
Kedua gadis cantik itu memasuki toilet bersama dengan seringaian dibibir cantik mereka.
Xia membasuh wajahnya dengan air barulah membasuh tangannya,anna yang ikut kedalam toilet hanya menatap pergerakan sang nona hingga atensi mereka teralihkan pada pintu toilet yang terbuka dan menunjukan empat wanita bersamaan masuk kedalam toilet.
Semua berjalan normal,dua dari keempat wanita tadi memasuki bilik toilet dan sisanya berdiri didepan cermin wastafel untuk merapikan penampilan mereka.
"Cantik!"ujar salah satu dari wanita itu,lalu menatap wajah xia,"nona kau sangat beruntung memiliki kecantikan seperti ini!,seperti bunga mawar ditaman bunga"ujarnya sebari tersenyum.
Xia membalas tatapan wanita itu datar,"mawar?,,umpama yang bagus"ujar Xia lalu melanjutkan aktifitasnya untuk membersihkan tangannya.
"Ya,kau sangat cantik!,tapi sayangnya kecantikan terkadang menjadi awal kehancuran bagi pemiliknya!"ujar wanita lainnya.
"Kau benar! "Jawab teman wanita itu" kecantikan selalu menjadi ajang bagi mereka!"
"Ajang kehancuran diri?"tanya Xia datar masih menatap cermin"jika itu magsud mu,maka kau salah!"sambungnya.
"Sayangnya begitu nona,mereka yang jelek akan dihancurkan sicantik,dan sicantik akan dihancurkan mereka yang berkuasa,,begitulah rantai kehidupan nona "ujar wanita itu menatap Xia dengan tatapan aneh.
"Jangan menjadi lemah jika tidak ingin berada dirantai kehidupan paling bawah!,, namun sayangnya didunia pasti ada yang lemah dan yang kuat" sambung temannya yang lain.
"Membuang waktu!,tunjukan tujuan kalian kemari sebelum aku berubah pikiran!"ujar Xia.
"Ternyata anda sangat cerdik nona,pantas mereka cemburu dengan keberadaan anda,,,jika begitu kami tidak akan sungkan! "Ujar wanita itu,lalu keduanya saling tatap sebelum menyerang Xia dan Anna secara bersamaan.
Dengan pergerakan tertahan kedua wanita asing itu mulai menyerang Xia dan Anna.
Xia menghindar semua serangan wanita asing yang menyerangnya,ia tahu sejak tadi wanita asing itu menahan serangannya entah untuk apa,Xia yang sudah lama tidak bermain main mulai tertarik.
"Satu menit" ujar Xia membuat wanita asing itu mengkerut kan keningnya tanpa menghentikan serangan.
"Anda cukup hebat nona"ujar wanita asing itu kagum melihat wanita yang ia serang bisa terus menghindari serangannya, walau dirinya memang menahan setiap serangan,namun jika kena tidak ayal lawannya itu akan pingsan.
*Permainan selesai"ujar Xia lagi-lagi membuat lawannya mengkerut kan halisnya,"hanya kedua kaki!"sambung Xia.
Beralih kearah Anna yang melakukan hal yang sama dengan nona nya disudut lain,gadis datar itu mengangguk mengerti ketika mendengar suara Xia,walau ia tau nona nya itu tidak melihat pergerakannya.
Anna yang sejak tadi hanya menghindar,kini tidak lagi gadis itu menangkap setiap tinjuan lawannya dengan kepalan tangan.
Saat lawannya menendang anna menangkap kaki lawannya lalu memutarnya hingga suara keras terdengat bersama dengan erangan bersautan dari toilet.
Mendengar erangan kesakitan membuat dua wanita asing yang masuk dalam bilik toilet keluar dengan wajah senang,namun wajah itu seketika sirna setelah melihat keadaan kedua wanita yang masuk bersama mereka tadi tergeletak dengan kedua kaki yang mengenaskan.
Kedua kaki lawan dari Xia terbalik sempurna kearah belakang tubuhnya,jika sekilas wanita itu terlihat tidak memiliki kaki,tak jauh lebih baik dari lawan xia,lawan dari anna juga mengalami hal yang sama dengannya namun hanya kedua kakinya yang berbelok arah,tidak separah lawan Xia.
