MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Saling mengawasi


__ADS_3

Diperjalanan Afra dan Xia saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing.


Afra sedang menahan emosinya sejak mengetahui wanitanya itu berada satu tempat dengan pria asing tanpa dirinya,dia akan menghancurkan pria itu apapun yang terjadi,sejak tadi tangannya mengepal.


Supir yang mengendarai mobil yang diisinya dibuat sulit bernapas setiap merasakan aura mencekam dari atasannya itu walau ia sudah sering merasakannya.


"Mau menemaniku?"pertanyaan dari mulut Xia membuat Afra langsung menatap gadis itu sebari mengubah raut marahnya penuh kelembutan.


"Kamu ingin pergi kemana?" tanyanya membuang ego agar gadisnya tidak pernah pergi darinya,padahal ia ingin sekali saat ini untuk mengurung gadis cantiknya ini.


"Panti"


"Panti?, untuk apa kesana?" tanyanya sebari menghela nafas.


"Kau akan tau" jawab Xia masih dengan tatapan lurus kedepan.


"Baiklah,panti mana yang ingin kamu kunjungi?"


"Kamu yang pilih"suara Xia kali ini berhasil menghangatkan hati Afra yang sejak tadi ingin meledak karna marah,sekarangpun tidak jauh beda rasanya hatinya ingin meledak namun dengan alasan berbeda,yaitu bahagia.


Afra tersenyum tipis mendengar gadis itu memanggilnya dengan sebutan'kamu' sebutan yang tidak pernah ia dengan dari bibir sexy gadis nya,mengingat kata bibir,pria itu spontan melihat bibir Xia yang berwarna pink alami jika dirasakan pastilah rasanya akan sangat manis.


Pria itu menggelengkan kepalanya membuang pikiran mesumnya ini,ia tidak mau melakukan hal sebrono walau sekedar mencium mengingat tindakan Xia tidak bisa ditebak,Bisa-bisa ia kehilangan gadisnya lagi.


"Pergi ke panti dekat mansion!" perintah pria itu pada supir.


"Maaf tuan mansion mana yang Anda magsud,mansion tuan Amlias atau mansion tuan Abana tuan?" tanya supir dengan sopan,supir itu bingung mansion mana yang diminta tuannya itu jika tidak bertanya dan salah maka nyawanya akan melayang.


"Abana!"jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari wajah gadisnya.


"Baik tuan" jawabnya sopan sebari menghela nafas lega karna tidak mendapat nada amukan dari sang tuan.


Afra menghela nafas jengah melihat gadis itu kembali diam,memang berharap jika gadisnya itu menceritakan kejadian dipenhouse itu hanya ekspektasi saja,gadis itu tidak akan bercerita jika tidak ditanya dan walau ditanya belum tentu ia akan menjawab!.


"Kamu tidak ingin menceritakan bagaimana bisa bersama mereka?" tanyanya kembali dengan nada dingin.


Xia memiringkan kepalanya melihat pria itu dengan intens dengan halis terangkat,"membasmi tikus"jawabnya sebari mengedikan bahu dan kembali menatap lurus.


"Bisa kamu jelaskan!" tekannya frustasi menahan emosi.


"Kau akan tau besok!"


"Bisakah kamu menceritakan nya saja hari ini!,kenapa harus menunggu besok,dan bisakah kamu tidak memanggilku dengan panggilan kau lagi!"tanpa sadar Afra membentak Xia,pria dingin itu selalu meluapkan emosi.


Xia menatap pria itu sebari terkekeh" kau membentakku?"tanyanya dengan menatap tajam walau bibirnya berangkat ke atas.


"Maaf"Afra menyadari baru saja membentak gadisnya itu,ia benar-benar merasa bersalah sebab tidak bisa menahan emosinya.


Pria itu menghela nafas panjang untuk menetralkan amarahnya yang selalu saja dipancing gadisnya ini,Afra menarik tangan Xia hingga kepalanya menubrug dadanya.


