
Mereka tidak kembali ke mansion karna Yura dan Xia menolak,mereka memutuskan menjaga secara pribadi pria bernama Gama itu.
Sedangkan Bala gadis itu sudah diusir dengan Penukaran nomor telepon.
Afra sudah menyiapkan kamar untuk gadisnya beristirahat dirumah sakit,pria itu juga meminta anak buahnya untuk membawa baju ganti untuk kedua gadis itu,khususnya Xia bajunya sudah di penuhi bercak darah Gama karna melakukan pertolongan pertama pada pria itu.
Namun Xia menolak kamar itu,ia dan Yura menemani Gama diruangannya,tempat itu terasa sangat dingin dan mencekam karna aura orang-orang disana.
Afra menunjukan ke posesifan nya didepan Gama,ia tidak terima saat gadisnya menghawatirkan orang lain,bahkan orang lain itu dengan berani menatap gadisnya.
Azkara baru kembali menyelesaikan tugasnya,menyelidiki kejadian hari ini namun ia tidak menemukan bukti, ditempat itu hanya ada saksi mata,selain itu tidak ada,bahkan semua CCTV ditempat itu secara kebetulan sedang rusak, dan belati yang dijadikan alat oleh orang jahat itu juga tidak ditemukan.
Terlalu banyak kebetulan.
Xia sudah mengatakan bahwa ia akan merawat pria bernama Gama itu,sebagai tanda terimakasih sampai sembuh,sekaligus membayar hutang nyawa karna gadis itu tidak suka memiliki hutang nyawa kepada siapapun.
Awalnya Afra tidak setuju namun dengan ancaman halus,Xia meminta Azkara untuk mencarikan nya rumah untuk mereka bertiga tinggali,yaitu Xia,Yura,dan Gama, Xia mengatakan ia akan merawat pria itu dirumahnya nanti,tentu saja Afra tidak akan setuju dengan ide itu.
Dengan pasrah pria itu mengijinkan Xia merawat pria itu namun dimansionnya dan mereka juga harus memiliki jarak.
Tentu saja Afra tidak akan rela jika gadisnya pergi dari mansionnya,apalagi akan tinggal bersama pria asing.
"Awasi pria itu!"bisik Afra terhadap Azkara yang duduk disampingnya.
"Baik tuan"jawab Azkara dengan suara kecil "tuan apa anda tidak curiga dengan kejadian hari ini?"
"Menurutmu?"Afra malah bertanya.
"Menurut saya semua terlalu banyak kebetulan tuan,kita hanya memiliki saksi mata ditempat kejadian,dan kejadian itu juga sangat cepat sampai para pengawal tidak dapat mendeteksi pergerakan mereka,dan belati yang digunakan orang itu juga menghilang"ujar Azkara
" Itu semua hal biasa" jawab Afra.
"Memang benar apa yang anda katakan tuan,pelakunya berhasil kabur,jika mereka berkelompok saat orang-orang panik mereka akan menjadikan itu sebagai kesempatan,saat nona mencabut belati dari perut pria itu,kelompok orang ini berada didekat nona dan mengambilnya,tapi jika tujuan mereka untuk menghabisi nona mereka akan kembali tuan"
"Selidiki semuanya lebih teliti! ,dan panggil mereka kesini untuk menjaga gadis ku!,kita tidak tau musuh yang mana yang menunjukan taring mereka"ujar Afra.
"Baik tuan,saya akan memanggil mereka sekarang"jawab Azkara.
"Berikan hukuman yang tepat untuk pengawal bodoh yang gagal menjaga gadis ku!"
"Baik tuan"jawab Azkara dengan sedikit bergidig,karna saat melihat kilatan amarah diwajah tuannya itu.
Disofa lainnya ada Yura yang sedang berbaring dengan paha Xia sebagai bantalan "sepertinya mereka curiga"ujar Yura dengan suara lirih agar tidak didengar siapapun kecuali dirinya dan Xia.
Xia menjawab dengan gelengan kepala,lalu menatap pria yang tertidur karna obat dibrangkar,pria itu adalah Gama.
seharian mereka masih dirumah sakit.
Hari bahkan sudah berganti.
