
Seorang pria sedang mendorong kursi roda sang tuan diikuti beberapa pengawal dibelakang mereka.
Pria yang menjadi tuan mereka duduk santai menatap tiga pria didepan sana dengan keadaan yang terbilang masih manusiawi jika berada ditempat ini.
Manusiawi?,ketiga pria didepan sana menatap penuh penyesalan dengan tubuh tergantung dan terikat,tubuh mereka penuh lembab dan beberapa bekas sayatan dibagian wajah yang sudah sembilan puluh persen sembuh.
Manusiawi : sebab mereka masih bernapas dengan keadaan utuh,setiap mereka dilukai ketiga pria itu segera diberikan pengobatan terbaik agar luka yang mereka berikan sembuh dan kembali melukai,setiap orang yang masuk dalam ruangan ini sebagai tawanan akan menderita mereka tidak akan dibiarkan mati dengan mudah.
Ruangan ini menjadi saksi betapa kejamnya pria yang sudah sebulan hanya bisa bergerak menggunakan kursi roda,:dua bulan lalu seorang penghianat tertangkap dan ditahan diruangan ini,hidupnya begitu sengsara juga menderita,orang itu tidak kuat menjalani hidupnya menjadi tawanan pria lumpuh itu ia sangat menyesali perbuatannya yang sudah berhianat,dirinya bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya hingga putus.
Semasa menjadi tahanan pria yang satu bulan lalu buhun diri,mengalami siksaat dari tubuhnya yang dikuliti menggunakan belati,lalu diberikan pengobatan setelah setengah pulih pria itu kembali disiksa dengan cara di congkel sebelah matanya tanpa iba,seperti tadi diberikan pengobatan lalu disiksa dengan mencongkel sebelah matanya yang hanya tinggal itu,meninggalkan rasa yang begitu menyakitkan,seperti tadi pria itu kembali disiksa sedikit demi sedikit hingga memutuskan mengakhiri hidupnya.
Pria yang duduk di kursi roda itu tidak pernah membunuh tahanannya sekalipun, selama ini para tahanannya memilih mengakhiri hidup saking tidak kuatnya menerima siksaan dari pria yang dijuluki raja monster oleh dunia bawah.
"Tuan saya minta maaf,,tolong maafkan saya tuan,,saya khilaf,saya bersumpah akan setia tuan,saya mohon lepaskan saya"mohon salah satu dari ketiga pria yang diikat dengan menggantung.
"Saya juga bersumpah tuan,,saya minta maaf saya tidak akan menghianati anda lagi tuan,tolong berikan saya kesempatan tuan"mohon yang lain hanya pria yang terikat paling tengah yang terdiam dengan tatapan datar tidak ada ketakutan dari pria itu.
"Penghianat tidak pantas untuk hidup bukan?"tanyanya pria yang dipanggil tuan dengan datar.
"Benar tuan"jawab para pengawal tak kecuali sang asisten pribadi yang berdiri tepat di sampingnya.
"Saya mohon tuan maafkan saya,berbaik hatilah kali ini saja tuan,saya mohon tuan"mohon salah satu tahanan dari terlihat iba sebab pria itu sudah berderai air mata.
"Bodoh!,meminta baik hati tuan sama seperti bernegosiasi dengan malaikat pencabut nyawa,ups disini tuan memang sedang menjadi malaikat pencabut nyawa"guman sang asisten sebari melirik sejenak kearah sang tuan yang sejak tadi tidak mengeluarkan aura kekejamannya,sungguh aneh!, ini kali pertama ia tidak merasakan hal itu di tempat ini.
"Potong lidahnya terlalu berisik!,,jangan sampai mati! "Ujar sang tuan.
"Baik tuan" jawab salah satu pengawal lalu bersiap melakukan perintah,pengawal yang hendak melaksanakan tugasnya mendekati pria yang menjadi tahanan sang tuan yang sejak tadi memohon.
