
"Xia apa magsudmu?"tanya Yura dengan wajah kesal sejak kapan saudarinya itu memiliki otak sepicik itu,,,ya memang otak Xia selalu picik namun hanya akan merugikan musuh apa balla anak dari musuhnya?'pikir yura begitu juga Ansya.
"Xia kamu melakukan hal itu?"tanya Ansya yang ikut dibuat kaget dengan jawaban yang keluar dari gadis terkecil usianya dari mereka,bahkan mereka sempat terdiam saking kagetnya,"Kenapa?,,,apa dia anak dari musuh?"
Xia menghela nafas"Leptop ku dikamar semuanya ada disana!"jawab Xia membuat kedua gadis itu diam dengan kesal,,bukannya menjawab malah memerintah ayolah kesabaran mereka setipis tissue sebentar lagi akan meledak.
"Xia,,,"Yura menghentikan perkataannya saat melihat Xia mengodenya untuk diam menggunakan tangan.
"Ayo!"ajak Xia lalu dirinya lebih dulu pergi disusul kedua saudarinya,untuk Anna ia diminta bergerak seperti gadis biasa tidak menandakan kehebatannya dan jangan sampai pekerjaannya sebagai pengawal Xia terbongkar bisa membuat rencana Xia gagal.
Anna gadis yang lebih banyak bertindak dari pada berbicara,gadis itu sangatlah hebat bahkan bisa menjatuhkan semua pengawal elite yang mengawal dengan beberapa detik,membunuh seratus orang dalam hitungan menit,keahliannya dalam memainkan katana akan terlihat tengah menari dengan benda tajam itu saat ada di medan pertarungan,,Anna jugalah yang menjadi guru untuk bertarung ketiga gadis tadi.
Perkataan Anna bisa dihitung dalam setahun karna sangat irit berbicara,,gadis itu pengawal yang diberikan dari kakek Xia dari pihak ibu saat ia kembali sampai sekarang,,Xia meminta gadis itu untuk bersikap normal seperti gadis biasanya namun versi gadis biasa dalam pikiran Anna hanya seperti ini.
Diam,hanya diam,jika biasanya diamnya di penuhi aura kekejaman kali ini ia harus bisa menghilangkan aura itu agar tidak merusak rencana sang nona,,rencana menyangkut dirinya.
Sedangkan disisi Azkara,pria itu terdiam dikursi yang sama saat ia minum air putih,,kursi berbunyi saat digeser,dirinya bergegas pergi dari dapur tergesa-gesa setelah mengingat sesuatu hal yang ia lupakan.
Tok-tok-tok
Ketukan pintu terdengar.
"Masuk!"
Azkara membuka pintu setelah diberi ijin sang tuan, dirinya kembali kekamar sang tuan sang sejak tadi di penuhi aura mencekam dari sang taun sendiri.
"Maaf tuan menganggu waktu istirahat anda,ada yang harus saya sampaikan "ujar azkara penuh hati-hati setelah melihat respon sang tuan azkara kembali berkata,"Anda mendapat undangan pesta pertunangan dari tuan lykalos tuan "
"Kapan?"
"Beberapa hari lagi tuan,,apa anda akan datang?"tanya Azkara walau tau jawabannya tidak seperti biasanya jika ada undangan pesta,tuannya itu tidak suka dengan keramaian jadi dirinya hanya sesekali datang ke sebuah acara yang menurutnya sangat penting saja.
"Tidak!"jawab Afra sesuai tebakan azkara.
"Baik tuan,,mmm ada yang saya ingin sampaikan lagi tuan"ujar Azkara
"Hmm"
"Beberapa menit yang lalu saya tidak sengaja mendengar obrolan nona-nona tuan"Afra mendelik tajam kearah azkara membuat pria itu segera menjelaskan agar tidak ada kesalahan pahaman.
Ya dirinya tadi mendengar semua obrolan para gadis itu,bukan menguping!hanya mendengarkan saja, karna suara mereka terdengar kearah dapur dimana ada dirinya,,
Jika orang lain pun pasti akan mendengarnya karna itu tanpa sengaja.
"Maaf saya lancang tuan,,tapi saya tidak sengaja mendengarnya"
"Jelaskan"potong Afra
"Saya mendengarnya saat saya berada di dapur dan posisi nona-nona berada di ruangan tepat disamping ruangan dapur,,saya mendengar mereka membicarakan tentang Balla"
"Balla?,,siapa dia?"
