
Malam menyapa Terlihat dari belakang,punggung seseorang yang sedang melangkah dengan tubuh tegap rambut panjang sepundak yang tergerai tersapu angin malam.
Didepan sana gapura kecil dengan nama 'pemakaman' terpajang tegap baru saja gadis itu melewatinya tanpa ekpresi berlebih,hanya dengan sesekali menghela nafas.
Setelah sekian lama berjalan retina gadis itu tertuju pada satu pusaran yang paling indah terawat,gadis itu kembali menghela nafas sebelum melanjutkan langkahnya menuju pusaran.
Langkahnya benar-benar terhenti disamping pusaran yang sejak tadi ia pandang dari kejauhan,bukan!,sudah sejak lima tahun ia pandang dari kejauhan,ia sungguh harus menguatkan hati untuk berkunjung.
Gadis itu menyentuh lirih batu dengan nama 'anka abana' dari atas sampai ke tanah pusaran yang tertutup rumput hias.
"Ayah aku datang"ujarnya sendu,"maaf"buliran air mata tiba-tiba menerobos keluar tanpa permisi.
Air mata yang baru seharian ini ia keluarkan setelah bertahun-tahun,entahlah selama ini dirinya tidak pernah bisa mengeluarkan air matanya walau dirinya sedah sedih,dan hari ini pertama kalinya.
"Maaf saat kau dimakamkan aku malah pergi dan tidak mengantarkan kepergianmu,maaf kau pergi karna aku,maaf ayah,maafkan aku,benar kata wanita itu ayah aku anak tidak tau diri hiks"
"Ayah memberikan segalanya untuku tapi balasan yang aku beri malah kekecewaan,maaf ayah,maafkan aku yang tidak tau diri ini,maaf ayah maaf hiks,ayah kau sangat ingin melihat ku tersenyum bukan?,,hiks lihat ini"gadis yang berbicara dengan pusaran mengusap wajahnya menghapus air mata yang tidak ingin berhenti.
Gadis itu kesal saat air matanya terus saja menerobos keluar,"Kenapa tidak bisa berhenti,hiks,ayah ingin melihat ku tersenyum bukan menangis,,ayo berhenti aku mohon hiks"ujarnya sebari terus mengusap wajahnya agar air mata yang tak tahu malu itu berhenti walau gagal.
"Ayah air mataku tidak mau berhenti hiks"rengeknya walau tidak akan mendapat tanggapan,"Tapi ayah akan tetap melihat ku tersenyum hiks"sambungnya sebari menarik kedua sudut bibirnya keatas.
Dia tersenyum masih sebari menangis,"Lihat ayah aku tersenyum sekarang,hiks,aku sudah menepati janji untuk tersenyum di hadapan mu ayah, hiks,,ayah aku selalu berusaha menepati janji seperti yang ayah lakukan padaku,,tapi satu janji yang ayah ingkari,,ayah meninggalkan aku hiks,ayah berjanji akan selalu bersamaku hiks,ayah mengingkarinya hiks"
"Ayah mengingkarinya hiks,kenapa ayah?,kenapa ayah mengingkarinya?"cucuran air mata terus keluar membuat wajah gadis itu memerah.
"Maaf nona tuan menelepon"ujar seseorang yang menghampiri gadis itu,ia terpaksa harus mengganggu nona nya itu.
"Halo ayah"sapa sadis itu menerima panggilan masih dengan menangis bahkan suaranya terdengar tidak jelas.
"Halo putri ku,,kamu sedang menemui ayah Anka mu itu hmm?"tanya seorang pria disebrang sana dengan lembut.
Gadis itu mengangguk masih menangis tanpa isakan,panggilan berubah menjadi vidio dan menunjukan wajah mereka dengan ekpresi masing-masing.
Xia dengan wajah sembab yang masih saja menangis dan Vihan yang menatap sendu putrinya disebrang sana.
