MAFIA 'gadis mawar'

MAFIA 'gadis mawar'
gila mungkin.


__ADS_3

"Katakan pada orang itu aku belum bisa menemui mereka!,jika sudah saatnya aku akan menemuinya,namun berikan nomor ponsel ku kepada orang itu"ujar Xia kembali memberi perintah.


"Baik nona "jawab para pria serempak.


"Bagi pasukan menjadi empat kelompok!,untuk pembagiannya akan aku atur nanti"


"Kembalilah istirahat banyak misi yang harus kita selesaikan sesuai jadwal!,agar kita bisa kembali secepatnya"sambung Xia lalu berdiri bersamaan dengan Yura yang sedari tadi hanya menyimak sebari menutup mata.


Ia sungguh kesal dengan ulah Xia,gadis itu juga begitu mengantuk,sepertinya dia dibangunkan hanya untuk ajang penyombongan diri gadis bernama Xia tersebut.


Huh,rasanya ingin membuat orang hilang nyawa,begitu mengantuk.


Yura menyamai langkahnya dengan Xia sebari sesekali menguap.


Keduanya diikuti Gama dari belakang kembali ke mansion awal yang menampung mereka dengan gratis.


Apapun yang gratis akan mereka nikmati kecuali racun!.


Racun pun akan mereka terima jika memang diberikan dengan gratis.


Matahari menerobos masuk melalui celah jendela,namun seseorang dibawah selimut tidak ada tanda-tanda untuk bangun.


Gadis itu masih asik dengan alam mimpinya karna baru tidur dua jam yang lalu,ulah seseorang.


Seseorang itu kini menatap selimut yang masih menyembunyikan tubuh gadis itu,ia hanya menghela nafas diujung pintu.


"Cepat bangun sudah siang!"ujarnya singkat.


Orang itu tidak ada niatan membangunkan lebih dari itu,ia tahu yura mengantuk gara-gara ulahnya.


Dia hanya melakukan rutinitasnya setiap hari,salah satunya membangunkan Yura.


Xia kembali keluar dari kamar Yura menutup pintu dengan pelan agar tidak menggangu tidur orang didalam.


Xia memasuki lift untuk turun keruang makan.


Dimeja makan sudah ada dua ups,tiga pria yang tengah menunggu kedatangannya.


"Sayang kamu sudah turun?"ujar Afra entahlah Xia hanya menatapnya dengan menaikan sebelah halisnya.


Jika sudah tau kenapa bertanya coba?.


"Nona,dimana nona yura?,apa dia belum bangun?"kini Azkara yang bersuara.


Gama hanya menatap gadis itu dengan hormat.


"Belum,dia butuh tidur lebih lama hari ini"jawab Xia sebari menarik kursi untuk duduk.


Seperti biasa ia duduk disamping pria yang mengklamnya sebagai tunangan.


"Kenapa nona?,apa nona yura sakit?"tanya Azkara,membuat Xia dan kedua atensi pria disana menatapnya.


" Sepertinya begitu"jawab Xia sebari mendaratkan bokongnya dikursi.


"Apa perlu saya panggilkan dokter nona?"wajah Azkara datar saat mengatakannya namun dari penglihatan Xia,pria itu tengah merasa khawatir.


Xia tersenyum tipis sangat tipis sampai tidak ada yang bisa melihatnya.


" Tidak perlu! ,dia akan segera baik-baik saja"ujar Xia "Kita mulai saja makannya keburu dingin"sambung nya tidak ingin ditanya lebih lanjut.


Mereka makan dengan hening hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Dimana Azkara dan Yura akan berdebat panjang tanpa sebab.


Dimanapun mereka bersama disitulah perdebatan dimulai.


Azkara jadi merindukan gadis aneh itu.


Ups rindu tidak mungkin!,yang benar saja dia merindukan gadis aneh itu.


Saat memikirkan gadis itu Azkara jadi tersenyum,bahkan terkekeh hingga akal sehat kembali pada otaknya.


Saat mengelak dipikirannya bahwa ia merindukan Yura, jika tidak didekatnya,ia menggelengkan kepalanya beberapa kali di sela-sela makan.


Kejadian itu tidak lepas dari ketiga orang yang semeja dengannya,mereka heran dengan tingkah aneh pria itu.


Afra dan Gama bersamaan menatap Xia seolah meminta jawaban,entahlah kenapa dia yang ditatap penuh pertanyaan.


Gadis itu hanya mengedikan bahunya saat mendapat tatapan kedua pria itu, lalu kembali makan.


" Gila mungkin"ujar Xia membuat ketiga pria itu menatapnya.


Afra dan Gama hanya mengangguk menyiakan sedangkan Azkara yang tidak tau apa-apa.


Menatap gadis itu dengan heran,sampai suara mengintimidasi menciutkan nyalinya.


"Menatapnya sedetik lagi matamu akan hilang!"ujar Afra yang melihat asistennya itu menatap sang pujaan hati.


"Maaf tuan"cicit Azkara merasa bersalah bersamaan dengan dirinya menunduk.


Setelah acara sarapan selesai mereka mulai dengan rutinitas mereka,gama sudah sepenuhnya pulih,namun pria itu masih bersandiwara agar misi mereka berhasil.


Sedangkan Xia,gadis itu sedang berada dikamar bersama Afra,seperti taruhan waktu itu,ia akan membuat pria itu bisa berjalan dalam waktu dua minggu kedepan.


Kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan Afra,dengan begini ia lebih mudah untuk memilih langkah selanjutnya untuk rencana selanjutnya.


Sekaligus menggali informasi dari gadis itu.


Keduanya memiliki rencana masing-masing tanpa diketahui keduanya.


Sedangkan Azkara,pria asisten,pengawal sekaligus sahabat Afra itu,entah kenapa melangkah ke lantai dua.


