
Seorang gadis tengah berdiri didepan hamparan bunga di depannya sangatlah indah,,gadis itu beberapa kali menghela nafas ringan sebari memejamkan mata.
Udara ditempatnya ini terasa segar nan sejuk,sinar mentari membuat wajah gadis itu bersinar seperti bidadari yang sedang merentangkan kedua sayapnya dengan indah.
"Kamu sudah bangun nak?"suara seorang wanita menyalanya membuat sang gadis berbalik dan menatap wanita paruh baya dengan tatapan datar.
Tidak ada tatapan marah,kecewa,sedih ataupun bahagia membuat siapapun yang melihat itu akan sulit menebak untuk bersikap.
"Hmm"
"Bagaimana menurutmu dengan taman ini?"tanya wanita baruh baya itu penuh harap.
"Bagus"jawabnya membuat senyum wanita itu merekah namun bukan karna jawabannya yang memuji,wanita itu tersenyum sebab gadis yang ia ajak bicara mau menjawab pertanyaan nya.
"Benarkah? Lalu apa kamu suka dengan taman ini?"
"Hmm"jawabnya membuat senyum dibibir Ananta hilang.
"Baguslah, mommy yang merawat semua bunga disini"ujarnya menjadi lesu.
Ananta melihat wajah cantik gadis di sampingnya dengan tatapan teduh,"Maaf"ujarnya membuat Xia menatap wanita paruh baya itu yang sudah menundukan kepalanya.
"Mommy sudah melakukan hal besar hingga membuat kamu membenci kami,mommy tau kamu tidak sepenuhnya memaafkan kami,,kamu hanya menghormati keputusan yang diambil tuan Anka Abana,,"ujar ananta menatap sendu dengan tatapan yang sudah berkaca-kaca.
"Mommy sungguh minta maaf,,mommy sadar mommy egois dengan sikap mommy dulu,,kami tau kamu tidak bisa memaafkan kami,,tapi bolehkan mommy egois sekali lagi?,,,mommy ingin kembali dekat dengan kamu nak"ujarnya sebari sesegukan.
Xia menghela nafas "Anda benar!,penerimaan maaf saya terima di mulut tidak dengan hati saya,,tentang menghormati juga benar,,,untuk kembali seperti dulu saya tidak bisa,,," jawab Xia membuat Ananta semakin menangis.
Ananta mengusap jejak air matanya lalu menatap Xia sendu,"Maaf nak,mommy akan tetap berusaha untuk kembali dekat dengan mu seperti dulu,,seperti ibu dan putrinya,,mommy akan berusaha sekuat mungkin hingga kamu menerima mommy kembali"
"Anda bisa mencobanya nyonya,namun anda hanya akan terluka dengan harapan yang anda buat"jawab Xia datar.
"Tidak akan!,,mommy tidak akan terluka"jawabnya percaya diri.
.
.
.
"Kenapa dengan dia?"tanya Azkara menatap salah satu temannya yang menginap di mansion afra semalam.
Rayma yang menjadi sasaran pertanyaan Azkara mengedikan bahunya acuh,"Galau,,gadisnya kembali menolak"jawabnya mengejek.
"Masih banyak wanita diluar sana yang akan menerimamu bodoh,,untuk apa memikirkan wanita yang selalu menolakmu"sambungnya mengejek Savion.
"Ck diam lah! "ujar Savion kesal.
"Playboy galau,,hanya playboy rendahan yang merasakannya"ujar Rayma.
"Ck kau kan tau jika aku menjadi playboy hanya untuk melupakan gadis itu"ujar Savion kesal.
Rayma terkekeh mendengar kejujuran sahabatnya itu apa yang savion sakitan memang benar,pria itu menjadi playboy sejak ditolak gadis yang membuatnya jatuh cinta pandangan pertama tidak seperti dirinya yang sejak bayi sudah menjadi playboy.
"Kau bisa terus mengejarnya,,,bukankah kalian dijodohkan?"tanya Azkara.
"Dia menolak,,"jawab Savion sendu,"Kau punya usul Ray?"
"Ya aku akan membantu tenang saja,,asal bayarannya sesuai"jawab Rayma.
"Ck perhitungan!"
"Tidak ada yang gratis didunia ini kawan"jawab Rayma.
"Kau mengenal mereka?"AFra yang hanya menyimak membuka suaranya.
