
Setelah berkeliling mencari keberadaan dua gadis cerewet yang entah kemana Azkara dan Anna memilih menemui para tuan mereka yang bersantai di sebuah kafe terbuka.
"Nona saya tidak menemukan keberadaan nona Yura dan nona Ansya"ujar Anna memberitahu.
"Jangan terlalu formal ka,panggil nama saja seperti yang saya bilang itu perintah!,, "Xia menjeda ucapannya gadis itu memindai wajah Azkara yang terlihat cemas.
"Mereka akan segera kembali tidak usah khawatir,,,,nikmati waktu kalian,,,,kak Azkara bisa menemani kak Anna berkeliling?" tanya Xia santai gadis kecil itu sudah tidak memakan eskrim lagi namun tidak berhenti mengemil makanan ringan disana,Afra dibuat heran dengan perut gadis itu,apakah terbuat dari karet begitu sulit untuk penuh,namun gadis itu terlihat tidak menjadi gemuk.
"Tidak perlu no,Xia saya akan menemani anda"ujar kaku Anna yang tidak terbiasa tidak menggunakan bahas formal.
"Tidak ada bantahan!,pergilah!,,,,temani dia kak Azkara jangan sampai tersesat"ujar Xia sebari tersenyum sangat-sangat tipis tidak terlihat siapapun.
Ingatan gadis itu mengelana jauh kemasa lalu disaat pertemuannya bersama gadis bernama Anna yang usianya lebih tua darinya,awal dari pintu kebahagiaannya sekarang.
"Baik Xia"jawab Azkara"tapi Yura dan Ansya bagaimana?"
"Mereka sedang bermain,sebentar lagi akan segera kembali"jawab Xia santai.
"Kami permisi"ujar keduanya melangkah pergi untuk berkeliling seperti perintah Xia tadi.
Seperti yang dikatakan Xia tadi 'mereka sedang bermain' begitulah keadaan kedua gadis itu sekarang,tidak ada raut ketakutan seperti diawal mereka diculik,mereka tengah berdiskusi untuk melarikan diri.
"Rencana seperti itu tidak akan bisa membebaskan kita dari sini!"pekik perempuan yang sempat mengajak Yura berdebat sebelumnya.
"Setidaknya kita berusaha!"pekik Yura kesal.
"Berusaha apa?,mempercepat kematian!,jika seperti itu kita akan ketahuan! "
"Benar jika rencananya begitu kita akan ketahuan! "Seru yang lain.
"Memang kalian punya rencana lain?!,tidakkan sebaiknya ikuti saja rencana kita" kini Ansya yang kesal bicara dengan nada berteriak.
"Kita akan ketahuan!"
"Benar"
"Jika hanya berpura-pura pingsan mereka tidak akan percaya! "
Begitulah rencana Ansya membuat mereka kembali pesimis kecuali dua gadis ajaib tentunya mereka selalu percaya diri.
"Mereka pasti membiarkan kita tergeletak begitu saja,bisa saja kita tidak akan kembali bangun karna organ-organ tubuh kita sudah diambil"ujar mereka pesimis saling setuju kecuali Yura dan ansya,bahkan kitty yang tadinya ingin berjuang ikut pesimis.
"Kita berusaha dulu,baru mengeluh,kalian ini lemah sekali si,pantas saja diculik"cibir Yura kesal.
"Hei jangan lupa kau juga lemah!,kau disini bersama kami sekarang"pekik perempuan yang sejak tadi beradu mulut dengan Yura.
"Lengah,kami hanya lengah bukan lemah bodoh"cibir Yura tidak terima.
"Sejak tadi kau berlaga sombong! Kemari kau biar aku kasih pelajaran!"
"Kau tidak bisa mengajar hidupmu sedang diujung tanduk dan kau malah mau mengajar,apa yang ingin kau ajarkan,detik-detik kematian"cibir Yura, dirinya dan perempuan itu sudah berdiri berhadap-hadapan dengan tatapan permusuhan.
Dan
Srekk
"Ahh,,lepaskan bodoh"pekik Yura yang kini rambutnya dijambak perempuan itu,tangan Yura juga tidak tinggal diam, dirinya ikut membalas menjabak perempuan yang menjambaknya.