"Putriku akhirnya bisa menangis"guman vihan dalam hati.
Xia tidak memiliki penyakit yang membuat ia sulit mengekspresikan hatinya,,namun karna tekanan yang ia alami ia tidak suka menunjukan raut wajah selain datar dan semua itu menjadi kebiasaan membuat semua orang beranggapan Xia memiliki penyakit ekpresi,padahal tidak!.
"Kamu sudah memperkenalkan ayah hmm?"tanya Vihan membuat Xia yang menatap pusaran anka sebari menangis mendongkak dan melihat wajah ayahnya yang masih hidup.
"Aku lupa ayah maaf hiks,,,ayah Anka kenalkan ini ayah Vihan Vinzen Kay ayah kandungku dan nama ibuku Xiana Zen kay"ujar Xia.
"Kalian memiliki posisi yang sama dihatiku ayah,,"ujar Xia berharap mendiang ayah angkatnya tidak cemburu mengingat kedua ayahnya itu begitu posesif atas dirinya.
"Ayah aku minta maaf,hanya itu yang aku bisa katakan hiks,,aku tidak tau harus mengatakan apa hiks,saat diperjalanan begitu banyak yang ingin aku katakan pada ayah hiks,,tapi sekarang aku tidak tau ingin mengatakan apa hiks,,aku begitu merindukan ayah hiks,,aku ingin memeluk ayah hiks,aku tidak tau harus bicara dari mana hiks"
"Aku ingin ayah hiks,,maafkan aku ayah hiks"mendengar putrinya yang terus menangis dan menyalahkan diri membuat hari Vihan begitu sesak,dirinya memang senang saat melihat sang putri bisa mengeluarkan isi hatinya setidaknya bisa meringankan beban gadis kecil itu,namun mendengar tangisan yang begitu menyayat hatinya vihan ingin sekali memeluk tubuh putri itu.
"Kamu tidak tau ingin menyampaikan apa pada ayah Anka mu sweety?"tanya Vihan membuat Xia menggelengkan kepala lalu mengangguk.
"Aku tidak tau ayah hiks "jawabnya
"Baiklah ceritakan keseharianmu selama lima tahun ini kepada ayah Anka dia pasti akan senang" ujar Vihan mencoba tersenyum untuk menyalurkan semangat.
Xia mengangguk,"Ayah,aku-aku sebenarnya mengantarmu ketempat peristirahatan terakhirmu ini hiks,,hanya saja aku berdiri sangat jauh dari tempat ayah hiks,aku-aku tidak berani menemui ayah hiks,ayah meninggalkan aku hiks"
"Ayah tau bukan? aku sangat takut dengan suara keras dulu hiks,aku-aku berlari saat mendengar suara keras itu ayah hiks,aku melarikan diri hiks hingga terbawa kapal pesiar hiks,dan pingsan hiks,,saat aku sadar aku tidak tau berada dimana hiks,aku sangat takut waktu itu hiks"Xia berubah seratus persen kali ini gadis kecil berwajah datar itu menunjukan sisi lain dari dirinya,sisi manusia yang selalu ia sembunyikan dengan karakter lain.
Ia terlihat seperti anak kecil yang sedang menangis pilu karna kehilangan hal berharga.
"Aku bertemu orang-orang baik hikss,tidak-tidak hiks,mereka bukan orang baik ayah hiks,aku bingung mereka orang seperti apa hiks,mereka mengajariku banyak hal ayah hiks lalu aku bertemu banyak orang lainnya hiks,hingga akhirnya aku bertemu dengan ayah kandungku,,magsudku dengan keluarga kandungku hiks,,aku juga kembali bertemu dengan paman samuel,rain dan kakak Liam kenrika hiks,, mereka baik-baik saja ayah hiks, mereka akan berkunjung nanti iyakan ayah?"tanya Xia melihat layar ponsel.