Pria yang menjadi tahanan semakin gemetar ketakutan melihat langkap pengawal yang akan memotong lidahnya itu,"Aku mohon tuan,,jangan,jangan, jangan,aku akan diam,aku mohon jangan ahkkk"erangan terdengar dari pria itu sebab lidahnya benar-benar dipotong tak berperasaan,kedua tahanan lain yang melihat jelas kejadian itu sebab mereka didikat tidak jauh darinya menjadi semakin ketakutan.
Pengawal itu bergerak tujuannya adalah sang tuan yang sedang duduk dan menyaksikan semua dengan tenang,"Saya sudah memotongnya tuan"
Pria yang dipanggil tuan itu mengangguk sebari tersenyum tipis tanpa disadari siapapun,"Masukan dalam toples berisi cuka!"
"Baik tuan"pengawal yang memegang lidah yang masih mengeluarkan darah segar pergi menghampiri toples berisi cuka dan memasukan benda tanpa tulang itu.
Pria pemilik lidah mengerang kesakitan tanpa mengeluarkan suara mulutnya terus saja mengeluarkan cairan merah berbau amis dengan rasa yang amat sakit menjalar tubuhnya.
Kedua pria yang menjadi teman tahanan yang sudah kehilangan lidahnya itu hanya bisa diam tanpa berani mengangkat kepala mereka.
"Masih tidak ingin bicara? "tanya pria yang mereka panggil tuan membuat kedua tahanannya tak sadar menatap pria dipanggil tuan itu.
Merasa pertanyaan itu untuknya,salah satu pria tahanan,pria yang belum mengeluarkan suaranya sejak tadi berkata,"Tidak akan!,,saya akan tetap setia pada tuan saya walau nyawa taruhannya!" tegasnya berkata kini dengan rasa takut yang menjalan.
"Lepaskan!"ujar pria yang dipanggil tuan langsung dikerjakan bawahannya.
Pria yang dipanggil tuan itu meminta salah satu bawahannya mengambil belati yang terpajang indah diruangan itu.
Sedangkan disisi pengawal yang sedang membuka ikatan untuk pria tahanan pilihan sang tuan,pengawal itu sudah melepas sebelah ikatan pada tangan pria itu lalu beralih ke tangan sebelahnya,pria yang menjadi tahanan dilepas ikatan terduduk lemas di lantai marmer sebab kakinya merasa keram sudah hampir sebulan dirinya tidak menginjakan kakinya di gravitasi bumi,pria itu memberanikan diri menatap wajah pria yang mereka panggil tuan,atau dijuluki 'king devil's, untuk membaca raut wajah pria itu yang ia dapat hanya tatapan datar.
Pria itu mencoba berdiri,namun kakinya belum terbiasa hingga beberapa kali terjatuh,ia menghela nafas lega saat dirinya bisa menegakan tubuhnya,setelah beberapa kali terjatuh akhirnya pria tahanan yang dilepas bisa berdiri walau tak tegap,setelah hembusan nafasnya ia merasakan benda tajam menembus tubuhnya.
Pria itu menunduk pada bagian dada,ia menatap nanar pria yang mereka panggil tuan lalu kembali menatap belati yang tertusuk tepat di bagian samping jantungnya,sebagai manusia ia berharap akan segera keluar hidup dari tempat ini setelah ikatannya terbuka,semua hanya harapan tentu saja tidak ada tahanan yang keluar hidup dari tempat ini.
Tubuhnya kaku dengan cairan merah merembes keluar dari belati yang masih tertusuk dibagian dadanya,pria itu kembali terjatuh ke lantai dengan keadaan sadar,pria itu memegang belati lalu menariknya dari bagian dada,pria itu meringis tertahan merasakan sakit yang luar biasa,setelah belati berhasil ditarik,pria itu menatap belati yang sudah di penuhi darah miliknya lalu menatap pelaku,pelakunya tentu saja pria yang mereka panggil tuan itu.
