MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
Penyerangan!!


__ADS_3

Tembakan itu tepat melesat menembus kepala dibagian mata, hingga bagian mata tersebut meledak dan hancur dibarengi cairan merah yang membludak juga tubuhnya yang tumbang kehilangan nyawa.


Mereka terkesiap dengan semua kejadian itu dan hanya diam dengan tatapan datar bedanya hanya Anna yang sudah siap dengan senjatanya sejak tadi,mengawasi sekitar dan memastikan kedua nona nya baik-baik saja adalah tugasnya!.


Mereka menatap iba pada pengawal yang kehilangan nyawa tadi pasti bukan hanya dia yang gugur dalam tugas!.


Pelaku dari penembakan tadi masuk dengan berpakaian formal bukan hanya dia,ada sekitar dua puluh orang yang berpakaian sama masuk dengan cara berbaris dikedua sisi.


Para pelaku penyerangan berbaris dengan rapi jika Yura dalam keadaan sadar,gadis itu pasti sudah mencibir dan tertawa terbahak,jika begini terlihat sedang melakukan upacara bukannya penyerangan!.


Setelah dua puluh orang itu berbaris dikedua sisi dengan barisan sepuluh,barisan pertama menodongkan pistol mereka ke arah penghuni rumah.


"Siapa kalian?" tanya tegas seorang Rayma.


Tidak ada jawaban hanya terdengar langkah kaki yang terdengar berlari,meloncat dan hap.


Dua puluh orang berpakaian serba hitam diseluruh tubuh mereka yang hanya menyisakan bagian mata,datang dan melakukan hal sama seperti orang-orang tadi,menodongkan senjata bedanya mereka menodongkan senjata kearah orang-orang berpakaian formal bukan kepada penghuni mansion.


Afra dan Rayma juga sudah memegang senjata dan Azkara masih membopong tubuh Yura yang ia rasa suhu tubuhnya kembali naik.


Untuk Xia gadis itu tidak memperdulikan segerombolan orang itu,ia terus mengecek tubuh Yura di gendongan Azkara dengan cekatan, "kita harus segera membawanya kekamar!" ujar Xia di angguki Azkara namun saat mereka akan melangkah,orang dari pihak musuh menodongkan senjata dengan ancaman.


"Jangan bergerak atau kami tembak!"


Afra memandang Xia dengan tatapan lembut sedangkan yang ditatap tidak menyadari itu karna terus mengecek tubuh Yura,Afra yakin Xia sekarang tengah merasa cemas jika merasa takut itu juga mungkin,tapi bukan takut karna diserang!.


"Pergilah mereka menjadi urusanku!" ujar Afra dingin sebari bangkit dari kursi rodanya,pria itu berdiri dengan tegap dengan tangan menodongkan senjata.


Suhu tubuh Yura semakin naik,Azkara bisa merasakan hawa panas dari tubuh Yura membuatnya semakin cemas,"tubuhnya semakin panas Xia"


"Jangan bergerak!" sentak Xia saat Azkara hendak melangkah membawa yura pergi.


"Ada racun mematikan ditubuhnya,letakan dia dibawah cepat! " titah Yura dilaksanakan azkara secepat mungkin sesuai perkataan Xia.


Mereka hanya saling todong pistol tidak ada yang memulai lebih awal,"Jika kalian terus diam maka aku akan memulainya!"tegas Afra dengan kemarahan yang meledak.


"Tidak perlu terburu-buru" ujar seseorang dari belakang para penyerang,sedikit demi sedikit mereka menyisikan jalan terdengar suara langkah kaki bersamaan dengan suara ketukan dua benda saling bertemu,


Semakin mereka menyisi maka menunjukan seorang kakek tua berjalan dengan cara membongkokan punggungnya dan berjalan dibantu tongkat kayu yang ia pegang.


"Kau!" pekik Rayma mengenali pria itu,"kau kakek tua yang tertabrak Yura kemarinkan?!"


"Ingatan yang bagus,tapi tidak seutuhnya benar!" ujarnya terdengar dengan nada kekehan dan suaranya pun tegas tidak seperti kemarin yang terdengar lesu dan mengerek.


Kakek tua itu tersenyum miring melihat punggung Xia yang dihalangi tubuh kekar afra didepannya,"Apa kabarmu sepupu?"tanyanya membuat pergerakan Xia yang sedang menekan pergelangan tangan Yura terhenti sejenak.


