MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Diserang


__ADS_3

Kedua orang berbeda jenis yang berada di ruangan yang sama tersentak mendengar gebrakan meja dari pria yang mengeluarkan hawa mematikan,hanya dengan hawanya saja bisa membuat orang binasa.


"Baiklah,,,kalian pernah bekerja didunia bawah?"tanya Yura


"Hmm"jawab afra pelaku yang mengebrak meja tadi.


"Bagus,,magsudku jika kalian tau tentang dunia bawah aku tidak perlu menjelaskan begitu detail,kalian akan mengerti sendiri,anggaplah teka-teki yang hanya bisa dipecahkan dengan pemikiran sendiri-sendiri menurut pendapat sendiri"Yura menjeda ucapannya saat melihat afra menatapnya dengan tajam,lalu gadis itu berdehem agar bisa berbicara langsung keinti.


" Hmm,,,, tentang racun pemikat cinta tadi,kalian tau siapa pemenang dalam lelang itu?"tanya Yura.


Tiga bulan lalu dunia bawah digemparkan tempat pelelangan ilegal yang menjual racun yang pertama kali dikatakan bisa membuat seseorang yang meminumnya akan merasakan jatuh cinta tanpa jalan keluar,kecuali kematian,maka dari itu dinamakan 'pemikat cinta',semua orang didunia bawah merebutkan racun yang hanya ada satu didunia ini,untuk kepentingan mereka,setelah berdebatan panjang,'pemikat' jatuh kepada seorang pria yang disebut dari kumpulan bernama 'Than' jika diartikan dalam bahasa Yunani artinya kematian.


Pria tersebut tidak diketahui siapa.


Than sendiri adalah kumpulan pembunuh bayaran terkuat didunia yang sangat diagungkan didunia bawah,mafia sekalipun memakai jasa mereka sekedar memperkuat pertahanan saat berperang sekaligus mempersingkat peperangan dengan kesempatan menang yang sangat tinggi,atas bantuan para pembunuh bayaran.


Kedua pria itu terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaan Yura tadi.


"Seseorang dari Than kumpulan para pembunuh bayaran terkuat didunia bawah saat ini"jawab Azkara ragu.


Yura menghela nafas panjang"benar"


"Apa hubungannya dengan kalian?"masih Azkara yang berkata.


"Kalian berhubungan?"tebak afra.


Yura lagi-lagi menghela nafas,"kalian mungkin tidak akan percaya,dengarkan dengan baik,aku tidak suka mengulang kata!,"Yura lagi-lagi menghela nafas panjang dengan wajah sendu.


"Pria dari 'Than' tersebut adalah bos kami"sambung Yura membuat kedua pria disana terbelalak tidak percaya.


Afra dan Azkara dibuat terbelalak dengan mata melebar tidak percaya.


"Sebenarnya kami adalah salah satu pembunuh bayaran yang kabur dari tempat itu,kami-kami"Yura menundukan kepala.


"Entah kalian percaya atau tidak,tapi itu kenyataannya lima tahun lalu kami dipertemukan disana dengan alasan mencari tujuan hidup,ternyata semua itu adalah jalan masuk tanpa pintu keluar,saat kami mengatakan akan keluar,dia melarang kami,kami tidak bisa lepas dari mereka kecuali mati"Yura menghela nafas lagi-lagi.


"Kami sudah melarikan diri ke beberapa negara,namun kami selalu terlacak,saat Xia menghilang,sebenarnya dia bukan menghilang,dia sedang melakukan pengalihan sekaligus menjemput orang-orang yang lari bersama kami namun terpisah saat pelarian berlangsung,pria yang baru saja dijadikan bahan uji coba dari 'pemikat cinta' dia salah satu orang yang ditugaskan mencari kami" Yura mendongkak melihat respon dari kedua pria itu.


"Apa berhasil?,kenapa mereka hanya diam?"yura bertanya-tanya dalam hati saat melihat respon kedua pria yang hanya terlihat mendengarkan dengan wajah datar.


Setelah Yura berhenti bicara suasana hening dengan hawa yang sangat-sangat dingin, bahkan Yura merasa menggigil di tempat.


Dritt-dritttt.


Suara getaran ponsel menjadi pemecah keheningan yang membuat semua atensi menatap benda pipih tersebut.


