MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
wanita kesayangan


__ADS_3

Mereka menukar ponsel untuk menghitung deretan kata yang gadis itu kirim.


Vihan mendengus kesal saat melihat pesan yang diterima Samuel dari putrinya lebih panjang dari miliknya.


Mereka kembali menukar ponsel kepemilik aslinya.


Karna kesal Vihan mengajak taruhan Samuel,siapa yang mendapatkan balasan paling banyak dari gadis itu adalah pemenangnya.


Dengan senang hati Samuel setuju,dengan syarat siapapun yang kalah harus menerima bahwa gadis cantik mereka lebih menyayangi sang pemenang,yang mendapat pesan paling banyak.


Mereka mengirim pesan bersamaan ke ponsel wanita kesayangan mereka,dengan saling melemparkan tatapan tajam.


Samuel juga dibuat kesal saat Vihan memanasinya, saat sang keponakan membalas pesan pria yang notabenya ayah kandung gadis itu terlebih dahulu dari pada dirinya.


Dengan licik Samuel mengirimkan deretan pesan berharap bisa menimbun pesan yang Vihan kirim.


Bukan Vihan namanya jika tidak tahu gerak-gerik pria didepannya itu,ia juga melakukan hal yang sama.


"Aku adalah vihan sang pendiri sekaligus ketua klan kay! ,aku tidak akan kalah dari bajingan tengik itu! ,diakan putri ku,dia pasti memilihku! "guman Vihan dalam hati dengan kesombongan yang ia miliki.


"Huh,aku pasti menang,keponakan ku itu lebih menyayangiku dari pada pria mafia yang tak lain ayahnya "guman Samuel dalam hati.


Mereka beradu tatap dengan tatapan tajam,bersamaan mereka memalingkan wajah kearah berlawanan secara bersamaan.


.


.


Sedangkan sang gadis yang menerima pesan itu sudah merasa diteror saja.


"Ck,mereka selalu seperti ini,apa tidak lelah?"guman Xia sebari menatap layar ponsel yang masih menerima pesan-pesan,sudah hampir dua ratus pesan yang ia terima dari kedua pria itu.


"Siapa yang lelah?"suara bariton mengagetkan Xia.


Ia langsung menatap arah suara yang ternyata dari pria yang mengaku lupa ingatan sekaligus tunangan dirinya.


"Aku"jawab Xia sebari menatap pria itu.


"Kamu lelah?,kamu habis melakukan apa?,jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu lelah sayang"


Xia menghela nafas jengah "Memikirkan masa depan"alibi Xia asal.


"Masa depan bersamaku,kamu tidak perlu memikirkannya!,kamu hanya tinggal menikmati biar aku yang mengurus sisanya"ujar Afra sebari mengarahkan kursi rodanya agar diam disamping sang gadis.


"Apa kamu tidak bisa tidak gombal? ,sedetik saja"ujar Xia sebari memperlihatkan jarinya yang membuat ukuran menggunakan jari jempol dan telunjuk.


Membuat Afra terkekeh,ia mengusap pipi Xia dengan sayang, "Itu bukan gombal,tapi permintaan,bagaiamana kamu mau kan menikmati semuanya?"


"Akan aku pikirkan"jawab Xia mengalihkan pandangan kearah ponsel yang sudah ia balikan dari layar,hanya menunjukan casingnya saja sebelum Afra mendekatinya.


Afra lagi-lagi terkekeh,setelah kejadian semalam mereka menjadi semakin dekat, bahkan gadisnya itu sudah mulai memanggilnya dengan sebutan yang sementara Afra inginkan,ingat sementara ia akan mengubahnya nanti.


Afra sangat senang dengan peningkatan yang mereka alami,ia jadi memikirkan untuk membeli hadiah untuk gadis kecilnya itu.


Hadiah istimewa,jika ada hadiah yang tidak boleh dimiliki orang lain kecuali gadisnya.


.


.

__ADS_1


Kembali kedua pria yang masih mengirim pesan mendengus kesal,sudah hampir dua ratus pesan yang mereka kirim namun belum ada balasan.


Kedua pria itu bertatapan dengan tajam.


"Kau tidak mendapat balasan bukan?"cibir Samuel sebari tersenyum miring.


"Aku mendapatkan nya! ,tentu saja putriku tidak akan mengabaikanku"jawab Vihan menahan emosi.


"Kau yang tidak mendapat balasan"sambung Vihan mencibir sebari tersenyum miring.


"Aku mendapatkannya!"pekik Samuel tidak terima.


"Benarkah?,kau hanya berbohong bukan?"cibir Vihan lagi-lagi tersenyum miring.


"Tidak kau yang berbohong! " jawab Samuel kesal.


"Untuk apa aku berbohong?,diakan putri ku tentu saja,aku prioritasnya"ujar Vihan.


"Kau sepertinya lupa,pantas saja si kau kan sudah tua"ujar Samuel tersenyum miring.


"Akan aku ingatkan,dia putrimu tapi masa kecilnya dia habiskan denganku,kau juga dipanggil paman,saat pertemuan pertama kalian,dan pelukan pertemuan aku mendapatkannya lebih dulu,dan kau"


"Kau mendapat pelukan itu setelah beberapa hari tinggal bersama,panggilan ayah saja,kau dapatkan setelah satu bulan tinggal bersama"ujar Samuel tersenyum miring.


Vihan mendengus kesal mendengar perkataan pria yang ia anggap adik beberapa tahun ini.


Pria itu selalu berhasil membuatnya kesal saat bersama,apapun pembahasan awal,mereka akan berakhir dengan mendebatkan gadis kesayangan mereka.