Tanpa menoleh gadis itu berkata,"Aku sangat baik tapi tidak dengan mu bukan?"jawabnya sebari kembali pokus menekan pergelangan Yura.


Xia mengambil tiga jarum dari pergelangan tangannya,"Tekan dengan kencang hingga kulitnya berubah menjadi biru!"ujar Xia menunjukan dimana Azkara harus menekan pergelangan tangan Yura dengan tepat.


Sekarang Yura dibaringkan di marmer dengan paha Azkara sebagai bantal.


"Ahhh kau masih saja sombong padahal posisi kita sedang terbalik,jika tadi kau baik maka sekarang tidak begitu!" ujar pria berwajah kakek tua itu sebari menegakan tubuhnya.


"Siapa kau?!" tanya Afra penuh penekanan.


"Aku?" tunjuk kakek tua itu menunjuk dirinya sendiri,"Sepupu tunangan mu,,apa benar kalian bertunangan?,kenapa tidak ada pesta mewah untuk anak bungsu keluarga tersohor ini"ejeknya sebari memutar-mutar tongkat kayu di tangannya.


"Aku datang kesini untuk bersenang-senang dan betapa senangnya aku saat melihat saudari dari sepupu bungsu ku ini terbaring tak berdaya,rasanya kebahagiaan itu meledak Hhhhh" mendengar tawa pria itu membuat mereka mengeraskan rahangnya marah.


"Aku akan memberitahu rahasia pada kalian,jaga ini dengan baik oke!,kalian tau tentang racun verme?,racun yang ditemukan lima tahun lalu oleh seorang profesor yang sekarang memiliki julukan dokter gila!,konon katanya racun itu sudah dimusnahkan karna tidak memiliki penawar,,,,apa kalian percaya jika racun itu benar-benar dimusnakan?" tanyanya sebari tersenyum miring sebari memijat kulit bagian dagu.


"Aku sih tidak!,kalian mau tau kenapa?,,,karna aku memberikannya pada Yura kemarin hhhh aku hebat bukan?!" ujarnya sebari bertepuk tangan ringan.

__ADS_1


Xia yang mendengar bahwa ditubuh Yura ada racun bernama racun verme  yang belum ditemukan penawarnya hingga sekarang dibuat memucat,seolah darahnya tidak lagi mengalir namun ia tetap menggerakan seluruh tubuhnya untuk melakukan pengobatan pada tubuh Yura yang setiap menitnya berubah warna.


Kakek tua yang memanggil Xia sepupu itu tersenyum miring dibarengi dirinya menarik benda seperti kulit manusia dari wajahnya dari bagian dagu.


Srett


Topeng wajah itu terlepas dari wajahnya,pria yang tadinya terlihat tua seketika berubah menjadi seorang pria dewasa umur dua puluh keatas dengan tubuh tegap dan tatapan kebencian.


"Aku datang kesini untuk membuat lautan darah maka ayo kita lakukan!,,serang!" ujarnya mengintruksi dan pertarungan dua kelompok tidak terelakan didalam ruangan.


"Kita harus membawa yura kedalam kamar!" ujar Azkara yang kini berdiri sebari sesekali menembak atau menghindar jika ada yang ingin menyerang kearah Yura yang tak sadarkan diri dengan Xia yang sedang mengobatinya.


"Dua menit!,,beri aku waktu dua menit!" ujar Xia dengan wajah dingin sebari tangannya dengan cekatan menusuk-nusuk kulit tangan Yura menggunakan beberapa jarum,bahkan sesekali Xia menekan pergelangan tangan Yura agar berubah warna menjadi biru dan segera ia tusuk untuk mengeluarkan cairan biru itu dari tubuh Yura.


Keringat membasahi wajah Xia jika bisa memilih ia lebih baik berperang secara langsung dari pada diberikan situasi seperti ini,situasi ketakutan kehilangan keluarga!.


"Kau harus bertahan!" gumannya kepada Yura yang bahkan nafasnya sudah semakin melemah.


Tangan sebelah kanan Yura sudah dipenuhi luka tusukan jarum sangat-sangat kecil dari ujung jari sampai kebahu,nafas Xia tercekat ketika dirinya mengecek bola mata yura yang sudah berubah menjadi warna merah pada bagian kornea.


"Kau tidak boleh MATI!"


