MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
menambah racun


__ADS_3

Afra bicara dengan ayahnya saat di perjalanan melalui telepon,sorot matanya dipenuhi kabut amarah,wajahnya menunjukan kedinginan,Azkara yang menyetir dibuat heran dengan sikap tuanya,Azkara curi-curi pandang lewat spion karna Maringgai duduk di kursi belakang.


"Apa tuan masih marah,jika seperti ini nona bisa ketakutan saat bertemu tuan,tidak bisa dibiarkan,tuan sudah menunggu empat tahun untuk hari ini"


"Aku akan mengurusnya,jaga momy biar masalah ini aku yang urus"kata terakhir dari Afra sebelum menutup teleponnya.


"Siput"


"Maaf tuan,saya akan menambahkan kecepatan"ucap Azkara


"Katakan!"ucap afra setelah melihat raut wajah Azkara yang ingin mengatakan sesuatu.


"Begini tuan,anda lebih baik menenangkan diri dulu,tidak baik menemui nona dengan amarah" Azkara terdiam sejenak ia heran dengan dirinya sendiri,dari mana keberaniannya mengucapkan hal itu,lanjutkan sajalah pikirnya toh ia hanya akan menambah hukuman awal.


"Tuan sudah menunggu hari ini selama lima tahun,saya takut jika nona kembali menghilang saat melihat tuan,dengan emosi tuan magsud saya"


"Apa aku semenyeramkan itu?"


"Hah"azkara ngeblang saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari atasannya.


Tentu anda sangat menyeramkan,apa saya perlu ingatkan jika anda kesal anda akan menghancurkan hidup orang,ah tidak mungkin Azkara bicara jujur seperti itu bukan.


"Bu,bukan begitu magsud saya tuan"


"Menepi!"


Mendapat perintah dadakan seperti itu membuat Azkara langsung syok dan langsung mengerem,sampai kepalanya terbentur stir dan mendapat tatapan tajam dari Afra.


.


.


.


Brak


Suara pintu yang dibuka dengan paksa.


Salah satu dari pria yang berada diruang itu mencibir,tanpa melihat sosok yang melakukan hal tidak sopan itu.


"Dari pada merusaknya,lebih baik kamu mengetuknya,vans"cibir seorang pria paruh baya,yang atensinya masih pada papan berwarna hitam putih.


"Dimana Xia?"tanya pria yang memaksa masuk tadi.


"Mereka pergi"


"Ayah mengijinkannya,kenapa?"tanya pria bernama Vans.


"Tunggu sebentar"pinta pria yang ia panggil ayah olehnya.


Vans menatap pria yang didepan ayahnya,seolah meminta jawaban.


Sadar dengan tatapan itu,pria bernama samuel itu menggedikan bahunya dan berkata.


"Pria tua itu tidak memberitahu alasannya"ucapnya sebari memainkan kudanya dipapan.


"Sampai kapan kami menunggu?,katakan apa alasanmu mengirimnya pergi"sambung Samuel dengan nada ketus.


"Kesabaran adalah kunci kemenangkan"ucap pria yang mereka magsud.


Brak.

__ADS_1


Vans dan Samuel melirik sosok yang baru saja membuka pintu secara paksa,disana muncul dua pria berbeda usia dengan wajah memerah.


"Dimana Xia?"tanya salah satu dari mereka.


"Duduk!"pinta pria yang so misterius itu.


Mereka kesal dengan tingkah pria itu,namun percuma saja jika mereka melawan,mereka tidak akan mendapat jawaban yang mereka inginkan.


Ken dan Rain duduk disamping Samuel dan Vans duduk disofa lain,disamping sofa yang diduduki pria yang belum disebutkan namanya.


Pria itu menatap mereka satu persatu,lalu kembali memainkan bidak caturnya,setelah memakan kuda milik samuel,pria itu baru bersuara.


"Pertama aku tidak memintanya pergi,mereka hanya meminta ijin dan aku ijinkan,mereka harus mulai meningkatkan kemampuan mereka"


"Mereka harus bersiap untuk perang yang akan datang,kita selalu kecolongan saat mengawasinya,dia juga mempunyai kelemahan yang bisa dimanfaatkan lawan untuk menghancurkan kita,yang bisa menjaganya hanya dirinya sendiri"sambung pria itu.


"Tapi kenapa harus kenegara itu?,mereka bisa saja bertemu"Ken menyuarakan kecemasannya.


"Itu tujuannya"jawab pria itu membuat keempat pria itu terbelalak.


"Hei Vihan Kenzel Kay"teriak Samuel sebari menggebrak meja membuat bidak-bidak catur berjatuhan.


"Kau ingin membuat kita kehilangannya?,kau sudah gila?,bagaimana kalo traumanya kembali?,kau ingin menghancurkan kehidupannya?"sambung samuel dengan kilatan amarah.


Ketiga pemuda lain juga terlihat marah,dan menatan Vihan dengan tatapan tajam,ruangan itu semakin sesak dengan aura menyeramkan.


"Kita salah selama ini,kalian tau saat terkena racun apa yang harus kita lakukan?"pria bernama Vihan Kenzel Kay itu malah bertanya sebari merapikan posisi bidak catur seperti semula.


