MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
hanya menebak


__ADS_3

Xia hendak membuka pintu namun suara bariton menghentikan pergerakannya.


"Kenapa kemari?"


Xia menunduk melihat pria yang bertanya tadi.


"Mengambil obat"


"Bukan disini"


"Lalu?"


Afra melihat pintu disebelahnya sebagai jawaban.


"Dikamar itu?"Xia menunjuk kamar yang sempat ia tempati.


Ruangan yang menjadi kamarnya beberapa jam lalu.


Afra menganguk sebagai jawaban.


Xia kembali mendorong kursi roda dan memasuki kamarnya.


" Kamar ini awalnya milikmu?"tanya Xia sebari mendorong kursi roda mendekati ranjang.


"Dari mana kamu tau?"tanya Afra sebari mendongkak melihat wajah cantik Xia yang melihat ke depan.


"Hanya menebak"


"Dan kamu benar,sepertinya kamu bisa menebak sesuatu,apa kamu tau isi pikiranku?"tanya Afra antusias.


pria itu bertingkah seperti anak kecil.


"Aku bukan cenayang"


"Tentu saja bukan,kamu gadis pemilik hatiku"ucap Afra sebari tersenyum lebar.


Xia memutar matanya malas,ia sudah kenal dengan rayuan mulut buaya.


"Dimana obatnya?"tanya dia karna setelah membuka laci nakas ia tidak menemukan apapun disana.


"Dilaci ketiga"jawab Afra.


Xia membuka satu-satunya laci yang tadi belum ia cek.


Gadis itu mengambil botol ukuran kecil dengan tinggi setinggi jari jempol.


"Kau suka meminumnya?"tanya Xia sebari menggoyang-goyangkan botol kecil itu yang isinya tinggal beberapa, sampai menimbulkan suara.


Klik-klik suara butiran pil yang saling bertabrakan dengan badan botol.


"Ya,aku mengalami insomnia "jawabnya jujur.


"Sejak kapan?"


"Sejak remaja"


"Berapa usiamu sekarang?"tanya Xia lagi.


"26tahun,7 tahun lebih tua dari mu,tapi tampang ku mengalangkah kalangan remaja"ucapnya sebari menyugar rambutnya dengan percaya diri.


"Makanya kau harus sadar diri"ucap Xia memotong perkataan Afra.


"Magsud mu apa sayang?"


"Kau harus sadar diri,kau itu menjalin hubungan dengan anak remaja,banyak-banyaklah berjuang jika tidak,mungkin aku akan diambil orang"ucap Xia kini duduk dipinggiran ranjang.


"Aku tidak akan melepasmu,apapun yang terjadi kamu akan terus bersamaku"ucapnya tegas penuh percaya diri.


"Bagaimana kalo aku memilih orang lain,bukannya dirimu?"tanya Xia.


"Maka aku akan membunuhnya,dan mematahkan kakimu agar kamu tidak lari dariku"jawab Afra penuh penekana,


Bahkan sorot matanya berubah penuh kewaspadaan.


"Jadi jangan pernah lari dari ku jika kamu tidak ingin cacat seperti ku!"peringatan yang lebih seperti perintah.


Xia tersenyum tipis,sangat tipis bahkan tidak ada yang bisa melihatnya.


"Aku akan lari!"Xia sengaja menjeda ucapannya.


"jika menemukan pria yang lebih kaya dari mu"sambungnya

__ADS_1


"Kau pecinta harta?"tanya Afra sebari menaikan sebelah halisnya.


"Benar!,apa kau kecewa?"


Afra yang awalnya menunjukan wajah dingin kini berubah menjadi tersenyum lebar.


"Tentu saja tidak,kamu tidak akan berpaling dariku,tidak ada pria yang lebih kaya dariku"jawabnya percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri"Xia membuka penutup botol obat tadi,lalu mengeluarkan dia butir obat sekaligus.


