
Seminggu sudah berlalu sejak mereka menginjakan kaki dinegara ch,keseharian bagi ketiga gadis itu berubah drastis,sebelumnya bagi mereka setiap hari hanya membuat masalah entah untuk diri sendiri atau orang lain,tapi seminggu ini mereka hanya bersantai dikediaman mendiang anka abana dan Xia setiap malam tanpa diketahui siapapun mengunjungi makan.
Untuk seorang atasan dan asisten itu mereka berdua berlaga tidak tahu malu,mereka menjadikan kediaman mendiang Anka Abana menjadi tempat mereka pulang karna Xia tentunya,Afra menjadi lebih mendominasi untuk mendapatkan hati Xia walau gadis itu tidak berubah sama sekali.
Untuk hari ini mereka memiliki acara yang akan mereka hadiri secara terpisah.
"Siapa yang akan menyetir?"tanya Yura setelah dirinya mendudukan diri disofa.
"Kau"jawab Xia dengan tatapan teduh terhadap ponsel.
"Tidak mau!, aku bukan supir"tolak nya tegas.
"Anak buahku yang akan menyetir"ujar Afra yang tengah duduk dengan pakaian santai dikursi roda.
"Harusnya memang begitu,untuk apa kaya jika tidak dimanfaatkan"ujar Yura jutek.
Tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar dari anak tangga mengalihkan atensi mereka.
Mereka terdiam melihat siapa yang menuruni anak tangga,disana seorang gadis memakai gaun berwarna hitam mengembang dibagian bawah tanpa lengan dengan belahan dada berbentuk v dan rambut panjang digerai,dengan wajah di make-up tipis membuat gadis itu semakin cantik dengan tatapan datarnya.
"Xia"ujar gadis itu setelah di hadapan mereka.
Prok-prok
Yura yang bertepuk tangan dengan ruang sebari berdiri dan menatap Anna dengan tatapan kagum,"Kakak kau sangat-sangat cantik,,"
"Jika rain melihat ini dia akan mengamuk,,"pikir Yura sebari terkekeh.
"Ada yang lucu?"tanya Azkara yang sejak tadi bersama mereka dengan pakaian formal.
"Tentu ada!"jawab Yura,"Kakak aku akan memotret mu"sambungnya sebari mengambil ponsel dimeja.
"Jangan cari masalah!"ujar Xia mengetahui rencana Yura.
"Ck hidup tanpa masalah?,tidak ada Xia!"ujar Yura mulai melancarkan aksinya sebari tersenyum miring.
Setelah selesai mereka mulai menuju tujuan.
Afra diundang dalam acara rekan bisnisnya,namun semua itu diheandel Azkara yang akan datang bersama Anna atas usul Yura untuk mendekatkan pasangan itu walau entah kenapa hati Yura terasa sesak.
Dan sisanya akan datang memenuhi undangan makan malam nyonya ananta amlias tadi pagi.
Dimobil yang berisi Azkara dan Anna hanya keheningan tidak ada yang memulai percakapan sebab mereka memang belum berbicara sedekat itu,jujur saja saat melihat Anna yang memakai gaun hitam panjang seperti penampilan nya malam ini Azkara terpesona dengan kecantikan gadis yang dijuluki manusia robot itu.
Namun seketika bayangannya penuh dengan wajah Yura,entah kenapa dirinya pun tidak mengerti.
"Apa saya boleh bertanya?" suara Azkara memecah keheningan malam.
"Hmm"jawab Anna hanya menatap lurus tanpa ekpresi.
"Berapa usia anda? "
"Dua puluh tiga"
Azkara menganggukan kepalanya,"Apa kau keturunan Jepang? "
"Bukan"
Azkara kembali mengangguk ingin kembali bertanya namun ia urungkan sebab mereka sudah sampai di tujuan.
Azkara membukakan pintu mobil untuk anna,didepan sana banyak wartawan yang sudah siap dengan kameranya,mereka terlihat berbisik sebari memotret,mereka menanyakan siapa gadis yang bersama asisten dari pengusaha terkenal disini itu,mereka tahu betul pengusaha dan asistennya itu tidak pernah memboyong gadis disaat acara apapun.