Aksi saling menjambak itu dicoba dipisahkan oleh mereka yang menjadi korban penculikan,namun akhir dari semua itu malah membuat semua semakin rumit,acara jambak menjambak tertular para semua perempuan disana,mereka saling jambak satu sama lain dengan satu kerumunan dan kebisingan.
"Kau bodoh! "
"Lepaskan"
Ahkkk
Dibalik pintu tidak ada penjaga namun sesekali mereka dicek untuk diberi makanan dan lainnya agar kesehatan para manusia yang mereka culik terjamin aman.
__ADS_1
Sekitar lima penjaga menjadi giliran untuk memeriksa para tawanan mereka,kelimanya sudah ada disana sejak pertengkaran terjadi namun kelimanya hanya dia didekat pintu,Diam-diam mendengarkan rencana mereka untuk melarikan diri sampai aksi jambak-menjambak terjadi.
"Untung kita tepat waktu datang kesini hingga bisa mendengarkan rencana mereka untuk kabur"ujar salah satunya.
"Kau benar,kita bisa saja tertipu jika kita telat datang"setuju temannya hingga dari balik pintu dimana para perempuan dikurung terdengar ringisan juga keributan lebih dari sekedar teriakan.
"Bagaimana ini?"tanya salah satu dari kelimanya,"kita perlu memeriksanya atau tidak?"
"Aku juga bingung,bagaimana jika ini termasuk rencana mereka untuk kabur"
"Tidak mungkin,semua rencana mereka sudah kita dengar sejak tadi,ini pertengkaran asli,,,ayo buka pintunya,,,jika terjadi sesuatu bos akan marah,,,gaji kita bisa hilang,,hari ini hari terakhir mereka bos sudah datang"ujar salah satu dari kelimanya disetujui keempat temannya.
Seorang yang memegang kunci mulai membuka gembok dan memutar knop pintu saat dibuka alangkah terkejutnya mereka dengan semua keributan yang terjadi.
Didepan mereka dua belas perempuan saling berkerumun dengan tangan saling menjambak dan berteriak,penampilan mereka lebih memperihatinkan saat dari pada sejak beberapa hari disekap.
Kelimanya mencoba memisahkan dengan tangan kosong namun mereka gagal,Ansya mengedipkan matanya sebelas kearah seseorang hingga.
Dug.
Suara benturan terdengar diiringi ringisan dan masih teriakan dengan aksi menjambak,Yura mendorong lawan jambak annya hingga terjatuh menimpa salah satu pria penculik disana,setelah itu mereka yang lainpun mengikuti apa yang Yura lakukan tadi.
Dug-dug-dug-dug.
Kelima pria itu sudah tertindih para perempuan hingga tidak bisa bergerak bahkan bernafas saja sulit.
Kedua gadis yang dijuluki ajaib oleh para penculik yang menculik keduanya menyeringgai.
"Cek saku mereka cari kunci pintu! "Ujar Yura sebari merapikan penampilannya dari rambut hingga kebaju,saat acara jambakan terjadi dirinya sudah berubah menjadi gembel dengan semua yang ada di badannya acak-acakan begitu juga yang lain tidak lebih baik dari Yura.
"Hei kalian menyingkir dari tubuh kami,,, jangan berani-berani kabur,,,kalian tidak akan bisa kabur" ujar kasar para penculik
"Ada" seru salah satu perempuan.
Ansya mengambil kunci lalu mengangguk,"Ayo keluar jangan saling mendorong!"titahnya dituruti mereka sedangkan kelima penculik itu masih mengatur nafas.
"Ahkkk"rintihnya sebari menjatuhkan pistol yang hendak ia ambil,secepat mungkin Yura mengambil alih pistol tadi dan menodongkan kearah para penculik yang ternyata sudah terkapar,tinggal satu yang masih berdiri yaitu pria yang Yura tendang tulang keringnya.
" Cepat sekali,,kau menyisakan satu"ujar Yura menatap Ansya yang sedang mengumpulkan pistol dari keempat pria yang ia tumbangkan,entah kapan gadis itu menumpangkan mereka yang jelas hanya Yuralah yang paling tidak suka bertarung selain adu mulut,namun dirinya tetap selalu ikut dalam peperangan apapun.
"Untuk mu"ujar Ansya mendongkak.
"Tidak mau kau saja!"jawab Yura.
