
Mobil yang berisi tiga wanita berbeda usia dengan satu pria yang menjadi supir mereka kembali berjalan dijalan raya,tentunya masih seperti awal.
Dengan pengawalan.
Yura terus menertawakan kejadian barusan,ingatannya kembali saat ia menghadapi pria bernama Cer Atmaja paman dari Bala itu.
Ingatannya terus mundur,yang ia ketawakan saat mereka beradu mulut di ruangan kepala sekolah.
Kedua gadis itu datang dengan identitas kakak dari Bala,tentu saja pria paruh baya itu tidak percaya,karna dirinya lah sang paman gadis itu,ia tahu seluk beluk gadis itu.
Pria paruh baya itu semakin menjadi dan terus menyudutkan mereka,Bala juga tidak tinggal diam,ia terus menyangkal dan menjawab perkataan kasar dari keluarga adik dari ayahnya itu.
Dibantu Yura ia ratunya berdebat,bahkan sama dengan pria paruh baya itu,gadis muda itu tidak segan-segan memberi masukan untuk,keluarga paman dari Bala.
Ketiga gadis yang mendatangi ruangan kepala sekolah itu tidak menunjukan ekpresi lebih,apalagi Xia gadis itu hanya menunjukan wajah datar bahkan hanya menonton.
"Kau tidak lelah tertawa terus?"tanya Xia jengah,mendengar tawa gadis yang kini bertukar tempat duduk dengannya.
Dirinya jadi duduk didepan samping Gama,dan dikursi penumpang diisi Bala dan Yura.
Yura mencoba menghentikan tawanya dengan menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskannya.
"Huhhh,habisnya paman dia sangat lucu"ujar Yura sebari melirik Bala yang sedari tadi menunduk dan diam tidak seperti biasanya.
"Jika kau ingin menangis,pending dulu oke,nanti saja,kau harus membayar perlakuan kami tadi,semua tidak gratis"ujar Yura melihat wajah bala yang menunduk dengan sendu,ia yakin gadis itu ingin menangis.
Bala mengangguk tanpa mengubah posisinya.
"Senyum!"ujar Xia membuat Bala mendongkak.
Xia juga menatap gadis yang paling muda diantara mereka itu dari kaca depan,ia tahu dengan keadaan gadis itu sekarang.
" Semua akan baik-baik saja,jangan takut"ujar Yura menimpali.
Bala mengangguk dan bertanya dengan suara lirih,"Apa boleh aku terus bersama kalian?"
Yura mengusap puncak kepala Bala dengan lembut membuat gadis itu menatapnya penuh harapan.
"Tidak!,jalan kita berbeda"jawab Xia membuat mata Bala berkaca-kaca.
" Apa yang dikatakan Xia itu benar,kita berada dijalan yang berbeda,kau sudah hampir kuat walau sendiri,hanya perlu diasah agar lebih percaya diri"ujar Yura menambahkan.
"Tapi aku bisa ikut dengan jalan kalian!"ujarnya tanpa diminta air mata yang sedari ditahan kini menetes.
Rasanya gadis itu tidak mau kehilangan kedua kakak barunya itu,ia baru saja akan membuka kebahagiaan baru,kenapa harus tertutup lagi padahal belum sepenuhnya terbuka.
"Jalan kami berbahaya,gadis bodoh,kau akan segera mendapatkan kebahagian jika memilih jalan yang benar,kau tenang saja jika kau berani semua akan terkendali"
"Walau terkadang jalan yang kita bayangkan berbeda dengan kenyataan,namun itulah dimana kau akan merasakan kebahagiaan"sambung Yura sebari mengusap kedua pipi Bala menghapus air mata gadis itu yang terus bercucuran.
"Kau selain bodoh juga cengeng,berhentilah menangis"ujar Yura sebari terkekeh,membuat Bala mengusap matanya untuk menghentikan tangisannya namun nihil,air mata itu terus saja mengelir.
"Jika kau cengeng terus,aku akan kembali menarik kata-kataku saat mengakuimu sebagai adik kami"ancam Yura membuat Bala menatapnya tidak terima.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu!"jawabnya serak sebari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Air matanya tidak mau berhenti bagaimana dong"sambungnya jujur membuat Xia menggelengkan kepala.
Sedangkan Gama pria dingin itu terkekeh melihat rengekan gadis kecil itu.
"Dasar gadis bodoh,berhentilah menangis dan arahkan kami ketempat yang menyenangkan"ujar Yyra sebari menyentil kening Bala.
"Sakit"rengeknya"Apa kakak ingin ke club?"pertanyaan gadis itu membuat ketiga manusia yang semobil dengannya menatap gadis itu dengan tajam.
Begitu juga Gama ia menatap gadis itu dari kaca.
"Kau suka ke club?"tanya Yura masih menatap gadis itu dengan tajam.
"Tidak!"tegas Bala sebari menggelengkan kepalanya ia takut dengan tatapan tajam yang seolah akan menembus kepalanya.
"Aku hanya bertanya,aku tidak pernah pergi kesana,hanya pernah mendengar anak pertama dari paman Cer,suka pergi kesana dengan kekasihnya,mereka bilang tempat itu,tempat melepas penat"sambunya menjelaskan.
"Dengarkan aku baik-baik"kini Xia yang bersuara
"Dunia memang kejam!,tapi jangan pernah kau terjerumus dalam pergaulan seperti club,alkohor dan *** bebas,jika kau sudah masuk kedalam pergaulan itu kau tidak akan bisa keluar"sambung Xia menasehati dengan wajah dinginya.
"Baik kak,aku akan ingat pesan mu" jawab Bala ada rasa aneh dihatinya membuat ia kembali terisak setelah beberapa detik lalu berhenti.
