MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Dalaman


__ADS_3

Yura mengambil Hairdryer yang ditaruh di depan wajah Xia,dan membuka handuk yang menutupi rambut gadis itu.


Xia membenarkan posisi duduknya dan menjuntailah rambut panjang sepinggul nya dengan air yang menetes.


Membuat kedua pria yang tak tahu malu itu melongo,heran,karna mereka baru tahu gadis kecil itu memiliki rambut begitu panjang.


Biasanya gadis itu mencepol rambutnya tidak pernah berubah gaya selama mereka bertemu.


"Panjang"guman kedua pria itu tanpa berkedip melihat rambut Xia yang panjang nan hitam dengan buliran air yang menetes kelantai.


Yura menyalakan Hairdryer dan mulai mengarahkan arah angin ke rambut Xia dengan jari jemarinya mengurai bahkan menyisir.


Tanpa diberitahupun Yura sudah tau,kenapa gadis itu memanggilnya apalagi saat melihat handuk yang melingkar dirambutnya.


Gadis yang sudah ia anggap adik itu,terbilang manja,rasanya belum pernah ia mengeringkan rambut sendiri bahkan untuk menyusun rambutnya saja ia meminta bantuan salah satu keluarganya.


Orang yang mengatakan jika gadis itu dingin,pendiam,acuh tidak sepenuhnya benar karna ia begitu terhadap orang asing saja.


"Kau tau?,kita sudah jatuh tertimpa tangga pula"lirih yura di sela sela ia mengurai rambut xia.


"Aku tau"jawab pelan Xia sebari menejamkan mata,merasakan sensasi angin dari hairdryer.


"Kau tahu?, kau tahu rumah kita ludes terbakar?"tanya yura sebari menaikan sebelas halisnya.


"Hmm"


"Ah sial,seharusnya aku sudah tahu itu"cibir Yura untuk dirinya sendiri,untuk apa bertanya demikian gadis itu pasti sudah tau"apa pelakunya orang yang aku pikirkan?"


"Hmmm"


"Perampokan juga?"tanya Yura lagi-lagi namun kini dengan raut wajah kesal.


"Hmmm"


"Ah sial,aku akan membalas mereka"ucap Yura kini kilatan amarah tersorot dari matanya.


"Akan ku bantu"ucap Xia.


Xia mengetahui saat rumah mereka hendak dibakar,seorang pengawal memberitahunya.


"Harus,kita dirugikan,maka mereka juga akan merasakan hal yang sama"


"Dengan harga yang sama"timpal Xia


"Bagaimana dengan oleh-oleh yang kau bawa?,apa mereka aman?"tanya Yura sebari menunjukan khawatiran.


"Hmm"


"Jangan hmm,hmmm saja katakan dengan kata-kata kau menyebalkan"ucap Yura dengan tegas sampai kedua pria yang tadinya tidak mendengar pembicaraan mereka jadi terlonjak kaget dan menatap kedua gadis itu.


Bagaimana Yura tidak kesal,ia sudah kesal dibuat semakin kesal dengan jawaban singkat dari gadis yang sudah ia anggap adik itu,ya walaupun memang setiap saat begitu.


Xia mendongkak melihat wajah Yura yang tengah manyun,lalu tersenyum mengejek"melatih kesabaran"


"Diam kau,mode kulkas mu buang dulu aku butuh teman adu bacot"


"Kak Azkara"ucap Xia merekomendasikan orang yang bisa diajak adu bacot oleh Yura.


"Dia pria bermulut ibu-ibu,mendengar namanya saja sudah membuat aku semakin kesal"


Xia menggelengkan kepalanya"benci akan menjadi cinta"


"Cih kau kebanyakan baca novel"ucap yura semakin dibuat kesal.


"Asli"


"Asli kau kebanyakan nonton dan baca novel sampai otakmu diisi fiksi belaka,yang membuat bodoh"cibir Yura sebari mendorong kepala Xia menggunakan jarinya kedepan.

__ADS_1


"Jika bodoh bagaimana mungkin sebentar lagi aku lulus s1"ucap Xia menyombongkan diri.


Yura semakin memajukan bibirnya kesal,ya Xia segera lulus s1 diusinya yang baru berusia 19tahun ini,dan dirinya juga akan lulus tahun ini namun usianya kini 20tahun,itu artinya ia kalah pintar dengan Xia.


"Cih sombong"ucap Yura mati kutu dan sebagai pelampiasan ia sedikit menarik rambut Xia sampai siempunya meringis dan memukul tangan yura agar tidak main-main dengan rambutnya.


"Makanya diam atau aku jambak rambutmu"kesal Yura.


Bukannya gadis itu yang tadi meminta adu bacot kenapa sekarang meminta diam,sungguh anehnya dirimu Yura.


"Kepang"pinta Xia tidak menanggapi ancaman yura.


Rambut Xia sudah dikempang satu menjuntai ditambah jepitan kecil bergambar pita berwarna biru disisi kanan bagian depan.


Setelah selesai membantu Xia mereka turun untuk makan


Mereka makan seperti biasa.


Afra dan Azkara sudah biasa dengan mendengarkan percekcokan diantara kulkas dan induk ayam yang baru bertelur dimeja makan.


Beberapa hari sudah membuat mereka tahu akan kebiasaan kedua gadis itu.


"Hmm,aku ingin bertanya?"ucap Yura sebari menatap Afra dan Azkara bergantian.


Afra dan Azkara selalu satu meja saat sedang makan karna selain bos dan bawahan,mereka juga memiliki ikatan persahabatan.


"Apa?"tanya Azkara.