Setelah mendapat belati yang diambil anak buahnya,pria itu hanya memegang belati sebari mengawasi tahanan yang terlepas dari ikatannya dengan acuh,melihat pria itu berhasil berdiri,pria yang dipanggil tuan melempar belati yang ia pegang tepat menuju bagian dada damm it.
__ADS_1
Pria yang menjadi tahanan lepas ikatan menghela nafas masih merasakan dadanya yang begitu sakit, pria itu beralih menatap belati lalu dadanya yang terus dialiri darah,"saya hanya melakukan tugas saya tuan,jika anda tidak keberatan saya ingin meminta seuatu kepada anda,mungkin terdengar tidak tahu malu,tapi saya harap anda dapat memenuhinya,,saya tidak meminta untuk dilepaskan "pria itu berjalan tertatih masih memegang belati sebelah tanganya yang lain memegang dada mendekati Maringgai Azonafra Amlias yang menjadi sosok yang dipanggil tuan.
Pria itu menyodorkan belati milik Afra dengan hormat,melihat tidak ada pergerakan dari pria itu membuat tahanan lepas ikatan menghela nafas,dirinya memang tidak tahu malu ia akui itu,ia menaruh belati itu di meja samping Afra,lalu mundur beberapa langkah.
"Saya yakin anda sudah mengetahui siapa dalang dari kecelakan yang anda alami sebulan lalu,dalang yang tidak lain adalah tuan saya tanpa saya sendiri memberitahu,siapa dia anda pasti sudah mengetahuinya sejak lama,saya akan selalu setia kepada tuan saya seperti sumpah yang saya ucapkan,saya sudah ditempat penyiksaan milik anda yang digadangkan sangat menyeramkan dan penuh siksaan hingga mereka memilih mati,,saya pikir semua itu hanya rumor yang dilebih-lebihkan,ucapan saya bukan ingin merendahkan anda melainkan sebaliknya"
"Saya sangat kagum pada anda,,,mungkin berlebihan tapi jika boleh jujur anda adalah iblis berwujud manusia"ujarnya tanpa takut sebab untuk apa takut ia yakin dirinya tidak akan bisa keluar hidup dari tempat ini, "Permintaan yang saya inginkan hanyalah penghormatan,,bunuh saya dengan belati itu tuan maka penghormatan yang saya inginkan akan terwujud" ujarnya membuat mereka yang ada disana menatap heran kecuali Afra yang menjadi objek permohonan.
Tanpa merespon dengan kata-kata afra mengambil belati yang sempat tahanannya simpan dimeja,melihat pergerakan itu membuat senyum dibibir tahanan tanpa ikatan merekah lalu memejamkan mata,'aneh',Afra melihat semuanya dengan datar hingga.
Jleb
Belati tertancap tepat dibagian jantung tahanan tanpa ikatan lalu tubuh pria itu terjerembab.
Tahanan yang belum mendapat bagiannya hari ini hanya terisak dengan pikiran anehnya,ia yakin kematian nya di tempat ini hanya tinggal menunggu waktu.
Kedua tahanan yang masih hidup mereka adalah penghianat yang sudah membuat kantornya bermasalah,jika tahanan yang meminta dibunuh sebagai tanda penghormatan untuk dirinya sendiri dia adalah anak buah musuh dari afra yang berhasil mereka tangkap.
"Berikan dia belati!"ujar Afra "Beritahu dia bahwa anaknya sudah dioperasi di Singapura!"
Afra memberi perintah untuk memberikan belati kepada pria yang belum mendapatkan siksaan hari ini,alasan dari penghianat perusahaan satu itu adalah untuk anaknya yang tengah sakit parah dan harus dioperasikan diluar negri,sedangkan dirinya tidak memiliki biaya untuk itu semua dan terpaksa berhianat.
Afra pergi bersama asistennya yaitu Azkara dari ruang bawah tanah mansion diindonesia itu,ya,hari ini hari terakhir mereka dinegara ini,sebab mereka akan kembali bersama para gadis itu tentunya.
