
Afra menutup wajahnya dengan kedua tangan saking malunya mengingat kejadian waktu itu.
Dan Azkara semakin kesal campur malu.
"Kau wanita tidak tahu malu,asal kau tau aku juga terpaksa melakukan itu"pekik Azkara.
"Hei,kau sendiri yang membelikannya,jika tau sudah ku rekam"balas Yura sebari mengusap sudut matanya yang berair gara-gara tawanya.
Namun tawanya masih belum berhenti.
Gara-gara bos nya itu Azkara harus merasakan malu setengah mati.
Azkara kesal ia memutuskan pergi dari ruangan itu dengan menghentakan kaki saat berjalan.
"Uh ada yang marah,habis membeli dalaman wanita"goda Yura sebari melihat punggung pria itu dan lanjut tertawa.
"Diam deh"ucap Xia membuat yura menutup mulutnya menggunakan tangan mencoba menghentikan tawa.
Yura kembali duduk namun kini duduk di kursi bekas Azkara disamping Afra.
Bahu Yura bergetar karna menahan tawa"hmm"Yura berdehem untuk mengontrol suaranya.
"Kalian memilihnya langsung dimall?"tanya Yura masih membahas dalaman membuat Xia menutup matanya dengan tangan.
Yura menatap Afra meminta jawaban dan ya Afra hanya mengangguk lemah dengan menunduk.
"Ptttt"Yura lagi-lagi menahan tawa
"Kau orang kaya kan?"ucap Yura diangguki afra sebagai jawaban ya.
"Ternyata orang kaya juga bodoh"guman Yura masih didengar Xia dan Afra walau dengan nada lirih.
Afra tidak Terima dikatakan bodoh ia langsung menoleh kearah yura dan menatapnya dingin.
Melihat tatapan itu membuat Yura salah tingkah.
"Bukan begitu magsudnya, kau kan orang kaya,kenapa harus pergi kalo mallnya bisa datang kerumah"ucap Yura menjelaskan dari pada ditebas pedang tatapan tajam afra.
Afra merutuki dirinya dalam hati,benar kata Yura,ia bisa membawa mall kerumahnya seperti biasa dan tidak akan merasakan hal memalukan itu.
Ia juga merutuki kebodohan Azkara kenapa asistennya itu tidak mengingatkan hal itu padanya.
"Dasar Azkara bodoh!"
Magsud Yura membawa mall kerumah adalah membawa berbagai barang yang ada dimall kerumah Afra dengan kekuasaan yang ia miliki.
Karna merasa malu dengan tingkahnya Afra berdiri dan pergi.
Sambil melihat punggung Afra,Xia mengangkat sudut bibirnya.
"Kita keluar!"
"Kemana?"tanya Yura sebari menaikan sebelah alisnya.
"Melihat sisa rumah"
"Oke, kenapa mereka lucu sekali?"ucap Yura mengingat masalah tadi.
"Diam lah"ucap Xia sebari tersenyum tipis.
Gadis kepang itu juga heran bisa-bisanya kedua pria itu melakukan hal seperti itu.
Kedua pria itukan juga bisa membawa kami untuk pergi berbelanja kenapa membuat malu sendiri"pikir Xia sebari menggelengkan kepala.
Tok tok
Suara ketukan terdengar dipintu kamar Afra.
Setelah masalah tadi pria itu merasa malu keluar kamar begitu pula dengan Azkara.
"Tuan,apa anda tidur?"tanya Azkara
"Masuk"jawab Afra.
Azkara membuka pintu dengan wajah ditekuk dan menunduk.
"Apa!"ketus Adra ia juga kesal dengan tinggal bodoh Azkara,karna tidak mengingatkan kalo ia bisa membawa mall kerumah.
"Apa sekarang otak mu sudah kembali?"tanya ketus Afra.
"Apa magsud anda tuan?"tanya Azkara
__ADS_1
"Kau,kau bodoh"pekik Afra sebari menunjuk Azkara.
"Kenapa kau tidak mengingatkan bahwa aku bisa membawa mall kerumah!"pekik Afra.
Azkara dibuat cengo dengan ucapan Afra ia baru ingat sekarang.