"Dia gadis kecil yang dibawa ke mansion tempo hari tuan"Afra mengingat gadis kecil yang disebut akan Azkara.
"The de poin!"
"Maaf tuan,,,nona menjual gadis itu dengan alibi perjodohan "Afra terbelalak mendengar penuturan yang di dengan Azkara.
"Kau yakin?"
"Saya mendengarnya sendiri tuan"jawab Azkara jujur.
"Terus awasi mereka!,,,bagaimana dengan penyerangan sudah dilakukan?"Afra mengalihkan pembicaraan,menurutnya apapun yang dilakukan gadisnya akan ia awasi dengan caranya sendiri.
"Sudah tuan baru saja saya mendapat informasi mereka berhasil sebentar lagi beritanya akan segera menyebar, namun,,,namun mereka tidak menemukan keberadaan Dion Saul disana"
"Hmm"afra menyeringai inilah cara dia membalas perbuatan dion saul pria yang berani menyerangnya dimansion,"Dia akan segera muncul! "
Suara ketukan mengalihkan atensi i kedua pria itu,saat Azkara membuka pintu ia melihat gadis cantik tengah menatapnya dengan datar.
"Nona silahkan masuk"ujarnya.
"Bisa bicara?"tanya Xia saat berada didepan Afra yang tersenyum kearahnya.
"Tentu"
"Saya permisi tuan nona"ujar Azkara undur diri.
" Saya tidak suka dilanggar kak Azkara!"ujar Xia membuat Azkara yang hendak keluar tersentak.
"Maaf nona,,saya melakukan kesalahan?"tidak ingin menjelaskan Xia hanya mengibaskan tangannya meminta pria itu pergi agar bisa menyelesaikan urusannya dengan sang tuan pria itu.
Azkara memutuskan mengikuti perintah nona kecil milik sang tuan walau tidak mengerti magsud dari perkataan gadis itu,dari pada kena amukan lebih baik menghindar sejenak.
Azkara mendengar keributan dengan cemas pria itu pergi mengecek arah suara,disana terlihat tiga gadis tengah membelakangi nya diarah dapur dengan keributan yang menggema.
"Kalian sedang apa?"tanya azkara menghampiri mereka.
"Bertani"jawab Yura jutek "Anda buta tuan Azkara yang terhormat jelas-jelas kami sedang didapur!"
Ansya yang berada tepat disamping Yura langsung memukul kepala gadis itu dengan pelan,"Dia hanya basa-basi bodoh"
Yura mendengus sebari mengusap kepalanya yang selalu menjadi korban tangan sang kakak sepupu yang menyebalkan,"terlalu basi tidak enak!"dengusnya semakin jutek dan menjauh dari Ansya.
Azkara dibuat diam dengan sikap Yura yang tiba-tiba jutek ia masih berpikir positif mungkin moodnya sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kau akan terus diam?"bentak Yura kearah azkara sebari melototi pria itu,"ck sini bantu bodoh!"pekiknya semakin kesal.
__ADS_1
Azkara menghela nafas menghadapi mood jutek dari gadis cerewet itu,"saya akan membantu nona"jawab azkara sebari mendekat kearah ketiganya yang sedang berkutat dengan tugas masing-masing.
Yura dan Ansya dibagian memotong sayuran sedangkan patung hidup ups magsudnya Anna dibagian penggorengan kini bersama Azkara.
Yura menghentakan pisau yang ia gunakan untuk memotong bahan makanan yang akan diolah dengan kasar hingga berbunyi keras.
"Kenapa gadis itu?"monolog hati seseorang diantara mereka.
"Kamu ini kenapa?"tanya heran Ansya saat melihat mood kesal dari yura padahal beberapa menit lalu gadis itu bersikap seperti biasanya.
"Tidak tau!,,hanya kesal"jawabnya membuat ansya tersenyum dengan pemikirannya.
Ansya ingat beberapa menit lalu sebelum perubahan mood pada yura,mereka tengah membahas rencana selanjutnya semenjak itulah mood Yura berubah buruk.
"Huh,,,aku akan mengajak Yura menjauh sebentar, kalian lanjut saja memasaknya berdua"ujar Ansya sebari menarik Yura tergesa.
Azkara dan Anna menatap kedua gadis itu,Yura menghentakan tangannya agar terlepas dari genggaman Ansya,"mau membawaku kemana?"kesal Yura menatap tajam kearah Ansya.
"Ck keluar,jika disini villa ini akan meledak"jawab Ansya disertai kekehan yang terlihat menyebalkan dimata Yura.
