MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Mencari hiburan


__ADS_3

"Kamu lagi apa?"suara barton mengagetkan seorang gadis yang sedang berkutat di dapur.


Sebenarnya ditempat itu tidak hanya dirinya,namun juga bersama beberapa orang lainnya.


Dua chef yang sedang memantau pergerakan sang nona,sebenarnya mereka sudah melarang dengan sopan,agar nona nya tidak berada di dapur,dan mengatakan apa yang dibutuhkan nonanya itu.


Namun gadis itu menolak,ia bersikeras untuk memasak, bahkan agar bisa menggunakan dapur dengan leluasa ia harus mengancam kedua chef yang terus melarangnya memasak.


Mereka takut dengan satu hal,yaitu sang tuan marah karna nona nya memasak,sebenarnya bukan satu hal namun beberapa hal yang menbuta mereka melarang nona nya memasak.


Ia takut nona nya terluka semua itu merugikan kedua belah pihak jika terjadi, gadis itu akan terluka dan para chef akan kehilangan pekerjaannya bahkan bisa saja kehilangan nyawanya.


Yura yang sedang duduk di marmer meja kompor,menoleh kearah suara begitu pula yang lainnya.


Yura gadis itu hanya sedang memantau pergerakan adiknya yang memasak sekaligus mencicipi masakannya tanpa diminta,mana bisa yura memasak.


Bahkan ditangan kirinya ia sedang memegang apel yang sedari tadi ia gigit namunĀ  belum juga habis.


"Masak"jawab Xia datar,yang memasak itu adalah Xia.


Gadis itu tidak terlalu bisa memasak dulu,namun setelah dirinya hilang lima tahun lalu,banyak keahlian yang ia pelajari dari seseorang yang membantunya,bahkan seseorang itu mengajari Xia cara bertahan hidup didunia yang keras ini.


"Kenapa harus dirimu yang masak?"pria itu lalu melirik tajam kepada chef yang takut.


"Apa pekerjaan kalian,cepat kembali bekerja atau kalian saya pecat!"pekik Afra marah.


Kedua chef itu langsung meminta maaf dan menghampiri Xia untuk mengambil alih pekerjaannya kembali


"Maafkan kami tuan"ujar salah satu chef yang lebih tua dari chef satunya lagi.


"Nona ijinkan saya untuk menyelesaikan masakan anda,nona"


Xia menghela nafas jengah lalu menatap Afra dengan tatapan tajam,"Aku hanya ingin memasak! "


"Untuk apa sayang? ,jika kamu yang memasak apa pekerjaan mereka,bersantai?"kesal Afra


Kedua chef memohon kepada gadis keras kepala itu dengan menunjukan wajah memelas.


"Bukan seperti itu,kali ini saja!,sebentar lagi sup dan buburnya akan segera matang"Xia masih kekeh dengan keinginannya.


Sedangkan Yura ia tak ada niatan membuka suara ia malah asik menonton pasangan itu dengan keras kepala mereka,sebari masih memakan apel yang kini tinggal sedikit.


"Tidak!,kerjakan tugas kalian"titah Afra terhadap kedua chef dengan tajam.


"Baik tuan"jawab mereka serempak," Maaf nona biar kami selesaikan,nona bisa beristirahat"sebelum chef itu menyelesaikan perkataannya,Xia lebih dulu melempar spatula kelantai dan Melepas celembek lalu sama seperti nasib spatula yang berakhir dimarmer,barulah ia melengos pergi.


Yura turun dari lantai memungut spatula yang dilempar Xia,gadis itu menatap spatula dengan tatapan aneh,"Seharusnya kau terlempar mengenai kepala kak azkara,itu lebih seru"gumannya lalu memberikan spatula itu ke chef yang lebih muda.


Lalu ia menatap pria yang duduk di kursi roda,pria yang membuat adiknya kesal,"Kau mencari penyakit"ujarnya lalu pergi menyusul Xia yang entah pergi kemana.


Afra menghela nafas,ia hanya khawatir jika gadisnya menyakiti diri sendiri saat masak,ia tahu betul gadis itu tidak bisa memasak dari dulu.

__ADS_1


.


.


.


Xia mendengus kesal,ia membuka pintu kamar dengan pelan,walau ia sangat kesal ia tidak mau membangunkan gadis kecil yang baru tertidur di ranjang milik Yura.


