan penghianat pada tuan muda amlias,,tuan muda grogio berani menyerang karna mendapat informasi dari nona cean tentang nona dan orang-orang disekitar nona"
"Racun yang dia pakai untuk mencelakai nona yura sejenis racun teratai saya sudah menyelidiki siapa pengirimnya" ujar sang asisten sebari memberikan map berisi informasi yang sedang ia katakan.
Vihan Kenzel Kay menatap map di mejanya dengan tatapan kesal,"Mereka terlalu keras kepala"gumannya penuh dendam.
"Berikan mereka sedikit hadian,untuk tuan mudanya biarkan putriku yang mengurusnya!," titah Vihan penuh dendam.
"Baik tuan,saya undur diri.
.
.
.
Waktu sudah berganti menjadi gelap seorang gadis cantik berdiri di balkon kamarnya dengan tatapan menatap pemandangan luar.
Gadis itu menyentuh bagian dada kiri dengan perasaan aneh,rasanya seperti tersengat aliran listrik dengan kekuatan tinggi.
Sebelah tangan gadis itu berpegangan pada pembatas balkon untuk menyeimbangkan tubuhnya yang mulai bergetar," si*l"gumannya.
Gadis itu memejamkan matanya merasakan sengatan dalam tubuhnya semakin keras.
Grep
Xia mendengus ketika tangan seseorang memeluknya dari belakang,"Kurang ajar"umpat Xia lalu menyiku perut orang yang memeluknya.
"Ahkk"ringis Afra sebab sikuan Xia tidak main-main," saya kamu menyakitiku"
"Kau mencari masalah dengan ku" cibir Xia lalu menyerang membabi buta pada pria yang selalu mengaku sebagai tunangannya itu.
Tunangan palsu!.
Bugh
Bugh
__ADS_1
Bugh
Disetiap pukulan tidak berhasil mengenai tubuh Afra membuat Xia semakin kesal dan terus menyerang,yang diserang malah tersenyum lebar sebari menghindar tanpa niatan melawan.
"Lawan aku!,jika tidak aku akan menembak kepalamu!" ancam Xia dengan tatapan membunuh.
"Baiklah,jika jangan menyesal" ujar Afra santai dan mulailah pertarungan sengit diantara sepasang manusia itu.
Jika dibandingkan dengan tenaga maka afra lebih unggul namun karna pria itu baru saja sembuh maka kekuatannya belum seutuhnya pulih bisa Xia manfaatkan untuk mengalahkan pria itu.
Pertarungan terus berlangsung dengan sengit tidak ada yang ingin mengalah dengan sesekali menyerang dan menghindar,"Bagaimana kalo kita bertaruh?"tanya Afra disela pertarungan mereka.
"Apa?"
"Yang kalah harus menuruti keinginan yang menang bagaimana?"
Bugh
Satu pukulan tepat mengenai wajah Afra sampai pria itu mengumpat,"sial wajah tampan ku"
"Tiga pukulan tanda pemenangnya bagaimana?"tawar Xia disetujui keduanya.
"Baiklah artinya satu kosong"jawab Afra sebari menendang arah kaki Xia namun gadis itu berhasil menghindar.
"Tidak perlu anggap saja pemanasan" ujar Xia angkuh.
"Aku suka semua yang ada padamu" ungkap Afra tersenyum lebar
Bugh
Xia terjatuh karna lengah dan mendapatkan lengkasan dari kaki pria didepannya ini.
"Satu kosong" ejek Afra.
Xia kembali berdiri lalu menyerang dengan cara berkelit,karna gerakan berputar yang gadis itu lakukan cukup kencang ikat rambut Xia terlepas dari rambut dan membuatnya tergerai.
Afra memejamkan mata ketika rambut Xia beraroma mawar mengenai wajahnya.
Bugh
"Satu sama" ejek Xia
Afra terkekeh dan menegakan tubuhnya lalu tersenyum miring,pria itu menyerang tanpa memberi jeda bukannya kewalahan Xia malah bersemangat untuk melawan.
Bugh
"Dua satu" ejek Xia saat tangan cantik gadis itu mengenai bibir afra hingga robek dan berdarah.
"Kamu kejam sekali sayang" keluh Afra mengusap sudut bibirnya.
"Sesi terakhir" ujar Xia dengan senyum tipis dan afra melihat itu dengan senyum miring.
Entah kenapa melihat senyum miring pria itu membuat Xia menjadi waspada,pria itu pasti memiliki rencana untuk mengalahkannya.
Xia memilih kembali menyerang dari pada memikirkan arti senyum miring pria yang sedang ia serang.
Bugh
Bugh
Berkali-kali Xia menunju atau menendang angin karna afra berhasil menghindar dan bruk
Xia tersentak ketika dirinya sudah terbaring diranjang karna tidak sengaja terpeleset,saat ingin bangkit sesuatu yang besar menimpanya.
"Minggir!"
Afra terkekeh melihat wajah marah gadis dibawah kukungannya,Afra berada diatas Xia dengan kedua tangan pria itu menjadi penyanggah agar tubuhnya tidak benar-benar menimpa tubuh kecil gadisnya.