"Saya izin mengangkat panggilan tuan"ijin Azkara hanya dijawab deheman setuju oleh sang tuan.


"Halo"ujar Azkara menyapa seseorang dibalik panggilan.

__ADS_1


Wajah Azkara semakin dingin setelah mendengar apa yang ingin disampaikan sosok dari sebrang telepon bersamaan dengan pintu yang diketuk.


Tok tok-tok tok


"Masuk"ujar Yura membuat orang yang mengetuk pintu mengikuti perintah.


"Maaf tuan,nona,saya mengganggu waktunya,ada masalah penting,mansion saat ini tengah diserang"ujar pria yang baru saja memasuki kamar Yura dengan tergesa-gesa menyampaikan apa yang seharusnya.


Semua terbelalak mendengar informasi penting tersebut,setelahnya mereka memandang Yura dengan tatapan tidak bisa diartikan.


"Katakan!"ujar Afra.


"Mansion dikepung orang tidak dikenal tuan,orang-orang kita tengah melawan mereka yang memaksa masuk,walau sebagian sudah masuk kedalam Mansion karena kita kalah jumlah saat ini"jelas Azkara yang baru mendapat infomasi dari benda pipihnya tadi.


"Berapa orang?"tanya Afra dengan wajahnya yang semakin mendingin dengan auranya tersendiri.


"Lima puluh orang tuan,untuk saat ini kita kalah jumlah tuan,namun dalam kemampuan orang-orang kita,mereka seimbang dalam beladiri,kemungkinan menang dan kalah setara tuan"


Afra menghela nafas kasar,mungkin kali ini kemarahan yang sejak tadi ia pendam bisa dikeluarkan dengan orang-orang yang seharusnya,orang yang mencari masalah dengannya.


Tepat waktu,bukan?.


Begitu juga dengan Yura, gadis itu iri,dengki saat saudari-saudari berbeda orangtua itu bersenang-senang tanpa dirinya.


Mereka keluar dari kamar menuju tempat yang sudah ramai dengan perkelahian,dengan dan tanpa senjata.


Ting


Saat pintu lift terbuka semua pergerakan tiba-tiba terhenti dan atensi menghadap kearah lift yang baru saja berbunyi.


Senyuman terbit dari salah satu bibir pria disana.


Pertarungan kembali terjadi,Yura berjalan lebih dulu,pergerakan gadis itu menjadi pemandangan mengasingkan bagi mereka.


Jika saja ada gadis lain,mungkin ia sudah berlari menyelamatkan diri,bukan seperti Yura yang malah berjalan melewati pertarungan dengan santai dan duduk disofa kingsize dengan kedua tangan menangkup wajahnya, dan menatap sekitar dengan tenang.


"Lanjutkan!"ujar Yura saat melihat semua atensi mengarah padanya.


Yura paling tidak suka ikut campur,kecuali sudah dalam rencananya,dari pada berkelahi ia lebih suka menontonnya atau menjadi komentator peperangan,yang membuat siapapun yang melihatnya ingin membunuhnya lebih dulu,namun tidak mengartikan gadis itu tidak pernah ikut perang,dalam peperangan akan lebih seru saat gadis itu ikut turun ke lapangan,semua akan menjadi semakin panas saat gadis itu memporak-porandakan mental musuh,begitu juga saat menyiksa mangsa mereka.


Seperti sekarang.


"Paman ninja"panggil Yura terhadap pria yang menjadi orang yang menyerang mansion.


Namun tidak ada yang menghiraukan itu,"Berani sekali mengabaikan panggilanku,huh terserah"Yura merajuk bahkan tangan gadis itu sudah terlipat didepan dada dengan bibir yang memaju beberapa senti,dengan kaki yang ikut naik keatas sofa dan melipat antara satu sama lain.


Niat yura ingin ikut memandikan pertarungan terurungkan dan memilih menonton saja.


Pertarungan terus terjadi dengan atau tanpa senjata.

__ADS_1


Dor


Dor


Bugh


Dor


Yura menyaksikan dengan seksama,sangat seru dua puluh orang bisa mengimbangi lima puluh orang yang menyerang dengan brutal.