"Kau!"Yura menunjuk Ansya kesal ditangannya ia masih menggenggam pisau.
"Kamu menantang?"goda Ansya melihat todongan pisau dari tangan gadis itu.
"Ck"yura berdecak sebal dan melempar kesal pisau yang ia pegang kearah Ansya lalu melegang duduk di kursi tepat didepan meja bar.
Ansya menangkap pisau yang dilempar Yura dengan sigap tanpa melukai dirinya,kejadian itu menjadi hari keberuntungan bagi Azkara yang bisa melihat sedikit keahlian dari Ansya,ia tidak heran dengan apa yang baru terjadi itu,dari penyelidikannya Ansya sangat mahir memainkan pisau diarea pertarungan.
"Aku kesal dan tidak tau alasannya, itu lebih menyebalkan dari sekedar membuat Rain kesal,,aaaaaaaaaa hidupku ini kenapa si"gerutu Yura memyandarkan kepalanya kesadaran kursi dan menatap atap.
Ansya terkekeh melihat tingkah absurd dari saudarinya itu,sedangkan Anna hanya melirik sekilas dan melanjutkan memasak berbeda dengan Azkara yang malah memperhatikan tingkah Yura.
"Masalah hati yang bodoh"guman Ansya sebari menarik kursi disamping yura dan menaruh pisau yang ia tangkap tadi keatas meja,"mau bermain?"
"Apa?"tanya yura dengan ketus.
"Kita akan membuat Rain patah hati bagaimana?"tanya Ansya bersemangat,yura menatapnya dengan halus terangkat.
"Bagaimana?"
"Ck sakit hati membuatmu semakin bodoh"cibir Ansya membuat Yura berdecak kesal.
"Siapa yang kamu magsud?"
"Diamlah tidak usah berteriak!"kesal Ansya saat Yura malah berteriak Kearahnya,"jika kamu terus seperti ini kamu akan terjebak,,jangan menjawab"larang Ansya saat melihat Yura menggerakan bibirnya.
Ansya menunjuk dada Yura "masalah ini jangan merusak otak mu"
"Enak saja! ,,aku hanya sedang tidak mood"jawab Yura jujur dia sendiri tidak tau kenapa dengan suasana hatinya padahal beberapa menit lalu ia baik-baik saja.
Entahlah.
"Apa?"
"Ck semakin merusak moodku saja,,apa rencanamu membuat Rain kesal?"
"Ouhhh"Ansya tersenyum lalu melihat kearah Azkara yang sejak tadi bukannya membantu Anna memasak pria itu malah memperhatikan Yura.
"Aku mengerti"ujar Yura tiba-tiba setelah mengikuti arah pandang saudarinya itu,lalu keduanya saling pandang dan tersenyum smirk dan mengangguk.
Keduanya berdiri Yura mengambil ponselnya dan memasuki aplikasi pengambilan gambar,Azkara heran dengan tingkah kedua gadis itu tapi melihat Yura yang tiba-tiba kembali tersenyum membuatnya lebih nyaman.
"Apa anda akan terus diam?"suara dingin mengalihkan kesadarannya dan melihat Anna yang tadi bersuara masih sibuk dengan apa yang dia kerjakan.
"Ah maaf nona"jawab Azkara tidak enak.
"Xia tidak suka dilanggar!"Anna kembali bersuara.
Perkataan Anna mengingatkannya dengan apa yang Xia katakan tadi,Azkara menatap Anna dengan raut bertanya.
Merasakan ada yang memperhatikannya Anna menoleh dan benar saja azkara tengah menatapnya,"nona,,hanya nama"ujar Anna semakin membuat Azkara tidak mengerti.
Azkara bergidig walau interaksinya dengan Anna sudah beberapa kali tapi ia masih merasa aneh dan ada sesuatu hal yang mengganggu hatinya.
Tanpa kedua orang yang sedang memasak itu sadari interaksi keduanya sejak tadi memenuhi galeri ponsel seseorang,bukan tidak menyadari mungkin lebih tepatnya pura-pura tidak sadar.
Seseorang itu adalah Yura yang sejak tadi memotret Anna dan Azkara dari beberapa enggel dibantu Ansya tentunya,kedua orang yang tengah memasak itu terlihat seperti pasangan suami istri yang sedang bermesraan didapur jika dilihat dari gambar yang Yura dan Ansya dapat.
