MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
balanja


__ADS_3

"Sakit?,aku panggil dokter saja ya?"Afra masih saja membujuk.


Kecemasan nya semakin menjadi saat melihat Xia hampir terjatuh.


Xia menggelengkan kepalanya.


Ah Afra sepertinya harus menyerah untuk sesaat,ia akan memeriksa gadisnya sendiri.


"Baiklah,ayo kita masuk!"Afra memencet sebuah tombol yang didesain untuk menggerakan kursi roda secara otomatis.


"Kemari"karna Xia tidak merespon,Afra menarik tangan Xia dengan lembut.


Xia hanya menurut entah kenapa sakit dikepalanya belum juga hilang.


Afra menarik gadis itu untuk duduk dipankuannya dan Xia hanya menurut.


Xia duduk dipangkuan afra dengan membelakangi pria tersebut.


Setelah merasa aman dengan posisi Xia diatas pahanya,Afra kembali memencet tombol otomatis tadi.


Afra membawa Xia masuk kedalam kamarnya sebelah tangan mengecek kepala xia.


Pria itu mengurai rambut Xia agar bisa mengecek apa kulit kepala gadisnya terluka.


Jika ia,pria itu bersumpah akan memotong tangannya yang ceroboh,semua yang terjadi tadi gara-gara dirinya.


Untungnya tidak ada lecet dikulit kepala Xia,namun pria itu masih cemas,takut-takut ada luka dalam yang berbahaya.


Pria itu mengusap kepala Xia sebari bertanya "sakit?"


"Hanya pusing"jawab Xia sebari menyandarkan kepalanya kepundak pria tersebut sebari memejamkan mata.


Tangan Afra yang berpindah ke pelipis gadis tersebut,dan dengan pelan memijit nya,berharap bisa meredakan pusing pada gadisnya.


Afra melihat gadisnya dengan rasa bersalah,dan tangannya yang lain berada di perut Xia untuk menjaga gadisnya tetap aman dipangkuannya.


Mereka sudah berada di ruangan yang 10kali lebih kecil dari kamar Xia.


Ruangan itu hanya muat untuk satu ranjang ukuran king size dan satu meja disamping ranjang.


Di depan ranjang tersebut hanya kosong tanpa ada kursi ataupun meja agar membuat ruangan lebih leluasa.


Disebelah pintu yang menuju balkon ada pintu lain.


Ruangan itu ditutupi kain warna hitam, mengelilingi semua tempat hanya remang cahaya yang menerangi ruangan tersebut.


Cahaya yang berasal dari lampu tidur yang menyala.


Afra mengarahkan kursi rodanya kearah ranjang sesampainya disana.


Xia turun dan berpindah duduk menjadi diatas ranjang.


aku ambil obat pereda sakit kepala"ucap Afra dituruti Xia.


Afra memberikan obat yang ia ambil dari laci meja,setelah meminum obat Afra meminta gadisnya untuk berbaring.


Xia berbaring dan Afra membantu menutup tubuh gadisnya sampai kedada memakai selimut.


Tidur lah aku akan memijat kepalamu"ucap Afra.


Xia menggeser tubuhnya lalu menepuk tempat yang ia sengaja kosongkan.


Afra menaikan sebelah halisnya"kenapa?"


Xia menatap pria itu dengan malas,dan kembali memejamkan mata tanpa menjawab dengan tangan memijat pelipisnya.

__ADS_1


Afra terdiam beberapa detik sampai ia mengerti magsud gadisnya itu,ia beralih duduk diatas ranjang dengan sedikit susah karna kondisinya.


Xia merasakan pergerakan diranjangnya.


Afra duduk disamping Xia dan menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang.


Afra memiringkan tubuhnya agar lebih mudah memijat kepala Xia.


Afra mulai memijat kepala Xia dengan pelan agar tidak kembali menyakiti gadisnya.


Xia menikmati sentuhan dari pria itu tanpa mengeluarkan kata-kata.