Pertarungan sengit dua kelompok seorang tidak ada,Xia sejak tadi hanya pokus pada kondisi Yura tanpa peduli dengan sekitar atau pada dirinya sendiri.


Disekitarnya sudah banyak tergeletak mayat tertembak atau bahkan terkena sayatan katana Anna,hanya dia seorang gadis yang ikut bertarung menggunakan senjata tajam untuk melindungi kedua nona nya.


Di sisi Afra pria itu bertarung tanpa menggunakan sengaja setelah kehabisan peluru,ia terus memburu pria yang menyamar menjadi kakek tua yang ditabrak Yura kemarin,tidak semudah itu karna ia terus dihalangi para anak buah pria itu,namun tidak menyorotkan semangat Afra untuk membunuh pria itu.


Untuk Rayma pria itu bertarung menggunakan pistol sebab ia tidak terlalu mahir dalam bela diri bahkan ia sesekali menyembunyikan tubuhnya di balik tembok untuk menghindari tembakan dari musuh.


"Bantu aku membawa Yura kekamar!" ujar Xia langsung dilakukan Azkara yang memang bertarung tidak jauh dari keberadaan dua gadis itu sebagai tameng terakhir jika ada yang mencoba menyerang Xia dan Yura.


Azkara membopong tubuh Yura saat itu juga Xia sudah bersiap untuk menjaga keduanya, ketika ada yang ingin menyerang Azkara maka Xia akan menembaknya dibagian mata,semua yang mencoba mencegat Azkara membawa Yura kedalam kamar dibabat habis oleh Xia,gadis itu selalu menembak dibagian mata tidak pernah meleset sedikitpun.


Krek


Suara retakan tulang terdengar ketika Afra menginjak paha musuh bersamaan dengan dirinya memutar bagian tangan musuh hingga terlepas jika tidak ada kulit yang menyanggahnya.


Xia melempar pistol yang ia pegang asal,ia memimpin jalan untuk membawa Yura naik ke lantai dua dimana kamarnya berada,di belakang tubuh Azkara yang sedang membopong tubuh Yura ada Anna sebagai penjaga bagian belakang.


Xia menatap datar pria yang menghadangnya didepan tangga,tubuh pria dari pihak musuh itu tiga kali lipat lebih kekar dari tubuh kekar afra,bukannya berbenti saat di todongkan senjata Xia semakin mendekat.


Jelb


Kejadiannya terlalu cepat membuatnya tidak bereaksi,pria itu hanya menegang lalu menatap dadanya yang sudah tertancap belati dengan rasa sakit tepat dibagian jantung dan.


Brug


Belum tersadar dari kejadian tusukan dari Xia,pria itu di dorong hingga terjatuh dan melewati pembatas tangga.


Azkara yang menyaksikan kebrutalan gadis berusia sembilan belas tahun itu hanya bisa melebarkan mata tanpa bisa berkata-kata.


Anna mengibaskan katananya kebagian perut musuh kesekian kalinya dan sret.


Darah kembali muncrat mengotori tubuh Anna yang sudah tak terlihat manusiawi.


"Pastikan tidak ada yang masuk!" ujar Xia setelah melihat yura dibaringkan diranjang kamarnya.


"Baik" jawab dua orang berbeda jenis kelamin itu lalu keluar sebari menutup pintunya dengan rapat-rapat.


Baru saja akan berbalik untuk kembali kearah pertarungan,dari arah belakang ada yang menodongkan senjata dibagian kepala keduanya,Azkara dan Anna saling pandang beberapa detik lalu mengangguk bersamaan.


Couple A itu menendang musuh secara bersamaan dibagian perut, karna tendangan keras membuat pegangan mereka pada senjata lepas dan diambil alih oleh couple A.

__ADS_1


Couple A tidak hanya menodongkan senjata mereka langsung menembak karna tidak ingin membuang-buang waktu.


Dor


Dor


Musuh bukan hanya menyerang dilantai satu,sudah banyak yang memenuhi lantai dua dimana Anna dan Azkara berada.


Dilantai satu dengan brutal Afra membunuh para musuh,ada yang ia tembak atau dipatahkan tulang-tulangnya,saat ini ia memegang belati kecil yang ia dapat dari pihak musuh.


Afra berjalan santai dengan wajah menunjukan kemarah mendekati pria yang menyamar menjadi kakek tua,tapi lagi-lagi langkahnya harus terhenti ketika seseorang menyerangnya.