Keduanya puas dengan hasil jepreta mereka,walau seseorang terus merasakan tajamnya pisau menancam didada,seseorang itu memegang dadanya yang sakit padahal tidak ada pisau yang menancap seperti apa yang ia rasakan,,atau pisau itu transparan?,,tidak mungkin!,jika benar tentunya akan berdarah bukan,darah tidak ada yang transparan tentunya!.
"Ferpeck cepat kirim!"ujar Ansya setelah melihat gambar yang mereka ambil,"kirim yang terlihat lebih intim dengan caption si kutub mencair"sambungnya sebari tersenyum,berbeda dengan Yura yang menunjukan raut tidak suka namun tetap melakukan apa yang saudarinya katakan.
Gambar yang terlihat seperti tengah memeluk dari belakang,,kekasih yang saling pandang yang memperjelas wajah Anna dan azkara disana,ada juga foto wajah Anna yang berada didepan azkara terlihat seperti tengah berciuman dengan caption 'kutub mencair' dan pesan lain juga dikirim,'satu langkah lebih maju' disertai emot memakai kaca mata.
Setelah pesan terkirim kedua gadis itu tertawa namun tawa yang dikeluarkan Yura kali ini terdengar berbeda'aneh' terdengar seperti itu,seperti tengah menutupi sesuatu.
"Sebentar lagi dia akan menelepon"ujar Ansya sebari menatap ponsel yang Yura pegang.
Damn it
Benar saja seseorang yang mendapat pesan gambar tadi menelepon dengan tidak sabaran.
Kedua gadis itu lagi-lagi tertawa tanpa menghiraukan dan tidak ada niatan menganggap ponsel yang terus berdering dengan panggilan yang sama terus bersautan,mereka juga menjadi atensi anna dan a
Azkara,berbeda dengan anna yang hanya menatap sekilas,Azkara tidak habis pikir mood gadis itu aneh sekali mudah berubah,sepertinya ia harus berhati-hati jika ingin menjaga kewarasan.
Mereka bersiap makan dengan makanan yang dimasak anna dan azkara.
__ADS_1
"Ckckck kasian sekali Dion saul ini,,untuk apa aku kasihan ck itu namanya karma menculik gadis cantik sepertiku"guman Yura membuat mereka yang satu meja dengannya menatapnya dengan mulu terbuka kecuali tiga kutub,yaitu Xia, Afra dan Anna.
"Tutup mulut jika tidak ingin lalat masuk!"ujar Yura sebari menatap Ansya dan Azkara bergantian,kedua orang itu segera melakukan apa yang Yura katakan.
"Ck kamu merusak nafsu makanku"ujar Ansya sebari mendengus.
"Apa yang aku lakukan?"heran Yura.
" Ck kamu terlalu narsis,,mereka menculik mu karna salah sasaran!"jawab Ansya membuat Yura memutar matanya malas
"Kamu benar"jawab yura malas,"lihat ini! "Yura menunjukan layar ponselnya tepat diwajah Ansya hingga gadis itu mendengus kesal.
"Terlalu dekat bodoh!"Ansya mengambil ponsel diwajahnya dari tangan Yura yang malah terkekeh.
Ansya membaca setiap kata yang ada dilayar ponsel dengan seksama lalu menatap Xia dengan diam.
"Bukan aku!"ujar Xia seperti mengerti raut wajah ansya.
Ansya mengangguk "lalu siapa?"baru saja membuka mulut suara yura lebih dulu mewakilinya.
Xia mengedikan bahunya acuh.
"Memang apa yang kalian bicarakan?" tanya Afra penasaran kenapa gadisnya ditatap penuh tanya kedua saudarinya.
"Mmm ini,,berita diponsel,,,perusahaan Dion saul dinegara ini diserang rombongan orang misterius hingga membakar perusahaan itu"jawab Ansya menjelaskan.
"Itu aku!"
"Uhuk"azkara tersedak mendengar pengakuan sang tuan yang sangat jujur itu,bahkan Anna yang tidak banyak merespon langsung mendelik pria itu dengan tajam,hanya Xia yang melanjutkan makan seolah tidak mendengar apapun.
"Kau?"tanya Ansya dan Yura serempak.
"Hmm"
"Kau membakar perusahaan orang lain?,bagaimana mungkin! ,,,magsudku bagaimana jika ketahuan bukankah itu terlalu berisiko"cecar Ansya seolah mewakili pertanya yura.
"Hanya sedikit balasan dan peringatan,,mereka bekerja dengan baik"jawab Afra melanjutkan makannya.