"Maaf aku benar-benar tidak bermagsud membentakmu"biasanya Xia akan berontak jika diperlakukan seperti ini,tadi sekarang rasanya ia ingin ketengan hanya sejenak.


Entahlah rasanya hatinya tidak tenang sejak tadi rasanya dejavu mungkin akan terjadi hal buruk kedepannya!,Xia harus selalu siap dengan semua kejadian mengingat siapa dirinya ini.


Afra menatap dalam gadis dalam pelukannya ini,amarahnya seketika hilang saat gadisnya menerima pelukannya,namun ia juga merasa khawatir takut gadisnya itu marah mendengar bentakannya,mengingat tindakan Xia yang tidak terbaca.


"Maaf aku benar-benar tidak sengaja apa kamu memaafkan ku,aku mohon" mohon nya penuh nada rengekan.


Mendengar itu hampir saja sang supir terkena serangan jantung,hari ini benar-benar hari tersial untuknya melihat sisi lain sang tuan,pria itu menghela nafas untuk menjaga kewarasannya,sebagai pekerjaan selain memiliki potensi ia juga harus tuli diwaktu tertentu,dengan sikap tau dirinya sang supir menaikan pembatas mobil agar tidak mengganggu tuan dan nona nya.


"Diamlah,aku hanya ingin tidur" tutur Xia dalam pelukan Afra,sudah lama ia tidak tidur karna insomnia nya itu.


"Baiklah aku akan diam,tidur seperti ini tidak nyaman bagaimana jika" Afra terdiam saat Xia menyela ucapannya.


"Seperti ini atau lepaskan aku?!"


"Baik-baik seperti ini saja" Afra langsung menjawab takut gadisnya berubah pikiran dan tidak mau dia peluk lagi,ini adalah kejadian langka dimana gadisnya menerima pelukannya tidak akan Afra sia-siakan.


"Kita tidak jadi ke panti saja bagaimana?,kita bisa kesana besok sebari membawakan mereka mainan,sekarang kita pulang saja?" tanya afra dengan nada lembut sebari mengusap pucuk rambut gadisnya jika dilihat seperti seorang ayah yang sedang menidurkan putrinya apalagi kontras tubuh mereka sangat terbalik,dengan tubuh mungil Xia dan tubuh kekar afra walau pria itu mengalami kelumpuhan sejak empat bulan lamanya sejak kecelakaan itu tapi tidak mengubah tubuh kekarnya.

__ADS_1


Mengingat sudah empat bulan Xia bersama pria itu mengartikan bahwa tugasnya hanya tinggal delapan bulan saja dan ia belum memutuskan hal yang akan ia pilih nantinya.


Bersama atau melupakan!.


"Hmmm" jawab Xia hanya berdehem terdengar lirih ditelinga Afra.


Setelah itu hening,Xia tertidur dipelukan pria yang terus mengusap pucuk rambutnya sebari sesekali mencium pucuk rambut gadisnya itu membuat aroma mint mengeruak dihidungnya,aroma ini yang selalu membuatnya nyaman dengan gadisnya ini walau dia sendiri bingung kenapa ia hanya bisa menghirup harum mint dari tubuh gadisnya jika terkena sinar matahari jika tidak terkena sinar maka yang akan tercium harum anggur,tapi apapun baunya ia tetap mencintai gadis yang sejak dulu ia cari ini,'tidak akan aku lepaskan!'pikirnya penuh obsesi


Xia selalu memakai parfum beraroma buah anggur namun jika terkena sinar matahari harum anggur kalah dengan harum mint yang keluar asli dari kulit putih gadis itu,tubuh Xia yang dipenuhi racun sejak di kandungan membuatnya memiliki banyak kelainan seperti harum tubuh rasa mint nya ini.


Berbeda dengan didalam mobil lain tepatnya dimana Yura dan Azkara berada.