Tidak ada lebam atau luka lain diwajah keempatnya,Xia berdiri sebari menyandarkan tubuhnya pada dinding,"Kalian ingin mencoba nyonya-nyonya!"ujarnya datar.
Wajah kedua wanita yang meringis melihat keadaan mengenaskan kedua temannya,menggetuk giginya kuat dengan rahang mengerah.
"Anda terlalu sombong nona!"ujar salah satu dari mereka akhirnya pertarungan kembali terjadi dengan satu lawan satu diruang yang lumayan sempit itu.
Wanita asing yang menjadi lawan Xia diam-diam merogos sakunya untuk mengeluarkan belati yang ia sembunyikan sejak tadi,wanita itu bergerak cepat untuk menusuk bagian perut Xia dan.
Jleb.
Wanita itu terdiam sejenak melihat belati ditangannya berhasil menusuk daging,sialnya daging yang ia dapat bukan milik lawan tapi milik dirinya sendiri.
Xia tersenyum remeh ketika berhasil membuat belati ditangan lawan menanjap sempurna ditangan lawan itu sendiri,ia sudah tidak ceroboh hingga tidak melihat belati yang siap melukainya itu,"Kau yang memulai!"ujar Xia penuh penekanan.
Lawan menarik belati dari daging tangannya,karna emosi wanita itu melupakan rasa sakit dan darah yang menjalar,wanita itu kembali menyerang Xia membabi buta.
Tidak memandang Xia yang terlihat lebih muda darinya yang ada dalam pikirannya hanya membunuh gadis kecil didepannya.
Xia bergerak seperti bayangan ada namun tidak dapat disentuh dan dihentikan,ia berhasil merebut dari lawan saat wanita asing itu menyerangnya penuh emosi.
Sreet"suara sobekan terdengar ketika belati mengenai daging lengan lawannya,Xia menyeringgai"Bermain!"gumannya
__ADS_1
Tidak puas hanya melukai kedua tangan lawannya,Xia juga menggoreskan belati kearah kedua pipi lawannya,tidak tinggal diam lawannya juga melawan sebari merasakan sakit yang menjalar ditubuhnya.
Xia menghentikan pertarungannya ketika wanita asing yang menjadi lawannya bersimpuh dengan seluruh tubuhnya mendapat goresan dari belati miliknya sendiri,"Ampuni kami nona!"ujarnya tak tahu malu,mendengar itu temannya yang juga menumpu tubuhnya pada dinding menjadi bersimpuh.
Lawan Anna ini keadaannya masih hidup,jika saja Xia mengijinkan untuk membunuh maka anna tidak akan menahannya,sayang sekali anna hanya bisa memberikan sedikit kenang-kenangan pada lawannya itu.
Kenang-kenangan jika lawan Xia barusan hanya mendapat goresan pada seluruh tubuhnya yang terus mengeluarkan darah,bahkan bajunya sudah compang-camping dengan rembesan berwarna merasakan disertai bau anyir, untuk lawan anna barusan berupa jemari kedua tangan wanita asing itu putus ulah anna yang sekarang berdiri tegap seolah tidak terjadi apapun.
"Hanya empat?"tanya Xia menatap lawannya yang masih bersimpuh dengan keadaan mengenaskan.
"Iya nona kami hanya berempat,kami mohon berbelas kasihlah untuk kami, kami mohon nona"mohon nya sendu,"Kami masih memiliki keluarga yang menunggu kepulangan kami nona,kami mohon belas kasih anda nona"
"Keluarga!,,,kau pikir aku tidak punya?"Xia terkekeh melihat wajah takut keempat wanita asing itu,kemana keberanian yang mereka tunjukan tadi.
" Kami mohon maaf nona!,kami hanya pekerja saja!,kami tidak ingin membunuh anda jika bukan masalah pekerjaan,kita bahkan tidak saling mengenal"ujar wanita asing itu penuh permohonan.