Ansya menaikan kedua tangannya keatas,tangan penuh pistol ia tunjukan kearah Yura sebagai jawaban 'tanganku memegang pistol sulit untuk menyerang'.
Yura berdecih"kau ingin aku tembak atau kubunuh"ujarnya malas.
"Ampuni aku"jawab sipria sebari bersimpuh.
Yura memutar matanya malas"dikasih hati minta jantung,,,ambil ini"ujar Yura lalu melempar kunci yang sempat ia ambil dari pintu, "kunci diri kalian disini setelah kami keluar,ingat jika kau kabur kau akan mati!" pria itu mengangguk mengerti.
Ansya tidak mengerti jalan pikir saudarinya itu,Kenapa malah memberikan kunci kepada mereka dan apa katanya tadi,mereka harus mengurung diri ditempat ini bagus kalo nurut kalo tidak mereka sendiri yang rugi, terserahlah biarkan saja pikirnya,keduanya keluar dari ruangan tadi dan saat pintu tadi tertutup kembali tenyata pria yang memegang kunci yang dilempar Yura berjalan kearah pintu dan.
Ceklek
Pintu benar-benar dikunci pria itu dari dalam membuat kedua gadis yang baru saja keluar dari sana melongo tak percaya, "dia penakut sekali" cibir Yura diangguki Ansya.
Sedangkan pria yang mengunci pintu berjalan kearah teman-temannya yang sudah tak sadarkan diri entah sejak kapan,dirinya ikut merebahkan diri disamping yang lain dan bermonolog,"Pura-pura pingsan aja dari pada mati"ujarnya lalu memejamkan mata untuk melakukan apa yang ia katakan tadi.
Kembali kearah suasana dibalik pintu lainnya,kedua gadis itu melongo menatap sekitar,"mereka kemana?"tanya Yura sebari mencari kumpulan perempuan yang bersamanya tadi.
Ya inilah rencana asli mereka,Ansya merencanakan agar mereka bertengkar dan berakhir mereka para penculik masuk dan melerai mereka,dan semuanya berhasil namun sepertinya mereka terlalu tidak sabaran,rencana awal Ansya adalah setelah mereka keluar dari ruang sekap mereka akan berkumpul diluar pintu untuk memulai rencana selanjutnya yang sudah ia susun,namun seperti yang dikatakan tadi mereka terlalu tidak sabaran.
"Ck,,bodoh,,kesabaran mereka sehelai tissue "Ansya berdecak kesal.
"Biarkan saja,,,apapun yang terjadi kepada mereka kita tidak punya urusan sejak mereka merusak rencana kita" ujar Yura sebari merangkul pundak saudarinya.
__ADS_1
"Yah kau benar,,,kita jangan hiraukan mereka!"putus Ansya disetujui yura,salah mereka sendiri bergerak tidak sesuai rencana.
"Ck,,tetap saja aku kesal"ujar Ansya sebari melangkah kecil.
"Kenapa?"
"Mereka tidak menyisakan satupun untuku"keluh Ansya terdengar seperti rengekan.
Yura memutar matanya jengah,"empat masih kurang?"
"Seharusnya tadi tidak aku sisakan untukmu"sesal Ansya.
" Salah sendiri"acuh Yura berjalan lebih dulu meninggalkan Ansya yang tengah mengerutu tidak terima.
Entah mereka berjalan kearah yang benar yang pasti disana hanya ada lorong satu arah,di depan sana yang tidak jauh lagi ada ruangan besar entah apa tapi terlihat seperti pemberhentian pertama dari lorong satu arah ini.
Kedua gadis itu menaikan sebelah halisnya menatap pemandangan didepan,'ketahuan?' pertanya yang seharusnya keluar dari mulut keduanya saat melihat semua perempuan yang sempat disekap bersama nya sudah tidak sadarkan diri.
Hingga akhirnya pertanyaan itu pupus setelah melihat dua pria memakai topeng dengan gambar dua pedang saling menyilang menghampiri keduanya, "salam nona" sapa mereka.
"Ulah kalian?"tanya yura.
"Benar nona,mereka tadi histeris terpaksa kami membius mereka agar tidak sadarkan diri"jelas salah satu dari kedua pria itu.
"Dimana mereka?"