Yura terus menangis histeris sampai-sampai Azkara tidak tega dan memeluknya untuk sekedar memberi kenyamanan agar gadis cerewet itu bisa kembali ceria.


Anna duduk didepan di samping supir hanya menatap lurus tanpa terganggu dengan tangisan Yura di belakangnya.


Azkara marah sekaligus merasa hancur mendengar tangisan pilu gadis yang selalu membuatnya emosi,entah kenapa tapi ia lebih suka yura mengganggunya dengan cibiran-cibirannya itu,Azkara semakin mengencangkan pelukannya pada Yura saat merasakan guncangan pada tubuh gadis itu semakin hebat sebari mengatakan kata-kata penenang,"disini ada aku jangan takut"


Tanpa Azkara ketahui Yura dalam pelukannya tidak lagi menangis tubuhnya terguncang hebat sebab menahan tawa,dia berhasil mengerjai Azkara,sejak mendapat pertanyaan pria itu dengan wajah khawatir membuat sifat jaihnya keluar,dia juga sekedar hanya ingin tau bagaimana reaksi Azkara ketika ia menangis histeris.


"Aku takut yang benar saja!" cibir yura dalam hati mendengar kata-kata penenang dari Azkara sebari terus menahan tawa.


Dimobil lain yang berisi Rayma dan Savion suasana disana tenang dengan pemikiran mereka yang tiba-tiba takut jika hari ini hari terakhir mereka,rasanya mendengar suara Afra lebih dari lima detik membuat hidup mereka terancam,mereka harus segera membuat surat wasiat.


"Aku harus membuat surat cinta untuknya yang terakhir kali,semoga surat terakhir ini bisa membuatmu luluh!,setidaknya merasa bersalah dan belajar mencintaiku!"pikir Savion.


Didetik terakhir saja masih memikirkan tunangan yang terus menolaknya itu,memang cinta buta!bisa membuat orang yang bodoh semakin bodoh.


.


.


.


Mentari siang sudah berganti dengan senja sejak mereka keluar dari kamar ketiga wanita itu terus ditatap dengan tatapan pertanyaan,sayangnya ketiganya tidak ada yang mau menjawab dengan benar.


Brak


Rayma menggebrak meja membuat mereka tersentak.


"Kenapa kau ini hah?" bentak Savion mendelik tajam pria yang sudah hampir membuatnya serangan jantung.


Pria itu cengengesan dengan tampang tak bersalah, "aku hanya meramaikan suasana saja" jawabnya mempertahan nya senyum yang menyebalkan.


"Maaf tuan dan nona saya menganggu" ujar salah satu pengawal yang baru saja datang dari arah luar.


"Ada apa?" tanya Savion.


"Saya ingin memberitahukan pesanan nona Xia sudah siap dimobil tuan" jawabnya.


"Kembali bekerja" ujar singkat Xia.


"Permisi tuan nona" setelah itu pengawal itu pergi seperti yang diperintahkan nona nya untuk kembali bekerja.


"Kau memesan apa memangnya?" tanya Savion menatap Xia membuat Afra menatap temannya itu dengan tajam.


"Aku aku keluarkan matamu itu!" desisnya membuat Savion langsung mengalihkan pandangan kearah lain,ia sadar betul ancaman itu untuknya yang sudah berani menatap pasangan dari singa jantan.


"Mainan"


"Kau memesan mainan?,untuk apa?" tanya Yura,sejak Yura keluar dari kamar Azkara tidak sedetikpun melepaskan tatapan nya pada gadis yang sudah ceria kembali setelah menangis sejak dimobil tadi siang membuatnya bingung,apa gadis itu sudah baik-baik saja atau menyembunyikan kesedihannya saja'pikir Azkara.


"Panti" jawab Xia sebari berdiri dan pergi dari ruangan itu diikuti yang lain,ia merasa menjadi induk ayam yang sedang diikuti para anak-anaknya.


