
Masih mengulum bibir agar tidak tertawa Ans berdiri dari duduknya dan menghampiri Yura yang terus dicecar pertanyaan oleh pria didepannya.
"KHmm"Ans berdehem membuat atensi Azkara menatap gadis itu.
"Anda tau tuan?,yang saat ini dibutuhkan dia" ujar Ans sebari menatap Yura"pertolongan"tekan Ans.
"Sebanyak apapun anda bertanya dia tidak akan menjawab,,kenapa?,,,,,, ya karena mulutnya ditutup lakban"ujar Ans setengah kesal,walau sejak tadi ia menahan tawa sekaligus geram dengan kebodohan pria itu,ada-ada saja pikirnya.
Azkara meringis tersadar dari kebodohannya," Maaf nona saya lupa"ujarnya menyesal.
Yura lagi-lagi menatap tajam Azkara, "Lupa katanya,woy aku secantik ini bagaimana mudah dilupakan?"geram Yura dalam hati.
Azkara memegang ujung lakban untuk melepasnya dari bibir yura," Nona mungkin akan sedikit sakit"
"Biar aku saja"ujar Ans sebari menarik Yura kearahnya.
Yura lagi-lagi melotot kan matanya,gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali sebagai tanda ia menolak,ia sudah tau Ans memiliki niat lain dibalik sikapnya yang sekarang.
Yura mencoba pergi mencari orang lain dari pada mendapat bantuan dari ans, namun pergerakannya gagal saat ans memegangi lengannya yang masih terikat,lalu tersenyum," Aku akan bantu adik kecil"ujarnya penuh makna,mendapat gelengan kepala dari Yura.
Yura terus menolak memberontak dengan menggelengkan kepalanya dan hasilnya.
"Ahkkkkk"
Teriakan terdengar dari mulut Yura ulah Ans yang menarik lakban dari mulutnya begitu kencang,dengan sekali tarikan lakban terlepas dari bibirnya,membuat rasa panah menjalar diarea tersebut.
"Ansyaaaaaaaaaaa"Terima Yura menggelegar sampai mereka harus menutup telinga agar kondisi telinga mereka aman.
"Si*lan kau! "Geram Yura membuat ansya lagi-lagi harus menahan tawa.
Ansya tidak menghiraukan Yura gadis itu memilih keluar dari sana karna sesuatu yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Buka!" pekik Yura sebari membelakangi azkara meminta pria itu membuka ikatan ditangannya.
Setelah ikatan dibuka,Yura berjalan kearah Xia dan duduk disamping gadis itu.
"Siapa yang berani menculik ku hah! "Pekik gadis itu membuat Xia yang duduk disampingnya mengusap telinga.
"Berani-beraninya kalian!"geram Yura dengan hidungnya yang kembang kempis menahan amarah.
"Santai!,belum dimutilasi" ujar Xia membuat Yura mendengus kesal,memilih tidak mengubris gadis yang notabenya paling muda diantara mereka.
"Katakan!,siapa yang membayar kalian melakukan ini padaku hah!"teriak Yura.
"Nona cantik,tenang oke,kami sudah membebaskan anda sekarang"ujar Meo,"benar nona?"tanya Meo menatap kearah Xia lalu melanjutkan ucapannya"jangan lupakan kesepakatan kita!"
"Kesepakatan belum dibuat bagaimana bisa dilupakan?"geram Afra yang sedari tadi tidak dilirik sang pujaan hati.
Lagi-lagi ucapan pria itu hanya dianggap angin,"Anda tenang saja Tuan Meo Eagles,saya tidak suka melanggar apa yang saya katakan!,,, saya akan mengirimnya"
"Baiklah akan saya tunggu nona,,,Tuan Amlias sepertinya anda ingin membahas sesuatu secara pribadi dengan saya,bukan begitu?"
"Kami pergi sekarang"pamit Xia.
__ADS_1
"Tidak ada!"jawab dingin Afra menyusul langkah sang pujaan hati dengan kursi rodanya.
Setelah keluar dari ruangan pertemuan mereka dengan Tuan Meo Aagles,rombongan berjalan keluar dituntun Zeon yang hanya menampilkan wajah datarnya.
"Kita perlu bicara"pinta Afra sebari memegang tangan Xia yang berdiri didepannya dengan membelakangi pria yang duduk di kursi roda tersebut.
"Di tempat lain"jawab Xia sebari melepaskan tangannya yang digenggam pria itu.
Afra tersenyum mendengarnya,bukankah ini artinya gadis pujaan hatinya ingin berbicara dengannya,semua mungkin saja bisa berjalan dengan baik.
