MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
bisa meledek mereka!


__ADS_3

Sekitar satu jam lebih diperjalanan mereka kini sudah sampai di mansion seseorang.


Kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu,saat memasuki rumah mereka yang baru datang sudah disuguhkan keromantisan pemilik mansion.


Yura tersenyum miring melihat pemandangan didepannya.


"Cih tidak suka katanya"cibir nya dalam hati.


"Kalian sudah sampai?"tanya seorang gadis yang tidak bisa bergerak karna pahanya yang terasa berat.


"Ya,maaf kami sudah mengganggu kalian"ujar Yura dengan nada bersalah.


"Kalian seharusnya melakukannya dikamar!,kenapa harus diruang tamu,ingin mengumbar kemesraan hah!"sambungnya


"Apa yang kau katakan?"tanya Xia sebari menaikan halisnya"kami tidak melakukan apapun"sambungnya.


"Ya,ya,ya,dunia terasa milik berdua,kitamah numpang,apalah nasib Azkara yang jomblo"ujar Yura meledek.


"Heh kenapa jadi aku?"ujar Azkara tidak terima.


"Karna kau jomblo"jawab Yura.


"Kau sadar nona,memang kau memiliki pasangan?"tanya Azkara tersenyum miring.


"Alah cuma pasangan,gampang"ujar Yura sebari menjentrikan jarinya"aku bisa memilikinya kapanpun aku mau,berhubung sekarang aku tidak mau,jadi tidak punya"


"Jomblo bilang saja!,tidak usah belibet"ujar Azkara sinis.


'Aku tidak punya,karna aku tidak mau,bukan sepertimu yang tidak laku"ujar Yura tak kalah sinis.


"Aku laku?,anda pikir saya barang yang bisa dijual?"pekik Azkara.


"Kau benar jika kau bisa dijual sudah pasti,kak afra akan menjualmu dari dulu,kau beruntung karna tidak laku"


"Enak saja,pria sepertiku ini laku,banyak yang mengantri untuk aku pilih,nona,tidak sepertimu yang tidak ada yang mau"cibir Azkara.


"Aku tidak ada yang mau,Hhhhh"ujar 6ura sebari tertawa dan menunjuk dirinya"bahkan diluaran sana banyak pria yang merebutkan ku untuk menjadi istrinya"


“Mereka pasti buta"cibir Azkara.


"Kau yang buta!"pekik Yura"kau buta tidak bisa melihat serbuk berlian"ujar Yura menggebu dengan hidung yang kembang kempis.


"Hhh serbuk berlian,sampah negara iya"cibir Azkara membuat Yura melotot.


Yura menggulung lengan bajunya sebari melangkah mendekati Azkara,Azkara berkesiap menatap kedatangan gadis itu.


"Kau lawan aku sini"ujar nya semakin mendekat.


Sedangkan Xia dan Gama,mereka beradu tatap beberapa detik,hingga bersamaan menghela nafas panjang.


Bertengkar sudah menjadi candu sepertinya untuk kedua manusia berbeda usia dan jenis kelamin itu.


Sedangkan Afra,pria itu tengah tertidur dengan paha Xia masih menjadi bantalannya.


Sebenarnya pria itu hanya pura-pura tidur agar tidak diusir sang gadis dari sana,ia merasa terganggu dengan kebisingan ulah kedua orang itu.


Pria itu membuka mata,lalu menatap tajam kearah kedua orang berbeda jenis dan usia itu,yang sedang berlari.


Menganggu saja!.


Azkara berlari dari kejaran Yura,dia hanya berlari mengitari sofa,dan Yura yang ingin menerkamnya,hingga babak belur.

__ADS_1


Yura menatap tajam punggung pria yang sedang ia kejar,ia beralih kearah lain dari pria itu.


Yura tiba-tiba berdiri dengan tangan terlentang dihadapan Azkara yang sedang berlari kencang berakhir mereka bertabrakan,karna Azkara tidak menyedari kedatangan Yura yang tiba-tiba.