Tidak membutuhkan waktu lama,rombongan xia sudah berada di panti dekat mansion dengan para pengawal yang membagikan mainan pada anak-anak panti,sedangkan rombongan inti sudah bergabung di halaman belakang bersama anak-anak yang sudah mendapatkan mainan dari para pengawal milik afra.


Satu truk penuh mainan yang dipesanĀ  pengawal Afra sesuai permintaan nona mereka,sudah Afra bilang apapun yang diinginkan Xia akan ia berikan kecuali pergi darinya,dalam mimpi sekalipun tidak akan Afra biarkan!.


Rombongan itu duduk melingkar beralaskan tikar di rerumputan tidak ada yang merasa keberatan dengan semua itu,mereka terlihat menikmati waktu bersama anak panti sebari menemani bermain.

__ADS_1


Xia menatap seorang gadis kecil berusia dua tahun yang sejak tadi mencuri tatap pada Afra,gadis itu dengan gerakan lambat memainkan mainan barbie di gendongan ibu panti yang berdiri tidak jauh darinya.


Afra menyadari tatapan gadis balita itu hanya saja ia tidak peduli dan hanya pokus menatap gadisnya yang sesekali juga menatapnya hingga beradu tatap dibalas senyuman manis pria itu namun Xia hanya menatap datar saja seperti biasa.


Anak-anak panti hanya berani bermain dan mendekati Yura,Azkara,Rayma dan Savion yang memiliki sifat humoris berbeda dengan Anna yang sangat ditakuti anak-anak karna raut wajahnya terus menunjukan raut datar,begitupun Afra,untuk Xia dia tidak terlalu menunjukan sikap aslinya yang datar itu,sesekali ia akan tersenyum ketika seorang anak menyapanya membuat Afra cemburu saja!.


Afra bahkan tidak ingat kapan gadisnya tersenyum khusus untuknya,'ingin aku buang anak-anak itu'pikirnya selalu menyorot tajam anak-anak yang memberanikan diri menatapnya yang berdiri disamping Xia hingga mereka berlari takut.


Dan selalu mendapatkan tatapan tajam sebagai peringatan dari Xia agar pria itu tidak menatap tajam anak-anak.


Xia berjalan menghampiri ibu panti dan mengambil alih balita cantik itu dalam gendongannya,balita itu tidak menangis malahan cekikikan menandakan ia senang lalu menunjuk dimana afra tengah berdiri menatap tajam seorang anak yang sepertinya tanpa sengaja menatap pria arogan itu,sebab anak itu langsung menunduk dan berlari seperti temanya yang lain.


Melihat tingkah kekanakan Afra yang terus menatap permusuhan pada anak-anak membuat Xia tersenyum tipis,"cemburu macam apa itu?"guman Xia tidak percaya.


"Suami anda sangat mencintai anda nyonya sampai-sampai ia tidak rela anak-anak menatap anda" ujar bu panti sopan.


Xia tidak menjawab ia hanya pamit dengan tatapan datar untuk membawa balita yang ia gendong untuk berjalan-jalan sekitar panti bersamanya.


Setelah mendapat ijin Xia menghampiri Afra yang juga sedang menggerakan kursi roda kearahnya dengan wajah cemberut,bisa ditebak pria itu kesal karna Xia meninggalkannya.


"Kenapa kamu meninggalkan ku?,membuat aku khawatir saja!"


"Apa yang kau khawatirkan?"tanya Xia tanpa menatap pria itu dan malah mengelus pipi gembul balita yang sedang ia gendong.


Afra mendengus selalu saja kalah dengan anak-anak panti yang menyebalkan ini,"kau akan diculik anak-anak jika tidak bersamaku"ujarnya membuat Xia menatap pria itu tidak percaya sebari tersenyum sangat tipis tanpa disadari Afra yang sedang cemberut jangan lupakan matanya yang melotot kearah balita yang sedang Xia gendong.