"Kenapa kau malah bertanya soal yang tidak penting?"pekik Samuel menyuarakan ketidak sukaannya atas sikap Vihan.


"Jawab saja!"


"Mencari penawar"jawab Samuel malas.


"Menambah racun"jawaban Vans membuat ketiga pria itu mengkerutkan dahi mereka.


"Hei,jelaskan secara rinci,otak kita berbeda dengan mafia seperti kalian"ucap Samuel geram.


"Kau mengerti Rain?"tanya Vihan melirik sekilas Rain dihadapannya lalu pandangannya kembali kepalanya catur.


Rain mengangukan kepala,baru bersuara"jika meminum penawarnya racun dalam tubuh kita bisa menghilang,namun jika menambah racun dalam tubuh, tubuh akan kuat saat terkena racun kembali"


"Aku masih tidak mengerti"lirih Samuel.


"Begini paman,jika paman menuangkan segelas air kedalam danau apa yang akan terjadi?"tanya Ken sebari menoleh kearah Samuel.


"Tidak ada"jawabnya.


"Karna danau dipenuhi air,tidak akan ada yang terjadi jika menambah sedikit air kedalam danau"sambung samuel percaya diri.


"Seperti itu tubuh kita paman"


"Begini bukan magsud kalian,jika menambah racun dalam tubuh,lama kelamaan tubuh kita akan terbiasa,dan saat terkena racun lain itu tidak akan membuat masalah untuk tubuh kita,dan jika meminun penawar racun tersebut,tubuh kita akan sembuh namun tidak berkemungkinan tidak terkena racun kembali,menyebabkan tubuh ambruk bahkan mati"


"Hal itu saja kau tidak paham"cibir Vihan.


"Aku baru masuk dalam dunia mafia ini,jadi wajar"ucap Samuel membela diri.


"Mereka juga baru"cibir Vihan sebari menunjuk Rain dan Ken menggunakan dagunya.


"Tapi apa hubungannya Xia dengan racun?"tanya Samuel sebari menatap pria yang masih asik dengan papan catur dimeja.

__ADS_1


"Kau bodoh sekali si!"cibir Vihan dengan nada ketus,ia pikir itung-itung balas dendam,saat ada putrinya pria itu menjadi prioritas dan ia dilupakan,huh Vihan cemburu tau!.


"Si bodoh ini kesayangan putrimu"nyalang Samuel,ia tau dengan pikiran Vihan saat ini,jadi ia akan mengikuti permainannya.


"Jika bukan,sudah aku jadikan makanan weiwei sedari dulu"


Vans,Ken dan Rain menatap mereka dengan malas,ya seperti biasa jika sudah membahas wanita kesayangan mereka,akan berakhir dengan adu mulut yang berkepanjangan.


.


.


.


"Huaaa aku lapar,Xia kita keluar cari makan yu"ajak Yura sebari mengayunkan lengan Xia dengan manja.


Xia menatapnya dengan jijik,dan menarik tanganya yang digenggam Yura dengan keras hingga Yura yang tidak siap hampir tersungkur.


"Ais kejam sekali dirimu ini"cibir Yura sebari mendengus kesal.


"Dari dulu"


"Xia cari makan,aku lapar Xia,aku belum makan,Xia aku bisa mati Xia,huhuhu"drama yura.


Xia tidak menjawab dengan kata-kata ia melangkah menjauh dari yura menuju pintu,melihat arah yang dituju Xia membuatnya memekik senang.


"I am coming beby"


Setelah sampai di restoran terdekat mereka memesan makanan,kali ini masing-masing memesan 9menu,mereka berdua beralasan.


"Penerbangan menghabiskan tenaga"


"Tenagaku terkuras saat main drama"


"Tenagaku habis menahan emosi"


"Tenagaku berkurang saat tidak melihat cowo tampan"


Dan bla-bla-bla mereka saling dukung soal isi perut.


Yura dan Xia tidak memedulikan tatapan orang yang memandang mereka dengan wajah heran,kagum, iri dan dengki.


Heran karna pesanan mereka,kagum karna kecantikan alami mereka tanpa makeup,iri dengki kembali ke kata kagum tadi.


Saat makanan habis Yura memanggil pelayan untuk kembali memesan,perutnya itu belum juga merasa kenyang.


Saat pelayan kembali ia berpapasan dengan atasannya.


"Apa mereka sudah membayar?"tanyanya tegas,sedari tadi ia memperhatikan kedua wanita itu.


"Belum pak"jawabnya jujur.


"Suruh mereka membayar baru bisa kembali memesan"suruhnya dengan tatapan tajam.


"Ma,maaf Pak bukannya pelanggan diminta membayar setelah mereka selesai?"tanyanya dengan ragu.


"Jangan banyak membantah! ,minta saja mereka bayar,jika mereka kabur dan tidak membayar,kau mau membayarnya?"pekik pria itu dengan ketus.


Si bawahan hanya bisa menunduk,tidak mungkin ia membayar makanan itu,gajinya saja tidak dapat memenuhi kebutuhannya.


"Pergilah!"

__ADS_1


"Baik Pak"pelayan wanita itu kembali dengan perasaan canggung ia bersuara setelah berada tengah antar Xia dan Yura yang tengah duduk.


"Maaf"


__ADS_2