MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
SATU IDENTITAS TERBONGKAR


__ADS_3

Tepukan diberikan dipundak pria itu dengan kesal,pria itu masih saja menyesap bibir lawan jenisnya dengan penuh emosi namun mencoba agar tidak menyakiti,lewat ciuman itu Afra mencoba menyalurkan emosinya atas perkataan Xia sebelumnya.


Afra melepas ciuman dengan tidak iklas,jika saja mereka tidak butuh udara Afra tidak akan melepaskan bibir manis itu,Afra mengusap bibir basah Xia atas ulahnya menggunakan jempol sebari berkata,"Kamu salah tempat jika hanya ingin singgah,,karena kamu sudah disini kamu tidak akan bisa pergi!"ujarnya penuh penekanan dan obsesi didalamnya.


Xia hanya menatap tanpa menjawab kenyataan semua akan sesuai dengan jalan takdir,mereka hanya menjalani jika mampu mengubah mungkin sudah mereka ubah,,,hanya saja mereka mampu mengubah alurnya dengan akhir yang sama!.


Mobil kembali Afra nyalakan tidak ada yang mengambil tindakan untuk bersuara membuat keheningan menyelimuti mereka.


"Kamu cukup tampan saat mengendari mobil seperti ini" ungkap xia tanpa mengalihkan pandangan dari arah depan.


Afra merenggut kesal,bukan kesal karena dipuji,ia senang dipuji apalagi oleh orang dicintai,hanya saja perkataan Xia menyiratkan arti bahwa mungkin ini pengalaman pertama dan terakhir kali untuknya melihat dirinya mengemudi.


"Terimakasih pujiannya,tapi dengan kamu memuji tidak akan merubah apapun,kamu akan selalu bersama ku" ujar Afra penuh keyakinan.


"Aku harap begitu" guman Xia lirih masih didengar pria disampingnya.


Afra mengerutkan keningnya heran,apa magsud gumanan Xia tadi?,apa gumanan itu mengartikan Xia tidak mau pergi darinya tapi ada alasan yang memaksanya untuk pergi.


Apa semua ini berhubungan dengan WIZ ARSLAN lebih tepatnya keluarga Kay.


"Apa kamu mau berkencan bersama ku?" tanya Xia kini menatap Afra dengan tatapan polos dan berbinar,,,ya berbinar tatapan yang tidak pernah Afra lihat,selama ini hanya ada raut kesal,marah dan dingin,,,tidak ada binaran di manik mata Xia,tapi sekarang Xia memancarkan binaran dimatanya yang indah menjadi semakin indah.


"Tidak akan aku tolak" jawab Afra hampir kehilangan kesadaran sebab melihat binaran indah dimata Xia.


"Jika kamu terus menatapku begitu kita akan berkencan di pemakanan!"ujar Xia mengingatkan bahwa Afra harus pokus menyetir jika tidak ingin terjadi kecelakaan yang menewaskan mereka sendiri.


Afra tersenyum tipis kembali berpokus pada jalanan," Aku tidak keberatan jika bersamamu"jawabnya.


"Jangan besar kepala aku hanya ingin menepati janji"ujar Xia kembali berwajah dingin seolah tidak peduli dengan sekitar, memang!,Xia tidak peduli pada orang lain kecuali keluarganya,mungkin?.


"Jika begitu mari berjanji untuk sehidup semati" celetuk Afra penuh harap.


Xia hanya menggeleng lirih,"Aku hanya menepati janji taruhan,kau ingat bukan kita pernah bertaruh dan aku kalah,kau meminta waktuku seharian penuh untuk dihabiskan bersamamu,maka hari inilah waktunya"ujar Xia sekaligus mengingat hadiah taruhan tempo hari belum Afra minta dan ini waktunya,jika besok belum tentu dirinya masih berada disamping seorang MARINGGAI AZONAFRA AMLIAS.