Karna mereka terkenal dengan ketidak sukaannya dengan wanita hingga membuat opini bahwa mereka gay,dan tidak ada yang berani untuk menyebarkan opini mereka itu sebab mereka masih sayang dengan nyawa.
Azkara membantu Anna untuk mengangkat ujung gaunnya setelah mendapat izin gadis itu tentunya.
"Anda tenang saja Anna,saya akan menjaga anda disini!"bisik Azkara berpikir anna gugup.
"Tidak tau siapa yang melindungi siapa"jawab Anna sebari mengedikan bahunya masih mempertahankan wajah datar dengan tatapan tajam seolah waspada dengan sekitar.
Ditempat Afra dan kedua gadis lainnya mereka juga sudah sampai dikediam utama keluarga Amlias.
Mansion keluarga ini sangat mewah dengan warna emas,saat sampai dikediaman mereka disambut semua pekerja dirumah itu bersama sang tuan rumah.
"Akhirnya kalian sampai,,mommy pikir kalian tidak akan datang"ujar Ananta Amlias berbinar sebari melangkah mendekati mereka yang sedang mendekat kearahnya.
"Kami pasti datang nyonya,kami ingin melihat bagaimana kediaman keluarga Amlias hingga putranya tidak ingin pulang"ujar Yura sebari melirik Afra yang sedang berbicara dengan tuan Alaran Amlias disamping Xia.
Nyonya Amlias terkekeh mendengar sindiran halus untuk putranya itu.
__ADS_1
"Selamat malam nyonya"sapa Xia datar.
"Ah ya selamat malam sayang,,mari kita masuk"jawab Ananta Amlias tersenyum kecut mendengar nada formal dari gadis itu.
Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara gerbang terbuka dan masuk sebuah mobil dalam halaman mansion keluarga Amlias.
Mereka terus menatap mobil yang baru datang hingga turun kedua pria seumuran afra dengan pakaian formal,mereka berjalan mendekat kearah kerumunan dengan senyum lebar dibibir.
Ananta Amlias yang melihat mereka datang tersenyum senang,sedangkan sisanya hanya datar.
Yura memicingkan matanya meneliti satu wajah yang menurutnya seperti familiar.
"Savior Jensyns"suara langsung menoleh kearah Xia.
"Savion Jensyns?,,,Jensyns"Yura terdiam sebari memegangi dagunya"Ahh sepupu kakak ipar ternyata"ujarnya tersenyum.
Setelah acara sapa menyapa mereka langsung melakukan acara utama dengan keheningan hanya suara dentringan sendok dan garpu.
Barulah mereka berkumpul diruang keluarga setelah makan malam.
" Ahh apa nyonya Amlias tidak ingin memperkenalkan calon menantunya?"ujar Rayma menggoda sang ibu sahabatnya itu,mereka cukup dekat dengan Ananta Amlias sebab wanita itu sangatlah ramah.
"Kau ini Ray,,jangan membuatnya tidak nyaman,,Lara perkenalkan mereka berdua adalah sahabat Afra"Ananta memperkenalkan mereka dengan canggung sebab Xia hanya berbicara saat menyapanya tadi.
"Bibi aku akan memperkenalkan diri sendiri saja,,,Hai nona-nona cantik perkenalkan aku Rayma Nicolas sahabat pria kaku itu"ujarnya sebari menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Dan aku Savion Jensyns,,aku adalah pria tampan yang banyak dikagumi wanita"ujarnya sombong sebari melakukan hal yang sama dengan Rayma.
"Benarkah?"tanya Yura sebari tersenyum mengejek.
'Tentu saja!"jawab savion jensyns lalu memicingkan mata melihat gadis yang baru bertanya itu,"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"pertanyaan itu berhasil membuat mereka tertarik.
"Benar saya juga merasa begitu,,apa kita pernah bertemu sebelumnya nak?"tanya Ananta Amlias.
