MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Tidak tahu malu!


__ADS_3

Matahari begitu cerah menyinari bumi dengan sinarnya tanpa meminta imbalan.


Sikap Afra semakin hari semakin posesif dan tak tahu malu,dirinya dan juga ketiga temannya tinggal dirumah peninggalan Anka Abana tanpa ijin.


"Kalian bangkrut?"tanya Xia dimeja makan menatap satu-persatu manusia di sana,semua kursi dimeja makan sudah di penuhi rombongan pria itu dengan tidak tahu malunya.


"Kau ini bertanya atau menghina nona?pertanyaan anda tidak sopan!"cibir Mora dengan nada lembut,ya wanita itu berkunjung diwaktu sarapan bersama Cean sepupu afra.


"Membicarakan tentang kesopanan ya?lebih tidak sopan seseorang yang berkunjung tanpa diundang dipagi-buta begini!"jawab Xia datar.


"Dan makan seperti pengemis dirumah itu!"sambungnya membuat mereka terbelalak kecuali Yura yang terkikik dan Anna yang datar.


Mora mengatur nafasnya untuk meredakan emosinya seumur-umur ini pertama kali ia dihina,"Ouh maaf nona jika kami memang mengganggu anda karna sudah bertamu di pagi hari,tapi anda sendiri yang menawari kami ikut sarapan disini"jawabnya setenang mungkin walau hatinya ingin mencakar wajah datar Xia.


"Aku tidak membicarakan anda!"cibir Xia semakin membuat Mora mengepalkan tangan diatas pahanya.


"Anda sangat tidak sopan nona!,kami kesini untuk mengunjungi kakak ku,bukan salah kami jika itu mengganggu anda!,sebaiknya anda mencari tempat tinggal sendiri agar tidak merepotkan kakakku!"cibir Cean membuat Yura terbahak.


"Aduh selera humor kalian sangat bagus,perutku sakit tertawa terus"ujar Yura sebari memegangi perutnya,"Nona kau sangat-sangat lucu!,kau mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiriĀ  hhhh"sambungnya membuat Cean mengerutkan keningnya.


Ia tidak tahu pemilik rumah yang dihuni kakak sepupu dan teman-temannya ini,ia pikir rumah ini adalah aset sang kakak yang sengaja disembunyikan selama ini.


"Apa magsud anda nona?,aku tidak mengusir tuan rumah dari rumah nya sendiri!,aku hanya mengusir kalian yang tidak tahu diri"ujar Cean membuat Yura kembali terbahak.


Para pria memilih hanya menjadi penyimak saja mereka akan dalam masalah jika memihak salah satu dari wanita yang saling bermasalah itu.


"Ouh ayolah siapa yang tidak tahu diri itu?,aku jadi penasaran bukan begitu tuan-tuan?"cibir Yura sebari menatap para pria disana.


"Sangat tidak tahu malu!"cibir Cean dan Mora bersamaan.


"Afra seharusnya kau tidak menampung mereka diaset pribadimu,wanita-wanita ini sangat tidak tahu malu!"ujar Mora kesal membuat Afra menatap gadis itu dengan tatapan ingin membunuh.


"Kau benar!,"jawab Afra membuat Mora senang.


*Akhirnya kau sadar jika mereka hanya lintah,kau harus mengusir mereka Afra"ujar Mora senang.


"Akan aku lakukan,menurutmu bagaimana cara mengusir yang bagus untuk lintah ini?"tanya Afra menatap Mona datar.


*Seret mereka sampai pintu depan!,itu cukup untuk membuat mereka kapok"ujar nya menatap Xia,Yura dan Anna dengan tatapan kemenangan.


"Ide bagus,kalian!"panggilnya pada pengawal yang berdiri tidak jauh dari ruang makan.


"Saya tuan?"


"Hmm,,seret wanita yang tidak tahu diri itu sampai depan pintu!"ujar nya dingin.


Pengawal yang dipanggil itu mengerti dengan tatapan sang tuan yang menyorot tajam pada seseorang.


"Baik tuan"jawabnya lalu bergerak kearah wanita yang harus ia seret.


Mora tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karna Afra menuruti keinginannya,ia terus tersenyum hingga keningnya berkerut ketika tangan kekar mencekal tangannya.


*Hei apa yang kau lakukan?"pekiknya pada pengawal yang mencekam tangannya.


Pengawal itu tidak menjawab sebab sudah peraturannya untuk mereka hanya menjawab pertanyaan anggota keluarga tuannya saja dengan jawaban yang pantas,jawaban yang tidak merusak privasi sang tuan.