Atau mungkin orang-orang akan berdiri disampingnya sebari menangis tubuhnya yang sudah terpisah dari jiwanya,,,ya racun turunan di tubuh Xia semakin ganas efek samping dari beberapa taun lalu tidak terurus.


Kesempatannya hidup hanya lima puluh persen sampai besok.


"Baiklah mari bertaruh kembali dan pemenangnya kembali akan menuruti keinginan si pemenang" Afra mencoba membujuk Xia untuk bertaruh, dirinya yakin akan memenangkan kembali permainan teruhan ini dengan begitu Afra akan meminta Xia untuk bersamanya selamanya.


"Mari lakukan" setuju Xia acuh bahkan menatap pria di sampingnya dengan tatapan datar,"Permainan nya aku lagi yang putuskan?"tanyanya.


Afra mengangguk lirih"Setuju"


"Baiklah permainannya adalah" Xia berbicara dengan perlahan,"Jika kamu bisa melihatku dua hari kedepan maka kamu pemenangnya bagaimana?"


Konyol!,itu yang Afra pikirkan saat ini,jadi pria itu memutuskan untuk meminta Xia memikirkan permainannya secara ulang,"Kamu yakin,itu terlihat seperti bukan pemainan"


"Pertaruhan pertama pun bukan!" dengus Xia mengingat kejadian taruhan tempo hari yang diawali kepercayaan dirinya yang tinggi,dia kalah bukan karena dirinya memang tidak berhasil menyembuhkan kaki Afra seperti taruhan itu hanya saja Afra adalah drama king.


Afra terkekeh mengingat kejadian itu kekalahan Xia bukan karena gadis itu tidak mampu hanya saja Afra bermain curang ditambah situasi mendukung Afra,karena Xia marah saat tau Afra pura-pura amnesia gadis itu menghilang kesekian kalinya untung dirinya bisa kembali bertemu.


Mereka dipertemukan karena takdir dan hanya bisa dipisahkan oleh takdir itu sendiri?.


"Baiklah jika itu yang kamu mau,kamu harus bersiap untuk mewujudkan keinginan ku" ujar Afra arogan,suasana didalam mobil mengalir begitu saja beberapa menit tegang dan kembali cair.


"Percaya diri berlebih" cibir Xia membuang muka kearah depan.


"Kamu ingin pergi kemana untuk kencan pertama kita ini?" tanya Afra terdengar antusias.


Xia mengedikan bahu"Hanya berdua"


:terserah Afra akan membawanya kemana untuk saat ini Xia hanya ingin berduaan dengan pria arogan itu untuk beberapa jam kedepan.


Pembicaraan kembali berlanjut diawali pertanyaan Afra yang menggali informasi tentang Xia lebih dalam dengan cara bertanya dengan acuh,diawali pertanyaan tidak penting beralih semakin penting.


Dug


Afra mengerem mobilnya mendadak hingga tubuh kedua orang didalam mobil terhuyung kedepan,wajah Xia hampir saja membentur dasbor jika saja Afra tidak sigap menaruh tangannya tepat waktu jadi diwajah gadis kesayangannya itu.


"Kamu tidak papa?" tanyanya menghawatirkan Xia tanpa dasar.


Xia hanya memutar matanya malas tanpa menjawab gadis itu membuka seatbelt dan keluar dari mobil disusul Afra di sampingnya.


Afra menatap sosok tubuh yang terduduk diaspal tanpa niatan membantu begitupun Xia,tubuh itu beberapa detik lalu mengenai body mobil.


Kedua pasangan itu beralih saling menatap,Xia hanya mengedikan bahunya tanpa minat atau peduli,"Kamu menabraknya!"


"Tidak sengaja" jawab pria itu sama sekali tidak merasa bersalah.


Sosok wanita paruh baya dengan wajah coklat dipenuhi noda tanah liat yang sudah mengering mendongkak menatap bergantian pada pria dan gadis itu dengan senyum tipis terpatri dibibirnya.


Afra dan Xia menyadari senyum itu hanya merespon dengan wajah datar.


Permainan pengemis?.


