
"Silahkan masuk nyonya"ujar seorang pengawal yang menjaga pintu sebuah ruangan.
Jika seseorang yang ia panggil nyonya itu datang,dia hanya perlu masuk tanpa meminta ijin pemilik dari ruangan ini.
Seisi mansion ini juga miliknya.
Wanita paruh paya yang masih terlihat cantik diusianya sekarang,ia memasuki ruangan yang bernuansa hitam.
Disana seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesarannya.
Saat pintu masuk dibuka tanpa ijin,ia sudah tau bahwa itu adalah sang istri tercinta.
Sudah menjadi pelaturannya ruangan apapun jika tempat itu miliknya,sang istri bebas keluar masuk tanpa ijin.
Ia menatap sang istri dengan lekungan indah dibibirnya,sang istri juga membalas senyuman itu.
Pria itu menghampiri sang istri dengan senyuman yang masih terbit dibibirnya.
Ia mengajak sang istri duduk disofa ruangan itu.
"Kenapa hmm"tanyanya sebari mengenggam tangan sang istri penuh cinta.
"Tidak ada"jawabnya terdengar lirih.
Alaran Amlias menghela nafas,ia sangat mengenal sang istri,jika sudah menemuinya diruang kerja,sudah pasti sesuatu tengah mengganggu pikirannya.
Sang istri memang orang yang ceria dan humoris namun karna masalah beberapa tahun sikap itu jarang ia lihat.
Sang istri yang selalu ceria,ia akan meluapkan apapun kepadanya namun ia harus memaksa dahulu.
"Sayang,ada apa hmm?"tanya alaran lagi dengan anda lembut sebari sesekali mengecup tangan Sang istri.
"Apa aku terlihat sedang khawatir?"ujarnya malah bertanya.
"Kau semakin menggemaskan sayang! "jawab alaran sebari mencubit pelan pipi Sang istri.
"Aku serius sayang! "ujar Ananta Agnesia Amlias sebari mencebikan bibirnya.
"Lihat aku! ,apa aku terlihat tidak serius?"tanya Alaran sebari menangkup wajah Sang istri untuk melihat wajahnya,ia juga menampilkan wajah seriusnya.
"Kamu serius hanya soal pekerjaan! "
"Itu tidak benar,aku selalu serius tentang mu,semua tentangmu sayang"ujar nya lalu mengecup bibir Sang istri,hanya kecupan!.
"Baiklah katakan!,siapa yang berani menganggu pikiran istriku tercinta? "ujar nya dengan serius.
"Aku menghawatirkan dia" ujar nya lirih.
Mengerti dengan arah pembicaraan Sang istri,alaran mengelus tangan Sang istri yang ia genggam.
"Bagaimana jika rencana putra kita gagal?,aku ingin memperbaiki semuanya walau sudah terlambat,aku ingin hubungan kami kembali seperti dulu,dia pernah memanggilmu mommy,aku ingin dia memanggilku seperti itu lagi,sayang"ujarnya tanpa diminta air mata itu keluar.
Alaran memeluk tubuh mungil Sang istri untuk menyalurkan kekuatan,kesalahan pahaman beberapa tahun lalu membuat bekas dihidup mereka.
Walau ini kesalahan mereka.
"Tidak ada kata terlambat sayang,semua butuh proses,kita percayakan saja pada putra mu itu"ujar Alaran mencoba menenangkan istrinya.
__ADS_1
Sang istri mendongkak atas perkataan terakhir yang suaminya lontarkan, "Putra kita"
Alaran terkekeh melihat istrinya yang kesal,"Iya iya putra kita"
"Menurutmu semua akan baik-baik saja,sayang?,dia anak yang pendiam,sulit berkomunikasi,dan kau taukan?"Alaran mengangguk saat pertanyaan Sang istri.