Mereka memasuki lift yang akan membawa mereka kebawah menuju baseman dimana mereka memarkirkan mobil,lift diisi lima orang dengan dua orang pria,memang seharusnya diisi lebih banyak,namun Xia meminta anak buahnya pergi dan menjalankan tugas seperti biasa,menjadi pengawal bayangan begitu juga gama,yang sudah ikut kembali kedalam rombongan pengawal saat Xia menghilang tempo hari,untuk ans entahlah gadis itu belum terlihat lagi setelah lebih dulu keluar dari ruangan pertemuan.
Untuk pengawal yang dibawa Afra,mereka menunggu di baseman hanya Azkara yang menemaninya seperti biasa sebagai asisten dan pengawal.
"Tanganku memar si*lan"guman Yura terdengar Azkara karna pria itu berdiri dibelakangnya.
"Akan aku balas kau Ans"lanjut Yura geram mengingat ulah kakak sepupunya itu,ans adalah anak dari paman Yura yang notabenya adalah kakak dari ayahnya.
Flashback.....................................................
"Dia memang harus selalu menjadi sutradara jika menjadi pemain,drama akan hancur seketika"guman Ans di dengan orang-orang disana,menjadikannya atensi utama.
"akan aku ulang rencananya,agar para pembaca mengerti"ujar Yura membuat atensi mengarah padanya,gadis itu tengah duduk disofa size sebari memeluk toples sebari memakan isiannya yang tak lain adalah camilan.
Yura sudah duduk disana sebelum rombongan Xia datang.
"Jadi begini kan?,kita semua akan bermmmm"ujar Yura sedikit tidak dimengerti karna sebari mengunyah camilan.
"Telan dulu!,kalo mau menjelaskan tidak usah sambil makan!"geram Ans sekaligus heran dengan adik sepupunya itu,sedari kedatangan mereka gadis itu terus makan camilan,bahkan meminta tambah saat camilan didepannya berkurang.
"Diam!"ujar Xia membuat Yura terkikik.
Pria paruh baya di depan mereka yang terhalang meja hanya terkekeh melihat pertengkaran para nona ini,walaupun baru bertemu tapi mereka tidak sungkan menjadikan seusana terasa manusiawi,meo pikir suasana akan terasa mencekam saat kedatangan gadis-gadis ini,tapi ternyata dia hanya terlalu banyak berpikir.
"Biar aku yang jelaskan"ujar Ans geram karna Yura masih saja asik memakan camilan.
"Silahkan nona tua Green"ujar Yura mempersilahkan dengan camilan yang di mulutnya sedikit muncrat.
"Enak saja aku ini masih muda ya!"geram Ansya tidak terima.
"Usiamu lebih tua dariku"ujar Yura sebari tersenyum mengejek.
"Hanya satu tahun paham!"
"Satu tahun kan bukan satu hari?"Yura terus menjawab dengan nada mengejek dan sebari memakan camilan.
"Gadis ini minta dihajar "geram ans sebari berdiri dan menatap tajam kearah Yura yang semakin meledeknya dengan tatapan.
"Sudah-sudah jangan bertengkar,disini saya yang paling tua" ujar Meo menengahi dari pada melihat pertengkaran kedua gadis itu yang mungkin saja akan berakhir saling baku hantam.
dan aku paling muda"ujar Xia membuat kedua gadis yang beradu argumen itu mendengus.
"Biar saya saja yang jelaskan"ujar Meo tidak ingin mereka bertengkar"begini rencana yang disusun Xia,kita para anggota Eagles akan berpura-pura tidak mengenal kalian bahkan seolah-olah menculik Yura,untuk melepaskan Yura dari kami,kita akan membuat perjanjian sebagai formalitas didepan pria itu,siapa namanya?"tanya meo.
__ADS_1
"Maringgai Azonafra Amlias, paman"jawab Xia
"Dan satu lagi"ujar Yura membuat atensi mengarah para gadis itu yang belum berhenti memakan camilan.
"Apa?"tanya Ans.
Diruangan itu tidak hanya mereka berempat,disana juga ada dua orang berbeda jenis kelamin yang sejak tadi berdiri dan tidak mengeluarkan suara sekalipun.