:tertabrak dan meminta ganti rugi padahal mereka sendiri yang melompat untuk ditabrak pada mobil yang lewat demi mendapatkan uang!.


Wanita paruh baya itu menghela napas,"Bahkan kematian tidak bisa memisahkan kalian"ujarnya penuh keyakinan menatap Xia penuh arti.


Pergerakan Afra yang bersiap memberikan uang ganti rugi agar perjalanan mereka berlanjut dan wanita itu mendapatkan apa yang diinginkan terdiam,perkataan wanita itu membuatnya sedikit tertarik.


"Siapa? " tanyanya membuat Xia menghela napas, apa pria itu bodoh dan akan mempercayai setiap omong kosong wanita paruh baya didepan mereka,,bodoh?,atau pria itu sudah diradar gila karena obsesinya pada Xia?.


Wanita paruh baya yang masih teduduk diaspal menunjukan senyum lebarnya,"Anda dan wanita disamping anda tuan,,saya bisa meramal tuan jika anda tertarik saya bisa meramal masa depan kalian"ujarnya penuh keyakinan tapi ada rasa takut yang wanita itu tunjukan.


"Omong kosong!" guman Xia malas,namun perkataan Afra membuatnya yakin bahwa pria itu memang bodoh!.


"Jika perkataan mu tidak membuatku puas maka kau akan menerima akibatnya,kau paham wanita tua!"


Wanita itu mengangguk lirih ada ketakutan dalam dirinya tapi dirinya juga tidak ingin diam saat ini,wanita itu berdiri dengan sedikit kesusahan.


"Saya menerima sekuensi nya tua" jawabnya


"Tuan dan nona tidak suka bersentuhan dengan orang sembarangan apalagi seorang wanita,biasanya saya akan meramal dengan cara menyentuh tangan agar bisa membaca garis takdir,,tapi" wanita itu menjeda kalimatnya untuk beralih menatap Xia yang kini bersandar di body mobil dengan melipat tangannya didepan dada.


"Terkecuali untuk kalian,,kehidupan kalian tidaklah mudah,kalian akan menjalani kehidupan menjadi mayat hidup beberapa taun kedepan"perkataan wanita paruh baya itu membuat Afra mengeram marah.


" Beraninya kau!"


"Tolong dengar kan saya dulu tuan" ujar wanita tua itu menguji kesabaran Afra,tanpa menunggu kejadian buruk menimpanya wanita itu melanjutkannya dengan takut,"Yang akan tersebar hanya berita kematian".


Afra paling tidak suka dengan perkataan pemisah pria itu mengangkat pistol dibalik kemejanya dengan hitungan detik timah panas bersarang dikepala wanita tua.


Namun keberuntungan ada di pihaknya Afra bukan tidak ingin menghabisi wanita tua itu untuk saat ini hanya ingin menggeretak,sehingga tembakan itu terbang hanya melintas disamping tubuhnya,wanita itu memejamkan matanya dengan takut.


Lalu membuka mata penuh percaya diri dan berkata,"Saya tau akan kejadian ini,selain bisa melihat masa depan orang lain saya juga bisa melihat masa depan saya sendiri,dan itu sangat menakutkan"ujarnya sebari menunduk dan terdengar berguman.

__ADS_1


Wanita itu menghela nafas penuh kesedihan dimatanya dan mendongkak dengan senyum lembut,"Kalian akan hidup dengan jalan takdir masing-masing"


"Akan aku satukan jalan kami!" ujar Afra penuh arti wanita tua itu mempertahankan senyumnya.


"Dunia ini sangat kejam hanya yang terkuat yang akan menjadi pemenangnya,,perjuangan kalian masihlah panjang,walau terpisah benang merah melilit leher kalian" ujar wanita itu.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Xia jengah dengan 'omong kosong ini',,dirinya merasa normal tanpa harus percaya dengan ramalan atau cenangan semacamnya,masa depan diputuskan oleh diri sendiri!.