"Tentu saja,karna aku paling kaya,jika ada yang melebihi aku,maka akan aku hancurkan mereka" ucapnya penuh penekanan.


Xia memasukan satu butir obat tidur kedalam mulutnya,dan satu lagi ia berikan ke tangan afra.


Air putih membantu Xia mendorong obat masuk kedalam tubuh,setelah itu Afra juga melakukan hal yang sama.


Pria itu merebut gelas yang Xia pegang dan meneguk isinya yang tinggal separuh sampai tandas lalu tersenyum.


"Setelah menghancurkan mereka aku akan mengambil semua harta mereka"sambung Afra setelah mengembalikan gelas ke tangan Xia.


"Kau perampok?"


"Apapun akan aku lakukan agar kau tidak meninggalkanku"


"Sudahlah jangan menggombal terus,aku akan membantumu kekamar"ucap Xia mulai jengah dengan pembicaraan mereka.


"Bagaimana kalo aku tidur disini?"tanya Afra penuh harap


Xia tersenyum sampai bibirnya bergetar"tidak!"


"Ayolah,kamu bilang,kamu ingin tidur nyaman,jika ada aku disampingmu saat tidur itu akan membuatmu nyaman,boleh ya? "Afra memberikan tatapan memohon.


"Tidak!"Xia langsung menolaknya,tidak menanggapi tatapan pria itu,Xia mendorong kursi roda untuk keluar dari kamarnya.


"Boleh"


"Tidak"bersama dengan Xia menjawab permohonan afra,ponsel diatas nakas milik Xia bergetar.


Gadis itu hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan langkahnya mendorong kursi roda afra.


"Boleh"


"Tidak"


"Boleh"


"Big yes"


Perdebatan mereka berlanjut sampai Xia membuka pintu kamar milik Afra dan memasukan pria itu kesana.


Setelah pria itu jauh dari area pintu,Xia bergegas pergi dengan keras menutup pintu sampai terdengar suara.


Brak.


Tatapan Afra kembali dingin,ia menggerakan kursi rodanya menuju meja kerja tempat laptopnya kini berada.


Afra menggeser mengambil laptop tersebut dan memangkunya.


Afra mulai mengutak-atik benda canggih tersebut,sampai menampilkan gambar sebuah ruangan.


Ruangan yang baru saja ia tinggalkan.


Diruangan yang sedang dipantau oleh pria tersebut,menampilkan seorang gadis yang tengah tersenyum lembut menghadap ponsel.


Wajah pria itu memerah,menahan amarah,senyuman itu,senyuman yang baru pertama kali ia lihat,senyuman yang penuh kasih sayang,cinta dan ketulusan.


Xia belum pernah tersenyum seperti itu didepannya.


Seharusnya senyuman itu menjadi miliknya!,siapa yang berani mengambilnya itu.


Tidak akan ia biarkan.


Tangan pria itu mengepal dengan masih memantau setiap ekpresi yang ditunjukan gadis yang sudah ia akui sebagai gadisnya.


Diwaktu yang sama Xia menelepon orang yang tadi sudah membuat ponselnya bergetar.


Telepon beralih menjadi sambungan vidio.


"Halo ayah"sapa Xia sebari tersenyum lebar.


Namun berbeda dengan pria yang ia panggil ayah tersebut.

__ADS_1


Pria itu terlihat cemberut dengan wajah kesal.


"Baru beberapa hari terpisah sudah tidak ingat ayah,apalagi jika sudah lama mungkin kamu akan melupakan ayah"ucap pria yang Xia panggil ayah


"Tidak ingat dan melupakan hal yang hampir sama ayah"jawab Xia sebari terkekeh.


Rasanya geli melihat pria paruh baya itu ngambek.


"Tapi tetap berbeda makna"jawab pria paruh baya tersebut dengan masih menunjukan ekpresi tadi.


"Ayah selalu benar"ucap Xia membuat pria disebrang sana itu terkekeh.