"Aku pikir pria yang duduk di kursi roda adalah mayat hidup"sindir Rayma mendapat tatapan tajam pria itu membuat Rayma melihat kearah lain seolah memperhatikan sekitar ruangan kerja sahabatnya itu.
"Kau mengenal mereka?"tanya kembali Afra
"Siapa?"ujar Savion yang menjadi tujuan pertanyaan Afra.
"Xia dan yura"jawab Afra
__ADS_1
"Mereka"Savion terdiam lalu mengedikan bahunya,"Tidak juga kami baru pertama kali bertemu"
"Kau yakin?"bukan Afra yang bertanya melainkan Rayma,"Aku melihat raut wajah berlebihan mu ketika mendengar mereka memperkenalkan diri"
"Aku hanya merasa pernah bertemu mereka itu saja,,nyatanya tadi malam pertemuan perdana kami,,mungkin hanya mirip saja"jawab Savion berwajah datar agar tidak ada yang membaca raut wajahnya.
"Benarkah?,,tidak perlu berbohong,,aku yakin kau pernah memperkerjakan mereka"ujar Afra dengan nada lebih dingin dengan aura menggelap.
"Memperkerjakan?,,memang mereka bekerja apa?"tanya Rayma lebih dulu.
"Ck Azkara"ujar Afra secara tida langsung meminta Azkara menjelaskan.
"Para nona itu anak buah terbaik kelompok 'Than'"jawab Azkara membuat mata mereka membola sempurna.
"Kau bercanda?"tanya Rayma tidak percaya.
"Tidak,,aku mendapat biodata mereka setelah satu bulan berusaha,jika tidak percaya kalian bisa melihatnya"jawab Azkara.
"Tunjukan pada kami!"pinta kedua pengusaha berbeda negara itu.
Azkara memberikan laptop yang ia bawa,kedua pria itu menatap tidak percaya pada layar.
"Wah ini menakjubkan"pekik Rayma,"Kau-kau akhirnya menemukan gadis kecilmu yang sayangnya anak buah dari musuh mu"sambungnya menatap A0fra dengan menggoda pria itu yang sudah menatapnya tajam seolah belati yang menusuk bagian jantung.
"Ck diamlah!,,,Vion kau mengenali mereka?"tanya Afra.
Savion menghela nafas"Aku memang pernah menyewa anggota terbaik 'Than' untuk menculik gadis ku,kau pasti tau jika mereka tidak menyebar identitas mereka? "
"Kau benar!,,aku hanya menguji sesuatu padamu"jawab Afra seketika membuat Savion tegang.
"Menguji?,,,menguji sesuatu apa?"tanyanya dengan wajah tegang yang tidak bisa ia sembunyikan.
Afra mengedikan bahunya acuh,"Kau salah satu pebisnis dinegara italia yang bergerak dirusia,,kakak sepupu mu seorang istri dari mafia terkenal diitalia,,banyak hal yang harus kau jaga benar begitu teman?"ujar A0fra menyeringgai terlihat menakutkan dimata mereka ketika Afra mengeluarkan seringaian nya,yang mengartikan hal buruk untuk orang yang ia magsud.
"Apa magsud mu sebenarnya Afra?"tanya Savion dengan wajah tegang,jika ditanya ia takut atau tidak? jawabannya.
Tentu saja takut,,kekuatan Savion dan Afra memang sebanding namun jika Afra sudah mengamuk semua usahanya akan luluh lantah,pria itu tidak memandang siapa yang menghambat jalannya akan ia hancurkan tanpa pandang bulu.
Afra mengedikan bahunya acuh lalu menggerakan kursi rodanya untuk pergi dari ruangan kerjanya hingga menyisakan ketiga pria itu.
"Tidak!,untuk apa aku mengusik pria itu,,mungkin dia hanya sedang mempermainkan kita saja"jawab Savion mengubah raut wajahnya kembali santai.
"Kau yakin?"kini Azkara yang bertanya pada sahabatnya itu.
"Hmm iya,,dia tidak akan melakukan hal buruk padaku"ujarnya percaya diri.
"Cih terlalu percaya diri,,jangan lupa Afra pernah menghancurkan pesawat pribadimu"ujar Rayma mengingatkan membuat Savion meringis.
Ia ingat kejadian itu,pernah suatu hari Afra mengamuk hingga satu bandara pesawat pribadi savion diledakan oleh Afra,hingga membuat savion rugi besar,karna ulah savion sendiri.