Rayma menurunkan tangannya sebab perkenalan mereka malah teralihkan dengan pertanyaan lain begitupun savion yang lebih tertarik dengan pertanyaan ini.
"Benar nyonya,sepertinya anda melupakan itu,saya pernah bertemu dengan nyonya dan tuan Amlias sebelumnya dan berbincang sebentar,,saya Yura Arlia"jawab Yura sebari tersenyum aneh.
"Yura arlia?"guman Savion Jensyns.
"Ah begitu,kami sepertinya memang melupakannya "ujar Ananta membenarkan.
"Dan nona cantik satu lagi?"tanya rayma.
"Biar saya perkenalkan,,dia Xlara Zadrianka,,,adik saya"jawab Yura membuat Savion berguman.
"Xlara Zadrianka"
"Wah nama yang cantik seperti orangnya"ujar Rayma sejak tadi mereka merasakan aura menyesakan yang dikeluarkan salah satu orang yang duduk bersama mereka.
"Lara kalo boleh tau selama lima tahun ini kamu tinggal dimana nak?"tanya Ananta.
"Xia,,panggil saya Xia nyonya!"ujar Xia dengan nada datar membuat orang disana menatapnya tak berkedip,bagi sebagian orang itu semua biasa tapi tidak dengan beberapa orang.
"Kenapa memangnya nak?"
"Hanya ingin"jawab Xia mencoba sopan selama lawan bicaranya tidak menyinggung hal yang tidak ia inginkan.
"Apa boleh mommy memanggil mu Lara saja nak?,,seperti dulu"
"Tidak!"jawab Xia datar dan tidak tegas.
"Baiklah,,kami akan memanggilmu Xia"suara itu bukan dari nyonya Ananta melainkan jawaban Alaran mengiyakan saja dia tidak ingin hubungan mereka semakin memburuk.
"Bagaimana dengan pertanyaan mommy yang tadi?,,selama lima tahun ini kamu berada di mana?"sambung Alaran.
"Saya rasa anda sudah tau bukan tuan?"ujar Xia malah bertanya.
Suasana menjadi semakin canggung dengan Xia yang masih tidak menerima pertemuan antara sahabat ayah angkatnya itu,mulut mengatakan menerima maaf tapi tidak dengan hati begitulah keadaan Xia sekarang namun sebisa mungkin ia berbicara sopan,menghargai mereka sebagai sahabat sang ayah angkat.
"Sepertinya keluarga ini akan menjadi kutub utara,,hanya bibi Ananta yang memiliki sifat manis"bisik Rayma terhadap Savion yang terus berperang dengan pikirannya.
Rayma menoleh sebab temannya itu sejak tadi hanya diam,entah kenapa mulut pria payboy itu terus diam sejak mengetahui nama dua gadis itu,"Ck malah ngelamun"
"Ini sudah malam bagaimana jika kalian menginap saja disini?"ujar Ananta mengalihkan pembicaraan.
"Apa kami juga ditawari bibi?"tanya Rayma dengan nada ramah membuat alaran menatap pria itu tajam sebari berdecih.
Kedua sahabat anaknya itu payboy pantai yang akan melotot jika bertemu wanita.
"Tidak!,kalian pulang saja sana!"usir tuan Alaran sebari menatap pria itu sengit.
__ADS_1
"Paman bukan termasuk pria tidak tau terimakasih bukan?,,,kami sudah membantu anakmu itu"ujar Rayma.
"Ck memang bukan!,,ucapkan apa yang kalian inginkan lalu pergi dari sini!"usir nya tegas.
"Kami akan memikirkannya,,sebari berpikir kami akan menginap disini,,benar begitu tuan savion jensyns "ujar rayma sebari menyenggol lengan Savion diujung kalimatnya.
"Ck kenapa kau ini?" tegas Savion terusik dari lamunanya dengan kesal.
'Itu pertanyaan ku bodoh,,kau kenapa sejak tadi melamun saja?,,,memikirkan perjodohan yang akan gagal itu?"tanyanya mengejek.