"Kehidupannya dulu membuat dia tumbuh menjadi anak yang acuh,aku khawatir dengan kehidupannya yang sekarang,bagaimana jika selama ini dia tumbuh bersama orang jahat,sayang?,bagaimana jika orang itu memanfaatkan dia untuk keburukan"ujar Ananta sesegukan.
"Tenang sayang,kita doakan yang terbaik saja untuk gadis itu"ujar Alaran sebari mengusap punggung Sang istri yang bergetar karna menangis.
Alaran menutupi kekhawatirannya,dia pria yang selalu bekerja dalam diam,dan selalu menutupi apapun agar Sang istri tidak merasa khawatir.
"Dia sudah ditangan putra kita,hanya menunggu waktu sampai kita tau kemana mereka pergi selama ini"sambungnya.
"Kamu benar sayang,bagaimana kalo kita menikahkan mereka saja,jika mereka terikat pernikahan kita tidak akan kehilangan dia lagi"usul Sang istri sebari mendongkak menatap suaminya.
"Itu tidak benar sayang"ujar nya membuat ananta bingung.
"Magsudmu apa?,kamu tidak setuju dengan usul ku"kesal Ananta sedikit mendorong dada alaran agar menjauh darinya.
"Bukan begitu,dengarkan dulu oke"ujar Alaran menarik kembali Sang istri kepelukannya,tentu saja ananta memberontak namun alaran tidak mengidahkannya.
"Pernikahan bukanlah hal sepele,mereka akan terikat satu sama lain,hidup dan mati,jika mereka menikah tanpa cinta sama saja kita membuka pintu kehancuran untuk afra dan lara,kamu tidak mau hal itukan?"ananta mangangguk mengiakan ucapan suaminya.
"Apalagi gadis itu pernah mengalami kejadian yang tidak seharusnya,pernikahan kedua orang tuanya hancur diusianya yang masih kecil,ia juga dizolimi oleh ibunya,trauma dalam dirinya pasti sudah terbentuk sejak itu,dia pasti tidak memercayai apa pernikahan,bahkan sejak saat itu ia membenci semua orang berjenis perempuan,walau dirinya sendiri perempuan."
"Keputusan itu terlalu berisiko bagi masa depan mereka,untuk sekarang kita pantau saja dari sini,jika sudah waktunya kita temui dia dan berbicara langsung"sambung Alaran masih memeluk Sang istri.
"Kamu benar,aku saja yang bodoh,dulu aku susah payah mendapat kasih sayangnya,saat kami sudah dekat aku malah membuat kesalahan besar"Ananta kembali menangis mengingat kebodohannya.
"Itu semua tindakan otomatis,semua orang akan melakukan hal yang sama jika berada di situasi mu,sayang"jar alaran menenangkan Sang istri yang selalu menyalahkan diri atas kejadian beberapa tahun lalu.
"Sepertinya sekarang dia sudah berubah"Ananta mendongkak menatap Sang suami,"Magsud mu apa sayang?"tanyanya.
"Magsud ku,Lara sudah tidak membenci wanita lagi buktinya ia memiliki teman seorang wanita,bahkan wanita itu,mengaku sebagai kakaknya,itu artinya mereka dekat,jadi jika kalian bertemu kembali kamu gampang untuk mendapatkan hatinya lagi,dan akan memanggil kamu mommy seperti dulu"jawan Alaran menjelaskan.
"Apa kamu yakin? "Lirih Ananta sendu,ia tidak yakin dengan perkataan suaminya,yang mengatakan ia bisa kembali dekat dengan anak teman dari suaminya itu.
Alaran mengangguk,"Dulu dia tidak punya teman wanita,hanya kamu satu-satunya yang dekat dengan dia"
"Dan aku menghancurkan kepercayaannya"cicit Ananta.
"Hei jangan pesimis begitu,dia pasti mengerti dan akan memaafkanmu,jangan sedih lagi oke,bagaimana kalo kita jalan-jalan?"tanya Alaran mengalihkan pembicaraan agar Sang istri tidak sedih dan menyalahkan diri terus menerus.