Setelah kejadian sadap bom pada mobil Afra semakin dibuat dilema,dirinya harus lebih ketat menjaga gadisnya apalagi ia belum tau keahlian apa saja yang dimiliki sang gadis yang belum ia ketahui.
Selalu ada kejutan dari para gadis itu,saat ini dirinya hanya tau bahwa Xia sebagai sniper dan bisa melakukan akupuntur,caranya bertarung juga sangat terlatih,untuk yura,mereka lebih dikagetkan dengan keahlian gadis itu saat ini,sejak kejadian bom kemarin malam ternyata perkataan bahwa 'Yura ahli bom bukanlah omongan kosong belaka',sebab gadis itu benar-benar ahli bom dia bisa mematikan bom dan juga mengaktifkan bom yang sama yang ia aktifkan.
Sama seperti kejadian bom kemarin malam ,Yura lah penyebab ledakan itu terjadi,membuat kelompok musuh terpental tak selamat,selain itu keahlian Yura tertarung juga sama terlatih nya dengan Xia,hanya saja Xia lebih unggul,mereka menilai semua itu hasil dari kejadian dikantor (56).
Untuk gadis bernama Ansya dan Anna mereka belum menunjukan keahliannya mereka hanya tau sesuai biodata yang mereka dapatkan.
"Siapa yang Anda magsud tuan?"tanya Azkara tidak mengerti.
"Xia!"
"Nona Xia berada di paviliun tuan,mereka sedang bersantai disana "jawab Azkara.
"Ck Xia benar!" guman Afra didengar Azkara membuatnya mengkerutkan alisnya namun tidak berani bertanya.
.
.
.
Di paviliun belakang mansion,seperti yang dikatakan Azkara para gadis itu tengah bersantai disana ditemani beberapa camilan juga pembahasan yang selalu bercabang tanpa jawaban.
J"adi kau hanya bekerjasama dengannya hanya untuk membangun perusahaan?"tanya Yura memastikan apa yang Xia katakan tadi kejujuran.
"Hmm"
"Kenapa tidak mengajak ku juga?"tanya Yura dengan nada kesal.
"Terlanjur!"
Yura mendengus kesal mendengar jawaban Xia yang bisa diartikan 'sudah terlanjur tidak perlu dibahas'.
"Baiklah terserah kau saja!"jawabnya sebari mengkerucutkan bibirnya,"Bagaimana dengan balla?,kau tidak menjelaskan secara rinci tentang hal itu"
__ADS_1
"Dinding punya telinga"jawab Xia membuat Yura menghela nafas,sedari tadi pembahasan mereka selalu membahas sesuatu tanpa jawaban lalu beralih pembahasan lain dan kembali ke pembahasan awal,terus berputar dengan pembahasan-pembahasan itu dan tanpa jawaban.
"Hah pembahasan yang kita bahas tidak memiliki jawaban"
"Bukan tidak hanya berjaga!"sanggah Xia dimengerti yura.
Tidak hanya berjaga:bukan tidak memiliki jawaban hanya saja mereka berjaga-jaga untuk tidak memberi informasi pada dinding yang menguping pembicaraan mereka.
Dinding?.
"Kita akan tinggal di China berapa lama?"tanya Yura
"Menyelesaikan semua urusan masalalu!"jawab Xia datar.
;Waktu tidak ditentukan mereka akan kembali saat urusan yang masa lalu selesai. Begitulah kira-kira yang tertangkap otak Yura yang selalu diejek otaknya sebesar otak udang.
"Masalalu?,,masadepan tidak akan lepas dari masalalu"guman Yura sebari menatap langit.
"Menurutmu bagaimana tentang perjodohan Ansya?,,,semua itu idemu ingat!"ujar Yura sebari menatap Xia yang masih saja berwajah datar sebari menikmati camilan.
Ingat!,Xia tukang makan memiliki wajah datar dan tubuh sexy.