Afra memutar tubuhnya menghindari tendangan pria berambut pirang yang sekarang menghalangi jalannya untuk membunuh penyamar kakek tua,giginya bergemelatuk dengan rahang mengeras "Menyingkir maka kau akan selamat!" ujarnya dingin.


Pihak musuh terkekeh,"Kita lihat siapa yang akan selamat"


Afra melemparkan tinjuannya berkali-kali namun berhasil dihindari pria berambut pirang itu,"Lumayan!"ujarnya tersenyum miring saat melihat pria dari pihak musuh diam-diam mengeluarkan belati Afra juga melakukan hal sama.


Pria berambut pirang melempar belati tepat mengenai bagian jantung Afra,Afra menatap dadanya bersamaan dengan tangannya juga memegang gagang belati yang dilempar pihak musuh.


Melihat darah mengalir"Aku menang" ungkap pria berambut pirang tersenyum menang.


Afra menatap datar pria yang tengah melempar senyum padanya sebelum beberapa detik kemudian Afra menyeringai membuat,pria berambut pirang itu mengerutkan dahinya heran,kenapa malah tersenyum?,seharusnya pria itu kesakitan karna luka mengenai jantung'pikir pria berambut pirang.


Masih mempertahankan senyum miringnya Afra satu persatu membuka kepalan tangannya yang memegangi belati yang menancap dibagian dadanya tepat dibagian jantung,keempat jemari Afra terbuka hanya menyisakan satu jemari yang memegang belati membuat pria berambut pirang terbelalak.


Bagaimana tidak?!,belati yang ia lempar memang tepat dibagian dada bertepatan dengan keberadaan jantung berdetak,jika menancap disana sudah dipastikan korbannya akan langsung kehilangan nyawa,tapi nyatanya tidak,sebelum belati itu mengenai dadanya Afra menangkap belati dengan sigap namun seolah-olah belati itu menancap dibagian dadanya.


"Giliranku" ujar Afra menyadarkan keterkejutan pria berambut pirang,Afra bergerak abstrak dengan gerakan cepat membuat pria berambut pria itu celingak-celinguk mencari keberadaan Afra yang gerakannya tidak dideteksi.


Bugh


Satu pululan mendarat di pipinya.


Srett


Beberapa sayatan mengenai pipi yang baru saja mengenai bogeman dari Afra,tanpa mengetahui pergerakan Afra yang sangat cepat memutari tubuhnya membuatnya  memukul secara asal dengan keadaan waspada.


Srett


Afra kembali merobek kulit pria berambut pirang kini dibagian leher dengan belati,jika tadi ia memberi jeda maka tidak sekarang.


Ia ingin segera menyelesaikan penyerangan ini dan menemui gadisnya yang tengah dalam bahaya!,hanya itu yang ada dalam pikiran Afra.


Srett


Afra menyayat dada kedua bagian pria berambut pirang menggunakan dua belati salah satunya milik pria berambut pirang itu,pria merambut pirang terperanggah sebari memekik kesakitan.


Pekikannya terdengar sangat kesakitan tapi tidak membuat Afra ingin menghentikannya pergerakannya malah semakin membuatnya bersemangat.


Ahhhhh


Teriakan kesakitan tepat ketika tangan Afra menerobos masuk kedalam bekas sayatan dibagian dada pria berambut pirang,hingga Afra menarik jantung musuh dari raganya memisahkan raga juga jiwanya.


Brug


Pria berambut pirang itu terbaring tanpa nyawa dengab keadaan yang sangat mengenaskan hingga perkelahian terhenti karna mereka syok dengan kejadian ini.


Mereka bergidig ketakutan saat melihat jasad pria bersambut pirang yang sudah dipenuhi sayatan,dari bagian wajah yang tak berbentuk saking banyaknya sayatan,dua sayatan dibagian leher,beberapa sayatan dikedua lengan persis seperti irisan ikan laut,terakhir dibagian kedua dada,salah satu dadanya juga bolong dengan keadaan jantung terlihat dibagian luar karna tarikan tangan Afra.


Hanya bagian kaki yang utuh!,semua bagian atas sudah hancur dengan daging dalam yang terlihat mengerikan dan memualkan.


Afra persis seperti raja iblis yang sedang mengamuk,setelah melakukan itu pria itu malah tersenyum menang walau wajahnya sudah ditutupi darah musuh yang ia bunuh.

__ADS_1


__ADS_2