MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Tiga serangkai duda


__ADS_3

"Kalian sedang apa disini?"suara barton terdengar dari belakang dua pria yang sedang bertatapan.


Keduanya mengalihkan pandangan kearah suara,hingga lolos dengusan dari Vihan.


"Sedang apa kau disini?"pekiknya melihat Samuel yang berjalan kearah mereka.


"Kenapa memangnya?,akukan tinggal disini,jadi bebas mau kemanapun"jawab Samuel.


"Benar,tapi kau bisakan tidak ketempat di mana aku berada?,dan ralat ucapanmu,kau hanya menumpang"ujar vihan sebari menatap tajam kearah Samuel.


Vans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua paruh baya itu.


"Aku kedalam ayah,paman"pamit Vans tidak mau menyaksikan kelanjutan kedua paruh baya yang sudah bisa ditebak itu.


"Tidak!"jawab Samuel atas pertanyaan Vihan, sebari mendaratkan bokongnya dikursi,didepan Vihan yang sedang berdiri.


Mereka kini hanya berdua setelah vans masuk kedalam mansion.


"Kau sepertinya sangat menyukaiku sampai tidak mau jauh sedikitpun dariku?"selidik Vihan masih menahan kesal,baru saja ia diancam anaknya sendiri,kini pengganggu malah datang.


"Benar"jawab Samuel membuat Vihan membelalakan matanya sampai mundur dua langkah.


"Kau"vihan menunjuk Samuel dengan masih menatap tajam bak elang sedang memantau mangsa.


"Apa?,jangan berpikir aneh!,aku masih normal"ujar samuel menebak pikiran Vihan.


"Benarkah?, aku tidak yakin"


"Apa magsudmu?"tanya Samuel menatap vihan tak kalah tajamnya.


"Aku masih normal,tidak mungkin menyukai sesama jenis"sambungnya.


"Kau yang berpikir begitu,akusi tidak,kalo kau mengaku penyuka sesama jenis,itu urusanmu,bukan urusanku"ujar Vihan santai.


"Tapi ya"Vihan menjeda untuk menganggukan kepala,"Jika putriku mengetahuinya,dia akan sangat kecewa"lalu pria itu tersenyum smirk.


" Fitnah,aku tidak seperti itu,aku masih menyukai wanita,saat aku membenarkan bahwa aku menyukai didekatmu,karna saat itu aku bisa membuatmu marah"Samuel menjelaskan agar tidak ada fitnah tentang dirinya yang sampai ke telinganya sang keponakan.


Walaupun sampai ke telinga gadis itu,ia memiliki bukti untuk menyangkal fitnah tersebut.


"Mungkin kau yang penyuka sesama jenis?"tebak Samuel sebari tersenyum smirk.


"Enak saja,mulutmu itu!,ingin sekali aku menjait mulutmu itu"ujar Vihan dengan sorot mata lebih tajam dari tadi.


"Akukan hanya bertanya, jika tidak,ya tidak usah marah dong "ujar Samuel kembali santai,rencananya sepertinya akan berhasil.


"Kau bilang aku marah?,wah siapa yang tadi duluan marah,aku pikir bukan aku,bahkan orang itu mengakui dirinya sendiri penyuka sesama jenis" ujar Vihan sebari menyeringai.


"Tadi aku hanya mengungkap apa yang kau pikirkan"pekik Samuel kesal,kali ini ia salah,berpikir rencananya akan berhasil seperti biasa,namun nyatanya kali ini ia gagal,gagal membuat pria itu marah.


"Kau cenayang?,sampai bisa menebak apa yang aku pikirkan begitu,hebat sekali"ujar Vihan hingga bertepuk tangan kecil," Coba kau lihat telapak tanganmu itu,lihat masa depanmu disana,kapan hari kematianmu terlaksana?"sambungnya membuat Samuel mendengus dan kembali menatap tajam.


Didalam sana dua orang berbeda jenis kelamin sedang menatap keluar melalui cermin yang memantulkan pemandangan indah taman yang baru saja mereka tinggalkan.


"Mereka beradu argumen lagi?"tanya sang wanita melihat dua pria paruh baya yang terlihat sedang bicara dengan sorot mata saling mengancam.

__ADS_1


Walau tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan namun mereka sudah bisa menebak akhir dari pembicaraan dua pria paruh baya diluar itu.


Apa lagi jika bukan baku hantam.


" Hmm"jawab sang suami sebari mengusap kepala sang istri yang notabenya lebih pendek darinya.


Pria itu tidak menatap keluar,namun melihat kearah sang istri yang selalu terlihat cantik.


"Mereka tidak lelah?,bertengkar seperti anak kecil seperti itu,setiap bertemu"Ave kini menatap sang suami.


" Tidak usah dipikirkan,biarkan saja"jawab sang suami.


Ave memajukan wajahnya,melihat hal itu membuat Vans terkekeh,ia mengerti dengan kemauan dari sang istri.


Vans mengecup lama kening sang istri,lalu menciumi kedua pipinya,terakhir mendarat di benda kenyal lainnya.


Bibir,bibir yang selalu mencadi candu


Baginya,hanya kecupan saja.


Namun seketika wajah Ave menekuk,vans mengusap wajah istrinya dengan lembut sebari mengeluarkan suara lembutnya.


"Kenapa hmm?"


"Lagi"rengeknya.


"Dikamar"ajak suaminya membuat Ave terkekeh.


"Nanti saja,ini rumah ayah,tidak mungkin kita melakukannya dirumah ayah"tolak nya lembut agar tidak membuat suaminya kecewa.


Ada beberapa pelayan yang berhalu lalang,karna mansion ini dipenuhi para pelayan yang tidak ada satupun berjenis perempuan.