Azkara menabrak gadis didepannya dengan keras hingga meninggalkan bunyi.


Brak.


Karna tabrakan itu Yura akhirnya terdorong dengan kesigapan gadis itu,ia menarik kerah pria yang menabraknya,membuat mereka terjatuh bersamaan.


Ringisan terdengar dari kedua orang berbeda usia dan jenis kelamin itu.


Yura yakin kepalanya akan sakit karna benturan namun ia hanya merasa ada sesuatu dibawah kepalanya.


Yura terjatuh ke lantai marmer,gadis itu berada dibawah tubuh kekar Azkara,bertubrukan dengan dada pria itu,yura mendongkak untuk melihat wajah pria diatasnya.


Posisi mereka sekarang saling menindih namun tidak seutuhnya karna Azkara menahan dirinya agar tidak terjatuh meninpa tubuh kecil Yura dengan lengan,dan lengan satunya lagi dijadikan penyanggah kepala gadis itu agar tidak terkena marmer langsung.


Yura dan Azkara beradu tatap bahkan jarak mereka sangatlah dekat hingga hembusan dari keduanya saling terdengar.


Seolah tenggelam di tatapan masing-masing mereka hanya saling menatap tanpa ada niatan untuk mengubah posisi saat ini.


Posisi mereka tidak terlepas dari atensi orang-orang diruangan yang sama dengan mereka,dengan ekpresi yang berbeda-beda.


Xia menatap mereka dengan halis yang terangkat,sedangkan pria yang berbaring di pahanya melotot kan mata,"berani sekali dia bermesraan didepanku"pikir Afra.


Sedang Gama pria itu menatapnya khawatir.


Tidak ingin melihat kemesraan dari asistennya,Afra akan memarahi pria itu sekarang juga.


Karna sudah membuat kegaduhan dan mengganggu istirahatnya.


Namun semua itu gagal,pergerakannya sudah diketahui sang gadis kesayangan,ia melirik tangan mungil yang menempel di mulutnya baru setelah itu menatap si pemilik tangan itu.


Xia tidak ingin merusak suasana,ia baik bukan?"


Xia menggeleng dengan posisi yang sama,setelah itu ia menutup bibirnya dengan satu jari yang lain agar pria itu diam.


"Aku akan mengantar kakak kekamar,untuk istirahat"lirihnya.


Afra melotot mendengar perkataan gadisnya itu,ia belum juga beranjak dari rebahan nya yang menyenangkan.


"Aku masih ingin seperti ini"rengek Afra sebari cemberut.


"Dia bisa diantar maid"sambungnya.


Xia menghela nafas"baiklah"ujar nya setuju dari pada berdebat.


"Nona"ujar Gama ingin mengingatkan sesuatu.


" Tidak papa kak,kau istirahatlah dikamar,maid akan mengantarmu kesana"ujar Xia.


Dengan ragu Gama menuruti perintah nona nya itu,sebenarnya ia khawatir dengan kondisi nona nya yang satu lagi,yang belum tersadar dari posisi mereka.


Gama mengikuti maid yang diberi perintah mengantarnya ke kamar yang sudah disiapkan untuknya.


"Pergi! "ujar Xia diangguki Afra setuju.


Mereka tidak mau merusak suasana seseorang.


Xia membantu Afra untuk duduk di kursi rodanya juga mendorongnya menjauh dari tempat itu,tujuannya adalah pavilium belakang.

__ADS_1


Ya mansion ini memiliki paviliun di belakang dekat kolam renang.


"Mereka bagaimana?"tanya Afra mendongkak menatap sang gadis yang sedang mendorong kursi rodanya.


"Biarkan saja,kita bisa meledek mereka dengan puas nanti"jawab Xia membuat Afra terkekeh,gadisnya itu sangat pendendam ternyata.


.


.


.


Ditempat lain,kamar yang bernuansa hitam ditempati seorang pria muda diumur dua puluhan keatas.