" Jangan ingatkan aku hal itu!"kesal Savion,"Dia membuatku rugi miliaran dolar"gumannya kesal.
.
.
.
Afra menuju ruang makan dipertengahan jalan ia bertemu sang ayah yang juga searah dengannya dan mereka berjalan beriringan dengan Afra masih di kursi roda.
"Bagaimana kondisi kakimu?"
"Masih dalam pemulihan Dadd"
"Huh apa kata dokter itu?"tanya Alaran, "Apa dia mengatakan ada racun atau masalah pada kakimu?"
"Tidak Dad semua aman"jawabnya singkat.
Keduanya saling lirik ketika diujung dapur mereka melihat keramaian namun para maid yang bertugas di dapur hanya berdiri dikejauhan,bisa ditebak jika seperti ini sang nyonya rumah sedang memberantakan dapur, karna nyonya rumah ini tidak pandai dalam urusan dapur.
Alaran berjalan cepat kedalam dapur takut terjadi sesuatu yang bisa melukai sang istri tercinta ,seperti yang pernah gadis itu lakukan bukannya memasak malah membakar ludes dapur mansion.
"Sayang"panggil alaran mencari sosok sang istri.
__ADS_1
"Disini sayang,aku sedang memasak bersama Xia disini juga ada Mora dan Caen yang baru datang tadi,,,dan ah aku hampir lupa dia temannya Xia dan Yura namanya Anna dia juga baru datang tadi pagi bersama Azkara"ujar ananta sumringah memperkenalkan mereka yang ada di dapur.
"Hmm,,kamu kenapa memasak?,bukannya sudah berjanji tidak akan melakukan itu lagi?"tanya Alaran membuat ananta tersenyum hingga menunjukan deretan giginya.
"Aku tadinya hanya ingin memanggang roti untuk anak-anak,tapi setelah mendengar Yura yang mengatakan jika Xia dan Anna bisa memasak aku ingin mereka mengajariku"jawabnya jujur.
"Benarkah?"tanya Alaran pada sang istri.
" Iya sayang jadi boleh ya aku melanjutkan memasaknya?"harap Ananta sebari menatap penuh harap.
"Yasudah hati-hati!"
"Terimakasih sayang"senang Ananta.
Gadis bernama Caen menghampiri Alaran sebari tersenyum,"Paman apa kabar?"tanyanya
"Paman baik nak,kamu semakin besar sekarang berapa usia keponakan paman ini hmm"ujar Alaran sebari mengusap rambut Caen.
"Aku sudah semakin dewasa paman sekarang usia ku delapan belas tahun"jawabnya sebari tersenyum.
Caen adalah anak dari adik alaran gadis kecil itu sangat dekat dengan paman dan bibinya namun untuk kakak sepupunya yaitu Afra dia tidak dekat mengingat pria itu memiliki trauma terhadap wanita.
Caen berbincang-bincang dengan paman nya yang sudah hampir beberapa bulan tidak bertemu sebab ia disibukan dengan tugas sekolah.
Setelah acara memasak selesai para maid menyajikan makanan yang dibuat nyonya dibantu para nona-nona dimeja makan.
"Wangi,kalian para wanita berbakat menjadi chef"seru Rayma yang ikut sarapan.
Dimeja makan sangat ramai disebelah kanan ada Afra,Xia,Yura,Anna dan Mora untuk disebelah kiri ada Ananta,Cean,Rayma,Savion dan Azkara dan tuan Alaran berada di kursi tengah antara putra dan istrinya.
Xia menuangkan susu putih dalam kelas Yura lalu gelas Anna lalu gelas Afra terakhir barulah gelas dirinya,pergerakan gadis itu tidak lepas dari pandangan orang dimeja makan.
Mora berdecih ia bersyukur setidaknya gadis yang duduk di kursi samping AFRA itu entah siapa,ia tidak kenal sebab mereka hanya diperkenalkan antara nama saja,Mora bersyukur sebab ia tahu afra tidak akan meminum susu yang disajikan gadis itu,sebab dirinya sangat tahu bahwa Afra tidak suka meminum susu.
Mora mengambil kopi yang memang sudah tersedia dimeja makan lalu berdiri hingga suara decitan kursi terdengat'cittt'dan dijadikan atensi.
Mora berjalan mendekati kursi roda yang diduduki Afra,"Nona, Afra tidak suka meminum susu ia lebih suka dengan kopi"ujarnya sebari menggambil gelas susu.