Xia mengangguk mengerti sebari mengetuk wastafel berirama,"Bos kalian?"tanyanya membuat keempat wanita itu mendongkak menatap Xia lalu kembali menunduk.
"Maaf nona kami tidak bisa membocorkannya"jawab mereka hanya direspon anggukan kepala oleh Xia.
"Bereskan mereka,kuburan jasad mereka sebagai penghormatan terakhir dari ku!"ujar Xia datar membuat keempat wanita asing itu memucat.
Walaupun hidup maka mereka akan mengalami kecatatan,apa kematian lebih baik?,,entah lah mereka hanya bisa pasrah,,sial sekali harus menjadi budak orang lain yang merelakan nyawa untuk mereka.
Anna dan Xia keluar setelah mengatakan itu,mereka hanya menunjukan wajah datar membuat orang-orang yang melihat itu semua meringis takut atau sulit mengghadapi,sebab keduanya tidak terbaca.
Di luar toilet sudah ada yura yang sejak awal mengikuti mereka untuk mengelabui pengawal afra yang mengikuti ke toilet, mereka tidak ingin membuat keributan,"Sudah selesai?"tanya yura.
"Hmm"
Yura menelisik tubuh keduanya lalu memutar-mutar tubuh Xia,membuat gadis itu mengkerut kan dahinya heran,"Kenapa?"
"Aku hanya mencari celah,,tidak ada darah yang tertinggal,kalian melakukannya dengan baik"puji nya sebari tersenyum bangga lalu menggandeng lengan Xia.
.
.
.
"Kau sedang apa?"tanya seorang pria yang sedang berdiri dibelakang pria yang sedang membelakangi nya dengan tubuh condong.
"Memancing!"jawab pria yang ditanya.
"Ck yang benar saja!,aku tidak buta ataupun bodoh,kau ini sedang menanam"
"Jika tau untuk apa bertanya!"kesal Vihan mendelik tajam kearah Samuel yang sedang berdiri tegap dibelakangnya.
"Ck,,kau ingin beralih jabatan dari mafia menjadi tukang kebun?"cibir Samuel,"ckckck sungguh cocok untuk mu!"
Vihan menghela nafas dan membiarkan pria itu meledek sepuasnya,dia akan diam sendirinya nanti!.
Vihan membersihkan kedua tangannya yang dikotori tanah liat menggunakan air,"Simpan pot-pot ini dibalkon kamar nona muda!"titahnya pada seorang maid dan langsung dikerjakan maid itu.
"Bukankah itu pohon laktus?"tanya Samuel.
"Hmm"jawab Vihan lalu meneguk minuman dimeja hingga tandas.
"Untuk apa kau menanamnya?,,bukan kah pohon itu yang kita bawa dari lembah racun?"tanya Samuel berundun.
"Bukan urusan mu!"jawab Vihan lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari tempatnya tadi disusul samuel yang menginginkan jawaban yang memuaskan dari dari pria itu.
"Hei itu menjadi urusanku,,kita mencurinya bersamaan!"ujar Samuel membuat Vihan menatap tajam pria itu.
"Kenapa kau menatapku begitu?,,,apa yang aku katakan benar,,kita mencurinya bersama,kau mengajakku mencuri laktus itu bersamaan kemarin!"ujar Samuel tersenyum miring.
__ADS_1
"Diam lah!"dengus Vihan kesal mengingat kejadian beberapa hari lalu saat di lembah racun,tujuan mereka kesana karna tiga alasan,satu untuk menemui seseorang,dua untuk laktus ini dan tiga meredam kekesalan putri kecil keluarga ini.
Hanya nomor dua yang hampir gagal mereka capai,sebab semua tumbuhan di lembah racun tidak diijinkan dibawa keluar wilayah kecuali oleh pemimpin lembah itu sendiri,ketua mafia itu tidak menyerah,ia mengajak samuel mengambil tanpa ijin laktus untuk dibawa pulang.
"Kenapa?,,aku hanya berkata jujur"ujar Samuel senang melihat wajah kesal teman bertengkar nya itu.