Xia menghela nafas,akan diam atas pertanyaan Yura tadi ia urungkan setelah mendengar perkataan terakhir saudari beda orang tuanya itu,"Hanya memberi jalan!,semua pilihan ada ditangan ansya,entah jawabannya iya atau tidak,berharap pilihan dia tidak akan membuatnya menyesal,,,menyesal terlambat menyadari perasaannya akan membuat dia menderita,,,kita hanya perlu membuat ansya sadar dengan perasaannya"sanggah Xia dengan masih berwajah datar.
Yura menganggukan kepalanya lirih,"Bagaimana?,,,cara membuat ansya sadar dengan perasaannya sedangkan kita saja berada jauh dari dia?"
"Kita hanya memberi jalan,ingat!" jawab Xia membuat Yura mengusap lehernya.
Memberi jalan? Yang Xia katakan kali ini tidak masuk dalam otak Yura.
"Tidak perlu dipikirkan,,,kita hanya memberi jalan untuk seseorang, agar membuat gadis yang ia cintai pada pandangan pertama menyadari perasaannya,,entah jawabannya nanti itu iya atau tidak"ujar Xia membuat Yura mengangguk mengerti.
Xia gadis irit bicara sekalinya bicara sangat panjang dan penuh teka-teki.
.
.
.
"Jangan membuat dia kecewa,,,saya tidak ingin kembali kehilangannya "ujar Afra sendu mereka baru saja selesai membicarakan pekerjaan setelah dari ruang bawah tanah.
"Saya mengerti tuan,,saya akan berusaha untuk membuat nona nyaman bersama anda dan melupakan trauma nya,,mmm ada yang ingin saya tanyakan tuan?" jawab Azkara.
"Katakan!"
"Mmm bagaimana dengan trauma nona tuan?,,setelah identitas anda terbongkar saya melihat nona bersikap seperti sebelum mengetahui siapa anda yang sebenarnya tuan,,apa semua itu hal bagus?"tanya Azkara hati-hati.
Afra menghela nafas,"Entahlah,,,dia hanya mengatakan sudah sembuh,,awalnya memang tidak percaya rasa trauma Xia sudah terjadi selama belasan tahun,bisa sembuh setelah mendengar penjelasan cerita dua belas tahun lalu itu membuatku ragu,,namun sepertinya begitu Xia sudah sembuh dan aku bersyukur,gadisku tidak lagi takut padaku"
"Saya turut senang tuan"ujar Azkara direspon dengan anggukan kepala saja.
"Kau harus membantuku!"
'Membantu apa tuan?"tanya Azkara saat terdengar nada aneh dari perkataan membantu tadi.
"Mendekatkan ku dengan Xia,,membuat Xia jatuh cinta padaku,,untuk sekarang cukup bantu aku mengubah sikap dingin Xia padaku"jawab afra datar membuat Azkara tercengang.
Membantu hal seperti itu,tentu saja rasanya Azkara ingin undur diri,berperang rasanya lebih baik,dirinya juga seperti sang tuan sangat labil jika urusan wanita,sebab mereka sangat menjaga jarak dengan wanita jika Afra memang karna trauma nya yang menyebabkan dia tidak bisa dekat dengan wanita manapun kecuali sang mommy,sedangkan Azkara pria itu hanya pokus dalam bekerja tanpa memikirkan memiliki pasangan,ingat!,mereka pria normal.
__ADS_1
Sepertinya Afra lupa bahwa semenjak bertemu Xia sang gadis yang ia klaim miliknya dan satu-satunya gadis yang bisa ia dekati dengan rasa trauma yang ia miliki,gadis penyebab trauma itu sendiri,,,sejak bertemu gadis itu Afra juga sudah bertemu Yura dan saudarinya yang lain,bahkan mereka beberapa kali dalam satu ruangan,,terlalu senang bertemu Xia atau Lara gadis yang ia cari selama ini membuat Afra hampir melupakan setengah dunianya.