Wanita itu tersenyum penuh arti menatap Xia,"Anda sangat jeli nona,,saya tau keputusan saya menemui anda adalah nilai sempurna ,, anda"


"Tidak usah bertele-tele hanya. Sembuang waktu" dengus Xia menyela.


"Maafkan saya nona,anggap saja ini rasa terimakasih saya pada anda karna sudah mengabulkan keinginan saya"


Xia hanya menatap datar,mengabulkan?,kapan?.


"Saya sudah bilang saya sudah tau dengan kejadian hari ini nona pertemuan kita bukanlah kebetulan namun masa depan yang sedang terjadi" sambungnya menjelaskan perkataannya sendiri.


"The de poin saja!" ujar Xia tidak sabaran.


"Ah maafkan saya sekalagi nona,saya hanya membuang waktu padahal waktu anda hanya tersisa dua belas jam dari sekarang" ujarnya penuh arti,"Keinginan saya hanya ingin meminta anda mempertemukan saya dengan putra saya"ungkapnya.


"Kau pikir wanita ku polisi!"ujar Afra tidak suka jika wanitanya menemui pria lain atau bahkan mencari pria lain semacannya.


"Apa imbalan ku?" kini giliran Xia yang mengacuhkan Afra seperti pria itu yang lebih tertarik mendengar kata wanita cenayang tua itu'omong kosong'


Wanita itu menghela napas mempertahankan senyuman dibibirnya,"Saya tau anda akan meminta imbalan maka dari itu saya meramal masa depan nona dan tuan sebagai bayaran,saya tidak punya apapun nona,saya pikir dengan meramal masa depan anda akan nona akan membantu saya"


"Sudah kau lihat dipandangan masa depanmu?" tanya Xia mencibir,wanita itu mengangguk,"Lantas apa dimasa depan itu aku menuruti keinginanmu?"sambungnya bertanya dengan menekan kata'dimasa depan'.


Wanita itu mengangguk antusias,"Benar nona"


Xia tersenyum smirk,"Jika aku tidak melakukan apa yang kau minta artinya masa depan itu tidak terjadi seharusnya,kemampuan anda hanya bualan nyonya!"


:masa depan bisa diubah sesuai tekad, usaha dan doa!.


Senyum dibibir wanita itu mengendut hingga hilang dipandangan hanya tersisa wajah pias,"Saya mohon nona saya hanya ingin bertemu putra saya,saya mohon nona"ujarnya memohon dengan kedua tangan disatukan.


"Dimasa depan mu itu,apa yang kau dapatkan dari putramu?" tanya xia tidak peduli dengan permohonan.


Afra mendengus kesal karna diabaikan pria itu berjalan kearah xia lalu merangkulnya dipinggang dengan posesif,Xia hanya memutar matanya malas.


Wanita tua itu menjawab,"Saya akan hidup bahagia dengannya nona"jawabnya membuat Xia terkekeh.


"Lucu bukan?" tanyanya sebari menatap Afra,"Seorang ibu yang menjual anaknya tiba-tiba memohon untuk kembali dipertemukan dengan anaknya,,,menurut mu jika mereka dipertemukan kembali mereka akan hidup bahagia?"tanyanya dengan wajah mengejek.


Afra mencibir,"Aku memilih membunuh wanita itu"


Xia mengangguk lirih,"Kita lihat akhir bahagia yang anda magsud nyonya"ujarnya penuh penekanan,wanita tua itu menunduk takut.


Jujur saja ia sejak tadi menekan keberaniannya yang sebesar kuku jari ini menjadi segunung demi kebahagiaan yang ia lihat diterawangan masa depan miliknya,'omong kosong ',tapi tetap saja ketakutannya lebih mendominasi sekuat apapun ia menganggat kepala.


Xia merogoh saku celananya dengan gerakan santai dan mendial benda pilih itu menggunakan tangan kanannya tanpa kesulitan.


Disuatu tempat orang yang mendapat telepon dari nona nya tanpa berani menunda waktu langsung mengangkat panggilan dengan sopan.


"Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu wanita yang melahirkan mu?" tanya Xia tanpa basa-basi.


Pria disebrang telepon tidak menunggu lama untuk menjawab,"Hanya neraka yang mempertemukan kami nona"jawabnya.


Xia menspiker telepon dan bisa didengar dua orang lainnya disana,yaitu wanita cenayang tua,dan Afra.


Wanita tua itu tercengang terlihat jelas dirinya syok dengan jawaban anak yang sengaja ia jual untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya,di penglihatannya waktu itu jika anaknya dijual selain mendapatkan uang di masa depan dirinya akan hidup terjamin,,,ia melihat putra yang dia jual menjadi pria kaya walau dirinya tidak tau apa pekerjaan anaknya itu,yang jelas dia akan bahagia dengan kekayaan putra yang ia jual itu,,putranya itu memiliki sifat dingin namun di penglihatannya putranya menerimanya dengan tangan terbuka.


Tapi,apa yang sedang terjadi ramalannya salah?.


"Jika tidak ada urusan penting akan saya tutup panggilannya,saya sedang sibuk sekarang" ujarnya berani,tanpa berkata apapun Xia menutup panggilan mereka.


Pria di balik telepon tadi mendengus,"Dia tidak pernah berubah dasar gadis gila!"umpat nya dalam hati.


Xia mengedikan bahu dan kembali menatap Afra,"Pergi!"ujarnya tidak mau dibantah.


Afra mengangguk setuju,dirinya tadi dibodohi wanita tua itu menyebalkan!.


Wanita tua itu tidak menyerah dan terus memohon sebari meraung-raung,bahkan memegang kaki Xia agar mau mempertemukan dirinya dengan putranya yang bisa mengubah masa depannya lebih baik,bertahun-tahun dirinya menderita di kemiskinan dirinya tidak mau berlanjut lagi.


Hingga akhirnya wajah Afra cengo sekaligus cemberut mendengar tembakan yang memekak telinga dan wanita tua itu hanya tinggal raga.


"Apa?" ujar Xia melihat wajah Afra.


"Kau mendahului ku!" dengus nya dengan kesal,Xia hanya memutar matanya malas dan melempar pistol yang ia ambil secepat kilat dari tangan Afra kembali pada pemiliknya.


"Aku pecinta kebersihan" ujar Xia mengartikan bahwa wanita tua itu hanya kotoran yang tidak seharusnya menyentuh seujung kuku pun tubuhnya.


Disisi lain suara mobil bertabrakan terdengar nyaring bersamaan dengan suara ledakan dan asap mengepul disekitar.


"Ck tidak modal!,setidaknya mereka menggunakan mobil tank jangan mobil kontainer buruk seperti itu,menyebalkan!,aku harus mengajari mereka cara menyombongkan diri!" guman Yura bukannya takut mobilnya ditabrak dua mobil kontainer sisi kanan dan kiri,gadis itu malah menggerutu.


Rayma dan Mikhail hanya menatap datar gadis cerewet itu,"Sekarang bagaimana?"tanya Mikhail sebari mengedip lucu.


"Tentu saja waktunya bermain,aku merindukan bau darah" jawab Yura bersemangat berbeda dengan rayma dan Mikhail yang menjadi merinding.


Walaupun keduanya berteman dengan orang-orang dunia bawah tapi mereka tidak pernah masuk dalam peperangan orang-orang itu sebelum hari ini magsudnya.


"Dimana mobil Afra?" tanya Rayma menoleh kebelakang mencari keberadaan mobil yng dikendarai teman mafia nya itu.


"Mereka tidak satu jalur dengan kita mungkin sekarang mereka tengah bersenang-senang" jawab Yura acuh.


"Apa magsud mu?" tanya Rayma dengan halis naik sebelah.


"Ck singkatnya mereka tidak bersama kita,aku akan turun sendiri jika kalian takut" ujar Yura keluar dari mobil dengan tatapan angkuh.


