MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
kesabaran ekstra


__ADS_3

"Bukan kah itu memang benar?"pikir Xia saat mendengar alasan dari permintaan pria disampingnya itu.


"Akan aku pikirkan"jawab gadis itu.


Afra menghela nafas,membujuk gadisnya itu butuh kesabaran ekstra.


"Baiklah"ujar Afra lalu mengecup dahi gadisnya dengan lembut.


Deg


Mendapat perlakuan dari pria yang menurut gadis itu asing,entah kenapa membuat jantungnya berdetak sangat kencang.


Ini pertama kalinya.


Biasanya jika ada pria yang bahkan dengan sengaja menyentuh tangannya,keesokan hari nya pria itu akan kehilangan tangannya.


Apa pria ini juga akan kehilangan bibirnya setelah ini,entahlah yang pasti Xia masih terdiam sebari memegangi dadanya setelah kejadian tadi.


Ada perasaan aneh yang tidak dimengerti gadis itu, entahlah ini pertama kali.


"Ada apa?,apa dadamu sakit?"tanya Afra yang sedari tadi masih menatap sang gadis.


Ia jadi khawatir saat melihat gadisnya yang diam sebari memegangi dada dengan kedua tangan.


Walau memang sikap gadis itu pendiam,namun kali ini sangat aneh.


"Katakan!,kita perlu kembali kerumah sakit?"tanya Afra semakin khawatir.


"Kembali kerumah sakit!"titahnya pada pengemudi.


"Baik tuan"jawab pengemudi dengan sopan mulai memutar arah.


"Eh tidak!,kita kembali ke mansion saja"cegah Xia.


"Sayang,kamu yakin?,jika ada yang sakit kita periksa ke dokter"


"Aku gapapa,kita kembali ke mansion aja"pintanya dengan dingin.


"Baiklah"jawab afra"jika ada yang sakit?,jangan disembunyikan katakan saja,aku akan membantu"


Afra memberi perintah agar bawahannya menuruti keinginan gadisnya tadi.


Xia mengangguk sebagai jawaban"hanya merasa aneh"lirihnya.


"Aneh kenapa?"tanya Afra dengan masih menunjukan khawatir.


"Entahlah"jawab Xia sebari mengerikan bahunya membuat Afra semakin khawatir.


"Kamu yakin?,bagaimana kalo kita kembali kerumah sakit?"bujuk Afra.


"Tidak mau!,aku baik-baik saja"jawab jutek Xia membuat Afra menghela nafas.


Seperti yang ia pikirkan tadi,membujuk gadisnya harus memiliki kesabaran ektra.


.


.

__ADS_1


.


Di tempat lain seorang pria tengah merebahkan dirinya disofa dengan perasaan senang.


"Akhirnya,pekerjaanku selesai"ujarnya membuat sangat asisten yang berdiri tepat di samping sofa tuannya terkekeh.


"Apakah anda lupa tuan?,satu jam lagi anda memiliki janji dengan kolega anda"ujar sang asisten mengingatkan dengan sopan.


Tuannya yang diingatkan mendongkak dan menatap asistennya dengan dongkol"bisakan kau lenyapkan saja dia?"


"Bisa tuan,hanya saja anda akan dapat masalah baru"jawabnya dengan sopan.


Sang tuan yang tak lain adalah Rain yang selama beberapa hari ini disibukan dengan pekerjaan kantor milik Ken,mengubah posisinya menjadi duduk lalu menghela nafas kasar.


"Aku ini orang baik,tidak bisa membunuh siapapun bahkan seekor semut sekalipun"monolognya sebari mengusap-usap dadanya.


Sang asisten yang melihat tingkah Sang tuan,hanya bisa mengelengkan kepalanya.


Bekerja dengannya membuat dia memiliki suasana baru,walaupun ia baru 4tahun bekerja bersama Rain,namun tuannya memperlakukannya sebagai kakak bukan bawahan.


Tuannya yang sangat lebih muda darinya,membuat ia merasa memiliki adik,bahkan ia sudah menganggapnya seperti adik,seperti Rain yang memperlakukannya sebagai kakak,ia akan melindungi adiknya itu sepenuh jiwa raga.


Tanpa melupakan statusnya.


Rain mengutak-atik leptop dimeja,tak berselang lama senyuman terbit dibibirnya,masih dengan tersenyum tangannya terus mengutak atik keyboard laptop dengan semangat.


"Kau bisa menggantikan ku dengan pertemuan itukan?"tanya Rain sebari mendongak melihat wajah sang asisten.


"Maaf tuan,untuk kali ini tidak bisa,beliau meminta pertemuan ini anda langsung yang datang"jawab Emre dengan sopan.


"Cih,maunya apa pria bau tanah itu?"kesal Rain karna orang yang membuat janji dengannya sangat merepotkan,jika bisa sudah ia tolak sejak awal.


Pria muda itu kembali menatap laptop,laptop yang tadinya menunjukan tulisan tangan yang dapat dibaca,dengan tambahan foto kecil dibagian sudut kanan.


Kini berubah,saat Rain kembali mengutak atik keyboard,layar laptop menunjukan deretan angka yang sangat banyak,deretan angkat tersebut terus bergerak dan berubah.


saking cepatnya layar laptop hanya terlihat biru,dengan angka-angka hijau yang terlihat seperti sengurumpulan semut jika dilihat oleh orang awam.