"Kalian yang menyediakan baju untuk kami?,magsudku siapa yang membeli pakaian untuk kami?"tanya Yura ia heran saat melihat kamar yang tuan rumah sediakan untuk mereka.


Mereka menemukan baju ganti seukuran mereka dilemari,apa pemikiran awalnya benar bahwa mereka.


Penguntit?.


"Kami"jawab Azkara tanpa ragu.


Pakaian yang ia sendiri pilihkan.


"Apa kamu tidak suka sayang?"tanya Afra terhadap xia yang duduk didepannya


"Bagus"jawab jujur Xia karna memang baju dilemari itu adalah gayanya.


Simpel


Hati Afra berbunga hanya dengan sedikit pujian bahkan ia merasakan ada banyak kupu-kupu yang menggelitik diperutnya.


"Bukan itu masalahnya"ucap Yura


"Wanita ini repot sekali si,dia tidak tau bagaimana pandangan orang saat melihatku membeli pakaiannya"keluh Azkara dalam hati.


Ia dipandang aneh bersama tuannya saat membeli pakaian untuk gadis-gadis itu,pasalnya Afra memilih bahkan membeli sendiri dimall.


Afra bahkan memintanya untuk memilihkan pakaian untuk gadis bernama Yura itu sebagai perintah.


Azkara tidak bisa menolak,dan gadis itu ingin berkomentar buruk,oh tidak akan Azkara biarkan.


Kerja kerasnya tidak boleh sia-sia.


"Lalu apa?,jika kau tidak suka tidak usah dipakai,lepaskan!"ucap tegas Azkara pasalnya yura juga sudah memakai salah satu pakaian yang ia pesan.


"Dengarkan dulu,tidak usah marah-marah,kau sudah seperti ibu-ibu saja banyak sekali mengoceh,lebih baik diam dan dengarkan"ucap geram Yura karna Azkara selalu membuatnya naik pitam.


"Beneran kalian yang membeli pakaian untuk kami begitu juga dengan **********?"tanya Yura kembali membuat mereka bertiga terdiam.


Xia dengan wajah cengo menatap Yura apa bisa gadis itu sedikit punya malu,rasanya ingin menghilang saja.


Begitu juga Azkara dan Afra mereka tidak menyangka gadis itu akan membahas hal yang begitu sensitif.

__ADS_1


"Kalian membelinya sendiri?"pertanyaan itu diangguki pasrah orang Azkara.


"Siapa yang memilihnya?"


"Diam deh"tegur Xia dengan nada ketus,


Gadis itu malu,malu sekali bisakah author menghilangkan dirinya dibagian ini.


"Aku kepo tau,siapa yang membeli dalaman ku yang begitu pas,aku ingin memberi hadian"ucap Yura sebari cemberut.


Yura kepo siapa yang membelikan penutup dadanya dengan ukuran yang pas untuk ia pakai.


Afra menunjuk Azkara yang wajahnya sudah memerah karna malu.


"Kau!,kau yang memilihnya?"Azkara mengangguk lemah.


"Kau!"Yura bediri dengan mata setajam pedang dan nafas naik turun.


Yura menunjuk wajah Azkara dengan mata setajam pedang lalu menggeser kursi dan mendekati azkara,yang duduk didepannya.


Xia memijat pelipisnya dan pergerakan itu tidak lepas dari pandangan Afra.


Setelah didepan Azkara,Yura susah payah menarik Azkara untuk berdiri dan menariknya untuk pergi ketempat luas.


"Hei apa yang kau lakukan?"pekik Azkara kesal dan tetap mempertahankan diri untuk tidak ikut dengan gadis itu.


Bukan Yura namanya jika ia kalah.


Matanya masih setajam pedang dan memandang Azkara dengan pandangan permusuhan.


Yura melepas tangan yang memegang tangan azkara tanpa ba bi bu Yura melancarkan aksinya.


Bug


"Akhh"ringis Azkara terhuyung kebelakang dan mengenai meja.


Untung tidak mempengaruhi keseimbangan meja.


"Apa yang kau lakukan nona!"kesal Azkara sebari memegangi perutnya yang ditinju yura.


Kini pandangan Azkara juga setajam pedang dan suasana menjadi dingin.


Dengan dua orang yang memancarkan aura permusuhan.


"Kau,kau membeli pakaian dalam untukku!,kau!"Yura menunjuk wajah Azkara dengan telunjuknya.


"Kau pikir kau saja yang bermasalah dengan itu,aku juga,kau tidak tau betapa malunya aku saat membelinya"pekik Azkara


"Kau membeli langsung di mall?"tanya Yura sebari menaikan sebelah alisnya.


Xia juga menaikan sebelah halisnya dan menatap Afra,Afra yang mengerti kenapa gadis itu menatapnya hanya mengangguk lemah.


Mengingat hal yang tidak akan mereka lupakan saking malunya.


Ya mereka memilihnya sendiri,namun untuk hal sensitif itu mereka asal pilih dan ambil karna malu dengan tatapan pengunjung lain.


"Iya"jawab ketus Azkara dan hal mencengangkan terjadi.


Yura yang tadinya memancarkan aura permusuhan karna merasa dilecehkan atau dikuntit.


Kini tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Lucu?"bentak Azkara.


Azkara semakin kesal karna masalah ini ia jadi trauma dan gamau lagi-lagi.


"Tentu,membayangkan kalian memilih benda keramat itu,sangat-sangat lucu,seharusnya kalian merekamnya agar kami bisa melihat ekpresi kalian"jawab Yura dengan suara bergetar karna sambil tertawa.

__ADS_1


Xia melipat bibir dengan bahu yang bergetar menahan tawa,benar kata yura,pasti kedua pria itu sudah kehilangan muka.


__ADS_2