"Sedikit balasan dia bilang!,ouh ayolah pria itu sangat keren dan cocok dengan Xia,aku orang pertama yang mendukung mereka jika memiliki hubungan"guman Ansya dalam hati
Setelah kejadian Yura diculik gangster Eagles Afra memerintahkan Azkara untuk menyerang perusahaan Dion saul sebagai balasan,,tadinya hanya sekedar membuat keributan di luar gedung namun tiba-tiba Afra memerintahkan mereka untuk membakar gedung perusahaan Dion saul yang sudah bertahun-tahun berdiri di negara ini,untuk kali ini dirinya menyerang dengan menunjukan diri tidak dalam diam seperti yang selalu ia lakukan.
"Membakar!"suara Xia mengalihkan atensi mereka dari Afra kegadis itu,"Rumahku terbakar satu bulan lalu,menurut kalian apa penyebabnya?"tanya Xia dingin sebari menatap pria disampingnya dengan tajam yang tak lain adalah Afra.
Wajah Afra tiba-tiba pucat,sudah lama ia kehilangan rasa takutnya kecuali kehilangan Xia saat ini,susah payah Afra menelan salivannya begitu juga Azkara yang terlihat memucat.
.
.
.
Ditempat lain seorang pria tengah uring-uringan didepan sang kakak berbeda orang tuanya.
Pria usia dua puluh tahun itu terus mondar-mandir dengan cemas.
" Kau bisa diam Rain?"tanya Ken sang kakak sepupu berbeda orangtua,pria itu terlihat terganggu dengan apa yang dilakukan rain.
"Tidak bisa!,aku harus bertemu paman kak!,kapan dia kembali?"tanya Rain menatap kearah sang kakak yang sedang bekerja.
"Tiga hari,kenapa memangnya?"
Rain langsung terduduk dilantai marmer dengan lemas,"lama sekali,,paman juga tidak mengangkat telepon ku"ujarnya sendu.
"Kenapa?"
"Kakak tidak akan menjawab pertanyaanku!"jawab Rain dengan percaya membuat Ken menggelengkan kepalanya.
"Pergilah!"
"Kakak mengusirku?"tanya Rain masih terduduk dilantai.
"Iya"
"Kakak tidak punya perasaan,,aku sedang patah hati,,,walau kakak tidak pernah merasakannya setidaknya prihatin lah dengan keadaanku"keluh Rain membuat Ken mendengus.
"Kamu hanya memiliki cinta sepihak tidak usah bangga"cibir Ken membuat rain mendengus.
Benar yang dikatakan Ken barusan Rain memiliki perasaan terhadap seorang gadis yang usianya berbeda jauh dengannya,bisa dikatakan dirinya lebih muda dari sang pujaan hati,dan perasaan itu hanya sepihak darinya saja sang gadis menolaknya namun ia terus berusaha.
Saat melihat gadis yang ia suka terlihat mesra dengan pria lain walau hanya lewat foto membuat dirinya cemburu dan uring-uringan.
Beberapa jam yang lalu dirinya mendapat kiriman dari saudarinya yang sedang bersama pujaan hatinya,dari pesan itu ia melihat foto gadis itu tengah dipeluk dari belakang oleh seorang pria yang entah siapa,ada juga foto keduanya yang tengah saling tatap,bahkan dari foto terakhir yang ia dapat,rain melihat gadisnya terlihat seolah tengah mencium pria itu sangat menyesakan hati,tidak hanya itu ada tulisan yang membuat dirinya semakin uring-uringan.
Setelah mendapat pesan Rain menelepon Yura sang pelaku pengirim pesan namun gadis itu tidak menjawab,sudah sepuluh panggilan memutuskan dirinya untuk menelepon Xia hanya gadis itu yang akan mengangkat panggilannya,ia yakin gadis itu bukan dalang pengiriman foto.
Dan benar Xia menjawab panggilannya namun ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan,Xia malah memintanya bertanya pada sang ayah atau paman bagi Rain.
Kesialan Rain tidak sampai disana,saat mencari sang paman di mansion pria itu ternyata sedang melakukan perjalanan bersama ayahnya,dan harus menunggu jika ingin mendapat jawaban tentang pujaan hatinya.
Jika Xia sudah meminta bertanya langsung pada pemimpin mafia itali berklan kay itu artinya tidak akan ada jawaban kecuali darinya.
Walau mereka yang ditanya mengetahui jawabannya!.
VISUAL : RAIN KAY
IG : Kelabu_27
__ADS_1