Vihan mengangguk mencoba tersenyum walau hatinya begitu tersayat melihat sang putri yang terus saja menangis,menangis mengartika kesedihan entahlah vihan bingung,disatu sisi pria itu sedih melihat putrinya yang menangis pilu,disisi lain ada riak senang disana saat bisa melihat isi hati putrinya.
__ADS_1
"Lihat ayah Vihan sudah berjanji hiks,semua anggota keluarga akan mengunjungi ayah anka suatu hari nanti hiks,aku minta maaf ayah,aku begitu pengecut ayah,aku baru berkunjung sekarang ayah hiks,maafkan aku hiks"
"Dia akan memaafkan mu jika kamu tersenyum sweety,yang diinginkan ayah anka adalah senyuman indah mu itu sweety,,tersenyumlah maka ayah anka akan tenang ditempatnya berada sekarang"Xia mengangguk walau air matanya terus keluar.
Xia tersenyum sebari menangis,"Aku tidak bisa menghentikan air mata ini ayah hiks"
"Tidak papa putri kami sedang mengabulkan keinginan para ayahnya sekarang,ayah Anka ingin melihatmu tersenyum dan ayahmu yang ini ingin melihatmu menunjukan isi hatinya seperti sekarang,,ayah Anka pasti sudah memaafkan kamu sweety,dia pasti tengah tersenyum sekarang,sekian lama akhirnya kamu mengunjunginya,dia pasti bahagia"ujar Vihan
"Disana sudah sangat malam bukan?,sekarang pulang lah dan istirahat itu juga keinginan para ayah mu ini sweety!"sambung Vihan sebari tersenyum.
"Aku masih ingin disini ayah"jawab Xia serak.
"Tidak-tidak kamu harus pulang untuk mengistirahatkan tubuh kamu,kami akan sedih jika kamu sakit sweety,,sekarang pulanglah besok kamu bisa berkunjung ketempat ayah Anka lagi,,"
Xia mengusap wajahnya kasar tak henti-tentinya air mata itu keluar,"Baiklah ayah hiks,,ayah anka aku pamit hiks aku akan kembali lagi besok bersama sahabat ayah itu,hiks,aku ingin egois tapi aku tidak ingin pengorbanan ayah sia-sia,,aku berjanji akan menerima semuanya ayah anka hiks,,aku pamit ayah"ujar Xia lirih lalu mengecup lama nama sang ayah.
"Ayah Vihan aku akan menutup teleponnya terimakasih sudah menemaniku"ujar Xia sendu masih dengan keadaan menangis.
Xia beranjak dari pemakaman diparkiran sana anna yang menyusul sore tadi kenegara ch ini sedang menunggu disana.
.
.
.
Dirumah bernuansa kaca dilantai satu dua pria sedang duduk dengan terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Rumah kaca itu sudah selesai dirapikan sehingga nyaman untuk ditinggali.
"Sekarang bagaimana Azkara?"tanya Afra pada asistennya itu seketika membuat sang asisten tersentak.
"Saya tidak tau tuan,,kita harus sangat berhati-hati dalam bertindak tuan,saya tidak mengerti dengan jalan takdir ini"jawab Azkara seadanya.
"Kau benar!,jalan takdir ini sangatlah rumit sulit untukku menebaknya,,,apa dia sudah akan kembali?"tanya Afra diujung kalimatnya.
"Apa kau bisa memanggilku tidak secara formal Azkara?"
"Sulit tuan,,saya sudah terbiasa memanggil anda seperti itu"jawab Azkara jujur.
"Kau itu sahabatku selain menjadi tangan kananku,,,seharusnya tidak se formal itu"
"Maaf tuan saya tidak bisa menghilangkan kebiasaan ini"jawab Azkara
"Mulai sekarang cobalah memanggilku tidak formal atau aku tidak akan membantumu mencari adikmu!"