Afra menatap gadisnya dengan sendu dan mengecup puncak kepala Xia.


Afra melihat Xia yang tertidur,ikut memejamkan mata setelah mengecup kening Xia penuh cinta dengan posisi yang sama bahkan tangannya masih memijat pelipis Xia.


Secara perlahan tangan Afra terhenti dengan bersamaan pria itu tertidur.


Sinar matahari menyelusup masuk celah-celah gordeng.


Xia membuka matanya mencoba mengembalikan kesadarannya.


Saat pertama ia lihat adalah wajah seorang pria tampan yang tertidur dengan posisi duduk memiring dan dahi pria tersebut berkerut.


Xia sedikit bergeser untuk duduk,ia menghela nafas kasar lalu turun dari ranjang.


Untungnya pusing dikepalanya sudah hilang.


Ya gadis itu kesal karna pemikirannya benar.


Kenapa harus pria itu!.


Xia yang belum menyadari keberadaannya, kini terpesona dengan ruang kecil yang sedang ia tempati.


Wajah Xia tiba-tiba berbinar ia melihat sekeliling,ruangan yang tidak begitu besar seperti ini adalah impian xia sejak dulu.


Untuk memastikan apakah ruangan ini mirip dengan yang ia impikan.


Xia melihat lebih detail kesekitar,ia membuka pintu dan ternyata pintu itu mengarahkan kebalkon jadi Xia kembali menutupnya.


Tidak berhenti disana Xia juga membuka pintu lainnya,yang ia buka kali ini adalah kamar mandi Xia hanya sekedar melihatnya sekian detik lalu kembali menutupnya.


Xia kembali membuka pintu yang saling berhadapan dengan pintu arah balkon.


Yang ia lihat kali ini adalah sebuah ruangan yang gelap tanpa pencahayaan,Xia menyalakan lampu.


Matanya berbinar kembali saat cahaya sudah mengisi ruangan  tersebut,sebuah ruangan kerja.


Namun selang beberapa detik bibir gadis cantik tersebut mengkerucut,ia melangkah dengan perasaan dongkol, bahkan saat menutup pintu kamar Afra yang menyambung dari ruangan kerja,menutupnya dengan kencang lalu bergegas masuk ke kamarnya dan masih seperti tadi Xia juga menutup pintu kamarnya dengan kencang.


Karna suara dari pintu yang lumayan kencang membangunkan Afra dari tidurnya,ia menatap kasur yang ternyata sudah kosong kecuali dirinya.


.


.


Seperti yang kemarin Yura katakan,mereka akan pergi ke mall, dengan iring-iringan mobil,sudah seperti orang penting saja.


Tentu orang penting bagi Afra,keselamatannya adalah nomor satu,tidak ada yang tau akan apa yang akan terjadi didepan,afra hanya mengantisipasi.


Mereka berempat satu mobil dengan azkara yang jadi supirnya,Yura duduk disampingnya,dan Afra serta Xia berada dikursi penumpang,dengan satu mobil pengawal didepan dan satu dibelakang mobil mereka.


Mereka sudah sampai di basemant,Afra dan Azkara tidak bisa menemani mereka karna ada meeting yang tidak bisa ditinggal,jika bisa sudah afra tinggalkan.


Setelah mobil yang berisi Azkara dan Afra pergi,Xia dan Yura memberikan intruksi agar para pengawal yang ditinggalkan Afra tidak terlalu dekat dengan mereka.

__ADS_1


Sekitar 8 pengawal berwajah datar dan berbadan kekar bersama mereka, bagi kedua gadis pemandangan seperti ini sudah biasa mereka alami.


"Kalian jangan terlalu dekat,awasi dari jauh saja!"ucap Yura


"Maaf nona kami diperintahkan untuk mengawal kalian"jawab salah satu pengawal.


"Aku tau,aku tidak meminta kalian kembali,aku hanya minta kalian jangan terlalu dekat,kami risih dengan keberadaan kalian"tegas Yura.