"Aku takut?,yang benar saja!"dengus Rayma tidak terima dan menyusul gadis cerewet itu untuk menemui musuh yang mencegat jalan mereka.


"Apa aku perlu turun juga?" monolog Mikhail sebari berpikir,"Baiklah"sambungnya lalu menyusul keberadaan Rayma dan yura diluar sana.


"Aku ikut" pekik Cean takut sendirian.


"Wah wah wah lihat-lihat para tikus yang menghambat perjalanan kita" cibirnya dengan mata cerah.


Didepan mereka ada empat orang yang keluar dari mobil kontainer yang menabrakan diri pada mobil yang dikendarai Rayma.


Dua pria dan dua wanita satu wajah alias kembar.


Suara deruman mobil dari semua sisi terdengar mereka hanya menatap datar saja tanpa reaksi berlebihan kecuali Cean yang terlihat ketakutan.


Mobil-mobil berwarna hitam mengepung mereka dari setiap penjuru setelah mesin dimatikan mereka turun dari mobil yang dikendarai,satu mobil diisi enam pria dengan senjata kecuali satu mobil.

__ADS_1


Mobil itu dikendarai satu orang wanita yang baru saja keluar dari mobil dengan gerakan anggun,wanita itu memakai setelan kantor komplit dengan kaca mata hitam.


"Maafkan kami telah menghambat perjalanan kalian,mobil kami mengalami kerusakan saat ini" ujar wanita itu dengan senyum dibibirnya.


"Benarkan?" tanya yura dengan nada penasaran,tidak menunggu jawaban yura kembali berkata,"Pantas saja jika mobil kalian rusak,mobil kalian terlalu rongsok untuk digunakan"ejeknya tidak sesuai kenyata bahwasanya mobil-mobil orang-orang itu keluaran terbaru dengan body-body anti peluru.


"Sepertinya begitu nona, bagaimana jika anda memberi kami tumpangan?" ujar wanita itu dengan tenang.


"Sayangnya aku tidak suka berbaik hati pada orang asing" jawab Yura besari bersedekap dada dengan tubuh bersandar di body mobil.


"Anda benar tapi tuan saya adalah kerabat dari sodari anda bukan nona?saya rasa pantas saja memberi tumpangan pada kenalan"ujar wanita asing sebari melepas kacamata yang tadi ia pakai memperjelas wajah wanita itu yang terlihat tegas,dewasa dan tajam.


"Ah benarkah?,bagaimana kita menjadi kenalan jika aku saja tidak tau siapa tuan mu" ujar Yura masih setenang tadi.


Jika wanita yang menghambat perjalanannya ini ingin adu mulut akan Yura ladeni,debat juga suatu keharusan sebelum bertarung bagi Yura,jika sudah lelah dengan menggerakkan bibi maka anggota tubuh lainnya yang bertindak,seperti jari tangan yang menarik pelatuk dan'dor'.


"Sepertinya anda terlalu banyak bersenang-senang nona YURA ARLIA GREEN sampai melupakan orang yang anda kenal"wanita itu sengaja memanggil nama asli Yura membuat identitasnya terbongkar sekarang.


"Kau-kau YURA ARLIA GREEN?" tanya Rayma tercengang begitupun Mikhail kecuali Cean yang hanya menatap takut juga bingung.


"Kenapa?,kau ingin meminta foto atau tanda tangan?"jawab Yura tidak mempermasalahkan identitasnya yang bocor sebab sebentar lagi semua selesai.


"Bagaimana mungkin" guman Rayma tidak percaya.


"Yang anda katakan benar nyonya!,saya terlalu banyak bersenang-senang beberapa bulan ini sampai melupakan bau danau darah,bagaimana jika kita membuat danau itu disini nyonya!" ajak Yura bersemangat.


"Akan saya ingatkan jika begitu" jawab wanita itu sebari tersenyum lebih lebar lagi lalu tatapannya beralih pada gadis kembar didepan mobil kontainer.