"Aku tidak mau"tolaknya.
"Tidak ada penolakan,kita akan pergi!,ayo!"kekeh alaran hanya bisa membuat ananta menurut.
Jika suaminya itu sudah memutuskan maka akan sulit menolaknya.
Mereka pergi dengan alaran yang menrangkul pinggang sang istri dengan sesekali mengecup pelipis perempuan itu.
Di pelosok negara lainnya.
Xia duduk diatas sofa dengan mata yang fokus pada majalah.
Setelah sarapan ia tidak memiliki rutinitas lain selain rebahan.
__ADS_1
Gadis itu tidak suka membaca majalah namun bagaimana lagi hanya itu yang ada dimeja.
Semua itu tidak lepas dari penglihatan seseorang.
Merasa jengan karna terus ditatap seperti itu,entahlah Xia tidak mengerti tatapan apa itu.
Xia menurunkan pandangannya lebih rendah menatap pria yang tengah berbaring dengan kepala diatas pahanya.
"Kamu tidak kekantor?"tanyanya
"Tidak "jawab Afra tersenyum tanpa mengalihkan atensinya kearah lain selain wajah gadis itu.
"Kenapa?"
"Karna asisten ku kamu pinjam"jawabnya
"Kamu bisa pergi sendiri"
"Tidak,keadaan ku masih seperti ini sayang,akan sulit jika bepergian sendiri"alibinya
"Alasan"ujar Xia mencebikan bibirnya.
Sedari tadi gadis itu sedang sedikit kesal,bagaimana tidak pria itu melarangnya pergi menjemput pria yang menolongnya tempo hari.
Ia bilang walau tidak gadis itu jemput,pria itu akan tetap pulang,walau benar tetap saja Xia ingin melihat keadaan pria itu.
Dari tadi gadis itu mencoba mengacuhkan pria itu,namun apalah daya kesabarannya sebesar selembar tisu.
"Tidak,itu bukan alasan tapi kenyataan,aku ini lumpuh jadi tidak bisa bergerak sendiri"ujar nya menjadi sendu.
Xia melempar majalah keatas meja membuat pria itu berkedip.
"Mau taruhan?"tanya xia.
"Taruhan apa?"tanya Afra yang kini memainkan rambut Xia yang tidak terikat.
"Dalam dua minggu kakimu akan sembuh dengan perawatanku,kamu hanya perlu membayarnya dengan harta mu"jawab Xia
"Benarkah? "tanya Afra berbinar walau dilubuk hatinya ia tidak percaya.
Sudah banyak dokter yang ia temui namun mereka mengatakan butuh dua bulan untuk sembuh,dan gadis kecil didepannya ini hanya membutuhkan dua minggu tidak mungkin.
"Kamu meremehkan aku?" tanya Xia dengan sorot mata dingin.
"Tidak!,baiklah jika kamu berhasil apapun kemauan mu akan aku turuti,jika gagal maka kamu yang akan menuruti keinginanku,dil"ujar nya sebari tersenyum.
Toh taruhan itu tidak merugikan nya,jika berhasil maka akan sembuh,jikapun gagal ia masih mempunyai keuntungan.
Dia hanya akan melakukan sesuatu yang menguntungkan nya,dia seorang pebisnis oke.
'Oke"jiwa Xia tertantang,semua ini hanya masalah kecil baginya.
Semua akan beres dalam dua minggu.
Tanpa disadari benang merah mengikat mereka.
"Jadi tuan Maringgai Azonafra yang terhormat,anda bisa tiduran ditempat lain,kaki saya pegel"cibir Xia sebari manatap tajam pria yang masih asik rebahan dengan kepala berada di pahanya.
__ADS_1
Pria itu menulikan pendengaran ia malah memejamkan mata tanpa memedulikan gadisnya yang mengomel.