Pengawal terus menarik Mona yang meronta tidak terima sebari teriak minta dilepaskan,bahkan memaki pengawal itu dengan sadisnya,namun pengawal tidak mengidahkan dan terus menyeret Mona keluar dari kediaman.


"Kak!,apa yang kakak lakukan?,kenapa kakak mengusir kak Mona?,seharusnya kakak mengusir mereka bukan kak Mona!"tanya Cean tidak terima sebari menunjuk kearah Xia.


"Turunkan tanganmu sebelum aku patahkan! "Ujar Afra dingin membuat Cean takut hingga menunduk.

__ADS_1


"Kau bisa ikut dengannya jika ingin" sambung Afra dan mereka melanjutkan makannya kecuali Cean yang pamit untuk menyusul mona yang baru saja dipermalukan.


"Kakak kau baik-baik saja?"tanyanya melihat Mona di luar pintu dengan keadaan sedang merapikan penampilannya yang acak-acakan sebab berontak walau gagal.


"Hmm"jawabnya menahan emosi.


"Kakak maafkan kak Afra,dia pasti tidak sengaja melakukan itu,wanita-wanita itu pasti sudah meracuni otak kakak hingga mendukung mereka"ujar Cean membuat hati Mona menghangat.


Setidaknya ada yang mendukungnya disini walau hanya gadis kecil tidak berguna,tapi gadis itu langkah awal untuk ia mencapai tujuannya'pikir mona lalu segera merubah raut wajahnya menjadi sendu.


"Iya kakak sadar itu,sepertinya mereka memang melakukan itu,sebaiknya sekarang kita pulang dahulu,mereka bukan wanita-wanita yang mudah dihadapi"ujar Mona


"Apa kita perlu memberitahu bibi kak?"tanya Cean membuat Mona tersenyum tipis.


"Sepertinya begitu,hanya bibi dan tuan Alaran yang bisa membantu Afra keluar dari racun wanita-wanita itu"jawab Mona.


Sedangkan dimeja makan mereka melanjutkan acara makan mereka dengan tatapan tajam Yura menatap para pria.


"Wah pertunjukan yang hebat tuan-tuan!,,apa perlu aku mewujudkan perkataan Xia tadi?"tanya Yura.


"Perkataan yang mana?"tanya Azkara.


"Membuat kalian bangkrut!,aku akan melakukan itu dalam seminggu jika kalian tidak segera pergi dari sini lihat saja"ujar Yura menatap Savion dan Rayma.


"Hanya kami bagaimana dengan mereka?"tanya Rayma tidak terima.


"Hanya kalian!aku hanya mengusir kalian!"ujar Yura setenang mungkin namun menyorot kesal dua pria itu.


"Kau tenang saja Yura!aku akan pulang hari ini,tunangan ku sudah menunggu"ujar Savion.


"Tunangan?,wah apa kau mendapatkan nya?"cibir Yura membuat Savion mendelik tajam gadis itu,Yura ditatap semua orang dimeja makan,"Kau sudah memiliki tunangan ternyata,padahal aku ingin memperkenalkan mu dengan seseorang"sambung yura.


"Seseorang?"guman Savion.


"Lajang buluk"cibirnya membuat Rayma melotot.


"Enak saja!,kenapa mulutmu itu sangat pedas nona?,dan tidak memiliki sopan santun!"kesalnya.


"Aku selalu kabur setiap pelajaran kesopanan"jawab Yura sebari mengedikan bahunya,"Aku akan memperkenalkan dirimu dengannya jika begitu"


"Siapa namanya?"tanya Rayma antusias.


"Ansya"jawab Yura membuat Savion tersedak lalu menggebrak meja dan melotot pada Yura.


"Hhhhh aduh aku sudah selesai permisi"ujar yura lalu berlari sambil tertawa.


"Kau kenapa? "Tanya Rayma menatap Savion yang tengah marah entah kenapa.


"Aku kenapa memangnya?" tanya tajam pria itu.


"Ck kebiasaan ditanya balik nanya,kenapa semua temanku menyebalkan,aku sudah selesai"ujar Rayma kesal"Aku akan menemui yura untuk meminta nomor ponsel gadis itu"gumannya di dengan Savion yang langsung menendang tulang kering pria itu.


Brug


Rayma terjatuh sebab serangan dadakan dari savion,"Hei kau kenapa menyerang ku tiba-tiba?"pekik tidak terima.


"Siapa?,aku?,kau saja yang ceroboh"jawab Savion pergi tanpa merasa bersalah.


"Mereka kenapa? "Monolog Azkara yang menyaksikan teman-temannya yang tidak jelas.


"Jam kuliah kalian pagi hari bukan?" tanya Afra tidak memedulikan teman-temannya,"jika begitu aku akan mengantarmu"

__ADS_1


"Tidak perlu,kami akan berangkat bertiga,urus saja urusanmu"jawab Xia lalu berdiri meninggalkan meja makan disusul Anna.