"Kau benar"ujar Vihan menahan kesal.


"Aku memang hebat"sambungnya membuat samuel menatapnya dengan halis terangkat.


"Kau sudah tuli ternyata"ujar Samuel membuat vihan menatapnya dengan sengit.


"Kapan aku mengakui kehebatanmu?"ujar Samuel heran sekaligus kesal.


Tidak akan!,Samuel tidak akan mengakui kehebatan pria itu bagaimanapun.


"Ck,dasar pria tua,kau bilang tadi aku hebat karna bisa meluluhkan hati putriku yang dingin bagaikan kutub utara dalam beberapa hari,bodoh!"jawab Vihan.


"Aku akui,aku memang orang yang hebat dalam segala hal"sambung Vihan menyombongkan diri.


"Tingkat kepercayaan dirimu terlalu tinggi tuan Vihan Kenzel Kay,kau melupakan aku yang bisa mengalahkan salah satu kehebatanmu itu"pekik Samuel tidak terima.


"Xia lebih menyayangiku dari pada mu "sambunya membuat Vihan tidak bisa menahan emosi lagi.


Vihan meletakan ponselnya dimeja bundar dengan sedikit kasar,pria itu tidak peduli jika nantinya ponselnya akan rusak.


Vihan berdiri dari duduk nya bersamaan dengan Samuel.


Samuel juga berdiri mengikuti pergerakan pria didepannya itu dengan waspada.


"Kita bertarung saja ayok!" ujar Vihan sebari menggulung lengan kemejanya.


"Siapa takut"jawab Samuel sebari membuka jaz yang membalut kemejanya.


Mereka melegang kearah samping,kearah yang lebih luas.


Diawali tatapan tajam mereka mulai saling memukul dan menendang juga menangkis.

__ADS_1


Dibalik pintu yang tertutup seorang pria muda tengah menghela nafas jengah.


"Kebiasaan"gumannya sebari memijat pelipisnya.


"Kenapa tidak masuk?"suara orang yang bertanya dibelakangnya berhasil membuatnya kaget.


"Kak,kau mengagetkan ku saja"


"Salah sendiri bukannya masuk malah berdiri didepan pintu"ujar Ken datar.


"Sepertinya kita perlu menunggu beberapa menit lagi kak"ujar Rain.


Ken menggelengkan kepalanya "Mungkin jam" ujar nya sebari melegang pergi meninggalkan Rain.


"Kau benar,mereka membutuhkan banyak waktu kali ini"guman Rain berjalan menghampiri sang kakak sampai posisi mereka saling berdampingan.


Sudah bisa Ken tebak,jika kedua pria paruh baya itu sedang beradu argumen bahkan mungkin sudah adu jotos.


Kebiasaan yang mungkin tidak akan pernah hilang,dimana ada kedua pria itu disanalah mereka beradu argumen sampai berkelahi.


Mereka pergi bersama ke ruang bawah untuk menunggu kedua pria itu selesai dengan urusan mereka.


Kini Rain dan Ken menghentikan langkah mereka saat dihadapan sang kakak tertua yang akan ketempat awal tujuan mereka.


"Membutuhkan waktu?"tanya Vans datar.


Kedua adik pria tersebut mengangguk dengan suara Rain yang terdengar,"Benar,sudah kebutuhan pokok bagi mereka"


Vans mengangguk mengerti lalu memutar tubuhnya kearah lain,diikuti kedua pria lain di belakangnya.


Beberapa menit yang lalu mereka diberi tahu untuk pulang,ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Vihan dimansion.


Namun mereka keduluan Samuel,jika kedua pria itu sudah bersama dalam satu ruangan sudah dipastikan akan seperti tadi.


Namun kini mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya,disebabkan pawang mereka sedang tidak berada di dekat mereka.


Lebih baik ketiga pria muda itu berkeliling mansion sebari menunggu mereka selesai.


Ketiga pria berbeda usia itu mengisi waktu dengan bercerita.


Lebih tepatnya hanya Rain dan Ken yang bercerita sedangkan Vans,dia hanya mendengarkan sebari sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan kedua adiknya.


Pria itu tidak suka berbicara banyak kecuali terhadap wanita kesayangannya,tidak jauh berbeda dengan ken dan rain sebenarnya.


Namun mereka juga akan sedikit cerewet jika sudah kumpul bersama keluarga.


Sejak lima tahun terakhir Ken menjadi pebisnis dibidang hotel,keturunan Vihan memang menjanjikan,baru lima tahun membangun sendiri bisnisnya kini bisnisnya sudah berhasil dan bercabang.


Pria itu dikenal dingin, tegas,kasar,cuek,dan kejam namun kekejamannya masih dibawah antara Xia,Vans dan sang ayah.


Sikapnya akan terjungkal terbalik jika menyangkut keluarga,ia masuk dalam pria berbahaya yang harus dijauhi jika sudah terpancing.


Sedangkan Rain dia juga pebisnis,ia mengurus cabang perusahaan milik keluarga yang dihususkan memang untuknya.


Pria dua puluh tahun itu juga masih kuliah,namun kepintarannya diatas rata-rata jika mengenai IT.


Pria itu berencana membuat bisnisnya dari nol tentang Kemampuan yang ia miliki.


Tentang IT suatu hari nanti,perusahaan itu akan berdiri.

__ADS_1


Jika ditanya tentang Vans,kami memilih bungkam,kami masih menyayangi nyawa.


Tanyakan saja kepada wanita kesayangannya jika kalian berani!.


__ADS_2