"Kau!"
"Diam!"suara tegas Afra membuat mereka diam.
"Aku punya teman"guman Yura tersenyum senang melihat sahabat Afra.
"Bagaimana menurutmu Xia,,apa kamu mau menginap disini atau kita pulang?"tanya Afra mengubah nada tegasnya menjadi lembut membuat kedua sahabatnya menatap tidak percaya.
"Hah yang benar saja,,apa dia kerasukan?"guman mereka sepemikiran sebab sikap lembut pria itu hanya selalu diperlihatkan hanya pada satu wanita yaitu ibunya.
"Kita?,ini rumah anda jika anda lupa tuan muda Amlias"sindir Xia"saya akan menginap jika tidak merepotkan "jawab Xia membuat senyum di bibir kedua paruh baya disana merekah.
"Tentu saja tidak merepotkan,," jawab cepat Ananta dengan senyum tertahan.
.
.
.
Pesta berlangsung dengan meriah dalam rangka ulang tahun pernikahan seorang pebisnis,,semua berjalan dengan lancar.
"Maaf nona anda selalu saya tinggal"ujar Azkara tidak enak sebab sejak tadi ia selalu diajak bercengkrama dengan relasi bisnis.
"Hmm,kapan kita pulang?"tanya anna sebari menggoyangkan gelas yang ia pegang hingga isinya bergerak beraturan.
"Kita bisa pulang sekarang"jawab Azkara membuat Anna mengangguk setuju.
Anna hendak menaruh gelas yang ia pegang keatas meja namun sebelum itu sesuatu menabraknya hingga gelas itu limbung dan terjatuh.
Duk,,,
Azkara terkesiap ketika tiba-tiba seorang anak kecil sudah dalam pangkuan anna.
Azkara pikir anak itu akan terkena gelas yang jatuh setelah menabrak Anna dengan kencang.
"Kau tidak papa?"tanya Azkara panik.
"Hmm"jawab Anna sebari menurunkan anak kecil yang ia gendong.
Anak itu terdiam,sepertinya dia syok dengan apa yang terjadi dengannya secepat kilat,tiba-tiba sudah didalam gendongan seorang wanita cantik.
"Kau tidak papa nak?"tanya Anna dengan nada lembut membuat Azkara kembali terkesiap melihat hal yang baru pertama kali ia lihat ini.
Anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya lirih lalu menundukan kepala,"Maaf bibi"ujarnya menyesal.
"Tidak papa,lain kali jangan berlarian ditempat ramai"
"Baik bibi,,terimakasih sudah menolongku"ujarnya kini mengakat kepalanya.
"Apa bibi terluka?"tanya anak kecil itu polos.
"Tidak!,,kau disini sendiri?"tanya Anna
Melihat anak itu berlarian seorang diri.
" Kau anak dari pemilik pesta bukan?"tanya Azkara ternyata benar sebab anak itu mengangguk.
"Iya paman,,aku tadi sedang bermain petak umpet dengan teman-teman ku,maaf kan aku sudah menabrakmu bibi"ujar anak itu penuh sesal.
"Baiklah,bibi maafkan,,jangan diulangi lagi"Anna berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak kecil berusia tujuh tahun itu,lalu membisikan sesuatu pada anak itu hingga sang anak mengkerutkan keningnya.
"Aku harus melakukan itu bibi?"tanya anak itu memastikan.
"Iya,,pergilah dan ajak teman-teman mu"jawab Anna sebari mengusap rambut anak itu.
"Baik bibi,sampai jumpa bibi paman"ujarnya lalu berlari pergi.
"Kau mengatakan apa pada anak itu?"tanya Azkara heran sebab Anna terlihat membisikan sesuatu dengan anak kecil tadi.
"Memintanya bermain ditempat lain"jawab Anna kembali tegas dan datar lalu berjalan lebih dulu untuk meninggalkan pesta disusul Azkara dibelakang gadis itu.
__ADS_1