Hubungan Afra dan Xia tidak ada kemajuan hanya terkadang terlihat harmonis dan terkadang terlihat sedang bertengkar.


Afra tidak pernah melewatkan apapun tentang gadis yang ia klaim miliknya itu,mereka pergi ke kampus dengan rombongan mobil.


Mobil pertama diisi empat pengawal yang diutus menemani para gadis itu kemanapun oleh Afra,mobil kedua berisi para gadis,untuk mobil paling belakang disana berisi para pria dari Azkara,Afra,Savion dan Rayma yang mengikuti mereka mengantarkan kekampus.


"Pria posesif ini tidak tahu diri"cibir Savion melirik sekilas kearah temannya.


"Kau mencibir dirimu sendiri kawan"cibir Rayma sebari terkekeh,"Ingat kau sudah ditolak berkali-kali namun tetap memaksa wanita itu,kalian itu sama saja!"sambungnya membuat Savion mendengus.


"Itu namanya perjuangan,cintah butuh perjuangan,bukan hanya harta dan tahta"dengus Savion.


"Yang terpenting itu penampilan,seperti aku yang tampan ini bukan mengejar tapi dikejar"narsis Rayma membuat Savion memutar matanya.


"Narsis,bahkan anjing jalanan lebih tanpa dari mu"cibir Savion membuat Rayma menatap tajam temannya itu.


"Kau bedeb*h,bagaimana bisa kau menyamakan aku dengan anjing jalanan itu tidak pantas!"dengus Rayma tidak terima.


" Iyaiya anjing jalanan lebih terhormat dari mu"cibir Savion membuat rayma ingin bertarung dengan pria itu andai bukan didalam mobil,maka ia akan melancarkan aksinya.


"Kalian seperti anak kecil saja!"cibir Azkara membuat kedua pria itu menetap Azkara yang sedang menyetir.


"Kau akan bodoh ketika mencintai!"ujar kedua orang itu.


"Kau seperti sudah pernah mencintai saja Ray"cibir Azkara membuat Rayma mengusap lehernya.


"Belum tapi setiap manusia akan merasakan yang namanya cinta bukan?"ujar Rayma.


"Aku rasa tidak jika itu kau"cibir Azkara dan Savion bersamaan membuat Rayma mendelik tajam.


Rayma seorang playboy yang tidak pernah merasakan cinta ia hanya mempermainkan saja.


Setelah mengantar para lady mereka kembali melanjutkan perjalanan kekantor milik Maringgai Azonafra Amlias.


"Aku rasa kau begitu dekat dengan para lady itu?"tanya Rayma menatap selidik kearah Savion.


"Itu hanya tebakan saja bukan?"ujar Savion sebari mengedikan bahunya.


"Kau menutupi sesuatu?"tanya Azkara.


"Baiklah-baiklah kalian tidak perlu mencecarku begitu!,aku hanya akan memberitahu sedikit aku masih mau hidup!,identitas mereka lima puluh persen kebenaran dan sisanya kebohongan"


"Magsud mu bagaimana?"tanya Rayma tidak mengerti.


"Aku sudah memperjelas, sisanya cari tahu saja sendiri,yang jelas waktu kalian itu singkat,dan mungkin nyawa kita sebagai taruhannya"ujar Savion sebari mengedikan bahunya,"Dan kau Afra aku hanya mengingatkan,kau tidak boleh terlalu berharap untuk memiliki wanitamu"


"Apa magsudmu?"tanya Afra dengan tatapan tajam.


"Jangan marah dulu!,magsud dari perkataan ku ini baik,anggap saja sebagai peringatan!,wanita mu itu akan mengutamakan keluarga apapun yang terjadi,kau pikir semua kejadian itu hanya kebetulan?"Savion menatap satu persatu temannya.


"Memang kebetulan"jawabnya membuat Rayma dan Azkara mendengus kesal.


"Kau memang menjengkelkan!"cibir keduanya.


"Awal kebetulan sudah direncanakan"ujar Afra menjadi atensi mereka.


"Memang hanya kau yang pintar"puji Savion dengan tatapan mencibir pada kedua temannya,"cari tau keluarga kandung nya maka kau akan tau apa yang harus kau lakukan kedepannya "


"Tapi kau tidak akan menemukan mereka"sambungnya membuat Azkara dan Rayma mendelik tajam.

__ADS_1


"Anggap saja yang berbicara bukan aku,tapi mereka,ya mereka para gadis itu,aku hanya pengantar pesan"sambung Savion sebari mengedikan bahunya.


__ADS_2