Benar tuannya bisa membawa semua barang dimall untuk dipilih dirumah seperti biasanya tapi kenapa waktu itu ia lupa.
"Saya,saya lupa tuan"jawab Azkara langsung terduduk manatap marmer.
Andai saja waktu bisa diulang ia tidak akan berbuat memalukan seperti itu.
Rasanya kaki Azkara seperti jely lemas sekali.
Kejadian memalukan itu.
"Kau bodoh"rutuk Afra.
"Lalu kenapa anda tidak melakukan hal itu juga tuan?,kita tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu"tanya Akara mendapat keberanian karna tidak mau disalahkan.
Masalah itu bukan salahnya oke!.
"Aku lupa bodoh"
"Itu artinya kita sama-sama bodoh tuan"
"Kau mengatakan aku bodoh?"ucap Afra sebari menaikan sebelah alisnya.
"Tidak tuan,disini hanya saya yang bodoh,jadi bisakah kita tidak membicarakan hal itu lagi,saya malu tuan"jawab Azkara yang sayang nyawa.
Mana mungkin ia membenarkan bahwa tuannya juga bodoh sepertinya.
"Kau benar,kita jangan ungkit masalah ini,jadikan ini rahasia kita"ucap Afra diangguki Azkara setuju.
Tentu saja mau ditaro dimana muka tampan mereka jika seluruh dunia tahu.
"Kau berjanji dengan nyawamu Azkara,bahwa ini akan menjadi rahasia kita"
"Baik tuan,anda juga harus melakukan hal yang sama,agar ini menjadi rahasia kita"kini ucapan Azkara diangguki Afra sebagai respon setuju.
Gara-gara masalah daleman Azkara hampir lupa tujuan awal ia menemui bosnya itu.
"Tuan ada yang ingin saya beritahukan,tentang nona"
"Kenapa dengan Lara?"tanya Afra
"Nona Xia tuan,maaf jika anda memanggil nama nona seperti itu takutnya mereka curiga tuan"ucap Azkara mengingatkan.
"Aku lupa,katakan kenapa dengan Xia?,dia baik-baik sajakan?"
"Mereka baik tuan,namun beberapa menit yang lalu mereka meninggalkan mansion"ucap Azkara harap cemas.
" apa?,dia pergi sendiri?"
"Tidak tuan bersama nona Yura"jawab Azkara jujur.
"Kenapa kau tidak memberitahu dari tadi, bodoh,bagaimana kalo aku kembali kehilangan dia,kau akan tanggung jawab hah"pekik Afra kesal
"Kenapa kau tidak menghentikan mereka,dasar bodoh"Afra semakin kesal ia menggerakan kursi rodanya.
Pria itu takut,takut jika gadisnya kembali pergi dan ia tidak bisa menemukannya lagi seperti 5tahun lalu.
Tidak! Semua akan sia-sia jika ia kehilangan gadis itu kembali.
Tiba-tiba suara deringan ponsel terdengar.
Itu dari ponsel Afra ia langsung menekan ikon hijau saat tahu identitas sipenelepon.
"Kamu dimana?,kenapa pergi?,kamu baik-baik sajakan?,katakan dimana aku akan menjemputmu"Afra mencecar si penelepon dengan berbagai pertanyaan
Satu-satu"jawabnya sebari menggelengkan kepala walau Afra tidak melihatnya namun ia pusing dengan deretan pertanyaan pria itu.
"Kamu dimana sayang?,aku akan menjemputmu"ucap Afra menekan kehawatirannya dengan nada lembut.
"Aku keluar bersama Yura"jawab Xia.
"Kemana?aku akan menjemputmu"
"Dengarkan dulu!,Aku dan yura akan melihat kondisi rumah yang terbakar,aku ingin mengeceknya agar bisa bertanggung jawab jika merugikan orang lain"Xia sengaja menekan kata bertanggung jawab.
"Kau tidak perlu menjemput,kami akan pulang sendiri naik taxi jika sudah selesai,jangan hawatir kami akan pulang sebelum malam"sambung Xia
__ADS_1
"Aku akan menyusul mu kesana"
"Tidak perlu,aku akan kembali!"ucap Xia dengan tegas.