Afra semakin posesif ia akan menarik Xia, saat gadisnya itu berada di satu jenggkal dengan pria bernama gama.
Membuat Xia jengah ia memilih diam disofa agar pria yang mengklaim dirinya tunangannya itu diam.
Sedangkan Yura sudah terkikik geli,saat melihat wajah Xia yang frustasi atas ke posesifan tunangan palsunya itu,ia jadi punya senjata untuk menggoda gadis itu lain hari.
Jika Azkara pria itu sedang sangat disibukan dengan beberapa tugas,sejak pagi pria itu belum kelihatan batang hidungnya,Yura merasa kosong.
Kosong yang Yura magsud karna tidak ada orang yang bisa ia buat emosi,membuat pria itu kesal adalah hobi barunya,namun kedatangan gadis kecil membuat ruangan menjadi berwarna.
__ADS_1
Sebelum kedatangan gadis kecil yaitu Bala,ruangan itu hanya senyap karna hanya diisi kumpulan wajah datar jika bala katakan kecuali Yura tentunya.
Bahkan gadis kecil itu selalu mencari kesempatan untuk mengobrol dengan pria tampan yang sedang sakit itu,pria bernama Gama itu sangat tampan dengan wajah asianya,banyak yang mengakui ketampanan pria itu,wajahnya yang tidak menampilkan banyak ekpresi dan sedikit bicara namun itulah daya tarik dari dirinya.
Bala selalu disamping Gama walau terlihat dari wajah Gama kalo pria itu tersiksa mendengarkan ocehan tidak jelas gadis kecil itu,Xia dan Yura tidak ada niatan untuk menolong, walau sudah beberapa kali Gama mengode untuk menjauhkan gadis kecil itu dari dekatnya.
Menurut Gama gadis kecil itu lebih cerewet dari nonanya, dan itu semua benar,itu sangat mengganggu untuk otaknya.
"Ayo kita pulang!"ajak Afra yang sudah jengah dengan ke bisingan dari Bala dan yura.
"Ayo"setuju Xia membuat Afra berbinar.
"Aku pusing melihat mereka"guman Xia masih didengar afra.
"Aku juga"
Xia menatap pria yang baru saja menjawab gumanannya,lalu gadis itu berdiri dari duduknya.
Saat melihat pergerakan itu Yura menaikan sebelah halisnya "mau kemana?"
"Pulang,aku harus menyiapkan kebutuhan kak Gama dimansion"jawab Xia membuat Afra berdecih kesal karna alasan gadisnya itu.
"Oh,baiklah"
"Kapan saya bisa pulang nona?"tanya Gama.
Gama sempat menolak untuk tinggal dimansion Afra,namun dia diancam pria itu agar tidak membuat gadisnya pergi darinya.
Tinggal atau kehilangan nyawa!.
"Besok "jawab dingin Afra.
"Kau menyukai kak Gama gadis kecil?"tanya Yura.
"Benar"jawab Bala"siapa yang tidak menyukai pria tampan"sambungnya sebari cengegesan.
Gadis kecil itu selain cerewet juga centil.
"Huh,kau masih kecil"ujar Yura sebari mendorong kening gadis kecil itu dengan jarinya "tumbuhkan dulu gigimu baru pikirkan pria"sambungnya sebari terkirik geli.
Bala mendengar cibiran dari Yura langsung memonyongkan bibirnya,Lagi-lagi diingatkan dengan giginya yang hilang satu.
"Gigiku memang hilang satu,tapi tidak memudarkan kecantikanku tuh"ujar Bala percaya diri.
"Kau memang cantik jika dilihat dari gedung brujkholifah menggunakan ujung sedotan"cibir Yura sebari tersenyum manis.
Bala mendengus kesal ia menatap gama dengan wajah sedih"kakak dia mengejekku"lirihnya mencari pembelaan.
Namun apa yang diharapkan Bala hanyalah harapan yang tidak akan bisa dikabulkan,pria yang ia harap akan membelanya hanya menatap dirinya dan Yura secara bergantian sebari menaikan sebelah halisnya tanpa mengeluarkan sedikit suara pun.
"Harapan kosong "cibir Yura sebari terkikik lagi-lagi membuat bala kesal dan semakin memajukan bibirnya.