"Aku akan memperjelas situasi kali ini,agar para pembaca tidak salah paham kepada kita,,,,,sebenarnya yang diculik itu bukan aku,lebih tepatnya aku yang menculik bukan begitu?,,,, saat penyerangan di Mansion Afra aku hanya menonton,namun saat mereka mengatakan nama si penyerang, aku teringat dengan paman yang ingin Xia temui juga dari anggota Eagles,lebih tepatnya pemimpin Eagles saat ini,,yaitu Tuan Meo"
Yura melanjutkan perkataannya,"Jadi aku menekan tombol darurat dari arloji yang aku pakai,agar bisa segera menyelamatkan mereka dari kemungkinan yang akan terjadi,entah kenapa tapi aku hanya ingin menyelamatkan,dan sekarang disinilah aku di markas utama Eagles gangster yang ditakuti dinegara ini"
Yura menjeda ucapannya,"Dan aku punya pertanyaan saat ini"ujar Yura menatap meo lalu melanjutkan,"Siapa yang berniat membunuh Tuan Afra,orang yang membayar kalian untuk menyerang mereka di Mansion pria itu,,,,aku sudah menanyakan hal ini kepada tuan Zeon tapi dia tidak menjawab,,, aku tau profesional pekerjaan itu alasannya"
Yura sudah bertanya saat diperjalanan menuju markas eagles namun pria itu menolak menjawab,pria itu hanya berkata saat menyapa Yura yang mengaku sebagai saudari Xia yang belum dia ketahui kebenarannya.
"Baiklah saya akan memberitahu,siapa orang yang membayar kami,namanya Dion Saul pria itu bukan berasal dari negara ini,kami memiliki identitasnya jika para nona ingin melihatnya"jawab Meo atas pertanyaan Yura.
"Pria itu lagi"guman Yura.
Meo menyerahkan sebuah map berisi identitas pria bernama Dion Saul,yang diterima yura namun gadis itu memberikannya ke ans untuk dipelajari,Yura dan Xia sudah mengetahui siapa pria itu karna insiden waktu itu.
"Apa saya perlu memberinya pembalasan?"tanya Meo.
"Biarkan saja paman,ada hikmah atas kejadian hari ini"jawab Xia.
"Baiklah,sekarang rencana dimulai"ujar Ans sebari melemparkan mad keatas meja didepannya lalu menatap Yura sebari tersenyum smirk.
"Kenapa kau menatapku begitu?"tanya Yura melihat tatapan aneh saudarinya itu.
Tanpa ba bi bu lagi Ans menyerang Yura hingga pertarungan sengit keduanya terjadi membuat ruangan itu seperti kapal pecah,dan berakhir dengan Yura yang kedua tangannya diikat kebelakang dan mulutnya tertutup lakban.
........................................flashon
Ada sedikit perdebatan saat diparkiran dimana saat afra memaksa agar Xia satu mobil dengannya tanpa ingin ditolak.
Tentu saja ia hanya berjaga-jaga agar gadisnya tidak kabur lagi darinya,sudah beberapa kali kecolongan membuatnya akan lebih waspada kali ini,siapapun gadisnya ia tidak peduli yang penting dia adalah xlara zadrianka.
Mobil yang awalnya diisi para gadis sedikit berubah formasi dengan Xia duduk disamping anna yang mengemudi dan Afra duduk dibelakang sendiri.
Sedangkan Yura dan Ansya berada dimobil lain bersama Azkara yang menjadi supir,mobil melaju membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
Tidak ada percakapan didalam mobil berisi Xia dan rombongan,gadis itu sendiri tengah menikmati angin malam dari jendela kaca mobil yang ia buka.
Xia melihat arlojinya yang sudah menunjukan jam empat pagi,lelah tentu saja namun bukan raga melainkan jiwa.
Gadis itu menerawang jalanan dari jendela kaca mobil sebari menikmati semilir angin malam yang cukup dingin.
"Angin malam tidak baik,sebaiknya tutup jendelanya"ujar Afra mengingatkan dengan nada lembut.
"Bukan urusan anda"jawab Xia dingin tanpa mengubah posisinya sama sekali tidak melirik pria yang duduk dibelakangnya.
Sakit,itulah yang Afra rasakan sekarang,diacuhkan,sikap dingin,walau memang selalu dingin tapi saat bicara ada nada lembut dari gadis itu,dan sekarang hanya dingin,bagaikan kutub utara yang sedang menghembuskan udara.
__ADS_1
Namun tidak ada yang bisa dilakukan saat ini,dirinya sudah sangat bersyukur bisa dipertemukan kembali dengan gadisnya,selalu dipertemukan melalui kecelakaan,begitulah pertemuan mereka.
Sejak awal hanya kecelakaan yang mempertemukan mereka semoga pertemuan mereka bukanlah nasib buruk untuk keduanya,entahlah sepertinya autor belum memutuskan nasib terbaik untuk keduanya,yang jelas sungguh serumit itu!.