
"Kita harus bisa bicara,sama Lara sayang,kita gaboleh kehilangan dia lagi,aku lelah menanggung ini semua,aku ingin lepas,lepas dari rasa bersalah ini"isak tangis terdengar bahkan suaranya juga bergetar saat bicara.
Alaran mengusap punggung sang istri untuk kesekian kalinya,ia mencoba setenang mungkin kali ini.
Mereka di dalam mobil tengah mengejar mobil didepannya yang ditempati Xia dan Yura.
Saat mereka sampai dibandara,Alaran mengajak istrinya untuk makan,karna sang istri beberapa hari ini tidak makan dengan teratur.
Jadi mereka pergi ke kafe dekat bandara,saat mencari tempat duduk,pergerakan mereka tertegun saat melihat sosok wanita cantik seperti difoto terakhir kali mereka lihat.
Mereka saling pandang seolah menyisaratkan bahwa mereka sedang tidak halusinasi kan?,wajah itu,wajah yang difoto yang ditunjukan Afra,yang mengatakan bahwa itu wajah lara sekarang.
Wajah yang tidak banyak berubah dari lima tahun terakhir,cantik sangat cantik seperti pahatan sempurna.
Tidak ingin hanya diam mereka memberanikan diri untuk memastikan bahwa mereka sedang tidak halusinasi, mereka menghampirinya dengan penuh harap,dan mereka terus melapalkan doa dalam hati,agar ini semua kenyataan.
Setelah mendengar suara dari Lara,membuat mereka terkesiap,mereka sadar ini kenyataan,namun saat melihat kilatan kebencian dari mata gadis itu membuat tubuh mereka melemas.
Dan saat Lara pergi membuat mereka sedih,mereka mengejar dan akan terus mereka kejar,tidak akan mereka sia-siakan lima tahun lalu,kini orang yang mereka cari ada didepan mata,mereka harus bicara!, masalah ini harus selesai!,semua harus seperti dulu lagi,bahkan lebih baik dari masalalu!.
"Xia mereka siapa?"tanya Yura dengan hati-hati saat melihat kilatan kebencian masih terpancar dari wajah Xia,menandakan ia masih dalam keadaan marah.
Xia membisu,ia mengingat kejadian lima tahun lalu,sangat menyakitkan.
Waktu itu pertandingan final MMA tengah berlangsung,Lara ya Lara adalah nama lain Xia,ia tengah mendukung sang ayah yang tengah menjadi petarung diujung final, ia menunggu bersama pria bernama Alaran disampingnya.
Alaran adalah sahabat ayah Xia,mereka bersahabat sudah sangat lama.
Pertandingan ditonton Lara penuh minat dan decak kagum,mereka saling tinju,mengunci dan mengelak,sampai pada akhirnya pertandingan selesai.
Dan pemenang diumumkan, pemenang dunia mma tahun itu bernama Anka Abana,Lara sangat bahagia atas kemenangan sang ayah, begitu juga dengan Alaran ia bahagia atas kemenangan sang sahabat.
Mereka tidak melewatkan acara kemenangan,tentu saja.
Senyuman tidak pudar dari wajah Lara,membuat Anka sangat bahagia,karna setelah kejadian yang menimpa anaknya itu membuatnya jarang tersenyum.
Anaknya itu kehilangan keceriaan karna sebuah tragedi yang membuatnya trauma,dan alasan ia untuk memenangkan mma dunia ini demi putrinya.
Lara pernah berjanji jika ayahnya menang dalam mma dunia ia akan terus tersenyum,dan hal itu menjadi kekuatan bagi Anka.
__ADS_1
Sampai tragedi kembali terjadi,saat itu anka dan lara pulang diantar alaran menggunakan mobilnya.
Saat ditengah persimpangan,tiba-tiba ada truk besar menabrakan diri kearah mobil yang mereka tumpangi,entah sengaja atau tidak,truk itu menganghantam mobil sangat kencang sampai terjungkal beberapa kali sampai mobil ringsek tak berbentuk.
Xia sangat ingat kejadian itu,ia dihimpit dua orang yaitu Anka dan Alaran dari sisi kanan dan kiri demi menjaga keselamatannya,dan sang supir sudah tidak sadarkan diri sejak mobil terbalik yang pertama kali.
Lara terjaga sepanjang waktu ia ingat semua kecelakaan itu,sampai ambulance membawa mereka kerumah sakit.
Kondisi Lara dinyatakan baik namun dalam segi mental dokter menyarankan untuk memanggil psikiater,anak yang baru berusia 14tahun mengalami kecelakaan yang menyeramkan pastinya akan mengalami syok mendalam.
Selama dirumah sakit lara tidak mau jauh-jauh dari sang ayah padahal tatapan matanya kosong,setiap orang yang ingin menjauhkannya dari sang ayah,ia pukuli membabi buta.
Lara anak yang berprestasi,apalagi dibidang bela diri,dia juga ikutan mma junior.
Aku lara,terus memegang tangan ayah,sedetikpun tidak akan kulepas, bahkan aku takut untuk berkedip,aku takut saat aku berkedip kegelapan akan menenggelamkanku,seperti dulu!.
Dokter,suster,paman bahkan kedua kakak ku terus membujuk untuk membawaku menjauh dari ayah,namun aku tidak mendengarkan mereka,pada akhirnya mereka pasrah dan membiarkanku melihat setiap tindakan dokter untuk ayahku.