Salah satu wanita kembar mengangguk paham dengan lirikan wanita asing itu,,,wanita itu berpakaian serba hitam ketat membuat bagian tubuh wanita itu menonjol diberbagai tempat dengan rambut diikat ikal,wanita itu melangkah kedepan dengan senyuman merendahkan.


Yura terkekeh,"Baiklah mari bantu aku mengingatnya"ujarnya antusias, Rayma,Mikhail dan Cean disana hanya membisu dengan tatapan tak percaya.


Wanita satu kembar itu melangkah bersamaan dengan Yura yang mensejajarkan langkah dan tubuh mereka,hingga bertemu diperjangahan  wanita satu kembar itu mencibir, "Kita lihat kemampuan nona manja keluarga GREEN ini".


Yura terbahak,"Yah silakan lihat sesukamu sebelum kamu kehilangan bola mata indahmu itu" jawabnya dengan tatapan menelisik tubuh lawannya dari mata sampai mata kaki,dan saat bertepatan melihat bola mata berwarna merah langka membuat Yura menyukainya dan berniat memiliknya.


Bukan niat tapi rencana yang ia ambil beberapa menit ke depan.


"Mati saja anda!" pekik wanita itu kesal dan mulai menyerang dengan pedang yang entah dari mana ia dapat kan.


Yura menghindar dengan waspada bagaimanapun jika soal adu pedang yang hebat adalah anna tapingadis itu belum kembali,Yura hanya hebat dalam membuat orang lain emosi.


"Gerakan mu kurang cepat nona,sayang sekali" ejeknya sebari terbahak dan terus menghindar.


Nafas wanita dari lawan yura tersenggal mendengar ejekan untuk nya,"Jangan menghindar lawan aku!"Teriaonya.


"Ckckck hanya orang lemah yang melawan dengan senjata sedangkan lawannya bertangan kosong"ujar Yura membuat wanita itu semakin menggebu dan menyentak pedang yang ia pegang melihat itu tidak Yura sia-siakan.


Yura menendang bagian perut lawannya hingga terhuyung mundur beberapa langkah bahkan terbatuk darah," Kau!"desis wanita lawannya.


Tidak membiarkan wanita itu mendapatkan kembali ketenangannya Yura kembali melayangkan tendangan diwajah wanita itu dua kali sampai pipinya ada tanda sepatu gunung milik Yura,untungnya hari ini Yura tidak memakai hak tinggi jika tidak bukan cuma ada cap sepatu dipipi tapi wanita itu akan kehilangan wajah cantiknya.


Wanita itu terduduk menerima tiga serangan dadakan Yura,wanita itu mendongkak dan menatap nyalang kearah Yura yang sudah berdiri tegap didepannya dengan sorot mata tenang namun tajam.


Wanita itu hendak bangun tapi YURA lebih dulu kembali melayangkan tendangan pada bagian betis musuhnya hingga kembali terduduk,seperti tadi tidak memberikan waktu untuk musuh bangkit Yura menginjak kardus tangan wanita musuh ditanah hingga mengeram kesakitan.


Dengan santai Yura menggiles kakinya pada kedua tangan wanita musuh yang terlihat mengeram menahan sakit.


Pergerakan Yura yang cepat membuat mereka tidak engeh bahwa Yura susah menancapkan jarum suntik dileher musuhnya hingga suara erangan kesakitan terdengar barulah mereka sadar.


"Arrrrrr"


Yura mundur dua langkah sebari mengedikan bahunya seolah ia tidak tau apa yang tengah terjadi,ya walaupun memang begitu,,dirinya saja tidak tau cairan apa yang ada didalam jarum suntik tadi.


Yura berbalik arah untuk berdiri disampai rayma yang tengah tercengang,"Kau hebat ! "Puji nya mengacungkan jempol kagum.


Yura menyegarkan rambutnya pogah.


" Dimana Cean dan kak Mikhail?"Tanya Yura melihat sekitar tidak melihat dua orang yang ia tanyakan.