"Baik tuan,akan saya usahan namun tolong beri saya waktu"pinta Azkara sebab ia tidak ingin pencarian adiknya yang sudah menghilang sepuluh tahun yang lalu dihentikan.
Afra memang selalu memintanya untuk tidak bicara secara formal namun Azkara merasa tidak pantas,,sebelumnya Afra tidak mempermasalahkan berbeda dengan sekarang.
"Dia akan segera ditemukan!"
"Semoga saja tuan Mmm magsud saya Af,,ra,,, saya sudah begitu merindukan adik kecil saya itu"ujar Azkara sendu.
"Bagaimana dengan Xia? "Tanya Afra membuat Azkara mengkerutkan keningnya tanda berpikir.
"Magsud ku apa kau tidak mencurigai Xia sebagai adikmu?" sambungnya.
"Magsud Anda bagaimana tuan?"tidak mengerti Azkara.
"Afra"ujar afra memperingati Azkara agar tidak memanggilnya dengan 'tuan' mulai sekarang,"saya hanya akan memberi jalan bukan harapan,,selidiki para gadis itu aku rasa salah satu dari mereka memiliki hubungan dengan adikmu!"
Azkara terdiam memikirkan penyebab perkataan tuannya ini,"Jika boleh tau kenapa anda berpikir begitu tuan Mmm Afra?"
"Liontin foto!,,saya pernah melihat liontin berisi foto satu keluarga,foto yang sama dengan satu-satunya kenangan yang kau punya"jawab Afra jujur.
__ADS_1
"Foto keluarga?"Azkara membeo lalu mengeluarkan foto yang dimagsud sang tuan.
Foto satu keluarga dari ayah,ibu dan kedua buah hati mereka yang masih kecil,kedua anak kecil itu berbeda kelamin dan juga usia,dari kenangan itu mereka mengambil foto saat merasa bahagia terlihat dari bibir mereka yang merekah dengan mata yang memandang penuh cinta.
Hingga senyuman mereka yang berada difoto tanpa sadar menularkannya pada Azkara.
Ditempat lain seorang gadis duduk dipingiran ranjang,gadis itu menghela nafasnya lirih lalu mengeluarkan liontin dari dompetnya,liontin berisi foto yang sudah usang termakan usia,foto yang sama dengan foto yang sedang Azkara lihat,,gadis itu kembali menghela nafas dan menyimpan fotonya kembali kedalam dompet dengan aman.
Hingga akhirnya pagi menyapa mereka.
Afra yang baru keluar dari kamar dilantai satu rumah kaca tersentak saat beradu tatap dengan seseorang yang tidak seharusnya berada disana pikirnya.
" Kalian"ujar Afra terbelalak.
Afra langsung menggerakan kursi rodanya dengan cepat menghampiri orang yang baru saja beradu tatap dengannya itu,"Kalian mengapa berada disini Dedd,mom?"tanya Afra cemas sebari menatap sekitar lebih tepatnya ke lantai dua,ia begitu takut gadisnya melihat orang tuannya itu.
"Pertanyaan apa itu?,, kau sendiri yang meminta kami kemari semalam"jawab tuan Amlias.
" Itu benar nak,,seharusnya kami yang bertanya, sebelumnya kamu begitu melarang kami untuk menemui lara,,dan semalam kamu memaksa kami untuk datang kemari kenapa?,apa Lara ingin menemui kami nak?"tanya nyonya Amlias penuh harap.
Afra menghela nafasnya melihat tatapan penuh sarap dari sang mommy,Afra menggelengkan kepalanya membuat binar dimata nyonya amlias meredup,"Aku tidak meminta kalian datang mom,Dedd,,kalian harus segera pergi Dedd,mom sebelum Xia turun"
"Kau mempermainkan kami Afra?"tanya tuan Alaran Amlias tegas.
"Apa yang deddy magsud?,mempermainkan apa?"