Ya Xia pergi kekamar Yura.


Gadis itu duduk di pinggiran ranjang,ia memandang wajah damai gadis yang dua hari ini sedang sakit demam dan dua hari ini juga dirinya menjadi dokter pribadi gadis itu.


Balla gadis yang tengah tidur di ranjang kingsize milik yura,sejak semalam gadis itu terus mengigau memanggil orang tuanya.


Sudah dua hari gadis itu demam,namun ia bersikeras menolak kerumah sakit, al hasil mereka meminta dokter memeriksanya di mansion,dan Xia merawatnya hampir dua hari ini bersama Yura.


Mungkin akibat hujanan saat di arena kuda!.


Xia sudah meminta ijin pada afra untuk mengijinkan gadis yang berbeda dua tahun dengannya itu,untuk sementara tinggal bersama.


Xia menghawatirkan gadis itu,ia sudah mencari tau identitas gadis itu,bahkan hal yang tidak diketahui orang lain selain balla,sudah Xia ketahuilah dengan caranya sendiri.


Entahlah melihat gadis kecil itu ia merasa iba,gadis sepertinya dirinya lima tahun lalu,sebelum ditemukan oleh seseorang yang sangat baik bagi Xia.


Xia menempelkan alat pengukur suhu dimulut gadis itu dengan pergerakan sangat pelan agar tidurnya tidak terganggu.


Ia juga memasak untuk gadis kecil tersebut,namun gara-gara pria pemilik mansion Xia jadi gagal memasak,tidak disebut gagal juga sebenarnya, karna masakan yang dia masak,sudah jadi tinggal menunggu matang dan disajikan.


Xia menghela nafas lalu berguman,"Menyebalkan!,aku rindu masakan kakak!"ujarnya sebari menggeladah kepalanya kelangit-langit kamar.


Xia kembali menghela nafas,lalu mengambil pengukur suhu tubuh,"Huhh,sudah turun"ujarnya melihat angka yang ditunjukkan termometer.


Xia belum merasa tenang pasalnya,dua hari ini suhu tubuh balla turun naik,ia takut badannya akan panas lagi.


Namun tadi pagi ia sudah memberikan obat penurun panas dari tas kecil penyimpanan obat-obatan,yang mungkin bisa mengontrol suhu tubuh gadis cantik itu.


"Hidup itu sulit,keras,penuh rintangan,jika kamu menetap di satu zona,maka kamu akan hafal dengan perjalanan hidup itu,perjalanan yang bisa membuatmu bosan,namun jika kamu hanya singgah disetiap zona, mungkin kamu akan semakin kuat,namun juga merasa bingung"Xia menjeda lalu menatap wajah satu gadis yang masih memejamkan mata.


"Bingung,bahkan akan merasa lelah,lelah dengan dunia yang bisa saja menghancurkan hidupmu,lelah dengan apa yang harus kamu pertaruhkan untuk menggapai zona baru"Xia kembali menjeda ucapannya,gadis itu lalu menatap gordeng yang tertutup.


"Maka terkadang menetap di satu zona adalah pilihan terbaik,pilihan yang lebih banyak orang pilih,karna mereka tidak ingin kehilangan apa yang sudah mereka inginkan "Xia mengubah atensinya pada tangan yang ia buka lebar.


Tangannya masih memegang termometer, "Apa yang kamu capai harus disertai pengorbanan,jika kamu tidak siap maka lebih baik diam dan menetap,terkadang kita hanya tidak mensyukuri apa yang kita miliki sampai-sampai selalu mengeluh dan merasa bosan, tanpa kamu ketahui orang lain yang hanya singgah disetiap zona sudah kehilangan demi mendapatkan hal baru"


Lagi-lagi Xia menggeladah kepalanya kelangit-langit kamar,"Lebih baik tidak memiliki dari pada harus kehilangan,tapi kita tidak akan tau bagaimana rasanya kehilangan jika tidak pernah merasakan memiliki,rumit bukan?,begitulah hidup,hidup tidak akan berhenti ketika kamu dalam keadaan tersenyum atau menangis" Xia kembali menjeda ucapannya,ia tersenyum membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona dengan senyuman yang Elimeted itu.