Emre yang memerhatikan pergerakan tuannya bergidig ngeri,membuat kesal tuannya maka hanya kerugian yang mereka dapat.


Emre sekaligus kagum denganĀ  kemampuan sang tuan,padahal baru empat tahun lebih pria itu belajar tentang IT namun sudah menjadi seorang profesional.


Kemampuan keluarga klan yang ia ikuti memang tidak main-main mereka dapat mempelajari sesuatu dengan cepat,mereka juga hebat dalam merekrut orang dari kemampuan yang klan itu asah sendiri.


Orang yang mereka rekrut sangatlah beruntung walau nyawa taruhannya,dan dirinyalah salah satu orang beruntung itu.


Rain melepas tangannya dari keyboard laptop,lalu meregangkan tanganya keatas dengan senyuman yang belum luntur dari bibirnya itu.


Hampir lima tahun menjadi mafia,sudah membuatnya terbiasa dengan dunia barunya ini dan menjadikan dia sedikit kejam.


Pria muda tersebut melirik pada asistennya yang sedang menatap arah laptopnya dengan kagum"aku bisa libur kan hari ini?"


Emre mengangguk disertai jawaban"bisa tuan,jika seperti ini anda bisa libur beberapa hari kedepan"


"Huh menyenangkan,aku akan menghubungi gadis itu"


"Anda sepertinya merindukan mereka tuan"

__ADS_1


Rain memutar matanya malas"sedikit"ujarnya sebari mengapit jari telunjuk dan jempol menunjukan sudut kecil diantara jarinya.


'Aku hanya lelah diteror gadis lainnya"sambungnya jujur.


Beberapa hari ini ia terus diganggu gadis yang ia panggil gadis lainnya, yang menanyakan keberadaan kedua gadis itu.


"Anda tidak bisa lepas dari gadis-gadis tuan"


"Aku tau,ketampanan ku ini menghipnotis semua gadis"jawabnya menyombongkan diri.


"Anda benar tuan"jawab jujur Emre,ia akui tuan mudanya ini memanglah tampan jadi wajah jika banyak gadis yang mengejarnya,untuk dijadikan kekasih.


namun tidak ada yang bisa dekat dengan tuan mudanya ini,kecuali beberapa gadis yang beruntung saja.


Dan keberuntungan itu tidak bisa didapat siapapun kecuali keluarganya.


Sikap Rain yang dingin terhadap siapapun orang asing membuat dia sulit dihadapi,apalagi jika berani ber main-main dengannya maka pria itu akan menyebabkan kerugian besar untuk sang pelaku.


Seperti barusan,ia baru saja membobol keamanan perusahaan seseorang lalu menyebarkan informasi penting perusahaan tersebut.


Mengingat kesana membuat Rain senang bukan main,orang bau tanah itu pasti sedang frustasi dan mengamuk.


Ya walau harus sedikit iba karna pegawai yang tidak salah akan jadi sasaran amukan pria bau tanah itu.


Suruh siapa pria itu merusak jam istirahatnya.


"Aku pikir menghubungi mereka nanti saja,bukankah lebih baik menyelesaikan skripsian?"


"Benar tuan,jika tugas kuliah anda selesai maka tugas anda akan semakin berkurang"


"Kau benar,otak ku tak sehebat Xia,apa menurutmu aku akan lulus?"tanya Rain mengingat kemampuan otak Xia yang menurutnya diatas rata-rata.


"Tentu saja tuan,saya yakin anda akan lulus walau bukan dengan nilai terbaik"jawaban Emre membuat Rain mendongkak,dan menatap pria itu dengan sinis.


"Magsudmu aku akan lulus dengan nilai jelek begitu?"tanya Rain dengan sinis.


"Bu-bukan begitu magsud saya tuan"


"Sudahlah,kau menyebalkan"ujar Rain kesal,lalu berdiri dari duduknya dan melegang pergi dari ruangan itu meninggalkan asistennya dengan perasaan dongkol.


Emre melihat kepergian tuannya hanya bisa menunduk,ia merutuki kebodohannya yang asal bicara,namun bukan itu magsud perkataannya.


Sedangkan Rain yang sudah menjauh dari ruangan kerjanya tersenyum puas.


Ia tadi pura-pura kesal agar bisa pergi ke suatu tempat tanpa pengawalan asistennya.


Memang sudah terbiasa dikawal kapanpun dan dimanapun,namun kali ini ia harus pergi sendiri untuk mencari kesenangan.


Kesenangan yang ia magsud bukanlah seperti pria kebanyakan dinegara itu yang akan pergi ke club.


Namun ke suatu tempat yang menyajikan makanan enak dipinggiran jalan,jika mengajak asistennya itu dia pasti akan melarang dan membawanya ke restoran mahal,yang menurutnya hanya membuang uang.


Bukan hanya dia yang berpikiran begitu,namun juga Xia,jika gadis itu ada maka mereka akan pergi bersama dan menipu para pengawal agar tidak mengikuti mereka.


Rain jadi semakin merindukan gadis balok,keras kepala dan juga manja itu.


Saat ia menjawab pertanyaan asistennya,ia hanya berbohong,jujur saja pria muda itu merindukan kedua gadis teman bertengkarnya itu.

__ADS_1


"Apa aku menyusul mereka saja?"monolognya menimang-nimang


__ADS_2