"Kau mengirim pesan semalam meminta kami datang,kami sudah menolak karna takut lara tidak menerima kami tapi kau memaksa dari balasan pesan itu,,sekarang kau mengatakan tidak meminta kami kemari,,kenapa kau mempermainkan hati kami Afra?,,kau membuat mommy mu sedih kau tau itu?,,bukan hanya mommy saja tapi kau juga mempermainkan ku juga!"tegas tuan Alaran.
"Kami begitu berharap bisa bertemu tatap dengan Lara"sambungnya dihentikan nyonya Ananta Amlias.
"Sudah sayang kita bahas ini nanti dirumah saja,sekarang kita harus pulang sebelum lara melihat kita"ajak nyonya Amlias menguatkan hatinya walau ingin sekali bertemu dengan gadis bernama Xlara Zadrianka,namun ia tidak ingin memaksakan untuk saat ini,ia akan mengikuti cara suami dan putranya itu.
Tuan amlias mengangguk,"Kita membahas hal ini"ujarnya lalu merangkul sang istri beranjak dari sana.
"Baik Daddy,aku akan pulang nanti siang"jawab Afra.
"Daddy tunggu"jawab sang ayah.
Kedua pasangan yang tak lain adalah orang tua afra melangkah pergi hingga pergerakannya terhenti ketika mendengar suara yang menyapa telinga mereka.
"Kalian sudah datang?,,maaf telat menyambut tuan dan nyonya Amlias"suara itu mengalihkan atensi mereka kearah tangga dan memperlihatkan dua sosok cantik berdiri dengan anggun.
Mereka terkesiap saat melihat siapa yang menyapa wajah mereka berubah pucat terlihat lucu dimata yura,"Ck mereka seperti sedang melihat hantu"guman Yura sebari melangkahkan kakinya dengan anggun menuruni tangga disusul Xia setelah gadis itu menghela nafas.
Setelah berdiri tepat dihadapan orang tua Afra,Xia menatap mereka dengan datar berbeda dengan Yura yang tengah meringis mengingat wajah pasangan di depannya,ia jadi ingat saat memberi drama dan melebihkan nya di(bab),Yura yakin Xia akan menyerangnya setelah mengetahui ulahnya yang sudah melebihkan drama.
Hening..
"Selamat datang dikediaman Abana tuan dan nyonya Amlias,,maaf jika saya tidak sopan,,ini pertama kalinya saya menyambut tamu"ujar Xia dengan datar.
Nyonya Ananta menatap Xia atau gadis yang ia panggil Lara dengan sendu begitupun tuan Alaran,jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya,kelu tentu saja orang tuan dan anak itu tidak ada yang mengeluarkan suara,sepertinya mereka terlalu syok melihat kedatangan Xia.
"Benar setiap ada tamu kami memilih pergi"ujar Yura sebari mengusap tengkuknya,"Mmm apa benar kalian orang tua dari kak Afra?"sambungnya namun tidak mendapat jawaban sebab mereka masih dalam diam memandangi wajah Xia yang menunjukan raut wajah datar.
Azkara yang melihat kumpulan orang di ruang tengah membuatnya mengkerutkan kening,dirinya baru saja keluar untuk mencari sarapan tuan dan para nona kediaman ini,azkara semakin dekat melangkah ia juga tersentak saat melihat kumpulan orang yang terdiam bak patung.
"Tuan besar dan nyonya amlias"gumannya tak percaya,lalu menatap Xia melihat raut wajahnya yang hanya menunjukan datar.
Khmm
Deheman Yura yang begitu keras menyadarkan mereka dari lamunan masing-masing,yang pertama kali merespon adalah nyonya Ananta Amlias.
"Ahk maaf nona sepertinya kami salah rumah,,kami permisi"ujarnya berbohong.
"Saya yang meminta kalian datang!"ujar Xia dengan lantang membuat langkah nyonya dan tuan amlias terhenti.
__ADS_1
"Bisa kita bicara?"sambungnya dengan raut datar.