"Kau harus kuat sendiri!,karna orang lain hanya penonton disetiap keadaanmu,namun walau begitu ingatlah satu hal,hal yang membuatmu ingin bertahan,bahkan berjuang, setiap orang punya alasan,mungkin sekarang kau tidak punya,mungkin besok kau akan memilikinya,kunci kehidupan itu simpel hanya bagaimana kita menjalaninya saja"


"Sabar dan bersyukur kunci kehidupan yang selalu dilupakan setiap orang"ujarnya diakhir kalimat.


Suara tepukan terdengar dari arah dekat pintu.

__ADS_1


Xia menatap kearah suara lalu menempelkan jarinya dimulut agar orang itu tidak berisik.


"Maaf"lirih Yura sebari tersenyum menunjukan deretan giginya,gadis itu kembali kekamar nya yang ia yakini gadis yang ia kejar pergi kesana.


Dan tebakannya benar.


"Habisnya,perkataanmu membuatku terkesima walau tidak bisa dimengerti hehe"ujarnya dengan suara lirih agar tidak mengganggu tidur balla.


"Sejak kapan kau datang?"


"Sejak"Yura mengetuk dagunya dengan jari sebari seolah sedang berpikir," Saat kau mengatakan,, lebih baik tidak memiliki begitulah,aku tidak mengerti"


Yura mendekat kearah Xia dan menatap balla yang masih memejamkan mata,"Dia tidur atau pingsan?"


"Tidur"jawab Xia menatap Balla.


Yura mengangguk-anggukan kepalanya," Kasian gadis ini,hidupnya penuh lika-liku,ya walau lika-liku nya tidak seberat kita"


"Kau pernah merasakan lika-liku kehidupan?"tanya Xia dengan menaikan sebelah halisnya seperti mengejek.


Yura menatap Xia dengan tajam," Tentu saja!,bahkan dirimu yang membuat lika-liku itu,gadis nakal"ujarnya mendengus kesal.


Yura menarik Xia kearah sofa dikamarnya itu.


Xia menuruti tarikan gadis itu dan duduk disofa bersamanya.


"Aku mau tanya?"tanya Yura,tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan dari Xia,Yura kembali bersuara," Aku mau tanya dengan magsud,orang lain hanya penonton,ya memang ucapanmu itu benar,orang-orang hanya menonton tapi mereka bisa memberimu semangatkan?"


Xia mengangguk membenarkan,"Lalu?"


"Nah aku lupa mau bertanya apa"mendengar itu membuat dia mendengus kesal,ia menunjukan wajah datarnya dengan tatapan tajam kearah Yura,yang berhasil membuat amarahnya kembali memuncak setelah beberapa menit lalu meredam.


"Aku hanya bercanda!"ujar Yura sebari terkekeh melihat ekpresi Xia," Jika hanya bisa menonton,untuk apa mereka tonton,jika tidak ada niatan membantu,mending mengurus hidup sendiri,yang belum tentu lebih baik dari kehidupan orang lain yang ditonton"


"Kau suka menonton film kan?"tanya Xia di iyakan Yura dengan cepat.


Tentu saja ia suka menonton film apalagi yang menunjukan pria tampan dan gagah,walau dirinya sering disuguhkan dengan pria seperti itu setiap hari,mengingat setatus nya.


"Apa alasanmu menonton film selain melihat pria yang kau sebut tampan?"


"Mmm"yura terlihat berpikir dengan menatap langit kamar,"Mencari hiburan"


"Kau benar"ujar Xia membuat Yura menatap gadis disampainya itu.


"Lalu apa jawabannya?"tanya gadis itu bingung kenapa jadi membicarakan dirinya yang menonton film.


"Kau sendiri sudah menjawabnya"jawab Xia datar.


"Aku"yura sebari menunjuk dirinya sendiri"Kapan?"


"Tadi"Xia mengela nafas kasar,jika soal yang seperti ini,gadis yang selalu mengerti perkataan singkatnya akan menjadi ngelag,sepertinya harus di setelan pabrik,sudah penuh penyimpanan pengartian Xia dalam otaknya.

__ADS_1


"Mencari hiburan,sama halnya kehidupan nyata,mereka juga mencari hiburan lewat penderitaan orang"sambung Xia sebari menyandarkan kepalanya ke ujung sofa.


__ADS_2