"Taruh! "suara barton Afra terdengar membuat Mora sang sahabat dari kecil pria itu bersorak senang didalam hati,Nora langsung menaruh gelas kopi yang ia bawa seperti perintah pria itu.
"Taruh! "sekali lagi afra berbicara namun kali ini dengan nada kesal.
"Aku sudah menaruhnya Afra"jawab mora tersenyum ramah, "Minumlah kopi nya aku tau kamu tidak menyukai susu nya akan aku buang"
Afra menatap tajam Mora membuat gadis itu merinding,tanpa mengeluarkan kata-kata Afra merebut gelas susu dari tangan mora dengan kasar hingga sebagian tumpah ditangannya,lalu Afra meminumnya tanpa sisa.
Yang dimeja makan melongo melihat hal baru itu kecuali Azkara yang sudah mengikuti sang tuan selama ini ia sudah banyak melihat perubahan dari sikap bosnya itu.
"Kau meminum susu?,,"tanya tak percaya lolos keluar dari mulut Rayma seolah menjadi perwakilan dari yang lainnya.
"Memangnya kenapa jika kak Afra meminum susu?,,susukan baik untuk diminum apalagi di pagi hari yang buruk itu meminum kopi di pagi hari tidak baik untuk kesehatan,benar Xia? "Ujar Yura heran dengan raut wajah mereka yang seolah baru melihat hal unik.
"Hmm" jawab Xia
"Ah benar yang dikatakan nona yura,,susu memang bagus untuk kesehatan,aku juga akan mengawali hari dengan meminum susu mulai sekarang"ujar Savion lalu menuangkan susu ke gelasnya dan menegaknya hingga tandas.
"Aku juga akan begitu,,siapa tau memperlambat kematian"ujar Rayma melakukan hal sama dengan yang dilakukan Savion.
"Lihat sayang,apa yang Yura dan Xia katakan itu benar,minum susu di pagi hari itu bagus untuk kesehatan,lihat putramu saja sudah mulai memperbaiki pola makan hanya tinggal kamu saja"kesal Ananta terhadap suaminya.
"Baiklah sayang,aku akan mengawali hari dengan meminum susu seperti keinginan kamu,,,Xia paman ingin kamu menuangkannya untuk paman jika kamu tidak keberatan"ujar Alaran sendu
Xia melakukan apa yang diinginkan tuan Alaran tanpa mengeluarkan suara lalu beralih menatap nyonya ananta yang sedang menunduk sendu.
"Untuk anda!"ujar Xia sebari menyodorkan gelas berisi susu kearah ananta membuat lekungan indah dibibir wanita paruh baya itu.
Arah dari Mora yang diacuhkan dan secara tidak langsung dipermalukan raut wajahnya sekusut benang,dulu sebelum Xia datang dia selalu dekat dengan nyonya rumah dan kini mereka beralih pada gadis itu,Mora berjalan dengan anggun menutupi amarahnya yang ingin sekali untuk membunuh Xia.
Mora kembali ke tempat duduknya dengan menutupi emosinya agar bisa terlihat anggu dan dapat terpilih menjadi menanti keluarga ini,membayangkan itu saja membuat amarah dalam dirinya hilang,namun itu semua bisa ia lakukan jika menghabisi penghalang, siapapun itu akan ia habisi jika berani menghalangi jalannya untuk mendapatkan afra sabahat kecilnya walau mereka tidak begitu dekat ataupun intim.
Tapi Mora sudah memiliki perasaan terhadap Afra sejak sekolah dasar dan semakin hari semakin bertambah hingga sekarang,walau tidak sedekat dan seintim itu sejak Afra memiliki trauma tapi Mora selalu mencoba membuat perhatian Afra terhadapnya,keluarga mereka sudah bersahabat sejak lama itu semua akan memudahkan jalannya.
Ah membayangkan menjadi istri dari Maringgai Azonafra Amlias saja sudah membuat mora senang bukan main hingga melupakan emosinya.
__ADS_1
"Kau butuh minum susu sebanyak mungkin Mora,agar otakmu punya nutrisi"nada ejekan terdengar dari rayma yang melihat raut wajah Mora yang sejak tadi masam hingga tiba-tiba senyum-senyum.
"Berengsek"guman Mora mengepalkan tangan nya dibawah meja.