Pria itu baru saja bisa menggerakan tubuhnya setelah satu minggu tidak bisa bergerak,akhirnya penderitaan nya berakhir hari ini.


Dia beristirahat dikamarnya,walau selama sakit ia hanya bisa berbaring namun tetap saja ia membutuhkan istirahat,sekaligus menjalankan kembali rencananya yang gagal.


Di pangkuannya ada laptop yang sedang menyala menggambarkan beberapa pesan yang sedang pria itu baca,dan teliti.


"Apa mungkin semua ini benar?"gumannya sebari memelihat beberapa pesan didalam laptopnya dengan intens.


"Jika iya,siapa yang berani menjebakku? , mereka bahkan tau aku berhubungan dengan klan Kay"


"Yang tau urusan ini hanya aku dan beberapa anak buahku"ujar nya sebari berpikir"ahkk sialan"teriaknya frustasi lalu mengambil ponsel yang tergeletak dinakas dengan kasar.


Setelah mendial beberapa angka panggilan itu mulai tersambung bersamaan dengan dirinya yang menempelkan ponsel ke telinganya.


Tanpa basa-basi pria itu langsung memerintah setelah panggilannya tersambung.


"Kumpulkan semua anak buah dimarkas!,jangan sampai ada yang tidak datang"perintahnya langsung di turuti orang disebrang telepon tanpa banyak bertanya.


Setelah memerintah pria itu memutus panggilan sepihak,ia melempar ponsel keranjang king size miliknya dengan frustasi.


"Berani sekali mereka bermain dengan ku"pekiknya kesal sebari mengepalkan tangannya sampai urat-urat menonjol.


Beberapa menit kemudian terdengar ketukan dari arah pintu,sosok itu langsung masuk dengan hormat setelah mendapat ijin.


"Tuan semua sudah datang"ujar nya memberitahu sang bos.


"Bagus,bawa aku kesana!"


"Maaf tuan,apa ada masalah penting sampai tuan turun tangan sendiri dengan kondisi anda yang baru sembuh?"tanyanya penuh hormat.


Walaupun dirinya juga ikut terkena imbas racun orang-orang itu tempo hari,namun hari ini ia juga sudah sembuh seperti tuannya,dan seperti dia juga masih dalam kondisi lemah.


"Kau meremehkanku?"tanya dion sal geram,karna merasa diremehkan.


Pria yang notabenya asisten dion itu langsung berlutut "maaf tuan saya lancang,saya tidak bermaksud seperti itu" ujar nya jujur.


"Bangunlah!,kita harus segera bergerak sebelum terlambat"ujar Dion Saul membuat sang asisten yang belum tau magsud dari perkataan tuannya itu hanya menganguk dan mengikuti perintah.


"Klan yang menjalin kerja sama bersama kita tempo hari,memberi kabar,mereka mengatakan akan mengirim barang dua hari lagi"penjelasan sang tuan membuat asistennya itu mengerutkan dahinya.


"Maaf tuan saya ijin bicara"setelah diberi ijin pria itu melanjutkan perkataannya.


"Apa magsud anda?,mereka mengabari anda akan mengirim barang dua hari lagi,bukannya karna kejadian seminggu lalu kesepakatan kita batal tuan,maaf jika saya lancang,namun dari penelitian saya mereka memusuhi kita,tuan,namun saya tidak tau dengan alasannya"ujar nya mengeluarkan apa yang ia pikirkan.


"Aku juga berpikir hal yang sama dengan mu,namun mendengar perkataan mereka membuat ku yakin,bahwa ada pihak lain yang menyabotase semuanya"ujar dion.


"Magsud anda ada penghianat diantara kita tuan?"tanya asistennya.

__ADS_1


Pria bernama Dion itu mengangguk mengiyakan perkataan sang asisten,setelah pembahasan lebih lanjut barulah mereka pergi ketempat.


Yang Dion Saul sebutkan sebagai markas.


__ADS_2