Beberapa kali tembakan dilayangkan,tidak ada yang mengenai Yura,yang notabenya duduk di tengah-tengah antara perang.


Semua tergeletak hanya tinggal satu dari pihak musuh yang masih berdiri dengan pistol yang menempel dibelakang kepalanya.


Mansion sudah porak-poranda dibagian lantai bawah yang baru saja terjadi perang singkat,sepertinya beberapa orang dari pihak musuh terluka parah bahkan ada yang meninggal,bercak darah juga ada dimana-mana.


Afra masih duduk di kursi rodanya dengan memutar-mutar pistol yang sejak tadi ia pegang,senjata pria lumpuh tersebut belum menyentuh,karna semua musuh sudah dikalahkan anak buahnya.


Azkara mendorong keras pria berpakaian ninja serba hitam hanya terlihat mata saja kearah afra dengan masih ditodong senjata.


Pria itu mau tidak mau maju selangkah saat merasakan dorongan yang lumayan keras dari belakang,entah apa tapi perasaannya kali ini terasa dejavu saat tatapannya beradu dengan seseorang.


Seseorang yang baru saja beradu tatap dengannya tersenyum tipis lalu kembali dengan wajah datar,seolah ia tidak melakukan apapun.


Teman-teman dari pria ninja tersebut sudah diikat sebagian dengan posisi bersimpuh,dan sebagian yang terluka parah,entah terkena tembakan atau patah tulang dibiarkan saja bersama mereka yang meninggal.


Azkara menendang tulang kering pria didepannya sangat keras hingga pria itu bersimpuh sebari meringis.


Tidak melawan adalah jalan terbaik untuknya saat ini mati atau hidup ialah hadiah dari misi itu sendiri,namun pria itu masih berharap untuk bisa hidup.


Masih dengan posisi semula Azkara angkat suara,"tuan saya menemukan pengenal dileher salah satu penyerang,mereka dari kelompok eagles,mereka kumpulan gangster dinegara ini dengan pekerjaan apapun yang dibayar tinggi,sepertinya mereka hanya suruhan tuan"ujar Azkara memberitahu apa yang ia dapatkan saat sedang bertarung dengan salah satu pria berpakaian ninja yang sempat ia rebut nyawanya dengan paksa,dengan cara memenggal kepalanya,sebelum pemenggalan terjadi kain yang menutupi leher pria yang ia rebut nyawanya,terlepas menampilkan tato bergambar abstrak yang cukup familiar dimatanya.


"Berapa bayaran kalian"ujar Afra masih memutar-mutar pistol ditangannya tanpa menatap kearah lawan bicara.


Hening,pria itu tidak bergeming tanpa suara.


"Katakan!"ujar Afra tajam.


"Akan aku bayar tiga kali lipat jika kau mengatakan siapa yang sudah menyewa kalian"ujar Afra penuh penekanan dengan ujung pistol yang sudah didahi pria ninja tersebut.


Pistol ditekan kearah dahi dari pria ninja yang masih tidak bergeming, "Sebatas perantara"Afra menekan setiap kalimat,jujur saja dirinya pernah menyewa mereka dengan hasil yang memuaskan,dirinya juga tahu bahwa gangster bayaran tersebut sangat setia dan memegang janji mereka,disini jugalah kesabarannya diuji saat menjadi sasaran.


"Sebentar"ujar Yura membuat atensi Azkara mengarahkan gadis yang masih saja duduk disofa dengan posisi santai seolah tidak terjadi apapun,Azkara sempat heran namun mendengar bahwa dia salah satu pembunuh bayaran dari kelompok bernama 'Than'yang sedang mencoba melarikan diri,pria itu mencoba mengabaikannya dan percaya saja untuk saat ini,tidak ada pilihan lain.


"Apa nama gangster mereka tadi?" tanya Yura.


"Eagles "jawab Azkara membuat Yura terbelalak,entah kenapa reaksi gadis itu berlebihan semua itu tidak lepas dari pandangan Azkara.


"Eagles"guma Yura seketika menegakkan tubuhnya dan menatap pria yang sedang bersimpuh di hadapan afra dan Azkara dikedua sisi.

__ADS_1


"Ada masalah?" tanya Afra menatap Yura yang menunjukan raut berlebih.


__ADS_2