"Iya kau berkata jujur!,,sekalian katakan pada dunia kalo aku mengajakmu mencuri!"ucapan Vihan terpotong ketika suara barton lain terdengar.
"Mencuri apa?"atensi menatap pria seumuran mereka yang sedang berjalan menghampiri mereka,"Kalian mencuri apa?"
"Bukan urusanmu"jawab Vihan sebari menatap samuel dengan tatapan tajam,yang mengartikan pria itu harus bungkam agar ulah mencuri keduanya tidak terbongkar.
Bisa diledek jika pria yang baru datang itu mengetahui jika ketua mafia bernama Vihan Kenzel Kay mencuri.
Memang bukan hal yang aneh dalam kata mencuri untuk mereka,mereka juga suka melakukannya namun kali ini mengandung makna yang bisa menurunkan hargi dirinya sebagai seorang mafia.
Pria yang baru datang itu menatap samuel meminta jawaban,"ini urusan kami Frederick,kau tidak termasuk kedalamnya"jawab pria itu membuat pria bernama Frederick Green itu mendengus.
"Ck,kalian tidak pantas saling menjaga rahasia!"ujar Frederick,"Bagaimana keadaan mereka disana?"sambungnya sebari duduk disamping Samuel.
"Baik,,putrimu tidak menelepon?"ujar Vihan menaikan sebelah halisnya.
"Kau seperti tidak tau gadis itu saja"jawab Frederick terkekeh.
"Ya putri kalian mirip dengan watak para orang tuanya,aku jadi kesal mengingat itu semua!"kesal Samuel.
"Ya aku bersyukur tentang dua hal itu"ujar Vihan dengan tatapan mengejek pada samuel,"Satu anak-anakku memiliki watat kedua orang tuannya,aku dan Xii,dan hal kedua aku mensyukuri watak putramu tidak menuruni watakmu!"
Frederick terkekeh mendengar ejekan untuk temannya itu sebari menepuk pundak Samuel,"Kau benar"ujarnya membenarkan,"Yura lebih suka mengirim pesan dari pada menelepon"
"Dia sudah membaca tabiat ibunya yang akan memberi wejangan dua puluh empat jam"ujar Samuel dengan wajah kesal dengan cibiran Vihan tadi.
"Kau benar"kedua temannya membenarkan sebari terkekeh.
"Kau tidak ingin mengunjungi kakak mu?"tanya Vihan menatap Samuel yang malah mengubah raut wajahnya menjadi sendu.
"Jika aku sudah siap,aku akan menemuinya"jawabnya sebari menghela nafas,"Sekaligus aku menjenguk keponakan-keponakan cantikku disana"sambungnya membuat Frederick dan Vihan mendengus.
"Pergilah dalam bulan ini ajak Rain sekalian!"ujar vihan membuat Samuel menaikan sebelah halisnya.
"Rain?,,,kenapa anak itu?"tanyanya.
"Dia harus ikut belajar bersama mereka"jawab Vihan membuat Frederick terkekeh.
"Hati bisa menghancurkan siapapun!"ujarnya sebari terkekeh membuat Samuel menjauh dengan tatapan heran pada temannya itu.
.
.
.
Hari ini awal baru bagi mereka disini,awal yang mengharuskan mereka memulainya kembali dari nol.
Xia,Yura dan Anna sudah masuk kuliah hari ini sesuai rencana penyamaran mereka untuk mempersatukan couple A.
Ketiganya mengambil jurusan yang sama yaitu tentang IT jurusan yang tidak terlalu mereka dalami selama ini.
" Kita hanya membuka jalan bukan memberikan jalan"ujar Xia membuat yura menghela nafas.
"Iyaiya aku tau,aku akan memulai semuanya satu tahun paling lambat dalam misi kita kali ini,entah berhasil ataupun gagal,kau harus menjawab pertanyaan ini! "Ujar Yura menatap wajah Xia dengan keseriusan.
"Setelah semuanya selesai kau akan bagaimana?,, magsudku kita akan mengatakan identitas asli kita?,atau melanjutkan apa yang sudah dimulai? " tanyanya penasaran.
"Hanya waktu yang akan menjawab"
__ADS_1