Xia menghela nafas panjang,lalu mendorong kursi roda Afra tanpa mempedulikan percekcokan Bala dan Yura yang akan panjang.
Setelah diluar kamar,kursi roda Afra diambil alih anak buahnya menuju mobil.
Diperjalanan pulang Afra lah yang mencairkan suasana.
"Kamu gapapa?" tanya agar khawatir dengan gadisnya.
__ADS_1
Ia takut gadis itu akan trauma.
Xia menatap pria itu lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Aku minta maaf"ujar Afra sendu.
"Untuk?"tanya Xia sebari menaikan sebelah habisnya.
"Untuk kejadian kemarin,semua karna kebodohanku yang tidak bisa menjagamu,mereka pasti salah satu musuh ku,aku minta maaf karna membuatmu dalam bahaya"ujarnya sendu.
"Kau punya banyak musuh?"tanya Xia dijawab dengan anggukan kepala oleh pria itu.
"Begitulah"walau sedikit takut Afra akan menceritakan setengah kejujuran dari kehidupannya,walau banyak kebohongan yang akan ia berikan.
"Aku bukan penjahat,hanya saja banyak orang yang ingin menghancurkanku,mereka membenciku karna keberhasilan yang aku dapatkan,tapi kamu tenang saja kejadian kemarin tidak akan terulang lagi"ujarnya sebari menggenggam tangan Xia.
"Aku bersumpah akan menjagamu walau nyawaku taruhannya,aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun,kamu tenang saja semua akan baik-baik saja,aku bersumpah,aku mohon jangan tinggalkan aku lagi" sambungnya sebari menggenggam tangan Xia dan menatapnya penuh harap.
Xia menghela nafas,ia mencoba melakukan sesuatu agar tidak dicurigai.
Xia menarik bibirnya melengkung keatas membuat pria disampingnya itu terpesona"kamu tenang saja"
Afra terdiam selain karna terpesona dengan senyuman gadisnya,ia juga terkejut sekaligus senang ini pertama kalinya,gadisnya berbicara dengan nada kamu yang lembut.
Dia tidak salah dengarkan?,untuk memastikan itu Afra menajamkan pendengarannya agar tidak kecewa.
"Saat seseorang diatas akan banyak orang yang menginginkannya jatuh,kamu hanya perlu semakin kuat untuk melindungi apa yang kamu miliki,namun sesuatu yang baru akan membutuhkan pengorbanan,pengorbanan yang besar,kamu hanya perlu bersiap untuk itu"sambung Xia membuat Afra semakin diam dalam pikirannya.
"Kamu kenapa?"tanya Xia melihat keterdiaman pria itu.
Afra masih belum sadar dengan pertanyaan gadisnya,ia terlalu dalam bergelut dengan pikirannya.
Pria itu pikir gadisnya akan ketakutan saat mendengar dirinya yang banyak musuh dan merasa takut,sepertinya ia terlalu khawatir.
Xia menempelkan sebelah punggung tangannya yang tadi digenggam afra ke arah dahi pria itu.
"Kenapa?"tanya Afra yang baru sadar dari lamunannya saat tangan gadisnya menempel pada dahinya.
Xia berdecih dalam hati,bukannya dia yang harus bertanya begitu?.menyebalkan!.
"Kau yang kenapa?,aku berbicara panjang kau malah diam"kesal Xia sebari membuang muka kearah luar.
Afra sadar bahwa ia sudah membuat gadisnya marah,langsung mencoba membuat gadisnya menatap ia.
"Lihat kemari!"pintanya lembut sebari menangkup wajah gadisnya.
Dengan terpaksa Xia memandang pria tampan tersebut.
"Aku minta maaf,aku terdiam karna aku terharu dengan ucapanmu,apa yang kamu katakan itu semua benar,aku bangga punya kamu"ujarnya sebari tersenyum.
"Apa aku boleh meminta sesuatu?"tanya Afra penuh harap.
Xia menaikan sebelah halisnya sebari berpikir"apa yang dia inginkan?"
"Apa?"
"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan kau,itu membuat hatiku sakit,rasanya kita bukan orang yang saling mengenal"pintanya dengan penuh harap dan sendu.
semua itu benar bukan?.
__ADS_1