Pikirannya terus berkecamuk dengan gadis yang tidak ikut sarapan tadi,pria itu tidak berencana pergi ke kamarnya atau kemanapun.


Tapi kakinya seolah berjalan sendiri kearah yang pria itu tidak sadari.


Pria itu tersadar dirinya sudah berada didepan pintu kamar Yura,pria itu mengerutkan dahinya dengan dirinya yang bermonolog.


"Kenapa aku kesini?"pria itu menatap pintu kamar gadis itu lalu beralih ke pintu kamarnya yang terletak disamping kamar gadis itu.


Pria itu melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar miliknya,dengan sesekali menatap pintu kamar disampingnya.


Pria itu hanya berdiri didepan pintu kamar sendiri dengan tatapan masih ke pintu kamar sebelah.


Pria itu terlihat ragu saat membuka kamar sendiri,ia ingin masuk namun takut gadis itu kepedean,dan meledeknya menghawatirkan dirinya.


Yang benar saja,kesombongan gadis itu pasti meningkat jika dia menghawatirkan gadis itu.


Walaupun beberapa hari mereka tidak sering bertengkar,hanya sesekali setelah kejadian saat pertama kali gama di mansion ini.


Saat mereka ditinggalkan diruang tamu dengan keadaan ambigu,saling menindih dan tatapan saling tertuju tempo hari,membuat keduanya salting jika bertemu.


Entahlah dirinya sendiri juga bingung,kenapa dia seperti itu,seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya.

__ADS_1


Pria itu menghela nafas dibalik pintu dan kembali membuka pintu lalu keluar,sebelum mengetuk pintu disamping pria itu bermonolog sendiri.


"Aku tidak khawatir,hanya ingin memastikan dia masih hidup atau tidak,jika tidak nona Xia akan sedih nantinya"ujarnya menjadikan Xia sebagai alasan.


Pria itu menarik nafas dan mengeluarkannya dengan pelan untuk menenangkan diri,entahlah dirinya seperti sedang dihadapkan dengan peperangan.


Tok-tok-tok


Ketukan di pintu terdengar namun tidak ada sautan dari dalam sana,terlihat azkara menampilkan wajah cemas,takut gadis itu benar-benar mati.


Ia membuka pintu tanpa ijin yang tidak terkunci,pria itu hanya melihat gundukan yang tertutup selimut.


Jika ditebak dibawah sana pastilah tubuh Yura yang entah bagaimana keadaannya.


Azkara melangkahkan kakinya mendekati gadis itu,ia menarik pelan selimut yang menutupi gadis kecil tersebut.


Ia pernah menatap wajah gadis itu yang sedang tertidur,terlihat seperti bidadari namun jika sudah membuka mata akan berubah menjadi wanita jadi-jadian.


Entah dorongan dari mana Azkara menyingkirkan rambut Yura yang menutupi wajahnya.


"Lima menit Xia,hanya lima menit"guman gadis itu dengan mata tertutup dibarengi pergerakan membelakangi sosok yang membelai wajahnya.


Yura merasakan pergerakan diwajahnya makanya ia bergumam seperti itu,ia pikir itu adalah Xia yang hendak membangunkannya,yang sudah menjadi rutinitas keduanya.


"Aku lelah,aku cape,lima menit"sambung gadis itu tanpa membuka mata.


Azkara terkekeh dengan tingkah gadis itu.


Awalnya ia sudah salah tingkah,mendengar gadis itu bicara,ia pikir gadis itu terbangun gara-gara pergerakannya namun ternyata hanya mengigau.


Azkara memegang dahi Yura dengan lembut," Tidak panas"gumannya terdengar Yura yang setengah terbangun namun belum membuka mata.


Tubuh Yura entah kenapa menegang saat mendengar suara pria itu,ia tebak dari suaranya,dia pasti pria yang selalu mengajaknya debat.


Azkara bangun dari duduknya,yang tadi mendudukan diri disamping ranjang untuk mengecek lebih dekat gadis itu.


Yura membalikan badannya yang ia lihat adalah punggung pria itu,ternyata tebakannya benar,pria itu Azkara.


Azkara terus berjalan kearah luar dengan sesekali melirik ke belakang melihat gadis yang sudah mengubah posisinya sebari masih tertidur.


Tentu saja Yura langsung memejamkan matanya saat melihat pergerakan Azkara yang tiba-tiba menghentikan langkahnya,ia takut dipergoki sedang memandang punggung pria itu.


Setelah Azkara keluar dengan menutup pintu dengan sangat pelan,Yura menatap pintu dengan tatapan aneh.


"Kenapa dia?"heran Yura sebari memegang dahinya yang tadi sempat dipegang Azkara.


Saat mengingatnya entah kenapa yura merasa geli seolah perutnya digelitiki kupu-kupu.


Yura mengedikan bahunya setelah itu bukannya bangun gadis itu malah kembali memejamkan matanya,sebari memeluk guling.


Sedangkan disisi Azkara,ia mengaruk pelipisnya yang tidak gatal,semua pergerakannya tadi spontan,namun ia merasa tenang dan senang.


"Ada apa dengan ku?"monolognya sebari melangkah.


"Bodoh"sambungnya sebari menggelengkan beberapa kaki kepalanya.


Bahkan membuat beberapa pengawal yang sedang berjaga dibuat heran dengan tingkah pria itu.


Namun tidak ada yang bersuara,mereka hanya saling menatap satu sama lain dengan pengawal lain lalu sama-sama mengedikan bahunya.


Gama juga menatap pria itu sejak ia bicara sendiri namun sama seperti yang lain,ia bahkan lebih tenang,tidak memperdulikan,selama tidak mengganggu kedua nonanya.

__ADS_1


__ADS_2