"Jadi apa ayah memaafkan keteledoranku?,aku belum mengabari ayah seharian ini"Xia mengakui kesalahannya.


"Tidak!ayah akan menghukum mu"


"Baiklah akan aku terima,katakan aku harus apa ayah?"tanya Xia masih dengan tersenyum.


" Mmm"Vihan terlihat sedang berpikir.


Pria itu mengetuk-ngetuk dagunya sebari menatap keatas,lalu tersenyum sebari menatap sang putri tercinta.


"Ayah ingin ciuman"pintanya.


"Baiklah,tunjukan pipi ayah,aku akan Menciumnya"


Vihan mengikuti dengan patuh,ia mengarahkan kamera pada pipi sebelah kanan.


Muach.


Xia mencium pipi sang ayah melewati ponsel.


"Rasanya tidak enak jika seperti ini,ayah menginginkan langsung bukan virtual seperti ini"Vihan menunjukan wajah tidak sukanya.


"Ini hanya kompensasi ayah"


"Benar,ini hanya kompensasi,tapi tetap saja"Vihan yang tadi sudah mengubah raut wajah senang kembali cemberut.


"Aku tidak akan melupakannya ayah,bagaimana kalo hukumannya ditambah?"


"Ditambah?"Vihan menaikan sebelah halisnya setelah mengulang kata yang membuatnya heran.


"Hal apa yang akan putriku lakukan?,pasti menyenangkan?"pikir Vihan


"Iya,begini selama kita terpisah jarak,aku akan menelepon ayah setiap malam dan menceritakan semua yang kami lakukan,dengan begitu aku akan menemani ayah tidur"


Vihan di buat terkekeh dengan penuturan gadis kecilnya itu,lalu ia mengangukan kepalanya dua kali.


"Ayah setuju,satu lagi,selama kamu disana jangan hubungi paman buruk rupa itu!"ucapnya penuh kesal.


"Ayolah ayah jangan seperti anak kecil,untuk yang satu itu,aku tidak bisa"jawab Xia.


Seperti pemikiran Vihan,jadi lebih baik ia mengalah pikirnya.


"Baiklah,lakukan apapun yang kamu mau,jika ada masalah beritahu ayah oke?"


"Baik Pak bos "jawab Xia sebari terkekeh begitu juga Vihan.


Xia kembali bersuara saat melihat wajah ayahnya yang kembali cemberut"ayah kenapa?"


"Ada yang marah"


"Siapa?"tanya Xia heran,pasalnya siapa yang bisa membuat ketua klan itu marah.


Kecuali beberapa orang.


Vihan menunjuk pipi kirinya dengan masih cemberut ia berkata"sebelah sini tidak dicium,tadi dia mengadu dan marah"


Xia terkekeh lalu melakukan permintaan sang ayah dengan senang hati.


"Muach"


"Beginikan enak,dia juga jadi tidak cemburu lagi dengan tetangganya "ucapan pria itu kembali membuat Xia terkekeh.


"Ayah sudah mendengar semuanya,ayah hanya minta agar kamu menjaga diri dengan baik disana,kenali teman dan lawan seteliti mungkin" pria baruh baya itu menunjukan wajah serius membuat Xia juga begitu.


"Aku mengerti ayah,ayah tidak perlu khawatir"


"Bagaimana ayah tidak khawatir?,kamu bahkan pergi tanpa pengawal"ucap Vihan dengan nada kesal.


"20 pengawal yang ayah kirim bisa ditukar dengan kak teo dan dan nana"ucapan Xia membuat pria itu tersentak.

__ADS_1


"Da-dari mana,mangsud ayah,20 pengawal apanya,yang mengawal kalian hanya 5orang saja"pria itu berkata dengan terbata-bata... Dari wajah tercengah kembali berwajah biasa saja.


"Aku anak siapa ya?"ucap Xia sebari mengetuk dagunya sebari berpikir.


__ADS_2