"Aku akan menyusul"kekeh Afra.
"Tidak perlu!,atau aku akan mencari rumah agar tidak tinggal di mansion mu!"ancam Xia membuat Afra mengiakan agar ia tidak kehilangan gadis itu kembali.
"Baiklah,lalu kenapa kamu tidak memberitahuku dulu?"tanya Afra dengan bibir yang sudah mengkerucut jika Xia melihat ia pasti sudah merasa gemas.
"Aku tidak tau kau dan kak Azkara dimana,jadi aku memberitahu lewat telepon,sudah aku tutup"ucap Xia lalu benar-benar menutup telepon.
"Tunggu dulu!"cegah Afra namun gagal karna Xia sudah menutup panggilan.
Pancaran permusuhan terlihat dari mata afra"dari mana kau tadi?"
"Dikamar tuan"jawab Azkara jujur.
"Sepertinya kau sudah bosan bekerja?"ucapAfra dengan smirk yang menghiasi bibirnya.
"Maaf tuan,saya salah tolong hukum saya,saya masih ingin bekerja bersama anda tuan"mohon Azkara sungguh-sungguh.
"Lima puluh cambukan"titah Afra.
"Baik tuan,saya akan melaksanakanya,namun apa sebaiknya kita sekarang mencari nona tuan"ucap Azkara.
Ia juga merasa khawatir kehilangan gadis-gadis itu yang baru datang dan memberi warna untuk kehidupannya,rasanya ia tidak rela kehilangan mereka.
Walau menjengkelkan.
"Ya"ucap Afra,walaupun ia bilang tidak akan menyusul Xia,namun bukan Afra namanya jika menurut begitu saja.
.
.
.
Didalam mobil yang sudah didisain seperti taxi ada tiga orang yang berbeda usia dan jenis kelamin.
Seorang pria tengah mengemudi dan dikursi penumpang ada dua gadis.
Mereka sedang membahas sebuah masalah.
Setelah menutup telepon Xia mematikan ponselnya agar tidak ada yang menggangu.
"Kak Gama,apa kau menyimpan buah tangan yang dibawa Xia?"tanya Yura ke pengemudi,
Pria itu bernama gama pengawal pribadi Yura yang mengikuti kemanapun gadis itu pergi.
Xia pun memiliki pengawal pribadi, namun Xia meminta orang itu untuk mengurus masalahnya dinegara sana.
"Benar nona,saya menyimpannya dengan baik"jawab Gama.
"Kapan kau mengantisipasi semuanya,Xia?"tanya Yura.
"Tadi pagi,aku meminta kak Gama untuk mengambil kedua koper itu dan menyimpannya dengan baik"jawab jujur Xia.
Gadis bernama Xia itu merasa heran dengan perampokan yang ia alami dirumahnya,pasalnya hanya barang rusak namun tidak ada barang yang hilang.
Bahkan koper berisi uang saja masih utuh jadi apa tujuan perampok itu.
Xia memikirkannya beberapa menit sampai ia menggelengkan kepalanya dan terkekeh.
Untuk mengantisipasi kejadian selanjutnya ia meminta pengawal Yuna itu,untuk menyimpan uang didalam dua koper tersebut untuk diamankan,agar tidak menjadi bahan keegoisan seseorang.
Dan membuatnya rugi begitu banyak.
Pemikiran awalnya benar-benar terjadi,pria itu benar-benar membakar rumahnya.
Keberanian yang merugikan gadis itu begitu banyak!.
"Aku akan membalas mereka!"guman Xia terdengar Yura.
"Sebenarnya apa tujuan mereka?,apa amnesia yang pria itu alami,beneran?,dia pria yang mengalami kecelakaan bersama kak Ken lalu bagaimana bisa ia berpikiran bahwa kau tunangannya?"heran Yura.
Mungkin ini saatnya ia bertanya.
Xia mengangkat kedua bahunya lalu sudut bibirnya terangkat"saat dia sadar,aku yang pertama dia lihat mungkin dari sana"
"Kak Gama apa ayah mengirimkan sesuatu pada kakak?, seperti email?"tanya Xia
__ADS_1
Pria bernama Gama itu mengangguk.