Para pelayan hanya tersenyum melihat keromantisan anak majikannya,yang setelah menikah terlihat seperti manusia,dan sedikit menghilangkan kekejamannya didepan keluarganya.


Ave yang masih memiliki rasa malu,tidak seperti suaminya,ia menyembunyikan wajahnya didada bidang sang suami dengan wajah merona,Vans hanya terkekeh sebari bertubi-tubi mengecup kepala sang istri dengan sayang,menuju lift kearah kamar.


Sedangkan anak mereka Iaz anak usia 4tahun itu,kini sedang diruangan bermain.


Ruangan bernuansa kaca disetiap arah yang menutupinya,tempat itu dulunya hanya tempat acara minum teh ,setelah Iaz lahir taman itu dirobak sedemikian rupa oleh kakek Vihan untuk menyenangkan cucunya,disaat ia berkunjung.


Pria kecil itu terlihat begitu bahagia di iringan suaranya yang khas anak kecil,dengan ponsel yang ia pinjam dari sang paman.


Setelah masuk kedalam mansion dari taman belakang,mereka berpapasan dengan dua pria berbeda usia.


Setelah ditanya mereka menjawab,bahwa mereka baru saja membasmi hama yang mengganggu.


Samuel beranjak ke taman dimana ada rivalnya,anggap saja begitu.


Sedangkan Rain yang datang bersama Samuel,pergi membawa Iaz keruang bermain,untuk menghabiskan waktu bersama cucu pertama klan Kay ini.


"Jika ibi Yura tidak mengabari nenek,dia berjanji akan mengeluarkan kakak dari hak waris"ujar Iaz kearah telepon.


Disana,karna Iaz merindukan bibinya itu,ia meminta tolong kepada rain untuk menelepon mereka,tersambunglah vidio call.


Ucapan Iaz membuat Yura terpengaruh,bahkan gadis itu langsung berdiri dari kursinya,dengan jantung yang berdetak lebih kencang,ia langsung merogoh benda pipih dari saku,dan mendialnya.

__ADS_1


Masih berdiri gadis itu mengigit bibir bawahnya menunggu sambungan telepon,semua itu tidak lepas dari orang-orang dimeja makan.


Xia hanya menatap malas pergerakan Yura,Xia kembali menatap kearah ponsel yang menunjukan wajah keponakan dan sepupunya di sebrang sana.


Sedangkan Afra dan Azkara menyaksikan dengan raut bertanya,namun masih menahan pertanyaan mereka ditenggorokan.


Mereka sudah tau dengan siapa wanita itu mengobrol walau tidak diperkenalkan langsung,namun tetap saja ada pertanyaan tentang siapa mereka.


"Ha,,,"suara Yura tertahan saat sambungan telepon tersalur,namun suara seorang wanita lebih dulu menyembur disertai pekikan,membuat Yura menjauhkan ponselnya dari telinga,bahkan sampai mengusap telinganya yang mendengung gara-gara suara di sebrang sana.


"Gadis nakal!,berani sekali kau menelepon hah!"pekik suara wanita di sebrang sana.


"Sabar-sabar,tarik nafas hembuskan,jangan marah-marah bu,nanti jantungan loh,,nanti ayah jadi duda,trus nanti terbentuk tiga serangkai duda hhhh"ujar Yura diakhiri tawa.


"Beraninya kau,mendoakan ibu mati!"


Ibu,aku tidak mendoakan ibu seperti itu,namun jika terjadi,ya,ya,ya sepertinya aku akan bersyukur,semua harta ayah bisa aku dapatkan"cerocos Yura membuat wanita disebrang sana mendengus.


"Beraninya kau,hah!,pulang kalo tidak akan ibu seret"pekik wanita di sebrang sana.


"Ibu selalu saja mengancam,"sebelum Yura membuat bon hidup di sebrang sana meledak,Xia mereput ponsel dari tangan Yura.


"Ibu ini aku"suara Xia melembut"kami akan menghubungi ibu lagi nanti,kami tengah sarapan sekarang"


"Baiklah segera hubungi ibu,sebelum ibu menyeret kalian pulang mengerti"ancamnya.


"Baik bu"setelah ibu layar ponsel mati disertai nada panjang berakhirnya panggilan.


Xia mengembalikan ponsel kepemiliknya,sedangkan vidio call yang ia lakukan dengan sepupu dan keponakan sudah dia akhiri sebelum merebut ponsel yura tadi.


"Siapa tadi?"tanya Afra yang sejak tadi menahan untuk bertanya.


"Ibu,sepupu dan keponakan kami"jawab Xia sejujurnya.


"Ibu?"heran Afra disertai alisnya yang naik keatas.


"Kenapa?"bukan Xia yang bertanya namun Yura.


"Tidak"jawab Afra dengan raut dingin.


"Keponakan mu berusia berapa tahun sayang?"tanya Afra mencoba mencari informasi walau sedikit.


"Empat"jawab dingin Xia seperti biasa,namun dengan nada kesal karna kejadian didapur tadi,dimana dirinya diganggu saat memasak.


Afra menganggukan kepala sebagai jawaban mengerti.


"Anak dari tuan Liam nona?"tanya azkara.


"Bukan"jawaban Xia membuat Afra dan Azkara melongo,jika bukan dari Liam maka dari siapa?.


"Hah,lalu dari siapa?"tanya Azkara seolah mewakili bosnya.


"Bukan urusan anda!"jawab Xia sebari suara geseran kursi yang terdengar,menandakan orang yang menempati kursi bergerak, "Aku akan mengecek keadaan Balla" ujar nya disusul Yura.


"Ikuttt"pekik Yura sebari mengambil tisu sebelum ia beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Jangan lupakan Gama,pria itu tidak bersuara sama sekali ia asik makan dengan sesekali mengamati sekitar.


__ADS_2