Aku tidak berkedip sampai akhirnya ayah membuka mata,ia memberikan senyuman manisnya padaku saat melihatku,ia berkata penuh kecemasan"kamu baik-baik saja sayang?"
Mendengar suaranya membuatku meneteskan airmata yang sedari tadi tidak terjun,aku memeluknya sangat kencang,aku tidak ingin melepaskannya bahkan jika dia ingin melepaskan.
"Ada yang sakit?,sayang,katakan"katanya penuh kecemasan dan ia juga mencoba melepas pelukan dari ku,namun aku tidak membiarkan itu terjadi.
Dengan enggan aku melepaskan pelukan itu,namun tatapanku tidak teralihkan dari wajahnya,disana masih ada dokter yang mengerjakan tugasnya.
Suara yang aku dengar dari dokter itu hanya"kami harus mengoperasi kaki anda tuan,kecelakaan yang terjadi membuat kaki anda ancur dan harus segera dioperasi"
Aku menatap wajah ayahku yang malah tersenyum manis kepadaku,padahal kakinya dipenuhi darah walau sebagian sudah dibersihkan,ia menyembunyikan rasa sakit pada dirinya.
"Kamu kenapa disini?,dimana kakak mu?,dan bagaimana dengan paman Alaran?"tanya ayah beruntun membuatku cemberut disaat itu juga.
Aku tidak menjawab dengan suara aku hanya mengegelengkan kepala sebari terus menatap wajah ayah.
"Temui kakak mu,biarkan ayah sama paman-paman dokter disini,lara juga harus dirawat,agar tidak ada yang sakit!"
Aku hanya mengegelengkan kepala sebagai respon,semua orang disana tidak ada yang berani untuk membawa aku keluar ruangan,setelah kejadian aku menumbangkan beberapa orang yang memaksaku pergi.
Brak
__ADS_1
Suara pintu dibuka secara kasar sampai membuat semua orang terperanjat.
"Kau pembunuh!pembawa sial!kau membunuh suamiku anak sialan,kembalikan suamiku!,kau yang seharusnya mati!"
"Seharusnya aku percaya bahwa kau pembawa sial,semua tidak akan seperti ini,kembalikan suamiku!"
Wanita itu masuk dengan amarah,dia terus berteriak,memaci sebari menangis histeris,beberapa orang sudah memeganginya sampai pada akhirnya ia terduduk lemah,sebari terus histeris.
"Kau pembunuh kembalikan suamiku,kau seharusnya membuangnya saja Anka!,dia pembawa sial,dia menghancurkan rumah tanggamu,dan sekarang membunuh suamiku,seharusnya kau saja yang mati!,anak sialan! hikhiks"
Dokter menghampiri wanita yang masih histeris itu dan menyuntikan obat penenang setelahnya ia tidak sadarkan diri.
Lara sudah dipeluk oleh kedua kakaknya,liam dan rain memeluknya bahkan liam menutup telinganya dengan tangannya agar adik kecilnya tidak mendengar hal yang tidak seharusnya.
Aku tidak menangis,aku memandang dada kakakku yang dengan erat memelukku,sesak sangat sesak mendengar semua itu,walau kakak sudah menutup telingaku tetap saja aku mendengarnya.
Air mataku tiba-tiba hilang entah kemana,bahkan aku hanya menatap entah tatapan apa yang aku lihat.
Namun tiba-tiba pandanganku kabur semua menjadi berputar dikepalaku dan ambruk dipelukan kedua kakakku,setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi.
Aku hanya mendengar orang-orang yang bergosip tentang kecelakaan yang kami alami.
Ayahku meninggal setelah melakukan donor jantung.
Aku mendatangi pemakaman ayahku,namun aku tidak berani mendekat,air mataku kini terjun bebas seperti sungai deras.
Aku memandangi dari jauh tanpa sepengetahuan orang-orang,aku takut untuk mendekat,saat aku ingin melangkah mendekat kata-kata itu terngiang dikepalaku.
"Kau pembunuh kembalikan suamiku,kau seharusnya membuangnya saja anka!,dia pembawa sial,dia menghancurkan rumah tanggamu,dan sekarang membunuh suamiku,seharusnya kau saja yang mati!,anak sialan!"
"Pembawa sial"gumanku terus menerus.
Tiba-tiba sebuah suara kencang terdengar ditelingaku,aku ketakutan,aku sangat takut,aku berteriak sebari menutup telingaku,suara itu,suara itu malah semakin jelas.
Aku berlari tak tentu arah,terus berlari,aku harap suara itu bisa menghilang dari telingaku,namun nyatanya tidak!.
Pada akhirnya aku masuk ke suatu tempat,aku tidak tau tempat apa itu,tempatnya gelap,dipikiranku aku harus berlindung dari suara menakutkan itu,padahal gelap adalah hal yang menakutkan bagiku.
Suara seperti lonceng terdengar sangat kencang,hampir merusak telingaku.
__ADS_1
Hal yang aku takutkan malah terjadi semakin buruk,aku ketakutan,suara itu,kegelapan juga hampir menenggelamkan ku,kepalaku.
Kepalaku berputar sakit,erangku kesakitan,sangat sakit sampai aku tidak tahan sangat-sangat sakit.