"Ada didalam mobil, apa yang kau lakukan pada lawanmu?,bagaimana dia sangat kesakitan seperti itu padahal kau hanya menendang empat kali,,dia yang terlalu lemah atau kau terlalu hebat?" Tanyanya bingung.


"Anggap saja aku yang terlalu hebat" songong Yura diangguki Rayma.


"Kau percaya?" Tanya Yura pada Rayma yang mengangguk jika itu Azkara,Yura yakin pria itu tidak akan percaya, aah ngomong-ngomong tentang Azkara Yura jadi merindukannya.


"Iya memangnya salah?" Tanya Rayma yang emang tidak terlalu memahami pertarungan seperti ini.


Ia hanya menangani bisnis jika soal kekerasan dia punya pekerja untuk membereskan semua itu.


"Tentu saja salah!,dari penglihatan ku wanita itu sangat mendalami ilmu pedang jika aku tidak memprovokasi hingga membuat kesalahan aku yakin aku yang terbaring disana tanpa nyawa" ungkap Yura jujur saat menilai kekuatan musuhnya,ia sangat yakin dengan itu,"Untung saja mulutku yang cerewet ini berguna"bangganya.


Rayma hanya mengedip tidak paham,"Lalu kenapa dia mengerang kesakitan?"


"Bukan karena tendanganku tentu saja,aku menyuntikkan sesuatu di leher NYA" jawab Yura.


"Apa yang kau suntikan?" Rayma adalah duplikat Yura versi pria, tidak akan diam jika belum mendapatkan jawaban memuaskan.


Yura mengusap keringat didahi sampai kelehernya,"Tidak tau"jawabnya menggeleng lirih.


"Hah?" Rayma kembali cengo


Yura menambahkan"Aku tidak tau apa yang disuntikan yang jelas itu pasti racun karena aku mendapatkannya dari Xia"lalu Yura menatap rayma dengan tatapan polos,"Xia butuh kelinci percobaan jadi aku mencobanya"


Rayma tidak bisa menyembunyikan keterkejutan diwajahnya,'wajita-wanita ini menyeramkan!'.


Wanita yang menjadi lawan yura tadi masih menyerang kesakitan ditempat semula dengan gerakan  terakhir kali Yura menyuntikan racun,kembaran wanita itu menghampiri dengan marah dan berjongkok disamping saudaranya,"Aku akan membunuh wanita itu"gumannya lalu menatap yura dengan kebencian.


Dia meminta temannya dibelakang sana untuk membawa saudarinya yang terus mengerang sakit tanpa bisa menggerakan tubuhnya.


Melihat wanita itu melangkah kearah mereka rayma menatap Yura,"Kau akan kembali melawannya kan?"tanyanya.


"Kau saja kenapa harus aku?" Dengusnya.


"Hei aku tidak pernah melihat peperangan kau tau" ungkap jujur Rayma.


"Kau tidak pernah menonton film?" Tanya Yura heran.


"Apa hubungannya dengan film kita membahas perang!"


"Jika kau menonton film peperangan didalamnya pasti banyak adegan perang,kau ini bodoh sekali si kak" cibir Yura.


Dug


Rayma melirik pelan tanpa berani menggerakan kepalanya kearah samping dimana Yura berdiri tadi, disana sudah berganti dengan samurai tajam yang terbentur dengan body mobil,jika saja Yura tidak menghindar maka bisa dipastikan kepalanya akan terpisah dari tubuhnya.


"A Aku -aku permisi" ujar Rayma kurang ajar memilih menyisi dari pada mati dirinya yakin jika gadis itu seorang green maka pasti banyak pengawal yang berani mati untuk menjaga nonanya.

__ADS_1


"Woy Woy seharusnya kau yang melawan,aku ini wanita harus dilindungi" teriak Yura tidak terima.


"Itu dia karena kalian wanita selesaikan masalah sesama wanita agar adil" jawab Rayma ngibrit kearah mobil dimana Cean dan Mikhail menyembunyikan diri.


__ADS_2