Bayi yang memangnya cengeng langsung saja menangis membuat Xia panik dan segera merangkulnya dengan kedua tangan sebari menepuk pundaknya pelan untuk menenangkan balita cantik ini,afra yang melihat itu semakin menggebu untuk meluapkan amarah pada anak-anak disini,ia ingin segera pulang agar wanitanya tidak direbut anak-anak panti disini yang sangat menyebalkan,jika semakin lama di panti bisa-bisa ketakutannya terjadi,gadisnya akan diculik anak-anak!.


" Cup-cup sudah ya sayang,lihat ini barbie nya"Xia berkata dengan lembut bahkan kata sayang yang dilontatkan semakin membuat Afra ingin menarik gadisnya dan menyembunyikan di pulau pribadinya.


Ingin sekali Afra berteriak memarahi balita di gendongan gadisnya, 'aku saja belum pernah dipanggil sayang,dan kau berani lebih dulu mengambilnya!"


Afra dan Xia sadar ada pasang mata yang menatap mereka tapi mereka tidak memperdulikan itu karna masih sibuk dengan apa yang mereka lakukan,dengan afra yang cemburu pada balita dua tahun itu dan Xia yang sedang menenangkan balita tersebut,salah satu pasang mata itu mengambil gambar keduanya pas saat momen Xia memberikan balita itu pada pangkuan Afra.


"Dapat" guman orang itu sebari tersenyum puas dengan hasil jempetanya membuat orang disampingnya itu menatap heran.


"Kenapa memotret mereka? " tanyanya.


Orang itu menatap si penanya dengan tatapan datar,"tentu saja untuk keselamatan!"jawabnya semakin membuat si penanya tadi heran.


"Keselamatan apa?"


Yura tersenyum paksa pada Azkara yang bertanya,"kau akan tau nanti"jawabnya langsung mengubah raut wajah menjadi datar.


Masih ingin membahas hal ini tapi Azkara memiliki pertanyaan yang lebih penting untuk gadis cerewet disampingnya ini sekarang,"kau sudah baik-baik saja?"


"Iya aku baik" jawab Yura sebari menatap layar ponselnya yang memperlihatkan potret Afra dan Xia tadi,terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia dengan sepasang orangtua dan anak,umm menggemaskan!.


Azkara menghela nafas kasar lalu tanpa perasaan merebut ponsel dari tangan yura,membuat si empunya tersentak,"hei kembalikan itu ponselku!"


"Aku akan mengembalikannya ketika kau menjawab pertanyaanku dengan baik! " jawab Azkara sebari menyembunyikan ponselnya kearah punggung menghindari jangkauan tangan Yura.


Yura tidak menjawab ia masih mencoba meraih ponselnya ditangan Azkara.


"Oke apa yang ingin kau tanyakan?!" geram yura tidak berhasil merebut ponselnya.


Azkara tersenyum menang,"kau baik-baik saja?"


"Kau tidak buta!" jawab Yura mendengus dengan pertanyaan itu,jika ia tidak baik-baik saja tidak mungkin ia berdiri dengan sehat bugar didepannya,apa magsudnya coba bertanya begitu!.


Azkara memutar matanya malas jika seperti ini ia yakin gadis itu sudah kembali seperti semula,tidak seperti tadi siang dimobil yang terus menangis tapi ia bingung,bisa ya secepat itu melupakan kesedihannya.


Interaksi dua sejoli yang selalu bertengkar jika sedang bersama tidak lepas dari pandangan seseorang yang menatap keduanya dengan tatapan datar.


Orang itu menatap Azkara dengan tatapan sendu,"aku senang bisa melihatmu!"guman orang itu untuk pertama kalinya tersenyum walau sangat tipis.


Walau sangat tipis ternyata seorang Rayma bisa menyadari senyuman orang itu,hingga pria itu menatap bergantian kearahnya dan arah dimana Azkara yang sedang berbicara dengan Yura.


Menyadari ada yang menatapnya orang itu memiringkan kepalanya menatap Rayma yang langsung mengalihkan pandangan menghindari tatapan Anna.

__ADS_1


__ADS_2