Tanpa dijelaskan kedua anak buah kedua gadis ajaib itu sudah mengerti arah pembicaraan,"untuk mereka yang kami tumbangkan sudah dikumpulkan dalam satu ruangan didepan sana nona"ujarnya sebari menunjuk kelobi kanan "Gama dan Tuan Zeon sedang dilantai atas menangani sisanya nona"
Ansya mengangguk mengerti "ada lima orang diruang ujung lorong satukan mereka!"
"Baik nona"
"Tunjukan jalan ke atas!"
"Baik nona mari"jawab salah satu dari pengawal tadi.
Mereka berbelok kearah kanan kembali berjalan menyusuri lorong,disetiap lorong beberapa pengawal bertopeng bergambar dua pedang saling menyilang berbaris rapi menunduk hormat saat kedua gadis itu melewati mereka,disetiap lorong mirip dengan lorong dimana mereka disekap tadi,beberapa pintu dengan tulisan sebagai penanda.
Sampai akhirnya mereka berada di ujung lorong kembali perjalanan belum berakhir karna kini mereka menaiki lift.
Lift terbuka dilantai atas seperti tadi lorong lah yang harus mereka susuri,"Ck sudah seperti labirin saja"decak kesal yura,memang benar apa yang dikatakan yura bedanya bagunan ini tidak berbelit-belit hanya dipenuhi lorong dengan pintu.
Seperti tadi lorong yang sedang mereka susuri juga dihuni beberapa pengawal jika tadi dipenuhi pengawal bertopeng,kali ini pengawal ninja masih seperti tadi setiap kedua gadis ajaib itu melintas mereka akan menunduk hormat.
Hingga akhirnya mereka menemukan pintu membuat kedua gadis itu menghela nafas panjang,pintu dibuka tanpa diketuk,suara pintu mengalihkan tatapan mereka yang didalam.
"Nona"sapa mereka lalu mempersilahkan kedua gadis ajaib itu duduk disofa yang memang sudah ada diruangan itu,entah ruangan apa namun disana tidak ada istimewa hanya ada sofa over size meja dan sofa kingsize jangan lupakan pintu entah untuk apa disudut ruangan.
Sepertinya kita melupakan suasana diruangan ini,ruangan ini diisi beberapa pengawal sekita empat orang pengawal ninja,jumlah pengawal ninja di gedung ini lebih banyak dari pengawal bertopeng.
dan satu orang pengawal bertopeng pedang penyilang didalam satu ruangan itu,seperti yang tadi dikatakan dibawah Gama dan Zeon juga ada diruangan ini dengan seorang pria baruh baya entah siapa,tampak asing dimata mereka,pria paruh baya tadi duduk di kursi kayu dengan keadaan mengenaskan.
Tangan dan kakinya diikat,wajahnya sudah dipenuhi coretan abstrak tertutup lumuran darah sebab coretan abstrak diciptakan menggunakan pisau lipat yang dipegang Zeon,jangan lupakan tangannya yang sudah tidak berjari dan kakinya yang dipenuhi paku,beberapa paku juga menancap dileher pria itu,pria itu hanya bisa mengerang kesakitan.
Ansya menangkup kedua wajahnya setelah duduk disofa sebari memandang pemandangan yang menurutnya indah,gadis itu memicingkan wajahnya menelisik apa yang ia lihat.
Sedangkan yura gadis itu tidak langsung duduk dia yang tingkat keingin tahuannya yang sangat tinggi,berkeliling melihat ruangan ini walau tidak ada yang istimewa,yura sangat penasaran dengan pintu disudut ruangan.
Cek lek
"Suara pintu dibuka mengalihkan atensi mereka,"ada apa?"tanya Ansya menatap yura yang sedang masukan kepalanya sedikit kedalam ruangan yang baru saja pintunya ia buka.
Yura kembali menutup pintu dan duduk disofa "kamar" jawabnya atas pertanyaan ansya tadi.
"Cairan"ujar Ansya tiba-tiba,Zeon yang masih bermain dengan pisau lipatnya ditubuh pria paruh baya itu menatap heran dengan cairan yang baru saja diberikan pengawal bertopeng atas perintah Ansya.
Botol sebesar kepalan tangan dewasa dengan cairan bening didalamnya namun aroma yang dikeluarkan cairan itu sangat menyengat.
__ADS_1
"Siram ketubuh pria itu!"ujar Ansya menatap pria baruh baya dengan seringgaian.