"Kenapa kita harus dikawal seperti ini,kami bukan penjahat,atau jangan-jangan bos kalian itu seorang penjahat,bahkan buronan hah?"sambung Yura.


"Maaf nona,yang anda magsud tuan Afra?"tanya seorang pengawal.


"Bos kalian kak Afra kan?"tanya Yura sebari menaikan sebelas halisnya.


Mereka serempak menganguk lalu satu pengawal bersuara"maaf nona,tuan Afra bukanlah penjahat bahkan buronan,beliau hanya menghawatirkan kalian saja maka dari itu membuat pengawalan untuk kalian"


"Bos mu banyak musuh?"tanya Xia yang dari tadi hanya menunjukan wajah datar.


Para pengawal saling menatap satu sama lain mereka seolah ragu untuk menjawab.


"Jika ditanya itu menjawab bukan saling menatap!"ucap Yura kesal.


"Begini nona tuan Afra adalah seorang pebisnis hebat,jadi sudah sewajarnya jika ada yang tidak suka terhadap kesuksesan tuan,dan mencoba menghancurkannya dengan berbagai cara"jawab salah satu pengawal.


Pada intinya pengawal itu mengatakan,sudah sangat wajah jika Afra memiliki musuh karna ia seorang pebisnis muda yang sukses.


"Baiklah sekarang kalian hanya perlu mengikuti arahan ku seperti tadi!"ucap Yura.


"Kami tidak ingin jadi bahan perhatian!"timpal Xia dengan dingin.


"Maaf nona kami perlu izin dari tuan untuk melakukannya"jawab pengawal tadi.


"Lakukan!"perintah Xia dengan tegas dan pengawal tersebut langsung menelepon azkara untuk meminta ijin.


Pengawal tersebut menutup telepon"maaf nona tuan tidak menginjinkan  "


Belum pria itu menyelesaikan ucapannya Xia lebih dulu memotong"lakukan saja"ucapnya lalu bergegas pergi.


Setelah berada didalam mall perhatian orang-orang langsung tertuju pada mereka.


Pada dua gadis cantik dengan autfit serba biru serta dikawal 8orang pria yang berwajah lumayan tampan walau datar yang berpakaian serba hitam.


Dua disisi kanan dan dua disisi kiri,sisanya ada dibelakang mereka.


Tatapan penuh kagum berserta iri diperlihatkan dari pengunjung mall secara langsung.


Bahkan ada dari sebagian orang memotret,memuji bahkan mencibir mereka,Xia dan Yura berjalan santai tanpa mempedulikan sekitar,keduanya hanya menatap dengan malas.


Mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini,bahkan lebih dari ini.


Kedua gadis tersebut mulai berkeliling,saat menemukan sesuatu yang cocok,mereka berhenti dan kembali berkeliling,sampai para pengawal kewalahan untuk memegangi paperbag.


Semua pengawal memegangi paperbag masing-masing memegangi empat,namun kedua gadis tersebut belum ada niatan untuk berhenti,bahkan untuk istirahat saja tidak,mereka terus saja berkeliling.


Wanita akan lupa segalanya jika sudah berbelanja!.


Wajah para pengawal masih seperti tadi bahkan sama halnya dengan kedua gadis yang mereka kawal,tidak merasakan cape karna sudah terlatih tentunya.


Hanya saja kedua gadis itu sangat antusias berbeda dengan para pengawal yang merasa heran dengan tingkah mereka.


Mereka baru tahu jika wanita sudah berbelanja mereka akan lupa akan rasa puas.


Di ruangan yang besar dengan deretan kursi yang saling berhadapan kini kosong setelah rapat diselesaikan,


Ruangan tersebut hanya menyisakan Afra dan Azkara.

__ADS_1


"Mereka sudah selesai?"tanya Afra sebari menaikan sebelah halisnya.


"Siapa tuan?"ucap Azkara membuat Afra berdecih seperti nya ia harus mengganti asisten.


__ADS_2