"Jangat pernah merasa penasaran dengan dunia seperti itu"sambung Xia di angguki Bala sebagai jawaban.
"Jangan lanjut menangis gadis bodoh!"kesal Yura karna melihat gadis itu kembali terisak.
Ketiganya kembali terkekeh.
Perjalanan terus berlanjut dengan Bala sebagai pemandunya,karna gadis itu yang tau tujuan mereka sekarang.
Gadis kecil benar-benar bolos sekolah sekarang dan hal itu tidak disadari kedua gadis yang bersamanya.
Mobil sudah melakukan selama satu jam lamanya,selama satu jam juga mulut kedua orang yang duduk di kursi penumpang belum juga merasa lelah.
Mereka terus beradu argumen.
Mereka melihat palang besar dengan tulisan 'dvfeston kuda' di Monumen itu.
Para gadis itu satu circle sepertinya,tempat yang diarahkan Balla membuat kedua gadis lainnya berbinar.
Sudah lama.
Melihat reaksi Yura membuat Bala menyombongkan diri,"Bagaimana tempat ini,bagus bukan?"
"Lumayan,tapi kau bisa memacu kudakan?"tanya Yura sebari menaikan halisnya, "Jangan sampai kita kesini bukannya bersenang-senang malah mengajarimu memacu kuda"
Bala mencebikan bibirnya,"Tenang saja,aku bisa!,aku ini atlet pacuan kuda nasional tau!"
"Terserah mau kau atlet nasional,internasional,terserah asal kau tidak menganggu kami didalam"ujar Yura menatap malas gadis kecil sombong itu,sikapnya semakin mirip dengan seseorang yang ia kenal.
Setelah mobil terparkir mereka turun namun sebelum memasuki lobi.
__ADS_1
Xia meminta para pengawal yang mengikuti mereka menunggu diluar,walau mereka menolak tapi Xia tidak habis akal.
Akhirnya mereka masuk kedalam lobi hanya berempat dengan tidak terlalu menonjol.
Mereka hanya Gama yang mengekori ketiga gadis itu dari belakang memastikan keamanan mereka.
Sepertinya tempat ini memiliki tamu lainnya yang sedang berkunjung,didepan mereka terlihat kerumunan orang yang menatap kedatangan ketiga gadis cantik itu,terlihat dari penampilan mereka pastilah anak orang kaya dengan usia diatas dua puluhan.
Untuk para pria mereka menatap penuh kekaguman atas kecantikan ketiga gadis itu,sedangkan para perempuan yang mengikuti mereka menatap cemburu.
Ketiga wanita itu tidak memperdulikan semua tatapan mereka,ketiganya hanya berniat melewati saja.
Namun langkah mereka terhenti saat seorang wanita tiba-tiba bersuara dengan nada kesal.
"Bala,sedang apa kau disini?"tegurnya membuat semua atensi melirik arah suara.
Begitu juga Balla,ia pikir orang itu akan memilih tidak mengenalinya,menyebalkan.
"Aku?"tanya Balla sebari menunjuk dirinya dengan jari.
"Tentu saja kau,siapa lagi?,sedang apa disini bukannya sekolah malah bolos,mau jadi apa kau hah?"pekik wanita yang familiar dimata Balla.
Balla memutar matanya malas,"apasi yang dia lakukan"pikir bala melihat tindakan aneh orang itu,sok peduli.
"Mau jadi apanya diriku,ya terserah aku,kau siapa hingga bertanya begitu?,kau ibuku?,bukankan?"jawab Balla dengan nada ketus.
"Aku juga tidak sudi jika harus menjadi anakmu"sambung Balla sebari bergidig dan merasa jijik membuat Yura tersenyum.
"Kau!"kesal wanita itu sebari menunjuk Balla dengan wajah memerah,karna marah sekaligus malu dengan teman-temannya yang malah sedang menahan tawa.
"Tidak usah urus,urusanku aku terlalu sibuk untuk melihat sikap pedulimu itu"cibir Bala
"Urus saja keluargamu yang kini mungkin sudah kehilangan tangan mereka"sambung gadis itu,ia tau semuanya karna Yura yang menceritakan saat perjalanan kemari.
"Beraninya kau!,menyumpahi keluarga Bella Atmaja gadis kecil"ujar salah satu teman yang memanggil dia Bella.
"Aku hanya berkata jujur,apa aku salah?"tanya Bala sebari menatap Yura.
"Tentu saja tidak"jawab Yura.
Xia dan Gama hanya menyimak seperti biasa kedua kulkas berjalan itu,akan bicara jika memang ingin.
Wanita bernama Bella itu mendekati Balla saat tangannya hendak melayang kearah Balla.
Seorang pria diatas tiga puluhan menghampiri mereka untuk membawa anak-anak muda tersebut berkeliling.
Apa yang ingin dilakukan Bella harus terhenti gara-gara kedatangan menajer yang akan memandu mereka,ia harus menahannya dan akan membuat bala membayarnya saat mereka sudah kembali.
Area pacuan kuda dvfeston memiliki area yang luas,bukan hanya sekedar kuda,disini juga memiliki kuda-kuda berharga dan terkenal dikirim orang-orang dari kota untuk dititipkan.
Kuda coklat paling tengah menarik perhatian semua orang,walau warnanya mirip dengan kuda lainnya namun terlihat dari fisik dan keadaan kandang membuat,kuda itu sangat mencolok bahwa diperlukan istimewa dari yang lainya.
Makanan yang layak bahkan kuda itu tidak diikat tali pengendali,ekornya yang panjang membuatnya terlihat tangguh dan tubuh kuda yang kekar membuat mata yang melihatnya terpesona dengan kuda tersebut.
__ADS_1