"Tidak mau" jawab Afra dengan nada mengejek.
Xia hendak melakukan penyerangan menggunakan tangannya namun sial pria itu mengetahui pergerakannya dan mencengkram kedua tangan Xia hingga disatukan diatas kepala.
__ADS_1
Xia tidak menyerah ia ingin menyerang menggunakan kakinya namun lagi-lagi tidak bisa karna kakinya sudah diapit pria itu.
Si*lan
"Lepas bodoh" umpat Xia
Mendengar umpatan Xia pria itu mengerucutkan bibirnya kesal,"Jangan berkata kasar sayang"
"Kau pria berengs*k menyingkir dari tubuhku bedeb*h"
"Ck mulut manismu terus mengumpat harus diberi hukuman" ujar Afra.
"Kau hm" Xia terdiam dengan mata terbelalak ketika merasakan benda kenyal menempel dibibirnya,bahkan deru nafas sang pelaku sangat terasa di wajahnya.
Melihat Xia terdiam membuat Afra yang tadinya hanya ingin memberi hukuman kecil ikut terdiam menikmati bibir manis itu walau hanya saling menempel saja.
Kesadaran afra kembali pria itu dengan tidak tau dirinya ******* bibir manis yang menjadi candu setelah ia merasakannya bahkan lidahnya menerobos masuk,afra terdiam sebentar untuk menatap wajah Xia yang ternyata belum tersadar dengan apa yang terjadi.
Tentu saja pria itu memanfaatkan hal itu hingga afra menggigit bibir Xia agar memberinya akses agar menerobos masuk,"argh"
Xia tersadar ketika merasakan gigitan kecil dibibirnya matanya melotot penuh ancaman,melihat sorot mata mengancam tidak menghentikan tindakan tidak tau diri pria itu malah melanjutkan aksinya.
"Arggg" ringis Afra ketikan Xia menggigit bibir pria itu agar melepaskannya dan itu berhasil,tangannya juga ikut terlepas dari genggaman pria itu.
"Bedeb*h"umpat Xia dengan napas terengah-engah.
"Kamu kejam sekali si" ujar Afra sebari mencebikan bibirnya namun tangannya mengusap bibir Xia.
Xia menepis tangan pria itu,"Aku akan membunuh mu"ancam Xia sebari mendorong pria itu agar menjauh dari tubuhnya dan berhasil.
"Maaf aku tidak bisa menahan diri,itu hukuman karna kamu berkata kasar pada calon suamimu ini" ungkap Afra tak merasa bersalah dan itu membuat Xia geram.
"Si*lan" umpat Xia membuat Afra menatap kesal gadisnya itu.
"Katakan sekali lagi maka aku akan menciummu lagi hingga kehabisan nafas" ancam pria itu dengan senyum miring.
Xia yang tidak punya rasa takut dibuat terdiam sebari menutup bibirnya dengan kedua tangan,dia tidak ingin hal tak senonoh itu kembali terjadi,Afra terkekeh melihat tingkah menggemaskan gadisnya itu,pria itu memeluk Xia dari samping.
"Hei lepas be" Xia menjeda ucapannya ketika akan mengumpat.
"Jangan mengumpat jika tidak ingin kehabisan nafas sayang"
"Pergi sana kau!" ujar Xia mengusir pria itu sebari mendorongnya walau kali ini gagal bahkan Afra tidak bergeser sedikitpun.
"Tidur sayang" ujar Afra sebari memejamkan mata dan tidak melepas pelukannya.
"Lepas aku bilang!"
"Diam!,kau sudah membangunkan yang lain" ungkap Afra.
"Jangan menipuku,membangunkan bahkan aku sedang berbaring!" ujar Xia.
"Dibawah sana sayang"
Xia terbelalak mendengar perkataan frontal pria itu,ini juga alasan kenapa ia ingin lepas dari pelukan pria tidak tahu diri ini,ia merasakan sesuatu yang menonjol dibawah sana dan membuatnya dalam bahaya.
Xia tidak melakukan sh*k bebas walau dinegara itu hal seperti itu sudah lumrah namun Xia memiliki pendirian,ia tidak memberikan keperawan*n nya jika bukan pada suaminya.
"Pedofil!" rutuk Xia,"aku ingin membunuh mu sekarang juga"guman Xia tentu didengar Afra.
Pria itu malah terkekeh sebari mengeratkan pelukannya.
.
.
.
Masih didunia yang sama Dion Saul sudah berada di mansion utama keluarga saul beberapa bulan ini.
Pria itu telah disibukan dengan masalah yang terus-menerus menyerang keluarganya hingga ia harus ikut campur dan tidak bisa mengurus urusan pribadinya,bahkan rencana penyerangan pada Maringgai Azonafra Amlias harus ia urungkan.
__ADS_1
Saat mendengar dari anak buah yang ia susupkan bahwa Afra diserang ia sangat senang namun juga kecewa karna yang menyerang pria itu bukan dirinya.
"Ikut bermain cukup menyenangkan" gumannya dengan seringaian.